Sajak-Sajak Dedi Tri Riyadi; Sungai-Sungai dalam Dirimu

in Puisi by
pinterest.com

Sungai Eufrat

 

“Sebuah rahasia seperti gunung emas

berbaring dalam sungaimu.”

 

Sejak semula, kau hanya membawa

tembaga dalam rakit-rakit Sumeria.

Seperti seorang sakit yang mencari

doa dan cerita tentang surga.

 

Kaubangkitkan semua yang menunggu

dan memuja Juru Selamat itu – Mari,

Sippar, Nippur, Shuruppak, Uruk dan

Eridu. Semua yang sudah tiada sebelum

bertemu dengannya.

 

Namun, sampai pada peristiwa Karbala,

semua menduga; Ia adalah keselamatan

ketika sungai dalam dirimu kering. Saat

sebuah rahasia, gunung emas yang ber-

baring, ditampakkan pada mereka yang

teramat tamak.

 

Mereka yang lupa pada pesan Dia yang

datang dari Paran; Sekali-kali engkau

hadir menyaksikan, janganlah kauambil

yang begitu berkilau.

 

Kini, kau hanya membawa cerita dalam

dirimu; Ada seseorang yang teramat sakit,

dilarung pada sungai, dalam sebuah rakit.

 

Barangkali, ia serupa Parwati.

 

2017

 


 

Sungai Kuning

 

“Selain sekelumit kebangkitan,

sungaimu juga selalu dinodai

sedikit pengkhianatan.”

 

Air yang keruh sepanjang sungaimu

seperti telinga yang menampung keluhan.

Sungguh, ia tak bosan. Tak akan pernah

bosan. Sebab telah kaupendam dan kauredam

segala yang bernama dendam – ia yang berbau

seperti lumpur dan berwarna pekat,

 

sampai berkali-kali orang menduga;

suatu saat, kaulah yang turun dari bukit dan

menenggelamkan orang pendek bermata sipit.

 

Sungguh, telingamu tabah menghimpun

sesuatu yang mirip madah. Yang merintih

sedih sekaligus lega. Seolah baru saja menerima

kabar duka – dulu, ada sekian juta rakyat ditimpa

musibah. Namun, dari Bayan Har sampai Laut Bohai

di Shandong, bermacam tanaman mekar

 

seperti bulu-bulu merak itu.

 

2017

 


 

Sungai Gangga

 

“Hanya seorang ibu yang tahu

bagaimana caranya mengalirkan duka

sebagaimana sungai mengulurkan cerita.”

 

Ibu yang turun ke dalam sungaimu

adalah ibu yang rela bercucuran air mata

asalkan jauh di Teluk Bengala tak ada yang

 

merasa: aku dikirim ke kiri, ke Mahananda,

atau aku dibuang ke kanan, ke Tamsa.

 

Sungaimu telah mengajar mereka bahwa

yang mereka bawa selalu kabar gembira

serupa senyum indah dan dingin dari

Nanda Devi. Ia yang rela memberi

 

dan tak mengharap puja-puji.

Hanya setiap tiga tahun, pada empat

tempat yang sudah ditetapkan, ada

yang merasa begitu ingin disucikan.

Ingin dimandikan. Seperti rindu

 

yang telah ditempa duka

berkali-kali. Berhari-hari.

 

2017

 

 


 

Sungai Nil

 

Ia yang mendamba bahagia,

rela berjalan sampai tepi samudera

 

Kau tahu, ia tak akan kecewa.

Enam batu granit besar tak bisa

menahannya membentuk enam riam

antara Khartoum dan Aswan.

 

Sungaimu adalah mimpinya

tentang tujuh tahun yang subur.

Ternak gemuk dan gudang-gudang

penuh gandum. Karenanya ia

 

tahan menderita dipenjara

keinginannya. Ia menasehati hatinya

agar maklum, seperti seorang juru

minum menunggu hari kebebasannya.

 

Ah, sungaimu tak pernah

dahaga pada sebuah rencana!

Seperti Maryam yang pelan-pelan

menguntit keranjang berisi bayi

adiknya ke arah taman mandi istana.

 

Sungaimu adalah rencana itu.

Yang kadang berubah warna seperti

darah, atau dipenuhi amarah seekor kuda.

 

Kuda gemuk dengan mulut lebar,

seperti agenda untuk tetap sabar.

 

2017

 

 


 

Sungai Mekong

 

“Berkali lahir sebagai

salah,ia celah mencari

yang benar.”

 

Tak ada yang lahir

dalam cahaya. Seperti

yang kausangka naga,

hanya ikan berukuran

besar.

 

Ada yang menyebutnya

ibu. Ia yang lahir lebih

dulu. Ada pula yang mengira

sembilan ekor ular turun

dari utara. Kau pun tertawa;

 

Sungai di dalam diriku

adalah pekan raya! Pembeli

bunga dan pedagang buah

melintasinya dengan gembira.

 

Kau benar. Ia bukan kegelapan

cerita. Ia bukan semacam rahasia.

Ia hanya kura-kura besar dengan

cangkang lunak, lumba-lumba

dan ikan pari air tawar, atau

 

ikan serupa jerung dengan

ekor seperti buntung. Meski

bukan hal pelik, satu kejadian

di atas kapal Hua Ping adalah

kesedihan sempurna. Sesuatu

 

yang lahir dari kegelapan dunia.

Yang akan merebut kegembiraan

darimu sekian lama.

 

2017

Dedi Tri Riyadi

Dedi Tri Riyadi

Lahir di Tegal. Kini bermukim di Jakarta.
Dedi Tri Riyadi

Latest posts by Dedi Tri Riyadi (see all)