Saga Tombtown

in Cerita Pendek by
pinimg.com

Aku dijebak dalam ketidakmengertian, dan kini aku sadar—di dalam ketak-mengertian—, bahwa aku dijebak oleh sebuah sindikat.

***

Sebuah film cowboy—entah apa judulnya, sekadar ditunjuk dalam sambil lalu ingin segera mengenyak abai—dari cakram DVD, diputar di Kamis petang di bioskop mini dengan perlengkapan home theatre jempolan, di selepas kerja ketika jam macet bubar kantor Jakarta. Sambil menyandar ke sofa, mengunyah burger daging asap, dan soft drink bebas gula. Tidak ada rokok, tak boleh merokok—ruang AC tertutup kedap suara. Aku mesilonggarkan kebas ruas tulang leher. Terpikir: Kenapa di sini? Kenapa tak menerima ajakan Astry buat kembali berkencan di hotel?

Aku menguap. Dan—dengan suara yang mengepungku dari depan, samping, dan belakang—: tiga belas lelaki berkuda menuruni bebukit kersang dengan bubung debu. Isyarat ancaman bagi Tombtown. Serbuan yang membuat penduduk kota mengungsi—bahkan sebelum penyerangan. Dan si yang tersisa itu, karena tidak siap menyeberangi gurun, kini bergegas memilih pergi sebelum bubungan debu menjelma riil begundal si Scottie McCanzie. Melupakan Tombtown, lantas mengenangkan Tombtown sebagai reruntuk sisa penjarahan si tiga belas lelaki berkuda. Para pembantai sheriff—Johnny Mayall. Lelaki sendiri yang abai menunggu di kursi goyang di depan kantor.

Menyelonjorkan kakinya ke palang pagar teras dengan sepucuk Winchester lop tunggal tersilang di paha. Setengah lelap dengan topi dipasang miring, menutup dahi menyembunyikan mata, yang entah terpejam atau licik menandai yang lagi berpacu menuruni bukit itu. Gerombolan yang langsung memasuki jalanan utama Tombtown, yang telah berminggu senantiasa lengang tanpa siapa pun itu. Tepat ketika terik siang meletakkan matahari di atas kepala sambil menancapkan bayangan pada titik fondasi semua tegakan. Sempurna dalam gersang siang dan angin yang tidak kunjung muncul. Keheningan yang menyiksa si tiga belas lelaki yang bergegas loncat, untuk bersitegak berjajar dalam garis agak melengkung depan Johnny Mayall.

Si yang terus bersandar dan alpa di kursi goyang dengan tumpuan dua kaki yang berselonjor, abai agak mengsiancam dengan Winchester lop tunggal tersilang di paha. “Johnny, aku datang!” seru Scottie McCanzie. Tidak ada reaksi. Si seseorang menarik pistol dari pinggang dan gugup menembak ke sembarang titik di kolong kursi Johnny Mayall. Tak ada reaksi. “Pecundang…!” teriak si seseorang lain. Johnny Mayall diam. Tidak ada reaksi. Tidak ada gerak. Seseorang lain menembak topi. Topi terpelanting, dan semua si bajingan itu serentak berteriak. Semua kaget ketika topi yang terbang itu menghadirkan wajah tanpa daging tanpa kulit. Melulu hanya si tulang kersang dengan lekuk berdebu dan rongga berhias jaring laba-laba kusam. Johnny Mayall telah mati—menengkorak dalam menunggu penyerbuan Scottie McCanzie.

Serentak, bagaikan gaung yang menguar lepas dari lelorong bawah tanah, laun memenuhi atmosfer kersang Tombtown, terdengar suara Johnny Mayall, “Bullshit—aku cape menunggu. Kalian penakut!” Scottie McCanzie dan si kedua belas begundal surut selangkah, seiring angin menebar debu serta menggelundungkan perdu garing. Berguling tanpa makna. Ke sana dan semakin ke sana lalu balik semakin ke sini kala embusan berubah—arah angin selalu berubah. Tidak ada apa-apa di Tombtown selain reruntuk rumah, debu yang disiapungkan angin, mengendap, serta disiapungkan lagi, serta perdu garing yang bergendung ke sana ke mari tergantung arah embusan angin. Kota mati. Kota yang ditinggalkan orang karena takut ancaman serbuan.

Scottie McCanzie berbalik, meraih kendali kuda serta bergegas naik diikuti oleh si kedua belas begundal. Saat kuda dibalikkan tubuh mereka jadi hijau, menyala saat serentak mencongklang menuju ke bukit gersang, melayang tanpa suara berderap serta bubungan debu—terbang meninggalkan Tombtown, tersuruk dalam senyap. Mesirepih jadi debu oleh terik siang dan lantang embus angin. Dan tiap matahari mau sampai di puncak kulminasi, ketika bayangan menggumpal di titik fondasi semua tegakan, dari bebukit kersang itu bangkit derap samar yang semakin kencang: si tiga belas berandal, dengan isyarat bubung debu, menuruni lereng melaju ke Tombtown, ke sheriff Johnny Mayall yang santai di kursi goyang.

Di situ. Selalu. Senantiasa.

***

Warto Martagenah menelepon, ada kecelakaan di tol karenanya semua kendaraan ke arah Tangerang terjebak macet. “Beruntung kamu masih menonton film ‘Transmutation’, meski ceritanya telah hafal rasanya itu lebih nyaman dari ada dalam mobil,” katanya. Aku terbahak. Bersyukur terlepas dari lerotan macet yang membuat tak bisa ke mana-mana—melulu menjaga mesin hidup. Mungkin sudah saatnya mobil punya propeler, karenanya bisa terbang, berseliweran terbebas dari ruang jalan yang terbatas. Aku bersendawa. Mem-pause DVD player. Mematikan telepon, bangkit, dan minta keripik kentang dan soft drink ekstra ke waitress di front.

Melepaskan dasi, bersilonjor, dan memulai film dari menit ketigapuluh tujuh. Di tengah dialog dari sebuah adegan yang rasanya belum pernah ditonton di sebelumnya. Apa adegan penyerbuan si Scotie McCanzie itu prolog atau hanya film pendek? Atau thriller dari film lain? Tapi aku madah dan memilih menyelinap empatik dalam yang bagai bersahutan, yang mengepung dari kiri dan kanan dalam keabaian bersandar dan berselonjor di sofa. Aku membuka kancing atas baju setelah menarik sesurukan ujung baju di pinggang celana. Aku menyipit menyimak intonasi bimbang tokoh baru itu, si turis Spanyol Jigo Mategene yang bilang: “Apa yang sebenarnya akan terjadi?”

Suaranya mengambang lirih dalam kesunyian, menyelimuti Jigo Mategene yang dipaksa tiarap di lekuk bukit, sambil mengintip dengan teropong: adegan duel klasik Tombtown, yang muncul setiap menjelang kulminasi matahari di puncak langit, tegak lurus ubun, di bayangan di titik fondasi tegakan. Dan Wounded Left, guide, si Indian Orochimori itu, menggeleng. Serius bilang, tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi di duel penghabisan. Duel yang menyebabkan Tombtown jadi kota yang ditinggalkan, tidak berpenghuni dan dijauhi orang. Takdir yang tidak terhindarkan karena, awalnya, Tombtown—kota tengah gurun itu—: tempat semua bajingan wild west Amerika buron, singgah menikmati sorga kebebasan tanpa polisi dan penegakan hukum.

Segera menjelma jadi sorga kekerasan di dunia, tempat semua hal disiselesaikan secara mandiri dengan berkelahi, dengan duel pistol—satu lawan satu atau keroyokan—sampai mati, sehingga di mana-mana di seputaran Tombtown hanya kuburan dangkal tanpa nisan—dari mana kota mendapatkan nama. “Sejak semula kekerasan merupakan aturan tunggal Tombtown,” pertela Wounded Left, “dan Johnny Mayall menegakkan aturan itu dengan bermain sebagai sheriff, dengan otoriter menegakkan aturan dengan berkelahi dan duel, sehingga banyak begundal ketakutan dan mengungsi ke luar kota, ke balik bukit itu. Bersumpah akan segera membebaskan Tombtown dari dikendalikan tinju dan pelor Johnny Mayall.

Penduduk mengungsi sebab takut serbuan Scottie McCanzie, karena miris oleh sikap sok jagoan Johnny Mayall yang otoriter. Dilema mulut harimau dan gigi buaya yang menyebabkan tak lagi ada pilihan waras—meski banyak yang mati disapu badai gurun pasir. Tak ada yang tersisa dari Tombtown—kecuali reruntuk itu.”

Wounded Left menarik napas, membaca mantera sambil menggeleng pelan. Tiap hari di setiap momenti kulminasi di sepanjang seratus tahun duel itu berulang, tapi tak seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di Tombtown itu. Mungkin Johnny Mayall dihabisi tiga belas begundal. Mungkin memang terjadi duel penghabisan, dan Johnny Mayall mati tertembak, dan beberapa si begundal ikut mati tertembak. Sisanya luka dan mati setelah sekarat panjang, karena tidak ada dokter dan obat di Tombtown, sedang si yang tersisa tak bisa ke mana-mana—badai debu menyerbu bertahun-tahun. Padahal tidak ada makanan di Tombtown. Semua mati.

Karena itu di setiap menjelang ke kulminasi matahari terbentuk dan si bayangan menggumpal di pusat titik simetris tegak: duel penghabisan itu terulang. Mereka yang mati hidup lagi. Semua berulang, sampai suatu saat si Johnny Mayall bosan bermain, pasif menerima tantangan sebagai jerangkong bukannya tubuh utuh seperti kelompok begundal Scottie McCanzie yang haus kemenangan. Tapi duel penghabisan tidak bisa diakhiri sepihak, karenanya duel itu terus berulang meski mungkin tak sesuai dengan kejadian awal. Sesuatu yang misterius dan tak terulang karena si Johnny Mayall tidak ingin mengulangnya—meski Scottie McCanzie terus memaksakan pengulangan. ”Aku ingin tahu: apa yang akan terjadi pada duel paling penghabisan. Aku penasaran, ada varian apa yang muncul nanti,” kata Wounded Left sambil tersenyum misterius.

Wounded Left bercerita, lima puluh tahun lalu ia menemukan adegan itu ketika beristirahat di lekuk tebing saat terpeleset dan kaki kirinya keseleo. Di perbukitan batu depan Tombtown—kota terlarang, yang sejak seratus delapan puluh tahun tidak boleh dimasuki suku Orochimori. Dan di bukit kersang latar belakang kota di tengah gurun itu menemukan adegan yang berulang itu, karenanya itu mungkin merupakan wangsit nama diri—si dukun Orochimori nenyuruhnya mencari via tualangan inisiasi ke timur. Dengan terpincang ia pulang, untuk bercerita kepada dukun, tetua, dan anggota suku Orochimori lain. Yang bersiserentak menyelinap untuk menonton penampakan yang membuat mereka merenung mesitafsirkan apa fungsi sosial dan ekonominya.

Lewat beberapa kali rituali serta dukun tranced oleh arwah leluhur disimpulkan, bahwa suku Orochimori harus membuat biro wisata, yang sengaja menjual duel hantu Tombtown. Dan setelah terlupakan beberapa bulan—lewat tuntut sebagai si yang bisa menemukan penampakan duel hantu Tombtown—akhirnya ada prosesi inisiasi. Meski

ia hanya diberi nama Wounded Left bukan Tombtown Watch atau Tombtown Spirit. “Dan apa yang sebenarnya terjadi, kami tidak tahu…,” kata Wounded Left pelan.

***

Cyu Harauki di Tokyo sering memanfaatkan komputer kantor, dan dengan Google membuka semua hal tentang Tombtown—baik yang fiksi, non-fiksi, bahkan si sekadar rubbish rekaman oral cerita rakyat, dan segala legenda dan mitos tentang suku Orochimori, Wounded Left, Tombtown, Johnny Mayall, serta Scottie McCanzie. Tak ada teks yang dengan jelas menerangkan siapa Johnny Mayall, Scottie McCanzie, dan kedua belas begundal, dan terutama bagaimana detail duel penghabisan itu—siapa jadi korban pertama, berapa kali tembakan terpicu, berapa yang efektif melukai dan efisien membunuh, berapa yang sia-sia sebagai korban latar duel seru tidak seimbang itu, dan seterusnya dan sebagainya.

Itu adegan lain, pikirku. Cepat sekali adegan berganti, pikirku. Aku meraih soft drink, membuka segel, dan mesirasakan percik busa di tangan setelah letupan lembut. Aku meneguknya dan merasakan kesejukan menggelusur. Di layar tertera adegan: tak ada catatan resmi tentang si Scottie McCanzie, Yohnny Mayall, dan Wounded Left—di perpustakaan Amerika mana pun. Karena itu, akhirnya, Cyu Harauki pun menghubungi dukun suku Orochimori lewat FB, minta dikirim sebagai ruh, bukan tubuh utuh—agar bisa menonton momenti duel penghabisan yang selalu bersiulang setiap di menjelang kulminasi matahari di atas ubun dan bayangan terkonsentrasi di fondasi semua yang tegak itu—, sesuai petunjuk yang disarankan Orochimoris Tour and Travel Agency. Si yang ada ditemukan di situs pariwisata etnik, yang hanya menjanjikan perjalanan ke situs kota hantu Tombtown.

“Hanya menonton?”

“Yeah! Tapi di momen duel asli yang pertama.”

“Itu mahal. Momen itu juga berbahaya.”

“Kenapa? Cuma nonton.”

“Jangan. Sebaiknya tidak. Itu berbahaya, melanggar tabu! Dalam lima puluh dua tahun belakangan ini telah dua ratus dua orang yang memesan paket itu tidak pernah kembali. Mungkin saat adegan itu dipanggil, ruh yang ada di luar tubuh asli itu sering bingung, kesasar ke tubuh lain—tubuh Johnny Mayall, Scottie McCanzie, serta si dua belas begundal. Bahkan mereka itu juga suka bingung, tertukar tubuhnya. Bahkan ruh Scottie McCanzie dan dua belas begundal pernah kesasar ke dunia riil Amerika kini, sehingga harus dikirim ulang ke habitat asli Tombtown seratus dua tahun lalu.”

“Dengan kata lain: kalian tahu soal duel klasik itu?”

“Tak sepenuhnya riil—hanya penampakan.”

Cyu Harauki tak diperkenankan tapi terus memaksa. Setelah bernegosiasi—salah satunya: surat legal tidak akan menuntut Orochimori dengan suka rela menghilangkan identitas—mereka bersedia melakukan upacara mengirim arwah. Agar Cyu Harauki itu bisa diselipkan pada suatu momenti telah lampau di menjelang ke kulminasi matahari tepat di atas ubun dan semua bayangan menggumpal di titik simetri tegakan apa pun. Yang dilakukan secara rahasia agar semua orang di Amerika dan di mana pun di dunia tak ada yang tahu kalau Cyu Harauki ingin hadir serta menonton duel penghabisan di Tombtown. Kesisepakatan dicapai. Mereka menyelinap ke lekukan perbukitan di latar belakang Tombrown—menjelang momenti kulminasi matahari di puncak tegak ubun dan bayangan menggumpal di titik fondasi semua tegakan.

Ritual dimulai. Cyu Harauki menarik napas tegang. “Aman?” katanya. Si dukun, tetua, dan semua warga Orochimori tersenyum. Manggut-manggut. Santun menyuruh Cyu Harauki abai bersimpuh. Memejam. Mengatur pernapasan. Dan tersentak ketika dingin laras pistol menyentuh kuduk. Cyu Harauki membuka mata, tapi tidak lampias karena letusan mengisi kuping bersama tutukan yang menjotok kuduk, menyurukkan ke pasir panas ketidaksadaran. Seiring—dengan tubuh hijau—terdengar si kedua belas Orochimori bersorak dan sekilas si dukun Orochimori itu berkata dengan intonasi dan diksi yang bergema laun, “Itu yang menimpa si Johnny Mayall: aku eksekusi setelah kaki dan tangannya hancur ditembak. Selamat mengempati kengerian duel….”

Cyu Harauki mengerti meski terlambat. Sekaligus terpikir: apa duel Tombtown antara si Johnny Mayall dengan Scottie McCanzie dan kedua belas begundal memang ada? Riil? Atau hanya drama artifisial ciptaan kelompok Orochimori untuk menjebak si penasaran? Cyu Harauki tak tahu. Dan ia tersentak dengan kaki pegal terselonjor di atas pagar teras, dengan pinggang kebas karena duduk kaku di dalam waktu lama, dan dengan satu senapan Winchester lop tunggal menyilang di paha. Cyu Harauki sendiri. Celingukan di bawah pengaling topi miring. Sementara dari bukit kersang di seberang terdengar derap kuda menuruni lereng, semakin keras disusul bubung debu tebal. Cyu Harauki membeku. Beku. Tahu. Dirinya jadi Johnny Mayall yang tidak berdaya—serta sekali lagi (akan) mati ditembak Scottie McCanzie di kuduk.

Ya! Tapi setelah itu apa? Apa menunggu si seseorang yang penasaran akan pergi ke tengah suku Orochimori? Menjadi Cyu Harauki berikut, setelah di sebelumnya ada si yang terbujuk menonton duel penghabisan di Tombtown—nyatanya akan diam-diam ditembak serta ruhnya mengisi tubuh Johnny Mayall—jadi si yang harus mengempati kengerian dikeroyok Scottie McCanzie dan para begundalnya dalam duel penghabisan Tombtown. Duel yang diulang dengan korban yang berganti karena Scottie McCanzie dan begundalnya itu ingin menikmati kengerian saat si Johnny Mayall dibunuh.

***

Aku menggeliat. Menguap sambil membuang kebas setelah pada sesaat terlelap sambil kaki terselonjor dan punggung mendiagonal di siku-siku ruang kursi oleh pola posisi kaki yang lebih tinggi. Tersentak saat di kaki, tersilang sebuah Winchester lop tunggal kuno. Sekelilingku terasa panas. Angin berdebu mengembus. Aku memejam. Pelan terdengar desar mesin. “Transmutasi tuntas…,” desau si credit tittle film—dalam pendengaranku yang samar, dalam pandanganku dari sela-sela pelupuk menyipit yang dipenuhi warna kehijauan. Kini semakin banyak gerah bernampan embus angin dari banyak tahun, yang diperjalinkan oleh tenunan selimut debu di terik siang di momenti menjelang ke kulminasi matahari tegak di atas ubun dan bayangannya menggumpal di kaki fondasi semua tegakan di Tombtown.

Gerah itu pelan mereda, tapi semakin jelas terdengar suara derap kuda melintasi perbukitan dan mulai menurun ke arah Tombtown dengan bubungan debu mengental di belakangnya. Aku lunglai. Suara derap. Teriakan Scottie McCanzie serta begundal semakin jelas saat derap kaki kuda menghilang, Angin berembus. Debu mengendap di kaki. Aku dipaksa terjaga. Menurunkan selonjoran kaki. Bangkit meskipun kebas. Otomatis turun ke jalanan. Terhuyung ketika kaki kiri mendapat dua tembakan, lantas tangan kanan ditembak ketika mencoba meraih pistol. Scottie McCanzie dan begundal tersibahak mengelilingi. Letusan terdengar lagi. Kaki dan tangan yang lain ditembak mereka. Scottie McCanzie berjongkok dan menyorongkan lop pistolnya ke kuduk.

“Selamat siang, John—besok kita berjumpa lagi…,” katanya sambil berbalik dan meraih mustang hitamnya. Ia naik—diikuti para begundalnya–mesibalikkan kuda ke arah perbukitan, lalu menderapkannya tanpa menimbulkan bunyi dan bubungan debu. Mereka melayang. Terbang dalam hijau yang menyala. Lantas membara dan meletup jadi serpihan yang dihamburkan angin. Aku tercekat. Tahu. Adegan itu akan berulang dalam satu, tiga, lima, sepuluh, dua puluh, dan bahkan seratus tahun lagi. Jadi si yang bergaung di kapsul waktu Lintas Galaksi—sampai ditemukan korban acak berikutnya, si terpancing film dan ikut tur ke Tombtown atau si terlelap oleh hipnotis rahasia dari film dan tersesat ke Tombtown.***

5/5/2010, 1/2/2011, 14/19.2012, 25/12/2016

Beni Setia

Beni Setia

Lahir di Bandung, 1954. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Beberapa cerpennya masuk dalam antologi cerpen terbaik Kompas. Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Bukunya yang telah terbit di antaranya, Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996). Kini ia tinggal bersama keluarganya di Caruban, Madiun, Jawa Timur.
Beni Setia

Latest posts by Beni Setia (see all)