Sajak-Sajak Muhammad Ali Fakih (Yogyakarta)

in Puisi by

tumblr_mgpkikGtq01qbah6ko1_500

Puisi, Selamat Tinggal, Aku Pergi

 

Puisi, selamat tinggal, aku pergi

Aku pergi meninggalkan

sepasang mata yang menatapmu

sebagai jurang

dari ketinggian

 

Aku pergi meninggalkan

rumah lampauku yang duka

bersama satu-dua pertengkaran

yang kau wariskan pada pikiranku

 

Suntuk rasanya aku hidup

di antara hantu-hantu sekarat:

mereka yang kau lahirkan ke dunia

hanya untuk takjub pada dirinya

 

Biarlah cinta dan kesunyian

–dua berhala sesembahan penyair ini–

kutinggalkan bersamamu

Aku tak kuat menanggung

rayuan dan kutukannya

 

Aku kini jenuh mencuplik

segala hal sebagai metafora

dan memanggil renungan

yang menolak hidup

 

Aku kini benci kepadamu

yang menuliskanku

di atas sungai Heraklitus

dan di aliran darah

bangsa dunia ketiga

 

Sekarang aku pergi mengembara

mencari masa kecilku

yang kau sembunyikan

di antara hukum alam

 

Sekarang aku pergi

dan biarkan di tengah perjalananku

kau, puisi, mengunjungi musuhmu:

masa kecilku

 

 

Jogokaryan, 2015


Aku Ingin Tahu Segalanya

 

Aku ingin tahu segalanya:

bangkai bintang di sudut langit

denyut semesta di nadi setiap orang

atau jawaban atas pertanyaan purba

Dari bahan apakah kebahagiaan tercipta?

 

Aku ingin tahu bagaimana bunga rosela

menghapus rasa sedih dari wajah si duka

Bagaimana sepasang anak kecil di jalanan kecil

saling menyuapkan makanan dan tertawa kecil

Aku ingin tahu bagaimana di hatimu

dapat kuterjemahkan diriku

 

Orang-orang tiap hari bergegas

dan panik di depan meja kerja mereka

Orang-orang menekan diri untuk mengingat satu hal

dan melupakan hal lain

Kutatap wajahku di cermin dan berkata:

Aku ingin tahu mereka dan kesibukannya

 

Aku ingin tahu bagaimana langit mengembang

Bagaimana peradaban dibangun

di atas jutaan mayat dan sebuah manifesto

Bagaimana dunia tumbuh

dan menelusup ke dalam mimpimu

 

Aku ingin tahu segalanya

Tapi aku tak tahu

Bagaimana pun

aku tak akan pernah bisa tahu

 

 

Jogokaryan, 2015


Biarkan Aku

 

[1]

Biarkan aku jadi pintumu

ketika pagi kau buka

dan dunia lampau menjelma burung balam

yang merontokkan bulu-bulunya

di halaman

 

Biarkan aku jadi bayang-bayangmu

yang lebih nyata dari matahari penciptanya

saat senyum manismu pecah dan kau pergi

menjajaki dunia-dunia baru

 

Biarkan semua yang pergi

pergi begitu saja

Aku tak ingin lagi berkata:

kau bagiku neraka

 

Aku tak ingin mengatakan apa pun

sebab huruf pertama

yang diucapkan mulut pertama

adalah kau

 

Dadaku serasa ingin meledak oleh rasa bangga

tatkala kualirkan sesatnya isi kepalaku

di sungai-sungai penyesalan;

tatkala kupugar taman dan tangan kupatahkan

agar bunga-bungamu bebas tumbuh di tamanku

 

[2]

Sering kubuat kemerdekaanmu

jadi penjara yang samar

Diam-diam kadang kucerabut waktu

dari detak jantungmu

 

Seolah hanya gema suaraku

yang pantas didengar setiap telinga

Seolah hanya dengan memangsamu

aku merasa benar-benar ada

 

Namun semakin kumusuhi kau

semakin aku jauh dari diriku

Racun dan kelam berebut tumbuh

di petak sangsiku

 

Lalu hidup menjelma hutan

Dan di dalam hutan, kau tahu

semua hal hanya dugaan

 

Makna-makna dari barisan peristiwa

muncul sebagai geometri melankolia

dalam satu deraian air mata

 

Kebijaksanaan dan kebahagiaan

menjelma sepasang sayap patah

bagi seekor burung Simurgh

di ranting pohon Bidara

 

Kawanku, langit yang menaungimu

kutukan bagiku

 

[3]

Bosan aku takut

bila kau punya semua

yang padaku tak ada

 

Bosan aku takut

setiap kali suara kematian

menabuh gendang telingaku

 

Aku merindukan masa kecil

sebab masa kecil adalah kau:

berbicara yang adalah kau

bertindak, menangis, tertawa

yang adalah kau

 

Kawanku, terimalah aku

jadi pintu duniamu

 

 

Jogokaryan, 2015


Bila Saja Saat Itu Tiba

 

Bila saja saat itu tiba

aku akan menjadi segalanya

dan segalanya akan mengacuhkanku:

lukisan, catatan pesan, kotak merah

sepotong rambut dan kegilaan

 

Cahaya muram yang terbit

dari balik bukit hitam

akan memantul lewat benda-benda

dan menusuk mataku

 

Seribu bangunan dalam diriku

akan senantiasa hancur dan tumbuh

bagai peradaban-peradaban besar

 

Dan semua yang pernah kita alami

akan tenggelam ke dalam lautan

bersama kapal-kapalku yang sesat

 

Segalanya tak akan lagi mengenalku

Segalanya tak akan lagi mengenalku

 

Bahkan darah yang mengaliri tubuhmu

tak akan lagi terbakar

dan memanggil-manggil namaku

 

 

Jogokaryan, 2014

Pernah Kulihat Pejalan

Pernah Kulihat Diriku

 

Pernah kulihat pejalan melintasi bukit

dan badai dan kengerian

 

Pernah kulihat waktu

menyepuhnya jadi intan

yang tersimpan di kedalaman mata elang

 

Pernah kulihat elang melintasi bukit

dan badai dan kegerian

mencari jiwaku yang fana

 

Pernah kulihat diriku mengumpat waktu

bersiul-siul memanggil elang

dan menghancurkan setiap intan

 

 

Jogokaryan, 2014

 


Jangan Kau Tidur dalam Pikiranku

 

Tak mesti dengan kakimu aku berjalan

Dan tak mesti dengan tanganmu

kuatur semua perabotan rumahku

 

Sudah lama aku berpeluh di terik siang

layu bersama bunga di musim kering

Maafkan mimpi-mimpiku

yang menyala di angkasa

dan mengacuhkanmu

 

Aku bagimu bara api

Baiklah, aku tak akan tinggal

dalam anggapanmu

dan biarkan aku pergi

 

Aku akan berkemas bagai benih

tumbuh jadi pohon dan berbuah

Akan kukerjakan semua yang ingin kukerjakan

dengan kekuatanku sendiri

 

Tapi tolong jangan kau tidur

dalam pikiranku

dan melihat segalanya

dengan mataku

 

 

Jogokaryan, 2014


 

Bagaimana Harus Kulepaskan Doa Manis Ini

 

Bagaimana harus kulepaskan doa manis ini

tanpa sedih, tanpa amarah, tanpa ucapan:

Bagaimana aku harus pergi?

 

Aku bisa saja jadi pembaca buku

yang lupa judul dan pengarangnya

Bahkan jika ada pertunjukan lawak

aku bisa tertawa melebihi yang lain

 

Tetapi mampukah aku melupakan

wajahmu, suaramu dan tatapan matamu:

tempat kubenamkan cahaya kemuramanku

 

Aku kini sandal jepitmu yang putus

keringat di tubuhmu dan stasiun

yang diacuhkan kereta

 

Aku tak akan minum dari gelas lain

dan berjalan di atas jalan lain

Aku tak akan jadi pencuri

di antara rumah-rumah kosong

 

Namun air di kolam kita keruh

Dan apa yang kita rawat ini

adalah taman buah simalakama

 

Di dalam mataku ribuan burung enggan bernyanyi

Mereka tak ingin melihat kau jadi tua

tanpa malaikat kecil, tanpa sosok

yang dapat menyelimutimu kala kau tidur

 

Katakan padaku, bagaimana

bagaimana harus kulepaskan doa manis ini

lalu pergi tanpa hartaku yang berharga:

dirimu yang kukenal

selamanya

 

 

Jogokaryan, 2014


 

Aku Akan Begitu Bahagia

 

Aku akan begitu bahagia

dengan kemiskinanku

dengan satu-dua bus yang lewat

dan tak kuhapal lagi namanya

 

Aku akan begitu bahagia

bahwa aku hanya bagian peristiwa

dalam pikiran novelis yang malas

Atau mata pelukis berbakat

yang membiarkan gunung

sebagai gunung

 

Ranjangku sudah habis

dimakan rayap

Dan aku tak bisa tidur

di atas tilam masa lampau

 

Aku tak akan jadi mimpi

seekor burung hantu

di malam-malam angker

Aku tak akan jadi sekarung ketela

di pundak seorang kakek tua

 

Perjalanan,  oh, perjalanan

aku telapak kaki para musafir

Maka aku akan begitu bahagia

dengan kemiskinanku

sebab itu adalah kemiskinanmu

yang kaya

sangat kaya

 

 

Jogokaryan, 2014


 

Ada Suatu Ketika Hari

 

Ada suatu ketika hari

Pemain Gitar mematahkan tangannya

 

Ada suatu ketika hari

sebuah tangan menelusup ke jantungku

dan memetiknya tiada henti

 

Hingga kulihat dunia menari

Kulihat orang-orang, jalanan, bukit

pepohonan dan rumah-rumah menari

 

Aku heran dan bertanya-tanya:

mengapa tanganMu memetik jantungku

di saat hidup terasa berat

dan aku tak ingin bahagia

 

 

Jogokaryan, 2015

 

Sumber gambar: rebloggy.com

Muhammad Ali Fakih

Muhammad Ali Fakih

Kini sedang belajar ilmu Fisika di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).
Muhammad Ali Fakih

Latest posts by Muhammad Ali Fakih (see all)