Sajak-Sajak Wayan Jengki Sunarta (Bali); Interlude Perjalanan

in Puisi by
gambar untuk puisi 12 April 2016
pinterest.com

Aku Datang

 

 

aku datang, aku datang…

ke dalam dekapanmu

 

ombak mengalun

menyerahkan diri pada pantai

 

pulau demi pulau kujelajahi

memburu semesta jiwamu

bunga-bunga karang, ikan-ikan cahaya,

cangkang kerang, dan elang yang sendiri

mengiringi pelayaranku

dari benua ke benua

dari kelahiran ke kelahiran

 

serupa kaum lanun

merompak kapal-kapal

yang hilang arah

aku resah membajak jiwamu

 

berbekal gelang akar bahar

dan kalung manik-manik

kau adalah kegaiban

para tukang sihir dan ahli mistik pun

tak kuasa menjamahmu

 

peta makin tak terbaca

arah angin tak lagi berkawan

pada lautan kupasrahkan diri

memaknai aroma garam

berbaur harum rambutmu

 

aku datang, aku datang

ke dalam dekapanmu

o, samudera rahasia

kuburan terakhirku…

 

 

Menyusuri Malam Braga


adakah yang paham
di mana waktu menepi
sebelum kenangan menyepi
di sisa-sisa jejak kita

lampu-lampu kota
dan langit Braga yang menghitam
di atap bangunan-bangunan Belanda
seakan menakar kisah silam
yang sembunyi di kedalaman jiwamu

tembok-tembok kota kelabu
di antara graffiti dan tanda hati
bayanganmu makin muram
lorong-lorong ngilu menunggu

malam pun buta
pelacur merayu udara dingin
pengemis dan gelandangan tertidur
tukang parkir bercengkerama
dengan lintingan tembakau

malam pun tuli
kau menari salsa sendirian
di antara sisa sepi

di trotoar jalanan berembun

 

kita tak pernah paham
di mana waktu menepi
apakah di hampar puisi
ataukah di ufuk matamu
 

Serenade Pantai

 

 

buih ombak mendesah

di ujung jemari kakimu

sampan-sampan

tampak murung dan kelam

 

lelampu di kejauhan tatap mata

diam-diam mencuri

kemilau cahaya dari jiwamu

yang serupa mercusuar

menggoda para nakhoda

 

helai-helai daun waru menggugurkan diri

cemburu pada rambutmu yang tergerai

di tengah resah angin pantai

 

di sepanjang malam

kelam beringsut perlahan

kau menyusuri kenang demi kenang

hingga ujung penghabisan kata

 

aku cemburu pada pita di rambutmu

aku cemburu pada gincu di manis bibirmu

aku cemburu pada goresan hitam di garis matamu

aku cemburu pada pupur tipis di wajahmu

aku cemburu pada bintang-bintang

yang memberkati ubun-ubunmu dengan kilau cahaya

 

sekaleng bir belum tandas

sebutir pasir tersentuh ujung lidahku

kau tertawa

sembari mencecap segetir kehidupan

 

aku terdiam

menatap kelam lautan

mengurai masa silam

menerka masa depan

di kedalaman matamu

 

namun, belum juga

kutemukan jawaban

 

 

 

Interlude Perjalanan
 

benih-benih cahaya membuncah
sejauh perjalanan menujumu
sekilas kenang demi kenang
memaknai hidup dari kota ke kota

pepohonan berkilau di sepuh purnama
takada yang mampu menghentikan rindu
yang luruh di setiap pertemuan

perjalanan itu

menyatu di setiap alur nadimu
dan benih-benih cahaya

menuntun jiwamu
menujuku…

 

 


Di Buahbatu, Bandung

 

 

di Buahbatu kutemukan diriku

menyapih jejak silam

berceloteh anggur merah

mereguk malam hingga sumsum

 

di Buahbatu

para sahabat menggurat namaku

di tembok-tembok kafe kampus

seakan mengekalkan kenangan

dalam gemuruh kota

 

di Buahbatu

petikan kecapi dan nyanyian perkusi

mengiringi jiwaku

silaturahmi dengan jiwamu

 

di Buahbatu

akik, anggur merah, arak

dan wajah Tuhan yang pucat

merasuki malam laknat

 

di Buahbatu

waktu seperti beludru

menghampar lembut rindu

pertemuan…

 


Selat Bali

 

 

di atas kapal usang ini

kuserahkan diri

pada selat yang sempit

ombak tampak ramah

angin serasa hangat

 

di tepi gelada kaku berdiri

menatap langit lazuardi

bocah-bocah penyelam

yang tubuhnya selegam kehidupan

berebut keping-keping uang logam

yang dilemparkan ke dalam lautan

ketangkasan mereka adalah hiburan

bagi penumpang yang cemas

 

seorang preman menawariku jam tangan

waktu senantiasa berdetik dalam jantungku

 

lagu dangdut bajakan

mengalun sendu

tak mampu kutahan rindu

daratan Gilimanuk makin samar

kau entah di mana

 

menyeberangi selat

rambutmu masih terasa

menyentuh pundakku

dan lagu dangdut itu

jadi kenangan

yang makin menjauh

diseret ombak

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Lukis di ISI Denpasar. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah kepenulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel.

Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, di antaranya; Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Bali Post. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011).Buku kumpulan puisinya adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Buku novelnya: Magening (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2015).

Kini, dia bergiat di Jatijagat Kampung Puisi (JKP) di Denpasar, Bali.
Wayan Jengki Sunarta

Latest posts by Wayan Jengki Sunarta (see all)