Sabun

in Cerita Pendek by
saatchiart.com

Sebelum kau bercerita, kau menyarankan kepadaku untuk berdoa dulu. Katamu, doa itu akan dapat membantu kejernihan pikiranku tetap terjaga. Katamu juga, kejernihan itu akan menjauhkan diriku dari pikiran kotor yang biasanya cenderung akan menggiring ke dunia mesum. Yang menurutmu lebih fatal lagi jika pikiran sedang kotor akan mudah menghakimi bahwa cerita yang akan kau kisahkan nanti sebagai sebuah cerita cabul belaka. Katamu juga, yang terpenting bahwa kejernihan pikiran itu akan mampu menjaga kesucian puasaku di bulan yang penuh rahmat ini. Selain itu pada saat aku menyimak ceritamu nanti kau mengharapkan aku untuk berusaha bersikap sabar dan tidak kemrungsung. Tanpa kuprotes, aku menuruti saja maumu. Setelah sejenak aku mengheningkan cipta, tak lama kemudian kau mulai bercerita.

Cerita ini kau awali dengan peristiwa pertemuanmu pertama kali dengan laki-laki dewasa di rumah itu. Peristiwanya terjadi pada pagi yang dingin. Pagi itu tiba-tiba kau dikeluarkan dari ruanganmu. Bajumu dibuka paksa olehnya. Dia melucuti seluruh pakaianmu dengan cara serampangan, terkesan buru-buru dan terlihat tidak sabar. Begitu seluruh pakaianmu lepas dari tubuhmu, dalam keadaan telanjang dibawanya kau masuk ke dalam kamar mandi. Pada saat itulah kau mengatakan seketika hawa dingin kau rasakan lebih dingin dari waktu sebelumnya. Kau menerka salah satu sebab lebih dingin itu karena dirimu tak berbaju lagi.

Sampai di dalam kamar mandi, kau didudukkan pada suatu tempat. Tak lama kemudian dia menutup pintu sebelum akhirnya dia yang gantian melepas satu per satu pakaiannya. Setelah seluruh pakaiannya tanggal, dia mengambil sebuah sikat gigi dan odol. Odol dibuka tutupnya lalu dia mengeluarkan sedikit isinya ke atas bulu sikat. Setelah itu dia mulai menggunakan sikat itu untuk membersihkan giginya. Sebelum melanjutkan ceritamu, kau menyisipkan penjelasan tentang sikat gigi dan odol yang pada awalnya tidak kau ketahui nama dan penggunaannya. Kau baru bisa menyimpulkan nama barang-barang itu setelah beberapa hari dan beberapa kali kau memperhatikan penggunaannya.

Ceritamu selanjutnya, sembari menyikat gigi, laki-laki itu kencing, di mana hal itu kau tahu disebut kencing juga setelah beberapa waktu kemudian. Begitu selesai sikat gigi, dia mulai menyirami tubuhnya dengan air yang diambil dari bak mandi. Tak lama kemudian dia memegangmu, lalu membimbingmu agar kau menyentuhi seluruh tubuhnya. Pada saat itu tubuhmu mengeluarkan busa hingga membaluri sekujur tubuhnya. Setelah tubuhnya rata oleh busamu, kau didudukkan kembali pada tempat yang semula. Sejenak kemudian dia kembali memegang ciduk lalu mengambil air dalam bak, menyiramkan air itu ke tubuhnya, begitu berulang kali. Setelah menghentikan siramannya, laki-laki itu mengambil handuk yang ada di gantungan dan melilitkan ke badannya untuk menutupi bagian perut ke bawah. Dia melakukan kegiatan seperti itu pagi dan sore, yang nantinya kau tahu bahwa kegiatan itu disebut mandi. Setelah beberapa hari berlalu dan tentunya beberapa kali laki-laki itu mandi, barulah kau hafal bahwa dia tidak membutuhkan waktu lama pada saat mandi. Selalu cepat.

Setelah itu kau menceritakan juga bahwa usai laki-laki itu mandi, masuklah ke ruangan itu seorang perempuan dewasa dengan membawa handuk. Sesampainya di kamar mandi dia menutup pintu dan menyampirkan handuk pada tempat gantungan. Tak lama kemudian dia mulai melepas satu per satu pakaian yang menutupi tubuhnya. Begitu telanjang, dia melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan laki-laki dewasa itu, yaitu gosok gigi. Begitu selesai menggosok gigi dia jongkok agak lama, yang kemudian kamu tahu bahwa dia sedang kencing.

Selesai kencing, dia mulai mengguyur tubuhnya dengan air. Sejenak kemudian tangannya meraihmu, dia mulai mengusap-usapkan dirimu ke sekujur tubuhnya. Pada saat itu kau merasakan bahwa kulit perempuan itu sangat halus dan kau merasakan hal itu sangat berbeda dengan kulit laki-laki. Perempuan itu melakukan elusan dirimu ke tubuhnya dengan sangat hati-hati. Dia berusaha menjamahkan dirimu ke seluruh permukaan tubuhnya. Sangat telaten, santai, dan tidak kemrungsung, bahkan kau bilang perempuan itu seperti menikmati setiap apa yang dilakukannya di sana. Karena itu kau dapat menyimpulkan bahwa saat mandi, perempuan membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan laki-laki.

Katamu, jika laki-laki mandi, pada saat dia sedang gosok gigi, pada saat itu juga dia  kencing. Pada saat laki-laki mencuci rambut, pada saat itu dibarengi dengan mandi sekalian. Sedangkan perempuan akan melakukan semua itu secara sendiri-sendiri. Gosok gigi sendiri, pipis sendiri, keramas sendiri dan memandikan badannya secara berurutan. Oya, kau juga mengatakan meski laki-laki dan perempuan itu berbeda dalam hal cara dan waktu mandinya tapi terkhusus untuk laki-laki dan perempuan yang kau ceritakan ini punya suatu kebiasaan yang sama, sebelum melakukan ritual mandi itu, mereka lebih dulu memeriksa bulu-bulu mereka. Bulu-bulu yang kau maksudkan ini adalah rambut ketiak dan rambut kemaluan mereka. Sekiranya dirasa telah panjang, mereka akan membersihkannya dengan alat garuk yang sudah dipersiapkan di kamar mandi itu. Kau juga mengatakan, rupanya mereka sepakat untuk selalu membersihkan tubuhnya dari rambut-rambut itu. Karena hal itu kau bisa merasakan bahwa tubuh mereka selalu mulus dan bersih tanpa rambut ketiak dan rambut kemaluan.

Ceritamu berlanjut. Setelah perempuan itu selesai mandi, muncul anak laki-laki kecil yang kira-kira berusia 8 tahun masuk ke kamar mandi. Ketika anak kecil sudah berada di dekatmu, kau melihat, matanya sembap, dan kau menduga dia habis menangis. Karena dari sekilas percakapan mereka sebelum anak kecil itu muncul kau bisa mengerti sebenarnya anak itu malas untuk mandi tapi dipaksa suruh mandi. Anak kecil itu sudah dalam keadaan telanjang ketika sampai di kamar mandi. Tentu saja pakaiannya sudah dilepas sebelum menuju ke kamar mandi dan kau mengira pastilah perempuan dewasa itulah yang membantu untuk melepas pakaiannya.

Dari serentetan peristiwa bersama mereka itu kau menjadi tahu, mereka bertiga adalah sebuah keluarga. Laki-laki dewasa dan perempuan dewasa itu adalah sepasang suami istri dan anak laki-laki kecil itu adalah putra mereka. Waktu anak kecil itu mandi tidak menutup pintunya. Dan anehnya begitu tangan anak itu  menyentuh air, tidak lama kemudian dia sudah langsung asyik bermain. Kau mengatakan bahwa dirimu juga tak ketinggalan diajaknya bermain. Katamu, begitu kau dipegangnya, kau dipermainkannya dengan memakai kedua telapak tangannya. Kau sempat beberapa kali jatuh karena anak kecil itu sengaja membuatmu mencotot terlepas dari genggamannya. Lama anak itu mengajakmu bermain bersama, bahkan kau mengatakan bahwa kau sempat lepas dari genggamannya dan jatuh di kloset, tapi anak kecil itu tidak merasa jijik, kau langsung diambilnya begitu saja dari dalam kloset. Setelah itu kau kembali diajaknya bermain lagi dan anak itu baru menghentikan kegiatannya saat ibunya berteriak-teriak memperingatkan agar dia tidak bermain di kamar mandi.

Pada saat anak kecil itu menyudahi mandinya, kau sempat menghentikan sejenak ceritamu. Kukira ceritamu sudah berakhir sampai di sini, tapi ketika aku menanyakannya, kau menjawab bahwa ceritamu belum selesai. Bahkan kau mengatakan kisah ini baru dimulai. Inti dari cerita ini belum kau kisahkan.

Sebelum cerita berlanjut, kau menyadari bahwa sebenarnya apa yang kau kisahkan bukan cerita yang baik. Maksudmu cerita ini adalah cerita yang datar. Kau bilang bahwa cerita ini tidak menyuguhkan konflik di dalamnya. Kau menamai cerita ini hanya semacam laporan dari sebuah kejadian. Bahkan menurut pendapatmu sendiri, sejauh yang telah kau ceritakan semuanya tadi adalah biasa. Apa yang kau kisahkan hanya seperti sebuah pengamatan yang disajikan tanpa memperhitungkan estetika. Itu pun ceritanya terlalu monoton dan hal yang kau kisahkan tadi bukan sesuatu yang baru. Kaupikir, semua orang tentunya sudah mengetahui, misalnya, kalau proses orang mandi ya seperti itu. Kau menganggap kejadian itu kejadian umum dan lumrah. Oleh karena itu menurutmu sangat memungkinkan, siapa pun yang mendengarkan cerita ini pasti akan mudah merasa bosan. Tapi buru-buru kau juga mengatakan kepadaku bahwa karena hal itulah, di awal bercerita tadi kau merasa perlu mengatakan kepadaku pentingnya untuk bersabar. Karena menurutmu, cerita ini tidak menitikberatkan pada kualitas berceritanya. Sebenarnya kau hanya ingin mengatakan bahwa sesuatu yang sepertinya berlangsung tanpa konflik, terlihat tenang-tenang saja, dan tampak baik-baik saja, bisa juga ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya. Dan ketidakberesan itu ternyata dapat terungkap dengan hal yang paling sepele. Oleh karena itulah, kembali kau meyakinkanku untuk tetap bersabar mengikuti cerita ini sampai tuntas nanti. Aku langsung mengiyakan, bukan karena iba atau terpaksa tetapi karena memang aku ingin mendengarkan. Aku ingin tahu apa sesungguhnya inti dari ceritamu ini.

Lantas aku memintamu untuk segera melanjutkan ceritamu dan kau menurutinya. Kau mengatakan, pada suatu hari kau mendengar laki-laki itu izin kepada istrinya untuk pergi ke luar kota selama tiga hari karena tugas kerja. Tentu saja setelah suaminya itu pergi kau hanya melayani ibu dan anaknya saja. Tapi pada sore hari di hari kedua kepergian suaminya, rumah itu kedatangan tamu. Kau tahu hal itu pada saat ada seorang laki-laki lain masuk ke kamar mandi untuk kencing. Pada saat itu kau menerka laki-laki itu adalah tamu yang kebetulan kebelet kencing lalu meminta izin untuk kencing di kamar mandi. Setelah kencing selesai laki-laki itu bermaksud keluar. Tapi tepat pada saat laki-laki itu akan membuka pintu kamar mandi, lebih dulu pintu itu diketuk dari luar. Laki-laki itu membuka pintu. Lalu perempuan itu masuk ke kamar mandi dan pintu kembali ditutup.

“Si kecil sudah tidur,” katamu menirukan perkataan perempuan itu.

Jadilah mereka berdua di ruangan sempit itu. Kemudian kau menceritakan, dengan cepat bibir mereka telah beradu. Tubuh mereka merekat. Lalu mereka saling melepas pakaian mereka hingga telanjang. Setelah itu banyak hal yang mereka lakukan berdua sebelum mereka mengakhirinya dengan mandi bersama. Pada saat mereka menyudahinya dan pada saat pintu kamar mandi mereka buka, ada suara dering ponsel. Perempuan itu bergegas lebih dulu keluar dari kamar mandi. Dia berlari kecil untuk mencari ponselnya. Begitu ponsel ketemu, dia menerima panggilan itu. Usai menerima telepon, perempuan itu mendekati laki-laki itu di mana dia masih berada di kamar mandi sedang mengenakan pakaiannya.

“Ternyata dia pulang sekarang. Sudah perjalanan ke rumah,” katamu menirukan perkataan perempuan itu.

Laki-laki itu buru-buru menyelesaikan mengenakan pakaiannya. Sebelum lelaki itu berlalu dari hadapannya, dia masih sempat mengecup bibir perempuan itu. Sampai pada cerita itu kau sempat terdiam agak lama. Aku juga diam saja. Tidak menanyakan apa pun. Tapi sejujurnya aku masih penasaran bagaimana cerita selanjutnya.

Satu jam kemudian, suami perempuan itu telah sampai di rumah. Untuk sejenak kau mendengar perbincangan mereka. Katamu, suaminya menyatakan kerinduannya yang sangat pada istrinya dan si kecil.

“Mandilah dulu, biar bersih dan segar. Aku menunggu di kamar,” katamu menirukan perkataan perempuan itu.

Beberapa menit kemudian suaminya telah berjalan menuju ke kamar mandi. Dia sudah dalam keadaan telanjang. Tentu saja pakaiannya sudah dilepas sebelum menuju ke kamar mandi dan kau menduga, yang membantu melepas pakaiannya adalah istrinya. Pertama-tama dia mencukur rambut ketiak dan rambut kemaluannya. Setelah itu dia menggosok gigi sembari pipis, lalu keramas. Pada saat dia ingin membilas rambutnya biasanya sekalian mengguyur tubuhnya. Lalu tangannya meraihmu.

Setelah kau mengatakan, pada saat tangannya meraihmu itu, kau menghentikan ceritamu. Kali ini aku menanyakannya, apakah ceritamu telah berakhir. Kau mengatakan bahwa cerita ini belum berakhir, tapi hampir berakhir. Katamu hanya tinggal membutuhkan beberapa kalimat untuk menyelesaikannya.

“Di awal sudah kukatakan, pada saat laki-laki itu mandi tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi kali itu dia sangat lama berada di kamar mandi. Kau tahu apa sebabnya? Pada saat tangannya meraihku, pada saat itulah dia melihat sehelai rambut yang menempel di badanku. Sebuah rambut yang kira-kira panjangnya 5 senti dan rambut itu bukan rambut kepala. Ciri khas rambut itu sudah jelas sekali. Dia tercenung lama sekali memperhatikan rambut itu. Itulah sebabnya dia begitu lama berada di dalam kamar mandi, bahkan dia seperti tak mendengar ketika istrinya telah beberapa kali memanggilnya dengan suara yang erotis,” terangmu.

Yuditeha

Yuditeha

Alumni De Britto dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini, dikenal sangat santun dan menyenangkan. Tapi karya-karyanya, memiliki keliaran yang kadang mengejutkan. Ia menulis puisi, cerpen, dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku kumpulan cerpennya, Balada Bidadari , diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2016.Akan segera terbit kumpulan cerpen terbarunya, Matinya Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya di Penerbit Basabasi. Pelukis wajah yang hobi bernyanyi puisi ini, adalah penyuka bakpia dan onde-onde.
Yuditeha

Latest posts by Yuditeha (see all)