Sastra di Tengah Badai Kegilaan*

in Esai by
pinterest.com

* Esai kecil untuk pengantar diskusi Sastra Indonesia Hari Ini di Kafe Basabasi.

 

Setiap tendensi baru dalam dalam seni selalu dimulai dengan pemberontakan.

Albert Camus

Di zaman milenial ini, membicarakan soal pemberontakan boleh jadi terasa sangat romantik. Kita memang tidak hidup di zaman Albert Camus, yang menganggap ekspresi dari kebutuhan  manusia untuk memperoleh hak-haknya, ialah sebuah perjuangan melawan kelas masyarakat. Dalam “perjuangan” itulah, muncul semangat pemberontakan, sadar atau tidak, aktif atau pasif, optimis atau pesimis, menjadi bagian yang bisa dirasakan dalam setiap karya seni.

Tapi, saya kira, selirih apa pun, kita masih bisa merasakan kegilaan para pemberontak yang mempercayai kekuatan bahasa dan cerita. Mereka adalah para penulis hari ini, di Indonesia tentu saja, yang mau tidak mau hidup dalam badai kegilaan. Dan badai kegilaan itu dengan simultan direproduksi dan disebarkan oleh apa yang disebut media sosial (internet). Tapi sumber utama badai kegilaan itu, sesungguhnya dari perilaku koruptif kekuasaan.

Celakanya, kegilaan termasuk wabah yang cepat menular. Dan kita pun menyaksikan semakin banyak orang yang justru terlihat bisa menikmati kebahagiaan dalam situasi penuh kegilaan ini. Kita seperti kehilangan ukuran untuk menentukan kebaikan dan kebenaran berdasarkan akal sehat.

Saya kira, di situlah tantangan terbesar karya sastra hari ini, terutama ketika kita hendak membawanya ke ranah konstruksi sosial politik. Bagaimana sastra menanggapi segala macam bentuk kegilaan itu? Buku saya, Lelucon Para Koruptor, menjadi pilihan sadar saya untuk mencoba merespons kegilaan sosial politik dengan cara meledeknya dan menjadikannya lelucon.

***

Dari karya Michel  Foucault, The History of Madness, kita menyadari sejarah panjang kegilaan sejak zamam Klasik, yang seakan menjadi bagian dari politik penguasaan manusia hingga delusi modernitas, di mana kegilaan menjadi “Unreason” (keadaan tanpa rasio atau tidak normal), sebuah kekosongan atau keheningan yang membuat manusia kehilangan kemampuan memahami kenyataan. Sejarah arkeologi kegilaan adalah upaya pengasingan, memisahkan yang gila dari yang waras. Tapi kegilaan juga tak bisa dari penalaran yang bisa membongkar praktik-kuasa pengetahuan yang semu dan kadang penuh ilusi. Akal budi yang tidak bernalar dan ketidakbenaran yang bernalar menjadi bagian yang tak terpisahkan, hingga Erasmus pernah menulis pemujaan dan pujian pada kegilaan, Laus Stultitiae.

Saya pun membayangkan “ode kegilaan” ketika mulai menulis lakon Hakim Sarmin. Itulah proyek pertama saya dalam karya tulis (naskah drama dalam hal ini) yang mencoba menggambarkan wabah kegilaan. Di san asana mencoba menggambarkan hilangnya kepekaan ketika mesti memahami hal-hal yang paling dasar dalam kehidupan, seperti soal kebahagiaan, kebenaran atau keadilan. Melalui dunia hukum, saya mencoba memasuki situasi kegilaan itu. Negara dan seluruh lembaga hukumnya seakan-akan membawa kita pada mimpi buruk tentang negara gagal (failed states).

Para penulis, yang paling apatis pun, saya kira tetap mempunyai kepercayaan, bahwa sastra bisa menjadi “suara lain”, yang meski pun sayup, harus terus-menerus disuarakan, agar tumbuh apa yang bisa disebut pencerahan. Mungkin bukan pencerahan sebagaimana yang diimpikan oleh kaum Renaisan, tetapi setidaknya sastra bisa menjadi wacana yang mampu membongkar praktik-praktik koruptif dan manipulatif yang berlangsung melalui dunia politik dan seluruh perangkat kekuasaan yang menyangganya.

Secara sederhana, saya membayangkan sastra menjadi sebuah cara untuk bertahan, atau mempertahankan, kewarasan. Menulis, dengan sendirinya, menjadi sebuah upaya kreatif untuk terus menjaga kewarasan. Semangat pemberontakan dan perlawanan dalam sastra kita hari ini, bisa menemukan relevansinya, dalam konteks menumbuhkan sikap kritis dan akal sehat agar tetap waras. Dengan ungkapan bernada jargon, barangkali, kita bisa menyebutkan sebagai upaya mempertahankan “rakyat yang waras”.

Sastra menjadi ruang bertemunya rakyat, penulis dan pembaca, yang waras itu. “Waras” tidak hanya bermakna “sehat” tetapi juga “tetap terjaganya kesadaran” ketika situasi dan kondisi sudah terjangkiti kegilaan. Rakyat yang waras adalah rakyat yang masih mencoba mempertahankan kesadaran hidup dan kewaspadaan daya pikirnya. Ronggowarsito, ialah mereka yang tetap “eling lan waspada”. Atau dalam ungkapan penyair Rendra menyebut kewarasan itu sebagai daya hidup rakyat yang tetap menjaga akal sehat. Sastra, dan bentuk-bentuk seni yang lain, bisa menjadi bagian penting dari proses menjaga kesadaran dan akal sehat. Setidaknya, inilah yang mestinya terus diupayakan dunia kesenian, merawat akal sehat, menjaga kewarasan.

Saya kira, sampai saat ini, kita memang masih bisa merasa beruntung karena memiliki rakyat yang waras. Kegilaan yang disebabkan Pilpres atau Pilkada, misalnya, memang telah terasa begitu mengkhawatirkan, tetapi kita masih saja menemukan banyak yang masih waras. Beruntunglah negara ini memiliki rakyat yang waras. Bahkan, bila diungkapkan dengan hiperbolis, rakyat yang waras itulah satu-satunya keberuntungan yang masih dimiliki negara kita, karena sumber daya alam yang melimpah, keanekaragaman hayati dan kekayaan kebudayaan sudah lama diabaikan negara.

***

Tetapi, ketika sastra ingin menjadi “obor kesadaran” yang menjaga kewarasan masyarakat seperti itu pun memiliki risiko dan ambiguitasnya sendiri. Mereka yang skeptis dengan klaim-klaim kebenaran seperti halnya Michel  Foucault, pastilah akan mencurigai “peran sastra” dalam perubahan sosial. Karena setiap karya seni, tidak lepas pula dari kehendak untuk mendominasi wacana, dan berarti ada praktik-praktik kekuasaan yang juga harus dikritisi.

Klaim bahwa sastra bisa menjadi suara lain, yang membebaskan diri dari kegilaan masyarakatnya, mengandaikan adalah klaim kebenaran, dan sebagaimana dinyatakan Foucault, tidak terbebas dari kehendak kekuasaan-kekuasaan yang disembunyikannya.

Di situlah, kesadaran untuk merelatifisir klaim kebenaran yang tersembunyi di dalamnya, saya memilih “jalan lelucon” untuk menanggapi kegilaan sosial politik yang terjadi. Dengan lelucon, kritik tidak berlangsung hanya secara eksternal, seakan-akan yang harus dilihat dengan kritis adalah apa yang terjadi di luar dunia sastra dan teks sastra semata. Tetapi dengan lelucon, kita memiliki kesadaran untuk meledek persoalan-persoalan internal dalam sastra, atau unsur-unsur intristik dalam karya sastra. Seni lelucon, sebagaimana pada guyon parikeno Jawa (yang banyak saya olah sebagai cara memandang persoalan yang ingin saya tulis dalam Lelucon Para Koruptor) pada dasarnya sebuah upaya untuk tidak bersikap “merasa paling waras sendiri”, ketika berupaya mempertahankan benteng kewarasan masyarakat. Melalui lelucon, sesungguhnya, kita berupaya melihat hal-hal dengan sudut pandang yang berbeda atau tak terduga.

Lelucon atau humor sebagaimana dinyatakan Gene Perret, pada dasarnya ialah sebuah upaya untuk merefleksikan kebenaran; menjadi cara untuk memahami “realitas” dengan memperlihatkan ketidakberesan yang tersembunyi. Lelucon, ujar Friedrick Schiller, muncul karena ada distraksi atau bahkan ketidakcocokan antara Das sein (kenyataan yang terjadi) dengan Das sollen (yang seharusnya terjadi);  kesenjangan antara praktik-kenyataan dengan norma-ideal.

Humor–telebih humor politik–tak lain sebuah critical discourse,  di mana melalui humor itu kita diingatkan, kemudian didorong untuk melakukan koreksi agar bisa dilakukan penataan kembali hal-hal yang dianggap kurang patut.  Humor menjadi upaya untuk mengingatkan keadaban. Satire politik adalah suara kegelisahan masyarakat. George Orwell mengingatkan, agar kita tak boleh meremehkan atau menyepelekan lelucon. Karena dalam lelucon, selalu terselip revolusi kecil. Itu sebabnya, Gus Dur pun juga melakukan upaya “melawan dengan lelucon” agar tetap  terjaga kesadaran dan kewarasan.

Lelucon dalam sastra, barangkali sebuah upaya kecil untuk terus menjaga kesadaran dan akal sehat dari badai kegilaan yang terjadi hari ini. Sebagai bagian dari upaya bersama untuk mempertahankan kekuatan sipil (civil society) yang memiliki kesadaran kritis.

Agus Noor

Agus Noor

cerpenis dan penyair, juga penulis naskah drama. Sudah banyak meraih pelbagai penghargaan sastra bergengsi. Karya lakonnya yang baru terbit oleh Penerbit Basabasi bertajuk Hakim Sarmin. Puisi ini adalah “pemanasan” untuk kumpulan puisinya yang akan segera diterbitkan sastra perjuangan Diva Press.
Agus Noor

Latest posts by Agus Noor (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.