Saat Matahari Jatuh di Chao Phraya

in Hibernasi by
20160212_183703
Gambar koleksi pribadi Avifah Ve

Aku pulang membawa kenangan tentang seorang pria Thailand Selatan yang kujumpai pada malam terakhir di Bangkok. Pemilik tatapan teduh yang sempat membuatku ingin kembali lagi ke kota itu.

Jam putih di pergelangan tangan menunjukkan pukul tiga sore. Kakiku melangkah tergesa menuju ruang tunggu yang terletak di paling ujung. Gate 25! Satu per satu pesawat mendarat di landasan yang terlihat dari balik dinding kaca besar yang memagari Bandara Don Mueang.

Ngomong-ngomong, aku sangat menyukai bandara dan pesawat. Entah sejak kapan tepatnya. Selain tempat baru dan pemandangan yang indah, dua hal itu menjadi alasanku suka bepergian. Mungkin ini konyol atau bukan hal penting bagi sebagian orang. Namun melayang di atas awan, menyaksikan pertemuan dan perpisahan di bandara, mendapat pengalaman baru, dan berjumpa dengan banyak orang menjadi kepuasan tersendiri bagiku. Bukankah setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menyenangkan dirinya sendiri?

Belum lama aku tiba di ruang tunggu, sebuah pengumuman terdengar dari pengeras suara bahwa pesawat yang akan membawaku ke Jakarta, tertunda keberangkatannya hingga satu jam. Tak ada cara yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu selain berdiam memandangi deretan pesawat dan menikmati suara gaduh orang-orang yang sibuk dengan tujuannya masing-masing. Masa-masa menunggu itu seketika membawa kembali kenangan yang kulalui tadi malam. Kurogoh kamera dari tas di pangkuan. Beberapa gambar sesosok lelaki berkacamata terpampang di sana.  Laki-laki berwajah oriental dari selatan yang memikatku dalam waktu singkat dengan keramahan dan perhatiannya. Terlalu mudah. Terlalu cepat. Masih dalam hitungan jam kami berpisah, jadi sangat wajar jika ingatanku tentangnya masih melekat, menggeser semua memori tentang perjalananku selama beberapa hari di Bangkok. Seakan-akan hanya dia satu-satunya pesona Thailand yang tertangkap mata.

Angin Sungai Chao Phraya bertiup semilir. Langit sudah gelap saat aku tiba di dermaga Saphan Taksin. Dengan langkah terseok-seok aku turun dari kapal feri lalu menaiki tangga di pelabuhan menuju stasiun yang berada di lantai dua. Tangan kananku mencengkeram plastik besar berisi barang-barang khas Thailand yang baru saja kubeli di Asiatique, oleh-oleh. Sulit sekali rasanya membawa bungkusan berat seorang diri. “Huft, seharusnya aku tak belanja sebanyak ini,” ocehku pada diri sendiri di antara hiruk-pikuk puluhan orang yang melangkah cepat mendahuluiku.

“Boleh saya bantu?” Seorang pria berkacamata tiba-tiba sudah berdiri dengan tangan terulur di hadapanku yang sedang kerepotan mencari uang koin setelah meletakkan belanjaan di lantai. Mesin penjual tiket kereta di Bangkok hanya menerima uang koin.

“Oh, terima kasih. Tapi saya bisa bawa sendiri,” sahutku seramah mungkin. Tanganku masih sibuk mengacak isi dompet.

“Mau ke mana?”

“BTS Nana,” jawabku sambil merogoh selembar pecahan lima puluh baht untuk di tukar di loket karena tak menemukan koin sama sekali.

“Tunggu di sini.” Kemudian laki-laki itu melangkah ke arah mesin penjual tiket. Meninggalkan aku yang berdiri kebingungan.

Setelah meneguk hampir separuh isi botol minum, menyeka keringat yang membasahi wajah, kuhampiri lelaki itu, “Maaf, saya…”

“Saya juga mau ke Nana. Kamu tunggu saja di sana. Biar saya yang beli tiketnya. Sendirian, kan?”

Baik banget, bisikku dalam hati. Tak terlintas sedikit pun perasaan takut dan curiga terhadap pria berlogat Melayu itu.

“Saya yang bawa. Ini tiketmu. Ayo.” Pria itu meraih plastik putih besar yang tergeletak di samping kakiku. Suaranya terdengar pelan nyaris tertelan keramaian.

“Eh, tunggu. Nggak usah. Itu berat.” Setengah berlari aku menyejajari langkahnya.

“Tak apa. Saya laki-laki. Perempuan tak boleh membawa beban berat selama ada laki-laki.” Dia mengucapkan kalimat itu masih dengan aksen yang kaku dan sedikit terbata. Terdengar aneh tapi berhasil membuatku terdiam.

Terkadang mencuri hati seseorang memang bisa semudah memasak mi instan. Ada hati yang mungkin sulit ditaklukkan dengan berbagai pujian, tapi malah luluh hanya dengan ucapan atau perhatian sederhana; seperti jangan pulang terlalu malam, beri aku kabar jika kamu sudah sampai di rumah, atau di luar mendung, jangan lupa bawa payung. Itu hatiku!

“Seorang teman memberi tahu, ada perkampungan Arab di dekat Nana. Penasaran.” Asal saja kalimat itu meluncur. Aku tidak tahu bagaimana memulai percakapan dengan laki-laki asing ini. Sejak memasuki kereta, dia hanya diam tapi tetap memastikan aku dan barang-barangku aman bersamanya di antara orang-orang penuh sesak di dalam gerbong.

“Kebetulan. Saya juga. Tak ada tujuan apa pun. Hanya ingin berjalan-jalan di sana,” sahutnya sembari tersenyum.

Ya Tuhan, ternyata dia manis sekali, hatiku memekik. “Nama saya Alisha. Dari Indonesia.”

“Saya Zafran.”

“Hah??” Sontak mataku membelalak.

“Kenapa?” Zafran menelisik meminta jawaban atas rasa kagetku.

“Apakah nama itu banyak dipakai untuk pria Melayu?”

Zafran memberi tatapan tak mengerti.

“Ah, lupakan.” Bukankah wajar jika ada dua orang atau bahkan lebih yang mempunyai nama sama?

***

Menyusuri Arab Town benar-benar menambah rasa lelahku setelah seharian berkeliling di Grand Palace dan Wat Pho. Zafran yang berjalan di depanku berkali-kali menoleh, dan berjalan kembali setelah aku tiba di sampingnya.

“Kita cari tempat duduk. Kamu harus istirahat.” Lagi-lagi Zafran seperti sangat memahamiku.

Aku mengangguk.

“Di seberang jalan sana. Kita hanya perlu berjalan sedikit lagi. Tak apa?”

“Tak masalah.” Mungkin aku terlalu percaya diri, perhatian Zafran terasa istimewa dan benar-benar mampu menghadirkan rasa nyaman yang tiba-tiba. Namun, suara lain di kepala memintaku untuk segera menepis perasaan melambung itu. Bisa jadi memang seperti ini para lelaki Thailand memperlakukan wanita yang kesusahan meski baru dua jam lalu dikenalnya. Lagi pula ini terlalu cepat dan tak seharusnya. Tapi rasa bahagia yang telanjur melumuri hati sejak beberapa saat lalu sudah tak sanggup kuredam lagi.

“Sudah pernah ke sini?” Zafran memulai percakapan setelah kami menemukan tempat duduk di salah satu kafe pinggir jalan di kawasan Petchaburi.

“Baru pertama.” Jemariku sibuk mengetuk-ngetuk meja.

“Menikmati Matahari jatuh di Chao Phraya adalah hal yang harus saya lakukan setiap kali berada di kota ini.” Seolah bisa menebak raut mukaku yang menyimpan pertanyaan, dia melanjutkan, “Saya dari Thailand Selatan.”

“Oh…! Tadinya saya pikir kamu dari Taiwan. Tapi bisa bahasa Melayu.”

“Iya, ada keturunan. Nama belakangku Tan.”

Seorang pelayan kafe datang membawa green tea pesananku. Malam semakin beranjak. Cuaca panas dan kendaraan yang masih ramai melintas saling berkejaran serasa membawaku pada suasana Jakarta, jika saja di sekeliling tidak terdengar orang berbicara dengan bahasa Thailand dan tidak ada laki-laki yang perlahan-lahan tatapannya membuatku ingin lebih lama lagi bersamanya. Aku tak bisa memastikan perasaan ini benar-benar rasa suka atau hanya kekaguman sesaat, namun berada di dekatnya membuat waktu semakin kencang berlari. Seperti yang kebanyakan orang bilang, waktu terasa begitu cepat ketika berdua dengan seseorang yang kau harapkan berada selamanya dalam hidupmu.

“Green tea-nya enak!” Aku nyengir, berusaha menutupi sikap yang mulai salah tingkah karena Zafran tak sama sekali melepas pandangannya dariku. “Ah iya, besok aku sudah harus pulang ke Indonesia. Padahal masih banyak tempat rekomendasi teman-teman yang belum kudatangi.” Darahku berdesir mendengar suaraku sendiri. Kata saya itu sudah berganti dengan aku.

“Mau datang lagi?”

“Ya! Pastinya.”

“Datanglah pada akhir tahun, di bulan Desember, ketika bunga matahari mekar di Lopburi. Nanti kita pergi bersama naik kereta ke sana. Jika kamu mau.”

Kita??? Buru-buru kusembunyikan keterkejutan itu dengan meneguk minuman berwarna hijau yang tersisa setengah dari isi semula. “Wah, akan senang sekali jika bisa berada di sini tepat pada hari ulang tahunku. Lima Desember. Aku akan datang,” sahutku meyakinkan. Tapi kemudian menyesalinya.

Obrolan kami pun kembali mengalir, membahas satu per satu tempat yang tak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Bangkok, dan tanpa bisa kuhindari, malam sudah sangat larut. Zafran mengantarku pulang hingga ke depan hotel tempatku menginap. Akhirnya kami harus menyudahi kebersamaan malam ini.

“Terima kasih sudah menemani.”

“Lima Desember. Kita jumpa di pelataran Asiatique, di dekat dermaga saat matahari jatuh.”

“Saat senja? Okay!” Kuangkat tangan kanan ke dekat pelipis seperti sedang memberi hormat. Sebuah perjanjian yang seharusnya tak kusepakati.

Zafran berlalu setelah berpesan untuk hati-hati dan minta maaf karena tidak bisa mengantarku ke bandara. Dia akan lebih dulu pulang ke kampung halamannya besok pagi.

Pukul delapan malam, aku tiba di Bandara Soekarno-Hatta setelah terbang sekitar tiga jam dari Bangkok. Saat sedang menuju pintu keluar, beberapa pemberitahuan masuk di handphone yang baru saja kuaktifkan. Senyumku seketika mengembang tanpa bisa disembunyikan saat membaca sebuah pesan dari lelaki asal Kuala Lumpur yang menjalin hubungan denganku sejak satu tahun lalu.

Aku sudah di Jakarta sejak tadi sore. Untuk memenuhi janji. Kapan bisa ketemu? –Zafran

***

            Setelah tujuh tahun berlalu, aku kembali ke Bangkok untuk kedua kalinya, merayakan ulang tahun di Asiatique bersama dua lelaki hebat yang sangat kucintai. Suami dan jagoan kecilku.

            “Ibu, aku dapat mainan gajah kecil dari Om itu. Namanya sama seperti Ayah.” Jari kecil anakku menunjuk seorang lelaki yang sedang duduk di salah satu bangku tak jauh dari meja kami. Pria berkacamata itu menghadap ke dermaga, searah dengan matahari yang hampir tenggelam di Chao Phraya.

            Ternyata dia masih menunggu, sedangkan aku tak pernah menganggap janji itu ada dan memilih Zafran yang lain….

Avifah Ve

Avifah Ve

Madridista akhir zaman.
Avifah Ve