Sajak-Sajak Kim Al Ghozali AM; Resonansi Pabrik dalam Tempo Presto

in Puisi by
littlelondonobservationist.files.wordpress.com

Resonansi Pabrik dalam Tempo Presto

 

cerobong asap hitam dan langit september

cuaca dengan serbuk bara, menabur panas pada

atap seng, gudang usang, menerobos ventilasi

dan lobang pelarian kucing hitam

siang musim panas

jaring laba laba di pojok tembok, capung tersesat

matahari sempurna meledakkan diri di depan

jendela roster

cahaya cakram memenuhi ruang

pengap dan bising

            waktu baru dua jam berjalan. lantai bergetar

dentang dentang suara,      kokoh dan teror

kreeet…                     kreeet…

kreeet…

hari berjalan pelan

                                     dan pincang

sebagai kakek tua di halaman rumahmu

jala raksasa telah menyeret kita

ke sini.                berguling

bergumul

di atas debu debu, mengental dan beku

berguling, sebidang cahaya air yang menggoda

garis fantasi, merah dan sebagai

semut semut lapar

merayap

dari lereng lereng, sebalik batu, bukit kemarau

dari rumah tanpa jendela.

tangan tangan terapung, hidup dan serempak

mengeluarkan bebunyian panjang, terompet kehidupan

nyanyian nyanyian flat, hambar dan berulang

tangan ialah rahim. ibu dari bayi bayi

tanpa kehamilan.

bayi logam, guci, kaca, besi

dan cahaya

tangan tangan terbang, berputar, bersiklus

sepanjang siang dan malam

sebanyak tanggal berguguran. lalu

sepatu, suara langkah dengan beban

kaki penuh timah—fragmen teater monoton

dan membosankan

udara menyala

mencakar tembok dan pintu

baja. monster kecil, monster besar, dijaga

pawang sakti. menggaung, menderu,

menampakkan kilat kilat

bruuum…

brumm…          brummm…

hari berjalan pelan

dan pincang

lalu menyimak setiap muka merunduk menghapal

peralihan detik ke detik, menit ke menit

slide slide yang berganti

bertukar warna dalam jiwanya

satu ruang di pojok dengan kaca tembus bayang

penanggalan di atas meja. perempuan seorang

dengan tertutup masker pada separuh wajahnya

menyisakan kecantikan

pada mata hitam. mata yang melawan

lapisan panas dan udara dengan sisik

bara.

lalu memanggil nama nama—hampir tak terdengar

gaduh dan rusuh huller menelan merdu suaranya

 

saya menjabat tangannya

darahnya hangat

 

saya mengenal kehangatan semacam ini di masa

remaja. lewat perempuan yang mengajakku

menyusuri malam di kota tak dikenal

dalam masa darurat, melewati pos pos siaga

lalu kami merayakan separuh malam dengan ketololan

dan ia senang atas kekurangajaran kelelakianku

 

saya mengenal darah itu. hangat

khas perempuan yang kesepian

yang hidup dalam tangsi baja, terapung

dalam deru mesin mesin, memiliki pagi

yang tergopoh gopoh. memiliki matahari pucat dalam

setiap mimpinya

 

begitu ramah

 

dengan jemarinya yang merah ia membubuhkan

sesuatu di atas kertas. angka angka

dan rentetan peristiwa

sedangkan hari terus berjalan

pelan dan pincang

melintasi jenjang angin di luar gudang pengap

 

ia memberi isyarat

dan kami kembali

 

menunggangi sayap monster aneh

membiarkan moncongnya menderu

membawa mimpi buruk siang hari

mengobrak abrik gendang telinga

membakar sumbu sumbu tembaga

 

jam

mencair

 

waktu menetes     merembes ke seluruh

dinding. dingin dan hari mulai membungkuk

memamerkan punggungnya yang merah

menggosokkan kakinya pada

lampu lampu lava, mengibaskan badannya

merontokkan debu, asap pekat dan asam karbonat

 

kemudian

layar berganti…

 

dengan pinggul cemerlang, langit memamerkan

lampu zenit, bola cahaya beku

dan tak lebih dari 10 watt

tapi      siapa peduli

kami masih mencengkram setiap lapisan cakram

yang tak henti meluncur dari rahim diesel buatan

rudolf dan charles f. kettering

meniupkan roh ke setiap bayi mungil nan cantik

memberi nama, menghangatkannya ke dalam

tungku perak.

siapa peduli

kami adalah tangan tangan gaib

dalam akuarium api

 

makhluk makhluk baru planet bumi telah kami

sempurnakan segera meluncur

dalam peti kemas

dengan kapal cargo kecepatan rata rata 10 knot

ke port rotterdam

ke port jackson

ke singapura

dan sebagian amerika

melewati laut beku, kristal biru maut

dan mereka abadi di sana,

kekal dan hayat

susul menyusul, bersiklus, berputar

berjejal, mengisi ruang ruang

dan tangan tangan gaib semakin gaib

berpacu dengan monster, mengejar lampu zenit

yang akan meledak di pinggul cemerlang malam

 

layar berganti

          lagi…

                   

“telah sempurna kami lahirkan

                   kembaran demi kembaran”

 

dengan daging natrium, darah dari perasan batu

dan rangka tulang tulang baja

beratus ratus    beribu ribu       berjuta juta

menjadi koloni baru muka bumi

melancarkan eksodusnya pada            umat manusia

dengan gairah merah

gelora  tubuh kekar tanpa

                                uretra

 

dan di balik kejaiban demi keajaiban

kau tak akan melihat lagi muka muka pucat

garis tangan terputus

suara ditelan udara klorida

keringat yang disedot asap belerang

kau tak akan menemukan kerling sunyi perempuan

yang menyembunyikan separuh kecantikannya

dengan cadar tebal anti kadmium

semua telah sempurna

semua serba sempurna

boneka api dengan roh ajaib

 

fajar menggasing, menampakkan kaca kaca

pecah dan bising

perputaran gear mencipta musik dalam tempo presto

berdentum—seperti roda zaman—membangunkan

kami dan mereka yang lapar

pagi tergopoh gopoh

dengan baju hijau kebesarannya

kaki kaki dalam sepatu berdebu

hinggap kembali menyerupai jejer pepohonan

pinus dini hari

menyemburkan tenaganya ke seluruh ruang

memasangkan cakar kawat di segenap jarinya

mereka semut dalam lingkaran

kami semut dalam lingkaran

lingkaran-fantasi putih

lingkaran-fantasi merah

lingkaran-fantasi hijau

fantasi ungu

mengerubungi keping keping daging

yang dihamburkan dari kencana sutra

hidup sepanjang kemarau september

dengan bilur di tulang pinggang,

tulang punggung, dan lengan

dengan memar di dahi dan nasib

nama telah kami tanggalkan dalam dinding bisu

bersama catatan dan angka dalam penanggalan beku

 

“telah kami ciptakan dan akan terus kami

ciptakan, kembaran demi kembaran

 sempurna

      melalui garis ukur, simetris dan

seimbang

          mengukur kedalaman diri yang legam”

 

dan september tak pernah berganti baju

lusuh, lusuh sepanjang tahun

sambil memainkan serbuknya ke udara

melalui cerobong asap dan jendela roster

bermotif kucing hitam

 

 

Usaha Menjadi Diri yang Lain

 

berulang kali aku berusaha

meninggalkan diri sendiri, menjadi

sesuatu yang ada di kamarmu;

 

vas bunga, kursi santai, atau

korden jendela tempatmu mengintip waktu

 

berulang pula aku ingin meninggalkan

suara sendiri, menjadi kicau

burung burung murai menyambutmu

di pagi hari, menjelma kidung

mengalun mengantarmu pada

kesunyian agung, atau serupa bohlam cahaya

menerangi sekujur telanjang tubuhmu

 

aku ingin menjadi yang lain

sesuatu yang selalu dekat denganmu;

 

menjadi hari, menjadi detak jantung

menjadi waktu yang melingkari lenganmu

menjadi angka angka di komputer kerjamu

atau sebagai sabtu, pekan yang selalu kautunggu

 

tapi aku, katamu, jangan menjadi yang lain

cukup sebagai dirimu dengan pelukan

dan membuat hidupku hangat selalu

 

 

Kota dalam Jazz Senja

 

4:35

 

di bawah ancaman cuaca murung, masih

ceria – bernyanyi. asap merayap sepanjang

rel meriang

 

kali kedua matahari mati bulan ini

tergelimpang sepanjang kolong cakrawala

lengkung

 

pada sebujur peron kumuh, bau amonia

para hantu pasukan kolonial pesta candu

 

dan sekawanan perantau menyisakan waktu

berdoa, agar tuhan menyertai ransel perjalanan

dalam gerbong ekonomi

 

6:00

 

ia berhias, membersihkan benzena di tubuhnya

menyalakan lilin merah, 5000 lampu, batu

oto-aktif dan tidur di atas meriah pesta temaram

 

dalam balutan selimut kabut

gunung tembaga di sebalik mimpi

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Denpasar. Aktif sebagai salah satu penggerak komunitas Jatijagat Kampung Puisi, Bali. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi Ensiklopedi Pejalan sunyi.
Kim Al Ghozali AM