Sableng yang Perlu; Review Film Wiro Sableng (2018)

in Hibernasi by

Proyek ambisius untuk mengangkat perfilman negara ini akhirnya sudah hadir. Tak tanggung-tanggung, studio sebesar 20th Century Fox bekerja sama dengan studio lokal mengangkat film yang menjadi legenda di layar kaca era 90-an. Film itu bukan berjudul Si Doel… yang sayangnya meski sudah tua RK tetap kukuh harus memerankan anak Betawi tukang insinyur tersebut tanpa perlu diganti atau mencoba sudah cukup untuk membuat film Doel lagi.

Semenjak demam “reborn” menjadi suatu barang yang lagi hangat seperti di Hollywood kala film-film koboi mewabah laiknya film superhero, negara ini juga menjadi latah. Apa pun yang sekiranya lawas, mengenang, dan juga bisa jadi ladang uang, menjadi komoditas di layar bioskop akhir-akhir ini. Entah itu dibuat ulang, mengganti ceritanya menjadi baru lagi, serta melanjutkan kisah yang ada, repetisi singkat semacam ini sekiranya kalau bisa menarik penonton lebih dari dua juta, bisa dikatakan film itu berhasil.

Entahlah untuk film Wiro Sableng kali ini. Bagi yang lahir dan besar di era 90-an, setidaknya pasti terngiang dengan lirik, “Wiro, Wiro Sableng! Sinto, guru gendeng!” dan tagline, “Muridnya sableng, gurunya gendeng.”

Wiro yang lebih dulu dikenal sebagai tokoh rekaan Bastian Tito membumi di masyarakat sebagai cerita silat stensil yang bisa didapat di lapak-lapak koran sebelum akhirnya diadaptasi ke komik dan layar kaca. Kini demi dengan alasan nostalgia serta membawa kembali cerita silat ke layar lebar, sutradara Dimas Angga menelurkan karya Wiro Sableng dengan menggandeng nama besar—yang notabene bukan Fox Studio, tapi Vino Bastian, anak dari kreator Wiro Sableng sendiri, menjadi tokoh rekaan ayahnya. Andai saja Bastian Tito masih hidup, dia akan tersenyum melihat anaknya memakai baju silat putih dengan tato 212 di dadanya.

Entah atas dasar apa pun mengenai kenapa Vino yang memerankan Wiro di film ini, sesaat penulis menyaksikan filmnya dan mengingat kembali lantas mengomparasikan dengan Ken-Ken, pemeran Wiro versi televisi, keduanya punya jiwa yang pas untuk menjadikan pendekar ini menjadi hidup dan dikenal. Cuman Vino masih kurang tengil dan tingkat kesablengannya pun sedikit. Entah karena penulisan skenarionya sepertinya terlalu menyesakkan karakter Wiro di dalam film ini atau karena Vino kurang mengambil roh sableng dan cenderung melempar lelucon yang jika diteruskan lagi akan menjadi garing. Apa mungkin karena dia bermain secara terpaksa menjadi salah satu komedian di film sebelumnya sehingga terbawa di sini, penulis hampir lupa jika Sableng cumalah nama, bukan sikap. Sangat disayangkan. Seperti Spider-Man adalah Toby Mcguire sedangkan Andrew Garfield dan Tom Holland hanyalah stuntman. Anda tidak suka? Silakan debat dengan penulis.

Pun karakter lain juga dibawa sekenanya saja. Nama-nama besar terpaksa jadi penghias film ini. Terlebih penulis ingat salah satu aktris di film ini, meski ia tidak mendapat peran banyak, hanya mengatakan tiga dialog saja. Selebihnya dia hanya main ekspresi dan kostum yang menarik. Karakter Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti di film ini pun seakan terpaksa “harus” menjadi sidekick Wiro Sableng. Ini yang membuat penulis tak habis pikir jika mereka berdua adalah pendamping Wiro, ya judul filmnya sih harusnya diganti Wiro Sableng dan kawan-kawan.

Justru karakter menarik film ini dan membuat penulis tak habis pikir adalah Bidadari Angin Timur yang diperankan oleh istri sang aktor utama. Kemunculannya tiga kali sepanjang film, dan setiap muncul hanya memberi petuah, menolong Wiro dan dia di sini terlihat sakti juga cantik. Banyak yang menggadang-gadang Sherina tampil cantik tapi maaf, Bidadari Angin Timur berperan sesuai namanya, membawa angin segar di film ini. Walau karakternya seakan dihadirkan hanya untuk agar cerita film ini lanjut—jika Anda sudah menonton film ini dan bayangkan jika adegan wanita sakti ini tidak ada maka filmnya akan terasa monoton, petuah yang diucapkannya sewaktu pertama kali muncul sungguh merefleksikan apa yang terjadi di negara ini. Kalau tidak salah, dia berbicara semacam ini—maaf dengan memori singkat penulis yang buruk:

“Di saat langit berwarna merah maka ia yang terlahir dengan tawa akan membawa perubahan.”

Lihatlah sekitarmu, apakah terlihat semuanya monoton dengan gerak ritmis beraturan sehingga sesuatu yang muncul secara aneh—semisal tertawa di saat lainnya terdiam, terlihat seperti dia sableng atau hanya mencari perhatian? Penulis tidak menyarankan untuk seketika kita langsung berbuat sableng. Namun sablenglah yang perlu. Toh di KBBI, arti sableng kan agak gila, jadi ya tidak perlu gila segila-gilanya. Lihatlah Wiro sedikit sebagai contoh, mana ada dia serius menghadapi lawan-lawannya? Dia tersenyum. Dia bermaksud baik. Dia mengajak musuhnya untuk tersenyum. Jika musuhnya mengira dia mengejek dan tak segan-segan membunuh Wiro, Wiro juga bisa melawan balik. Seperlu-perlunya edan di zaman edan lebih baik dari pura-pura waras.

Sayangnya filosofi ini tertutupi begitu saja dengan alur cerita yang monoton khas cerita silat: balas dendam. Mau film yang diperankan Jackie Chan, Van Damme, sampai Iko Uwais balas dendam dan melampiaskannya ke gerakan-gerakan indah pertempuran—meski terlihat brutal, menjadi seni yang hanya mampu diterima segelintir orang. Bumbu romansa di film ini tetap ada walau ya… tidak seheboh Yoko dan Bibi Lung.

Penulis sempat kaget ketika melihat salah satu nama di tim penulis film Wiro Sableng kali ini juga punya andil membuat film silat yang gagal di pasaran, Pendekar Tongkat Emas, Seno Gumira Ajidarma. Penulis tidak mampu mengkritik tulisan SGA sebab beliau juga termasuk salah satu penulis negara ini yang dikagumi penulis. Hanya saja, jika Anda sudah pernah melihat Lion King atau membaca kisah Shakespeare, tak jauh beda. Cuma ditambah silat saja. Meski ditangani oleh Yayan Ruhiyan sebagai salah satu koreo laga di film ini, ya mohon maaf, jika Anda membandingkannya dengan film laga khas The Raid. Selain jauh beda mungkin faktor penyebabnya adalah rating film ini. Karena masih saja banyak papah-mamah muda membawa balitanya ke dalam studio. Ada satu adegan laga yang membuat penulis terkagum. Bukan karena koreonya, tetapi tempat pertarungan itu dilakukan. Di sebuah kamar dengan patung dewa, koreografi pertarungan sederhana namun makna yang coba ditangkap adalah kau tidak bisa memaafkan pengkhianat meski ia bersimpuh memohon ampun di depan dewa. Sayangnya pertarungan klimaks film ini cukup membuat penulis berkata, “Yaelah….”

Bukan film yang sempurna, tapi angin segar seperti yang dibawa Bidadari Angin Timur sedikit terembus di film ini. Film laga kolosal yang mampu dilirik oleh studio Hollywood dan semoga juga bisa diikuti oleh penerus-penerusnya karena ya… film ini sepertinya akan ada lanjutannya karena sineas negara ini masih berusaha meyakinkan para penonton untuk tetap duduk di bangku penonton sebab ada mid credit scene ala-ala film superhero yang agak dipaksakan karena bagi penulis Wiro Sableng itu bukan superhero—sayangnya pernyataan ini dipatahkan karena di beberapa adegan Wiro Sableng mendadak menjadi Thor.

Wiro Sableng adalah seorang pendekar. Ilmu putih. Dia akan memberantas aliran hitam dunia persilatan. Sampai mungkin silat sudah digantikan oleh Tamiya, Beyblade, atau Pokemon.

Moral cerita film ini adalah… jika Anda berada di zaman kolosal, jangan berbisnis dengan membuka warung atau angkringan sebab pasti ADA saja pendekar yang mengobrak-abrik warung Anda.

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian