Sajak-Sajak Felix K. Nesi; Anak Hilang

in Puisi by
encrypted-tbn1.gstatic.com

Sapi Terakhir Bapak

 

Sebab adik sekolah terlalu dan

kakak hendak menjadi sembuh

Sapi bapak tinggallah satu.

Bulunya lebat kuning kelambu tapi

lalat betah berlabuh.

 

Bila sabana berangin kencang dan

terik bikin lurah pincang

adik giring sapi itu ke

waduk puan di Oetimu

tempat Belanda mandi

telanjang.

 

“Auhe sapi,

minumlah lekas sampai beranak

tapi sediakan meja untukku.

Meja jati pelitur emas di

samping WC tuan bupati.

Bila remah tersangkut di kaki dan

kubur Lazarus terbuka,

bangkit kakak dari kutuk

hilang uban rambut bapak.”

 

Tapi ia kibas ekornya, sapi itu,

sekali dengus hilanglah lalat,

sehabis kentut terbitlah tahi.

 

Bitauni, 2017

 

 

Anak Hilang

 

Jangan pulang si anak durjana,

anak hilang, hilang tulah kitab.

 

Sauh di barat, jauh diharap,

kau unu, unu seluang semata.

 

Ibu menampi jampi,

ayah mengeratkan jerat.

 

Hati terjal. Terjal

punggung sabana.

 

Kuda-kuda biarkan sendiri,

biarkan meratap yang hendak

merangkak.

 

Di petak-petak sawah tak ada yang

merunduk selain saudaramu

 

Yang buta kena kutuk musim kemarau.

Di malam-malam lagunya dingin, angin

 

Berembus dan lele tiada beriak.

 

Jangan pulang si anak durjana, si

anak hilang, anak seluang semata.

 

 

Bitauni, 2017

 

 

Uang dari Mama

 

Uang dari mama

seratus ribu dua helai.

Kubawa ke rumah kekasih

beli buah dan senyum mertua.

 

Bila kelak mama mati dan

tak lagi memberi uang,

Kubawa pisau ke rumah kekasih

iris buah dan senyum mertua.

 

Bitauni, 2017

 

 

Sajak Kenangan

 

Boleh saja kau cium, pasi bibir tunangan beta

Tapi jangan bawa lari, isi sajak kenangan beta.

 

Dua rima setiap tanggul, turi tumbang sapi bersulang.

Rimpang liar setimbang alurnya, gerbang musang

rentang berjerat.

 

Sebab bila kaucuri, isi sajak kenangan beta

Kau akan temukan, dekat setapak ke

Niuf Banfani, dekat kandang sapi Beuk Tutu,

Seekor rusa beranak satu, dan tak ada kerabat bertamu.

Seekor ular bertelur, dan kuda babak belur.

 

Bila tiba musim panen, karung jagung penuh lanjung puisi

Tiap siulan akan jadi ingatan, tiap ciuman akan jadi kutukan.

 

Bitauni, 2017

 

 

Ulang Tahun di Sabana

:Frater Thomas Nesi

 

Seekor anjing berulang tahun di sabana.

Ia tidak ingat bentuk bulan saat hujan

tapi ia memuja senyum ibunya yang

terbakar di musim kemarau.

 

Ia menyusuri karang hitam, pohon asam,

ceruk belut dan rumah siput dan

tiba di masa kecilnya.

 

Ia bertemu belalang bertemu

kupu-kupu yang tak

punya ayah tapi

suka bertepuk tangan.

 

Ia tak menggonggong siapa-siapa:

pencuri jati dan sapi berahi,

kucing hutan dan peziarah.

 

Ia tidak ingin makan tidak

ingin marah sebelum

berjumpa belulang ibunya.

 

Bitauni, 2017

 

 

Memanggil Neon Balbali

 

Sabana sudah mulai terbakar

Bulan sabit belum jua berkabar

Bai Lomikus perbaiki pagar

Om Matias menanam jeruk

Lalu kapan kami menikah?

 

Hutan tinggal separuh

Kuda mati duka setapak

Nenek Tote dipagut ular

Belum sudikah kau bertandang?

 

Tak ada babi beranak

Bunga lontar dimakan induknya

Bila hari terlampau serakah

Apa mau jadi kenangan?

 

Di depan api kekasih seluang semata

Bila datang si Neon Balbali

Boleh menangis tak boleh bersuara

 

Bitauni, 2017

Felix K Nesi

Felix K Nesi

Lahir di Nesam, Nusa Tenggara Timur. Karyanya pernah tersebar di Bali Post, Koran Tempo, Harian Kompas, dll. Buku kumpulan cerpennya berjudul Usaha Membunuh Sepi (PSM, 2016). Bergiat di Komunitas Leko Kupang.
Felix K Nesi

Latest posts by Felix K Nesi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.