Sajak-Sajak Mohammad Isa Gautama; Mata Pancing

in Puisi by
pinterest.com

Mata Pancing

ikan yang bermain riang di lubuk halaman rumah orang paling kaya sedunia merasa bosan berenang di tengah deru cuaca karena mata pancing yang mengejarnya kini tak lagi menawarkan gairah untuk bergelut, untuk memagut ceruk terdalam kolam

 

ikan yang menganga kepanasan di kuali gubuk paling reyot di muka bumi terpaksa menerima kenyataan bahwa hari ini manusia berhak mengutuk manisnya daging, bahwa setiap kolam yang menyandera ikan akan disulap jadi telaga air mata tempat orang-orang sial menumpahkan kesedihannya

 

ikan yang selalu bermimpi bisa membunuh para pemburu di tengah lautan suatu saat bernyanyi tentang badai yang entah kenapa kini tak lagi menenggelamkan, mungkin karena dunia berubah menjadi ayunan tempat anak-anak ikan dibesarkan, berdamai dengan mata pancing yang sesungguhnya memelihara rindu sekaligus dendamnya pada ikan

 

Padang, Desember 2017

 

 

 

 

Pemugar Malam

hari yang paling ia cari adalah dua puluh empat jam yang sarat kecelakaan sengaja

karena setelah segalanya remuk ia akan menyusun doa paling tulus dan memilukan

tak seperti malam yang memendam kelam demi mimpi-mimpi yang kelihatannya indah

atau pagi yang mencuri cahaya mentari demi terbentangnya jalan menuju kepura-puraan

 

hari yang paling ia benci adalah malam yang di dalamnya penuh erangan kucing kehilangan karena suara itu amat mirip dengan kerinduan paling berdarah saat kekasihnya pergi, masih terbaca bekas ciuman belum mengering, mengikutinya ke mana pun ia pergi, seperti jarum jam menyimak irama hujan laksana menggali tak henti

 

hari yang paling ia tunggu adalah senja yang terkikis oleh bayang pepohonan yang tumbuh di balik lubang dirinya, merimbun menutup penglihatannya akan pendakian yang jauh dan terjal. dilipatnya seluruh ruang tempat ia biasa mengukur dalamnya buih-buih hasil percumbuannya dengan kenyataan karena malam ini ia cemas apakah esok cahaya paling benderang akan tetap meredup pelan-pelan dalam catatan kecil Tuhan

 

Padang, Desember 2017  

 

 

 

 

Burung-Burung Pantai (3)

 

burung-burung tak bisa melupakan kekesalannya pada Nabi dan Nabi tak pernah merasa mengecewakan burung-burung, hari-harinya disibukkan dengan pikiran bagaimana menyenangkan hati Tuhan dan memenangkan peperangan

 

Tuhan sibuk merencanakan segala sesuatu karena Ia yakin burung-burung kali ini akan patuh sebagaimana malaikat yang tak ingin terlelap karena dalam tidurnya yang gelap ia selalu bertemu dengan kegusaran para burung pada Nabi

 

kegusaran demi kegusaran itu lama kelamaan menjadi lukisan paling mahal yang dipajang para malaikat di muka bumi, melalui kegusaran itu kitab-kitab laku dan dibaca dalam haru, melalui pajangan itu seniman paling jumawa tak ingin lagi mengaduk cat karena cat yang paling berwarna meleleh menjadi hitam dan putih

 

ombak di lautan bahagia berada dalam jagat raya yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tak tuntas, termasuk pertanyaan tentang kenapa para burung selalu memikirkan kesedihannya yang tak sempat menyelamatkan orang-orang yang ingin disimpan selamanya dalam kotak mainan Tuhan

 

Padang, Desember 2017

 

 

 

Berpencar dalam Cemasmu

 

tak pernah kau sadari, akulah semut merah yang menguliti rasa amanmu

sebelum sejarah yang kau rekam mengisi ruang tempat kau berselancar

mengarungi dunia yang penuh dengan tanya dan pilihan-pilihan usang

akulah yang menunggui angin berembus tanpa tujuan dalam ngilu tulang

 

menjelma gerombolan kecemasan yang patah bingkainya

kau basuh wajah sebelum menyetubuhi tidur yang itu ke itu juga

mengasah pisau untuk kuburan seringaimu

jurang penuh api pengenyah jalan wangimu

 

penuh sengau aku melata mencemari ususmu

setiap pagi penuh sarapan pecahan kaca meremukkan rencana menyepuh emasmu

akulah onak yang kau tanam setiap hari berkecambah menyusuri detakmu

meledakkan jantung dan paru, bom demi bom rekah

di persembunyianmu

 

Padang, Desember 2017

Mohammad Isa Gautama

Mohammad Isa Gautama

Lahir di Padang, Sumatra Barat, 21 November 1976. Puisinya dimuat di 20an antologi bersama, antara lain Pesan Camar (Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, 1996), dan Origins (Yayasan Mudra Swari Saraswati, 2017) serta media masa lokal dan nasional. Berkhidmat sebagai pengajar di Universitas Negeri Padang.
Mohammad Isa Gautama

Latest posts by Mohammad Isa Gautama (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.