Sajak-Sajak Bernando J Sujibto; Cermin Jiwa

in Puisi by
abduzeedo.com

Kurdi

 

Kepada suara-suara

yang berdengung di balik gunung

wajah-wajah kayu dan baju-baju dari tanah

membungkus tubuhmu, deru angin sungai

mengalir ke jantung ke sawah-sawah gandum

ke taman luas bunga matahari, ke ujung napas

pekikan terakhir sebelum terkapar

di tanah, memutikkanmu abadi

menjadi waktu!

 

Matahari

sinarnya tertambat pada secarik kain

sorban dari kapas, dari tanah nahas

di Adana ke puncak gunung Sirnak

atau ke timur, tenggara dan selatan

menjadi bendera, hamparan mitos

kebersamaan samar pada kibarnya

tanah, bahasa dan wajah-wajah polos

di halaman rumah, di sawah-sawah

selebihnya adalah benih

menunggu hujan di musim yang liar

membangunkan ranjau di lereng gunung

mengekalkan serbuk-serbuk mesiu

pasukan Rusia, Prancis dan Inggris

meringkusmu, menuliskan takdir

Amerika datang

berkacak pinggang!

 

Kurdi

siapa yang lebih dulu mengiris

lukamu senantiasa menganga

tunai kepada janjinya sendiri!

 

Sembari berbisik, mengarsir Al-Ayyubi

peta dari selatan, bumi para pejantan

“Kami harus mengibaskan pedang

karena di jalan ini banyak duri.

Kepada engkau yang meradang

ke tanah ini mari kembali.”

 

Tasbih yang melingkar itu

adalah lubang gua. Pintu dari tanah

jalan-jalan menuju langit

berdengung dari dalam madrasah

suara-suara zikir terus mengalir

di malam-malam ke puncak asah

Said Nursi melapangkan sorban

pada taman bunga Rumi dan Attar

juga untuk sepucuk tubuh Al-Bouti

bergeletar pada selaksa qiraah

yang lahir dan besar di tanahmu

 

Kurdi

apakah kini kau tenggelam kepada rupa-rupa

bukankah angin dari utara begitu mengerikan

ataukah wajahmu akan berpaling ke barat

ke tanah hijau bekas ranjau modernisme?

 

Dari barat kukabarkan terik intrik pesona

dari timur kucelupkan kerangka-kerangka arca

apa yang terbayang dari tubuhmu, wahai serigala

saat matahari yang kita tunggu adalah sengketa

kapan kita akan berjumpa untuk mencipta titik temu

karena yang alpa dan terlupa akan selalu meronta

 

Kurdi

selain kepada cinta dan luka

apa yang telah membuatmu berkobar?

 

Dari atas bukit Egil

pada makam Ilyas dan Zulkifli

para Sahabat menyembunyikan namanya

kepada akar pohon dan mata air

kujumpai dirimu dalam doa

yang tak hendak tunduk

selain kepada tanahmu sendiri

harus paham, aku adalah seonggok tubuh

dari negeri yang curiga kepada bendera

lebih suka membiarkan nama-nama dihapus

untuk selembar hiburan, uang kertas atau kursi

di bawah meja bekas pembantaian

 

Kurdi

terima kasih sudah memanggilku

belajar berteriak kepada debus angin

kepada langit kepada tanah luas

kepada lembah-lembah dan mata air

memanggil suara-suara yang hilang

di dalam serbuk mesiu. Menjadi arwah

mengutuk meja-meja perundingan

bau amis ikan dari tepi-tepi pantai

atau ke tengah undakan bukit

di mana Kizilay tenggelam

pada bibir gelas raki

dan dansa ala Turka

pengusir kecemasan

rasa awas yang kejam!

 

Bahasa dan tarianmu, Kurdi

sempurna mengendarai angin

di dadamu tumbuh bukit-bukit batu

mengekalkan jejak dan jarak

melahirkan Tigris, mengiris-iris

tubuh-tubuh dalam mozaik

keutuhan adalah rangkaian

pecahan demi pecahan

wajahmu menjadi cermin

di sana, sebagai bayang

bagi perlawanan!

 

 

[Turki, 2016-2017]

Opium

 

Dari semananjung Mediterania

ujung tanjung batu-batu karang dan kayu tua

Asia Kecil bergelinjang di antara lekuk-lekuk bukit

Yunani menyimpan hasrat menabur liur di sini

di antara bukit-bukit kecil yang menjorok ke laut

istana, perpustakaan dan panggung-panggung teater

merangkul angin dari timur, membisikkan suara samar

di antara lereng lembah dan pohon-pohon zaitun

 

Di seberang timur para nabi lahir di tengah kobaran api

kami melempar bunga-bunga opium ke tengah nyala

sempurnakanlah candu, engkau ganas mereguk aroma

opium yang tumbuh di tanah kami, akarnya kami simpan

membangun rel, meruntuhkan keagungan demi keagungan

 

Kami menghuni dunia dari daun dan kelopak bunga madat

keindahan yang mekar untuk aroma bumbu makan malam

kemenyan menuju moksa, doa kami tidak pernah padam

berpalung ke akar dan aromanya menjadi candu di sana

engkau, mungkin para pengikutmu telah terpapar pesona

aroma bunga ungu ini telah kami sepuh menjadi merah

nenek moyang kami tidak pernah ingkar kepada darah

 

Hingga perang itu datang

kami tuntas kembali menjadi akar

Yunani tenggelam bersama kastil di laut biru

kami tumbuh menjadi hantu-hantu

 

Dari semananjung Mediterania

ujung tanjung batu-batu karang dan kayu tua

nyala api itu terus saja berkobar dan membakar

candu telah menghanguskan tanah-tanah mereka

 

Apakah akar kita sama

opium ataukah wahyu para nabi?

 

[Anatolia, 2016-2017]

Jalan Karanfil

 

 

Adalah nama jalan

saksi bagi mereka

bergemuruh

menukar waktu

menyimpan maut

ke pojok taman

di bawah kayu ranggas

di tengah ibu kota

pun takdir menjemputnya

pada nama jalan yang asing

tanpa bunyi dan kata kerja

 

Dan ledakan itu lebih perih

dari aroma cengkeh!

 

Adalah jalanku

jalan menuju rumah

menatap dauh-daun emas

di musim kemarau

menemui ibuku

maha kerinduan

ibu pertiwi

 

Adalah jalanku

mereka telah mencatatnya

untukku, juga untukmu

cara memaknai kerinduan

lambaian dan air mata

di sebuah stasiun

 

[Ankara, 2016]

 

 

Catatan:

Karanfil Sokak (Jalan Cengkeh) adalah salah satu nama jalan di Kizilay, Ankara.


 

Di Pengasingan

—Ahmet Kaya

 

 

Kurasa

matahari sudah tak terbit di sini

di halaman rumahmu. Bulan terkapar

dan cerita-cerita tak tuntas

melempar tubuhmu jauh

terkubur tanah orang-orang

 

Engkau terus menyapa ibu dan ayahmu

di tengah ladang luas itu

gandum ranum dan pancar menjalar

biri-biri 2,3 tahun. tomat, cabai dan

daun anggur segar

 

“Bukan kebab,” ujar ibumu

 

Tapi lapisan daun anggur pada roti basah

dan daging hangat diseduh minyak zaitun

—rumah abadi masa kanakmu

 

Selamat pagi ibuku

selamat pagi ayahku

pagi kembali datang

di rumah tak ada pagi

di sana hari-hari tak hadir, bukan?*

 

Kurasa

engkau memang tak pernah pergi

kembali dalam bait-bait lagumu

menemani kegetiran ketakutan

ketika kematian lebih dekat

dari seorang kekasih!

 

Kurasa

engkau memang tak pernah mati!

 

[Turki, 2016]

 

***

Sajak di atas diilhami lagu Ahmet Kaya (1959-2000) berjudul Dardayım (Aku di Pengasingan) karya Ahmet Kaya, seniman yang melawan kebijakan pemerintah Turki terhadap suku Kurdi. Karena ditentang keras dan ditolak di negerinya sendiri, ia menjadi eksil di Prancis sejak 1999 dan meninggal di negeri Napoleon itu.

Pancar: (Inggris: Sugar beet), sejenis tanaman berakar buah yang menjadi bahan utama gula di Turki dan negara-negara seperti Rusia dan Ukraina.

* Penggalan lirik lagu Ahmet Kaya.


 

Cermin Jiwa

—Jalaluddin Rumi

 

 

Setelah baca!

dengarkan! bisikmu

 

Baca

dengarkan

baca dengarkan

langit akan terbuka

malam-malam siaga

menyingkap rahasia

 

Baca

dengarkan

baca dengarkan

lahir samudera diam

 

Di antara ramai pasar

buih-buih samudera

jerit seruling pesta

di tubuh kita

 

 

[Konya, 2016]

 

Note:

Baca, ayat pembuka dalam kitab Alquran;

Dengarkan, kata pembuka dalam kitab Masnawi karya Jalaluddin Rumi.


 

Dergah

 

Pada sebuah dergah

kita punya satu rumah

hati dan malam yang luas

langit terbuka embun lunas

kepada doa-doa mengalir

bibir basah berlumur zikir

 

Kita saling merangkul diri

kembali di kedalaman ruhani

mencecap madu-madu kesunyian

jalan-jalan cinta di taman

di ujung sana Dia menunggu

kita menari-nari dalam syahdu

 

Mengepakkan sayap-sayap putih

di sini rumah kami, samudera kasih

litani-litani dari seorang nabi

namanya kita sebut melampaui kali

mengalir dalam darah

menyemai ke pucuk napas istirah

 

Pada sebuah dergah

kita punya satu rumah

aku sebentar singgah

engkau telah jauh menujah

sampai aku tak ingin pulang

bersamamu mabuk kepayang

 

 

[Konya, Desember 2016]

 

Note:

Dergah, tempat zikir untuk kelompok tarikat

Bernando J. Sujibto

Bernando J. Sujibto

Mahasiswa pascasarjana di Turki, peneliti Orhan Pamuk dan sastra Turki. Alumni PP. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.
Bernando J. Sujibto

Latest posts by Bernando J. Sujibto (see all)