Sastra Tak Perlu Dipahami

in Hibernasi by

Saya belum pernah bertemu Eyang Sapardi. Oleh karena itu, ketika mendapatkan info mengenai bedah buku Yang Fana Adalah Waktu, cepat-cepat saya mendaftar tanpa berpikir harus izin ke kantor. Sapardi lho ini, apa pun juga akan saya lakukan. Acara yang seharusnya mulai pukul 12.45 baru dimulai menjelang pukul 14.00, sebuah catatan kedisiplinan bagi Bank Indonesia KPw Yogyakarta selaku penyelenggara.

Annisa Hertami selaku moderator tampil sangat manis mengenakan terusan bunga-bunga berwarna cerah. Ia seorang aktris dan model serta aktor teater asli Yogyakarta. Beberapa film biopik nasional telah ia bintangi. Baru-baru ini, Annisa juga menulis buku puisi berjudul “Agar Dapat Kubaca Zaman”.

Sapardi Djoko Damono, sang bintang dan titik pusat acara, seperti yang biasa saya lihat di foto-foto, mengenakan celana panjang, kemeja, jaket berwarna krem, dan tak lupa topi baretnya yang khas itu.

Annisa membuka talk show dengan bertanya, apa yang membuat Sapardi meneruskan Hujan Bulan Juni menjadi trilogi? Sapardi menjawab, pada awalnya ia hanya ingin membuat satu puisinya menjadi karya yang lebih panjang, yaitu novel. Terbitlah Hujan Bulan Juni. Ia yang biasa menulis pendek dalam bentuk puisi merasa puas saja dengan novel yang digarapnya hingga 150 halaman itu. Lalu terbit Pingkan Melipat Jarak. Lebih gaul dari perkiraan banyak orang, Sapardi ternyata memiliki media sosial dan pengikutnya di beberapa media sosial itu resah dengan akhir yang dijalani Sarwono dalam novel-novel tersebut. Apakah Sarwono mati atau hidup? Pembaca ingin tahu. Barangkali Sapardi juga menghadapi dilema menghadapi warganet yang memiliki kecenderungan memburu-buru seseorang hingga menemukan jawaban atas pertanyaannya.

Bingung, Sapardi “bertanya” kepada Sarwono, apakah ia ingin dibunuh atau dibiarkan hidup? Jawabannya, ada di buku terbarunya. Bagaimanapun juga ternyata ia juga penulis yang sadar kebutuhan hidup. Tidak mau spoiler akan karyanya sendiri agar dibeli orang.  Judul Yang Fana Adalah Waktu juga punya cerita sendiri. Bagi Sapardi, waktu adalah misteri. Manusia diciptakan Tuhan. Waktu diciptakan manusia. Maka yang abadi adalah kenangan dan perasaan. Pun begitu dengan karakter yang tercipta/diciptakan dalam novel. Mereka abadi dalam karya.

Annisa Hertami yang telah membaca novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni tersebut menyebutkan salah satu bagian cerita di mana Pingkan ingin mengganti kenangannya di kafe bersama Katsuo—dengan Sarwono. Tentu saja memori dan kenangan tak bisa diganti. Apa pun yang telah berlalu tak dapat digantikan. Kita hanya bisa menumpuk kenangan dengan kenangan lain. Maka barangkali memang waktu itu fana, kenangan yang terdiri dari “kita” yang abadi.

Setelah itu topik pembahasan berganti lebih teknikal. Sapardi membahas penggunaan bahasa dalam karya-karyanya. Salah satu puisinya yang berjudul “Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari” nyatanya memang benar-benar ia tulis berdasarkan pengalamannya berjalan pada pagi hari dan sebatas menerangkannya saja. Ia lalu mengatakan bahwa penguasaan bahasa sangat penting untuk menyampaikan sesuatu yang rumit dengan cara sesederhana mungkin.

Sastrawan harus dapat berbicara (dan menulis tentunya) dengan bahasa hidup. Bahasa hidup adalah bahasa lisan, bukan bahasa tulis. Sapardi bahkan mendengarkan bagaimana anak-anak sekarang atau yang lazim disebut “kids zaman now” berbicara dan ia juga ternyata memiliki karya ilmiah berjudul Kids Zaman Now. Betapa gaulnya eyang satu ini. Ia bahkan mendaku dirinya sendiri sebagai “Eyang Zaman Now. Sungguh menggemaskan. Dan klaim ini bukan sembarang klaim, sebab beberapa kali saya melihatnya memotret audiensi menggunakan telepon pintar yang terlihat lebih besar dari kedua tangannya yang telah keriput. Kulitnya boleh saja dimakan usia, tapi semangatnya bisa jadi abadi.

Trilogi Hujan Bulan Juni bercerita kisah cinta antara Pingkan, Sarwono, dan Katsuo. Masalah cinta sudah diceritakan sejak zaman Adam dan Hawa. Bukan masalah menurut Sapardi. Yang penting adalah cara menyampaikannya. Sebut saja kisah Jayaprana & Layonsari hingga Roro Mendut & Pranacitra. Karena itulah meski bercerita tentang cinta, Hujan Bulan Juni mengkhususkan pada kehidupan dua dosen muda, sebuah roman yang belum pernah ditulis di Indonesia.

Boleh saja kita berangkat dari karya klasik, kitab kuno, atau apa pun asalkan kemudian bisa memberi ciri pembeda dengan kisah-kisah yang ada sebelumnya. Jangan memakai kata/bahasa yang telah terpenjara dalam kamus yang justru berpotensi membuat karya menjadi kering. Tugas sastrawan adalah melawan klise. Jangan menggunakan kata-kata yang sudah “lecek” dalam kamus. Ikuti perkembangan zaman, termasuk amati bahasa lisan yang digunakan orang-orang saat ini. Klise adalah musuh utama para sastrawan. Sebab, sastrawan adalah seniman kata. Maka kata itulah yang harus terus diolah dan diperbarui.

Saat itu ada seorang peserta yang bertanya apakah karakter atau watak penulis berpengaruh besar terhadap karya yang ditulisnya, atau apakah penulis harus punya karakter tertentu yang sangat kuat agar ia dapat menjadi penulis hebat. Jawaban Sapardi cukup mengejutkan. Watak manusia selalu berubah, katanya. Begitu pula identitas dan jati diri. Sastrawan pun demikian halnya. Karena itu, ketika ingin menulis, kita boleh “mencuri” dari sastrawan atau karya yang kita sukai. Curi idenya dan pelintir sedemikian rupa.

Serupa dengan kalimat Ki Hajar Dewantara yang dikutip oleh Annisa, “Niteni, nirokke lan nambahi.” Dalam dunia modern saya kira itu lebih kita kenal dengan sebutan ATM (amati, tiru, modifikasi) dan ini berlaku di dunia sastra hingga dunia usaha.

Satu hal yang disampaikan Sapardi kemudian, yang saya jadikan judul tulisan ini adalah:

“Sastra itu bukan untuk dipahami, melainkan untuk dihayati dan dialami.”

Ketika sebuah karya sastra sudah dipahami, ia telah berhenti sebagai karya sastra. Bentuknya sudah berubah menjadi esai, tesis, atau tulisan akademik lainnya. Maka kemudian, ia sebenarnya berharap ketika bertanya kepada orang, “Mengapa suka dengan puisi dan tulisan saya (Sapardi)?” jawaban yang didapatnya adalah, “Senang saja. Tak ada alasannya.” Berganti bahasan ke sastra modern, Sapardi mengatakan salah satu cirinya adalah keluasan referensi. Contohnya, kutipan lirik lagu Ed Sheeran dalam Yang Fana Adalah Waktu. Betapa hebat eyang satu ini. Ia lalu menjelaskan bahwa sastrawan bertanggung jawab atas karakter yang diciptakan. Sebagai contoh, pemilihan nama Sarwono yang “Jawa banget” supaya tanpa penjelasan pun, orang-orang bisa mengidentifikasi siapa dan bagaimana kiranya karakter tokoh tersebut.

Bagi Sapardi, karya yang baik adalah gabungan dari pengalaman diri sendiri, riset, dan tambahan imajinasi (yang memiliki pijakan berupa pengalaman tadi) sehingga menjadi sesuatu yang baru. Bahasa merupakan kristalisasi kebudayaan dan tak terbatas pada lisan dan tulisan. Ada juga bahasa gerak (isyarat) yang juga penting untuk menggambarkan bagaimana tokoh satu dengan tokoh lainnya berkomunikasi.

Ketika seseorang menulis, secara otomatis akan terbangun nilai-nilai kemanusiaan dan kritik sosial dalam tulisannya baik disengaja maupun tidak. Sebab, sastra adalah propaganda yang tersamar. Tidak berkoar-koar, hanya berbisik dan mengajak berpikir seperti teman diskusi pada pukul tiga pagi hari. Propaganda terselip tipis-tipis. Yang penting dalam menulis adalah jangan menetapkan batasan. Tulis saja semua yang ada dalam pikiran, fermentasikan, evaluasi, coret-coret sampai jadi.

Menanggapi alih wahana puisi “Aku Ingin” oleh Ari Reda menjadi bentuk lagu (musikalisasi puisi), Sapardi justru senang. Ia berkata, “Haram hukumnya mencampuri urusan orang yang menafsirkan karya saya.” Justru karya lama bisa kembali baru ketika dilakukan alih wahana. Lagi pula, tak ada lagi sesuatu yang baru di bawah langit ini. Yang ada hanya sesuatu lama, dipelintir menjadi sesuatu yang baru. Dan ternyata Ari Reda adalah mahasiswanya. Sapardi lalu menambahkan bahwa ada banyak sekali karya-karya alih wahana seperti misalnya cerita Si Buta dari Gua Hantu yang telah lahir dalam 37 bentuk mulai dari cerita pendek, komik, hingga tayangan audiovisual. Beberapa mahasiswanya di FIB UI menggubah puisi-puisinya dalam berbagai bentuk dan ia senang hati saja.

Sebuah pertanyaan kembali melayang dari salah satu peserta, mempertanyakan tanggapan Sapardi terhadap karya sastra terjemahan. Menurut Sapardi, sastra mengikut bahasanya. Ketika sebuah karya sastra dari Inggris diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka karya itu menjadi bagian dari sastra Indonesia. Begitu pula sebaliknya.  Menurut Sapardi, persoalan karya-karya terjemahan lahir karena kapitalisme. Ternyata diam-diam ia juga mengutuk kapitalisme. Katanya, sebelum ada kapitalisme, alih wahana (termasuk alih bahasa) bebas saja tak perlu bayar. Sementara sejak ada kapitalisme, semua itu hanya masalah “kuat bayar opo ora?” merujuk pada hak cipta, royalti, dan sebagainya. Idealnya tidak seperti itu agar bisa diadaptasi secara lebih kreatif tanpa memusingkan biaya.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan sebuah fun fact tentang Sapardi Djoko Damono yang oleh Jokpin disebut sebagai Profesor Hujan. Jika teman-teman mengamati, Sapardi selalu memakai baju yang modelnya itu-itu saja: celana panjang, kemeja, jaket, dan tentu saja topi baret. Salah satu peserta bertanya, “Ada apa sih dengan topi itu, apakah membuat Bapak jadi lebih berkarakter, percaya diri, atau bagaimana?” Ternyata, alasan Sapardi selalu memakai topi adalah karena rambutnya telah menipis bahkan mungkin telah sama sekali hilang di bagian atas dan ia sering berjalan-jalan ke mal. Pendingin di udara di pusat perbelanjaan membuatnya kedinginan dan ia merasa ngleyang, karena itu topi ia pakai sebagai pelindung—selain juga untuk menghargai pemberinya yang rata-rata adalah mahasiswanya sendiri (ia punya satu rak besar berisi topi baret seperti itu). Setelah mendaku dirinya sebagai Eyang Zaman Now, ia juga menyebut dirinya sebagai Eyang Mal. Di balik hujannya yang liris dan mriyayeni, ternyata eyang yang satu ini cukup rebel dan sangat gaul untuk ukuran seusianya.

Chandra Wulan

Chandra Wulan

Lahir di Purwokerto pada 2 Maret 1995, menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Isipol UGM Yogyakarta dan kini bekerja sebagai pekerja teks komersial. Senang membaca dan bercerita. Dapat dijangkau melalui akun Instagram: @chandrawulannn atau surel chandrawulann@gmail.com.
Chandra Wulan

Latest posts by Chandra Wulan (see all)