Sajak-Sajak Zulkifli Songyanan; Meditasi dari Desa

in Puisi by

Lagu Orang Buangan

 

Betapa lembut kau tempatkan hidupku

ke dalam bahaya:

ke tahta sebuah istana di mana raja dan ratunya

seketika menjelma jadi hamba sahaya;

ke senyap mulut goa di mana aku

terpisah jauh dari jantung persoalan

umat manusia.

Betapa lembut kau tempatkan hidupku

ke dalam bahaya:

ke debar sebuah samudera

di mana ombak dan badainya mengembuskan

aneka maut dan metafora;

ke gelap rimba raya

di mana binatang-binatangnya buas

mengajariku hidup dengan sekaligus tanpa

macam-macam sopan santun

dan tata krama.

 

Sungguh betapa lembut kau tempatkan hidupku

ke dalam bahaya.

Jemarimu perkasa menjinjing jiwaku yang berontak

ke mana pun engkau suka.

Aku berteriak dan merana.

Berteriak dan merana.

Hingga lembah demi lembah memantulkan suaraku

sebagai lagu sekaligus doa-doa tulus nan sederhana.

Lembah demi lembah memantulkan suaraku

sebagai lagu sekaligus doa-doa tulus nan sederhana.

 

Sungguh lembut kau tempatkan hidupku

ke dalam bahaya. Aku pun terpukau.

Jiwaku tersenyum diasah dan diasuh sebilah pisau.

 

2017

 

 

Meditasi dari Desa

 

1/

 

Di bawah balutan kabut yang biru

membayang sebuah dunia yang ringan

namun penuh pesona, yakni hatiku.

 

Meski langit dan lanskapnya

demikian samar dan ragu-ragu

jalan-jalannya rusak dan terjal

bahkan penuh dengan hantu-hantu

tak ada gejolak apa pun di situ.

Selain keriangan dan rasa syukur.

 

Segala yang kupandang begitu bening

seperti cerlang mata ibu.

Benda-benda yang kusentuh seketika hening

seperti halnya kening kekasih

menanti kecupan tulus

bibir jiwaku.

 

Adapun seluruh derita

warisan hidupku yang pertama

pelan-pelan luruh

manakala sebuah makam

kemegahan yang akan datang

tersingkap menyambutku

dengan bentangan rindunya

yang telanjang.

 

2/

 

Aku berutang pada orang-orang polos

dari desa

yang mengayunkan tangan dan kakinya

menghadapi segala persoalan

dengan penuh sukacita.

 

Aku berutang pada orang-orang polos

dari desa

yang memahami hidup lewat laku

bukan lewat kemegahan buku

maupun bunga indah kata-kata.

 

Aku berutang pada orang-orang polos

dari desa

yang menangkap suara demi suara

getar doa alam semesta

lewat semangat dan ketulusan

pada kerja.

 

Ya, orang-orang polos dari desa:

sosok-sosok yang hilang

dalam wacana ibu kota

bersama mereka

di bawah keheningan

yang mengagumkan

di sela lelehan kabut biru

nan melenakan

kuresapkan aneka lagu

dan puji-pujian

ke dalam saripati

hidup dan mati.

Ricik air dan percik api.

Abu dan tulang belulang

sajak ini.

 

Suatu pagi

saat unggas dan burung-burung pergi

mencari biji-bijian

di celah jemari dan doa-doaku

yang merana

 

aku berdoa

lewat mulut orang-orang

dari desa.

 

2017

 

 

 

 

Di Teras Rumah Mama

 

Sekian pohon puring

hijau

merah

dan kuning

berselang-seling

dengan jambu dan talas

jeruk nipis

samar siraman cahaya lampu

gelombang cinta

serta suara bising

seorang tetangga.

 

Dan dengan setumpuk buku Rendra

aku malah terlihat asing

duduk di teras 2×4 meter ini.

 

Ada sebuah warung

di tengah kampung

ribut melulu.

Ada dua kolam ikan

dibelah setapak jalan

keruh selalu.

Lalu sebuah jamban

temboknya rengkah dan berlumut

puluhan tahun menyalurkan kotoran

sekaligus kebaikan

bagi dan lewat pantat

orang-orang.

 

Malam pun tengah dibangun

dari suara petasan

sisa lebaran.

Tak ada bulan dan bintang-bintang.

Tak ada lagi sayup orang mengaji

menenangkan.

 

Angin kering.

Langit pun merah

dan hitam.

Pikiran dan cakrawala

hanya merah.

Dan hitam.

 

Bagai lembar-lembar jiwa

seorang pendendam

sebelum hari lebaran.

 

Kusimak percakapan tetangga

bagai menyimak kabar terbaru

dari Jakarta: jengkel dan membosankan.

Penuh bangkai dan kemarahan.

 

(Suara bising tetangga

akhirnya bikin teras rumah mama

kedatangan anjing

dan kata-kata umpatan lainnya).

 

Petikan gitar mengalun, ragu-ragu

dari kerumunan pemuda tanggung

di seberangku.

 

Suara sumbang

demikian nyaring

memenuhi batinku.

 

Di bawah samar siraman cahaya lampu

di antara sejumlah tanaman berselang-seling

dengan pagar bambu

sekian pohon puring

hijau

merah

dan kuning

 

nyatanya, tampak lebih terusik ketimbang diriku.

 

2017

 

 

Suasana

 

1/

 

Kumasuki sebuah kafe—pesan kopi hitam

campur jahe. Musik berdentaman.

Syahdu. Dan musik masih terus

berdentaman—menghalau rasa risau

orang hilang pengharapan.

 

Kutunggu seseorang yang pernah kucinta

sedemikian rupa.

Setelah sekian lama, kami sepakat

bikin jumpa.

 

Aneh, sungguh sulit kuingat wajahnya.

Betapa gelap kucari-cari sinar cinta

yang dengan penuh kebanggaan

pernah kuberikan kepadanya.

 

Menghirup kopi hangat. Baca satu puisi klasik Cina

“Seperti Sekuntum Bunga”

menjadi penyair membuat diriku

mendadak merasa bijak dan bahagia.

 

Aih, alangkah bahagia

merasa bijak dan bahagia!

 

Hati pun berjingkrak

menumbuhkan sekuntum bunga.

 

Meski bunga duka

yang sebaiknya

tak ada.

 

2/

 

Satu jam hilang, ia masih juga

belum datang. Aku senang

bahwa ia belum datang.

 

Tiba lebih dulu membuat aku punya banyak waktu

mencari alasan memaafkan dirinya dan diriku

menertawakan cintanya dan cintaku.

Kesungguhan cintaku.

 

Musik terus berdentaman. Merdu.

Jam dan perasaan

sesaat demikian biru.

 

Seekor kupu-kupu hinggap

mencecap keheningan jiwaku.

 

2017

 

Di Gedong CAI

 

1/

 

Sepasang pintu besi yang biru

tak membungkam

derum jantungmu.

 

Tembok batu abad 19

kalakay daun-daun tak bernama

kini sama kering dan sama renta

 

dengan nasib sebuah kampung

di utara.

 

2/

 

Lurus menatap paras Wayang dan Patuha

terlihat juga

paras geulis Bandung

dalam belitan tipis

selendang halimun

 

(sungguh demikian anggun

dan nelangsa!)

 

Lalu di saat yang sama—

pucuk-pucuk kondominium gemetar

dibantun kehijauan

dan rasa kecewa;

 

pohon-pohon meranggas

bagai nasib baik

umat manusia;

 

sedang jiwaku basah

sebab tak tahu

asal mula air mata.

 

3/

 

Setapak jalan membagi dirinya

bagi jalur air dan udara;

menutup dan membuka dirinya

bagi langkah-langkah kecil

anak kampung

rumput liar & bunga-bunga

serangga & binatang ternak

kenangan nakal masa kanak

batas-batas teritorial

kawasan jin & manusia.

 

Aku pun bertanya, sebenarnya

adakah yang menderu di balik pintu biru itu air

atau jiwamu; syair atau gema kericuhan

di negerimu. Tak ada jawaban apa pun

bagiku. Tatapan pohon-pohon tua

tampak makin dalam

dan bisu. Tjibadak 1921

demikian segar di batinku.

 

Derum jantungmu

jantung air nan segar itu

seperti tak pernah

disentuh waktu.

 

Kubasuh wajah dan jiwaku yang lusuh.

Kini segalanya terasa dingin dan bening.

Aku seperti berada di sebuah negeri asing.

 

2017.

Zulkifli Songyanan

Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 02 Juni 1990. Kumpulan puisinya yang pertama, Kartu Pos dari Banda Neira, masuk daftar panjang peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kategori Buku Pertama dan Kedua. Kini bergiat di Yayasan Bale Budaya Bandung, sebuah lembaga nirlaba yang fokus pada pengembangan dan penguatan desa wisata.

Latest posts by Zulkifli Songyanan (see all)