Rumbuk Randu dan Potret Buruh Migran

in Rehal by

Judul : Dawuk : Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu

Penulis : Mahfud Ikhwan

Penerbit : Marjin Kiri

Terbit : Cetakan pertama, Juni 2017

Tebal : vi + 182 halaman

Harga : Rp 55.000,-

 

 

Rumbuk Randu hadir seperti biasanya gaya Mahfud Ikhwan menggambarkan kampung dengan perasaannya sendiri sebagai orang kampung. Bukan sebagai orang kota atau orang kampung yang tinggal di kota dan memandang kampungnya dengan perspektif kekotaan, seperti menganggap eksotis kampung sembari mengatakannya tertinggal dan perlu di-kota-kan.

Pembaca yang terbiasa dengan karya Mahfud akan mendapati Rumbuk Randu di novel ini sebagaimana Lerok dan Centong di dua novel sebelumnya. Lanskap sederhana pedesaan.

Selain itu, tidak kalah menarik adalah bagaimana Mahfud menghadirkan tokoh-tokohnya. Mereka adalah manusia di tengah keramaian, sebutan Mahfud untuk tokoh di cerpen-cerpen Kuntowijoyo. Yakni manusia yang integral dalam kolektivitas masyarakat, seperti berada di mushala, pos ronda, beranda mesjid, dan ruang masyarakat pada umumnya. Singkatnya, manusia yang berinteraksi dengan manusia lain. Bukan yang iseng sendiri dalam sepinya.

Rumbuk Randu  di sini adalah desa pedalaman Jawa bagian timur. Persis tengah-tengah antara Laut Jawa dan Sungai Bengawan Solo. Bertanah keras dan tidak memiliki sumber air besar, cuma telaga-telaga kering di musim kemarau. Pada kondisi geografis seperti itu, penduduknya “tak mungkin jadi nelayan karena terlalu jauh dari pantai dan nanggung kalau disebut petani” (hal. 92).  Mereka kerja menggarap ladang atau kerja blandong yang membuat mereka berurusan dengan polisi hutan. Namun hal itu banyak berubah ketika mereka mengenal migrasi kerja ke Malaysia.

Di Rumbuk Randu itulah kisah cinta Mat Dawuk dan Inayatun. Sepasang kekasih ganjil dan berakhir tragis.

Mat Dawuk lelaki buruk rupa yang ditakuti warga bahkan sejak kecil. Ketika ke Malaysia, ia jadi pembunuh bayaran berdarah dingin dan tak seorang pun sanggup menjatuhkannya. Pasangannya, Inayatun sang bunga desa yang ibu-ibu berharap anaknya lahir seperti dirinya, cantik dan selalu ceria. Namun ibu-ibu berbalik menyesali harapannya ketika masa remaja Inayatun adalah petualangan dari satu lelaki ke lelaki lain, bahkan ketika ia di Malaysia sebelum bertemu Dawuk.

Kecuali pasangan Dawuk dan Inayatun di Rumbuk Randu, apa pun boleh terjadi. Perselingkuhan, suap-menyuap dengan polisi hutan, dan sebagainya. Justru adalah malapetaka ketika Inayatun bersuami Dawuk. Dan karena pasangan itulah awal kisah kelabu di Rumbuk Randu.

 

Nasib buruh migran

Rumbuk Randu boleh jadi desa imajiner. Seperti Macondo, misalnya. Akan tetapi  citraan geografisnya  mengantar ingatan pada daerah pegunungan kapur Lamongan Selatan. Pun fakta-fakta sosio-historisnya, yang merentang dari sejarah Jawa sebelum merdeka sampai Indonesia berganti presiden lima kali, membuatnya terasa dekat dan sama sekali tidak berjarak dengan kita, serta menghadirkan gambaran segar.

Dan yang paling bikin segar novel ini tentu adalah pilihan Mahfud mengetengahkan persoalan buruh migran. Yakni permasalahan tenaga kerja ketika harga minyak dunia anjlok dan sebuah rezim ekonomi neoliberal dimulai pada 1980-an.

Menyusul turunnya harga minyak waktu itu, pemerintah mulai menggalakkan industri pertambangan dan perkebunan. Hutan-hutan, termasuk di pedalaman Jawa, diambil-alih pemerintah dan diisi tanaman komoditas seperti jati, cokelat atau sengon. Pengambilalihan hutan ini melempar masyarakat biasa jadi pekerja informal yang salah satunya adalah kerja menjadi buruh migran. Selain itu, pemerintah mulai membangun perekonomian berbasis tenaga kerja murah dan mengekspor tenaga kerja sebagai komoditas.

Jika sebelumnya memburuh ke Malaysia dilakukan berdasarkan hubungan kekerabatan dan kultural di luar campur tangan pemerintah, menyusul kesadaran pemerintah akan nilai komoditas tenaga kerja, tahun 1984 ditandatangani perjanjian Medan Agreement untuk mengatur dan mengawasi arus migrasi ke Malaysia.

Dan penduduk Rumbuk Randu “Tak berapa lama sehabis pemilu Lapan Tujuh, […] meninggalkan ladang kering mereka, melanggar tabu punden punden mereka yang tak suka meninggalkan tanah kelahiran” (hal. 99). Mereka menyeberang ke negeri Jiran, seperti yang dilakukan desa-desa daerah Pantura.

Bertahun-tahun kemudian, Rumbuk Randu berubah. Sebuah desa di tengah gerumbul hutan Perhutani, yang paling akhir kemasukan aliran listrik itu (hal. 139). Benda-benda modern dari Malaysia merangsek, jalan-jalan menjadi mulus. Singkatnya, Rumbuk Randu menjadi gemerlap karena tersentuh hasil keringat buruh migrannya.

Namun ada yang tidak berubah di Rumbuk Randu selain keyakinan dan kebiasaan lama sebuah desa yang kental dengan klenik, yakni nasib mereka sebagai buruh migran.

Buruh migran adalah pekerja rentan. Kelas terbawah dari komposisi kelas pekerja. Ciri-ciri utama pekerja rentan salah satunya tidak adanya jaminan sosial, seperti asuransi dan perlindungan hukum. Tentu selain kualitas pekerjaan yang jauh dari standar.

Di Malaysia sana mereka tidak mendapat pekerjaan layak. Ada yang menjadi pengurus kelapa sawit, tukang bangunan, buruh rumah tangga, pembunuh bayaran seperti Dawuk, atau bahkan seperti Inayatun yang harus mengganggu suami orang agar bertahan hidup.

Bagian “Pertemuan” (hal. 26), “Seorang Perempuan Jawa Menangis, Dua Mat Indon Berkelahi” (hal. 30), dan “Pasangan Ganjil” (hal. 36) merupakan potret kehidupan penuh risiko mereka para buruh migran di sana, yang tanpa jaminan keselamatan dan keamanan.

Begitu pula ketika kembali ke kampung halaman. Nasib mereka tetap sama. Peluang perekonomian nyaris tidak ada. Kalau tidak kembali memburuh ke negeri rantau, berarti menerima apa adanya untuk terjun ke sektor ekonomi informal yang tidak produktif karena desa sudah dilucuti potensi perekonomiannya oleh kebijakan pembangunan.

Dua kondisi itu yang tidak berubah. Lebih-lebih sampai hari ini ketika nilai tawar tenaga kerja semakin ditekan.

Rachman Habib

Rachman Habib

mahasiswa Filsafat Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rachman Habib

Latest posts by Rachman Habib (see all)