Sajak-Sajak Sengat Ibrahim; Melodramatik

in Puisi by
pinterest.com

melodramatik

 

 

terkadang secangkir kopi

jauh lebih mengerti daripada puisi

dalam hal memberi sepi padaku

memang sedari kecil sepi sudah aku kenakan

tetapi sepi macam apakah yang aku butuhkan?

 

mungkin kau belum sepenuhnya percaya

bahwa bagiku sepi adalah rezeki

barangkali bagimu sepi adalah makhluk terkutuk tak berbentuk

tapi bagiku sepi sama seperti matamu mengenal kantuk

dan bagiku kantuk adalah musuh paling abadi dalam hidup

 

sekarang dan beberapa saat sebelum menjadi sekarang

aku bernapas bersama mereka-meraka

yang lebih peduli meluangkan waktunya

dengan hal-hal yang berkaitan dengan perut

 

aku hidup bersama mereka-mereka

yang lebih banyak memikirkan hidup orang lain

daripada bagaimana menyusun hidupnya sendiri

 

dan aku masih berusaha keras menikmati hidup sendiri;

hidup bersama secangkir kopi

dan segerombolan makhluk bernama sepi

yang aku kira itulah puisi.

 

Senin malam, 04 September 2017, Yogyakarta


 

 

 

di kafe basabasi

 

 

di kafe basabasi aku mengenakan malam minggu

langit terasa segar bintang-bintang terlihat berpijar

aku datang tidak tepat waktu barangkali itu bagian

dari efek terlalu sering bermain-main dengan rindu

 

aku melihat sapardi lupa membikin hujan selain

hujan bulan juni, sementara telepon genggam jokpin

bordering nyaring mencoba menghardik; bawa sepi

dilarang keras memasuki seluruh ruangan kafe ini

 

“ini acara sastra mas, maka minumlah segala macam

petaka, minumlah segala macam sengsara, sebab kalau

dua hal tersebut mampu kau minum, maka segala sia-sia

dalam hidup tak akan pernah tercipta” katamu.

 

kemudian malam disuguhi riwayat-riwayat

pengarang hebat yang ditolak takdir hidup enak

kamu tertawa lebar padaku dan di matamu

kulihat doa-doa berlayar menjemput masa depanku

 

Rabu malam, 11 Oktober 2017, Yogyakarta

 

episode kutub 1

 

 

aku mau menjadi asing bagi matamu

sambil mengubah sisa hari dari seluruh hidupku

menjadi hari minggu, dua tahun sudah kita menjadi satu

bersama buku-buku dalam joglo itu

mungkin aku belum terlalu lama mengenalmu

kamu juga mungkin belum begitu dalam mengenalku

: aku pintu bagi semua ragu, kamu kunci bagi semua pintu

 

 

episode kutub 6

 

 

setelah kepergian itu, aku makin betah menjadi penghuni sepi

sambil mengatai-ngatai mimpi yang tercebur dalam secangkir kopi

sementara merokok masih menjadi upacara menyalakan imaji

 

maka berkatilah seluruh jarak antara aku dan kamu

antara ruang lalu dan ruang tunggu, antara raung ragu dan raung pilu

bahwa semua itu; jalan menuai rindu membawa segalanya menyatu

 

 

episode kutub 7

 

 

aku masih ingat tempat kebiasaanku merangkai kata

tempat luka meminta rupa, tempat lara menuang makna

pikiranku masih mampu menangkap ingatan itu semuanya

 

di daun-daun mangga, di genting bocor, di pakaian kumal,

di kamar pojok serampangan, juga di saat menyibak nyamuk nakal,

di semua itulah kata-kata biasanya kurangkai penuh pukau

 

Kamis siang, 05 Oktober 2017, Yogyakarta

Sengat Ibrahim

Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Yogyakarta. Buku puisi pertamanya terbit di awal tahun 2018 berjudul: Bertuhan pada Bahasa (Penerbit Basabasi). Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Merapi, Solo Pos, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Lombok Post, Medan Ekspres, Harian Sumbar, Majalah Simalaba, dan Malangvoice, Litera.Co, LiniFiksi.Com. PoCer.co

Latest posts by Sengat Ibrahim (see all)