Sastra untuk Siapa?

in Esai by

Jonathan-Wolstenholme-books-on-books-017

Sumber Gambar: www.inspirefirst.com

Ketika membaca beberapa komentar di bawah postingan cerita pendek di suatu blog, sedihlah hati saya. Pasalnya, komentar itu giat sekali mem-bully cerita pendek di majalah wanita yang konon katanya bukan sastra sekali, tak punya konflik, semua pun bisa dengan mudah menulisnya, tak berbobot, tak bermutu, jelas tak sejajar dengan cerita pendek koran minggu, tulisan ecek-ecek, dan sebagainya, dan sebagainya.

Saya memang bukan mahasiswa sastra. Tapi jika sastra memiliki visi mulia melembutkan hati pembacanya, apakah sastra yang demikian agung layak dikerdilkan dengan mengotak-ngotakkan karya sastra itu sendiri dan, yang lebih mengerikan, membikin-bikin standar bobot sampai mengecek-ecekkan buah pikir dan olah rasa penciptanya? Sastra boleh saja mengenal beberapa aliran, tapi bukankah aliran-aliran itu tidak selayaknya membuat aliran yang satu merasa lebih unggul daripada aliran yang lain, apalagi menista?

Menurut saya yang awam ini, kata seagung sastra itu seharusnya akrab dengan khalayak. Ya, sastra harus dekat dengan pembacanya. Siapakah pembaca itu? Pembaca bisa siapa saja. Pembaca datang dari segala kalangan, pembaca lahir dari segala usia dan tingkat pendidikan. Bukankah untuk melembutkan hati melalui karya-karya sastra seharusnya pembaca tak perlu menunggu menjadi tua dan pintar mumpuni terlebih dulu? Bahkan semakin muda manusia membaca karya sastra, semakin lenturlah hatinya dan semakin kayalah pikirannya, semoga kebijaksanaan pun mengikutinya.

Pembaca karya sastra tak melulu orang-orang yang senang akan kata-kata sulit yang jumpalitan. Pembaca karya sastra ada kalanya adalah mereka yang lebih menyukai segala sesuatunya dipaparkan dengan begitu apa adanya, gamblang dan tidak berlebihan, mengalir laksana gemericik ritmis sungai kecil yang membelah perbukitan. Karya sastra bukan monopoli kaum laki-laki baik pembaca maupun penulisnya. Kaum laki-laki yang konon daya berpikirnya lebih mapan ketimbang kaum perempuan. Karya sastra seharusnya menempati semua ruang di hati pembacanya baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, intelek maupun nihil pendidikan, kaya maupun miskin.

Maka sentuhan kesederhanaan dan penuh perasaan pun dibutuhkan dalam karya sastra agar karya sastra itu sendiri dapat menjadi pelabuhan yang nyaman dan aman bagi kaum perempuan bersandar bahkan anak-anak. Dan itu sama sekali bukan berarti pembaca maupun penulis cerita pendek di majalah wanita lantas menjadi penikmat dan pembuat karya sastra kelas dua dibanding laki-laki. Perempuan pun ada yang menyukai karya sastra njlimet yang dibaca sekali bahkan dua kali terpahami separuh pun sudah lumayan. Sama seperti adanya laki-laki yang menyukai bacaan sederhana, jelas, dan ringan.

Saya memandang sastra seperti sebuah pemerintahan. Pemerintahan yang lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Maka bukankah sudah semestinya pemerintahan (baca: sastra) itu dekat dengan rakyatnya? Jika pernah terjadi, sastra kini tak boleh lagi menjadi kaum eksklusif yang pergaulannya tidak terjangkau jelata melainkan hanya tontonan di atas panggung yang bahkan sama sekali tak membuat jelata berdecak melainkan bergumam, “Iki ki opppooo….”

Sastra harus menjadi makanan wajib bagi segala umat, yang memahami kiasan maupun tidak, yang menyukai makna-makna tersembunyi maupun yang menyukai makna-makna terang benderang. Sastra harus menjelma selembut udara, dengan mudah dihirup siapa pun karena bila tidak, peradaban umat manusia di muka bumi ini akan mengalami kemunduran besar-besaran tak terkecuali sastra itu sendiri. Mendewa-dewakan gaya karya sastra tertentu dan mengucilkan, mencemooh gaya karya sastra yang lain cepat atau lambat hanya akan memiskinkan sastra itu sendiri, bahkan mengundang malaikat mautnya. Jika itu yang terjadi, cepat atau lambat, sastra akan mati atau mati suri. Tapi baik mati sungguhan maupun mati suri, toh rasanya tetap saja sama-sama mati kan?

Rasanya tak perlulah, menyempitkan definisi karya sastra melulu sebagai tulisan penuh kiasan dan kata-kata ajaib tingkat tinggi yang sulit dimengerti bahkan bisa jadi hanya dimengerti oleh penulisnya sendiri selagi pembacanya hanya dapat mereka-reka isi cerita seperti halnya menjulurkan tangan dalam kegelapan. Bukankah karya Ernest Hemingway (dalam 17 Cerita Terbaik Ernest Hemingway terbitan Indo Literasi) pun tak disesaki kata-kata sulit melainkan mengalir biasa-biasa saja sebagaimana dalam kehidupan nyata suatu peristiwa terjadi?

Masih menurut saya, setiap karya sastra memiliki karakternya masing-masing, gaya penyampaian sendiri-sendiri, dan kekuatan yang membedakannya dengan karya sastra lain. Tengoklah sejumlah novel klasik yang telah diakui sebagai salah satu karya sastra besar sepanjang zaman buah tangan Jane Austen. Pride and Prejudice, Emma, Mansfield Park, Persuasion, dan Northanger Abbey. Kelimanya “hanyalah” karya sastra penuh romansa yang dituturkan dengan begitu sederhana tanpa mengurangi keampuhannya menerjemahkan perasaan setiap tokoh di dalamnya.

Bahkan seorang Jane Austen pun sanggup menghiasi karyanya dengan selera humor, kejenakaan, ketika di saat yang lain kisah yang ditulisnya juga mampu meremas perasaan. Kesan yang saya dapatkan dari karya-karya Jane Austen yang besar ini justru betapa kesederhanaan dan kejujuran dalam bertutur dapat berbuah tergalinya perasaan dan pikiran para tokoh secara lebih mendalam, membuat pembaca merasakan persis seperti yang para tokoh itu rasakan.

Lepas dari Jane Austen, masih ada pula karya sastra “sederhana” seperti serial Anne milik Lucy Maud Montgomery, Little Women milik Louisa May Alcott, dan Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis-nya Jorge Amado. Semua karya-karya itu tak disesaki kata-kata sulit tingkat tinggi, konfliknya tak muluk-muluk, bahkan bisa dibilang tak ada kerumitan di sana, tapi toh mereka diakui sebagai karya besar bahkan sekaliber dunia.

Alhasil, bila hendak menghakimi sebuah karya sastra baik atau kurang baik, bukan buruk karena yang buruk barangkali hanyalah kegagalan kita sendiri menangkap gagasan dan sudut pandang orang lain, dan membanding-bandingkan satu karya sastra dengan karya sastra lain, janganlah jadikan rumitnya kata-kata dan dahsyatnya konflik yang diangkat sebagai satu-satunya pijakan. Sebab menerjemahkan gagasan dan perasaan yang sebetulnya sulit menjadi jauh lebih mudah dipahami justru butuh keahlian tingkat tinggi sedangkan dahsyat atau remeh-temehnya suatu konflik sejatinya amat tergantung dari di mana posisi kita kini. Seperti halnya konflik penuh drama dalam hidup saya barangkali hanyalah angin lalu yang jadi bahan guyonan bagi orang lain.

Kritik atau sekadar komentar atas suatu karya sastra adalah tanda sayang dari pembaca. Namun seyogianya tanda sayang sekecil maupun sebesar apa pun tetap didasari oleh keluasan wawasan dan memperhatikan penyampaian. Sebab kritik tidak selalu membangun. Kritik yang membangun tentulah kritik yang seperti saya bilang, berdasar atas keluasan wawasan dan berfokus pada materi karya sastra yang dikritik, tidak meluber ke ranah yang lebih pribadi apalagi tega menyebut penulis cerita pendek di majalah wanita itu belumlah layak disebut penulis seperti halnya penulis yang cerita pendeknya wara-wiri di koran minggu telah menjadi penulis sungguhan.

Sedang kritikan dan komentar yang mem-bully, mencemooh, dan tak jelas jluntrungan-nya tentulah tak akan membawa sastra yang kita cintai ini maju ke mana-mana melainkan mundur selangkah demi selangkah atau malah lompat ke belakang sekalian lalu bersembunyi di balik batu besar dan tak mau lagi keluar menampakkan diri. Jika kita semua mengaku cinta sastra, mari tunjukkan rasa cinta itu dengan cara-cara yang lebih dewasa. Hingga jika kita bertanya sebenarnya sastra itu tercipta untuk siapa, segera kita dapat menemukan jawabannya. Tegas, sastra tercipta untuk dinikmati semua orang. Sastra bisa menjadi seporsi menu beluga caviar di meja makan restoran mewah tapi juga tak lantas menjadi lebih nista ketika menjelma sego kucing angkringan, pindang besek maupun gaplek.

Marliana Kuswanti

Marliana Kuswanti

Artikel-artikel psikologinya telah dimuat di Majalah Psikologi Plus. Cerita pendeknya telah dimuat di Tabloid Memorandum, Koran Merapi, Batam Pos, Harian Satelit Post, Story Teenlit Magazine, Majalah Ummi, Majalah Femina. Cerita bersambungnya telah dimuat di Majalah Femina dan menjadi juara 1 di Sayembara Cerber Femina 2013/2014. Telah menerbitkan buku cerita anak Semut Pesolek (Tiga Ananda, creative imprint of Tiga Serangkai) dan kontributor dalam antologi Kisah Awal Menulis (AE Publishing).
Marliana Kuswanti
  • Aldi Rahman Untoro

    betul sekali, saya setuju. Sastra bukan berarti hanya menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dipahami, sastra tidak hanya itu. Kata-kata sederhana yang penuh makna juga termasuk sastra. Kata-kata sederhana yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Sastra tidak harus rumit. Orang yang hanya bisa mengkritik tapi tidak bisa menciptakan hanya omong kosong belaka. Menciptakan sastra tidak semudah itu.

  • WN Rahman

    Saya yakin Mbak Marliana ini bukanlah tipe pembaca keren, seperti Frida Kimfricung.
    Mbak Marliana bagi saya hanyalah seorang yang sedang menuruti nafsu,
    amarah, ego, dan jenis-jenis emosi buruk lainnya. Mbak Marliana
    seharusnya memperluas bacaannya, bahkan ke hal-hal sederhana seperti pengalaman Maggie Tiojakin ini, sehingga dia lebih bisa menguasai diri dan segera buru-buru menawarkan kopi dan muffin.

    http://doubleyouandarecolumn.blogspot.co.id/2016/01/mbak-marliana-jangan-mengotak-ngotakkan-sastra-ya.html

  • Frida ‘vree’ Kurniawati

    Beberapa karya sastra yang saya baca malah memang tidak menggunakan bahasa njelimet untuk menjadi nyastra. Sekarang saya sedang membaca Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, yang di dalamnya tidak saya dapati menggunakan bahasa ruwet dan saya yakin karya ini termasuk sastra. Bagi pembaca yang malas menafsirkan, mungkin karya ini menurutnya hanya catatan sejarah kehidupan seorang Dewi Ayu, anak-anaknya, para menantunya, dan para cucunya. Mungkin pembaca yang malas hanya akan menganggap ini buku tak layak dibaca lebih lanjut karena penuh kecabulan. Namun, pembaca yang selalu ingin menguak lebih dalam daripada sekadar permukaan tulisan (yaitu bahasa ruwet atau tidak) akan mendapati bahwa di balik bahasa sederhana itu ada makna yang dalam! Seperti hal sepele bahwa Dewi Ayu punya tiga menantu, yang satu tentara, lainnya preman, dan yang terakhir komunis. Bagi saya, ini bukan hal sepele. Mengapa Eka menetapkan ketiga orang itu sebagai menantu Dewi Ayu? Apakah Eka ingin menggambarkan hubungan antara tiga pihak yang sering bermusuhan (tentara-preman-komunis apalagi) secara general? Bahwa ketiga pihak yang bermusuhan itu–ketiga lelaki dengan kekuatannya masing-masing–punya kelemahan yang sama: perempuan? Dan lain-lain, dan lain-lain….

  • Ari La Kasipahu

    sastra tidak dinilai dengan penggunaan bahasa yang “rumit” atau tidak. karya sastra yang hebat adalah karya sastra yang mampu mengubah ideologi pembacanya. bukan seperti sastra populer yang marak sekarang. sastra populer yang ditulis oleh orang yang ingin populer seperti pada masa sekarang ini hanya akan “mendangkalkan” karya sastra itu sendiri.