Sebatas Mematut Judul

in Esai by
pinterest.com

(Tinjauan terhadap Buku Puisi “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” karya Joko Pinurbo)

Pada awalnya saya ingin memilih judul tulisan ini “Benua Baru dalam Celana Joko Pinurbo”. Namun, saya langsung berpikir judul ini menuai ketidaksopanan dalam batin saya sendiri. Juga untuk sebagian besar orang Melayu yang punya tradisi kecakapan berlapis dalam menyampaikan sesuatu. Dimulai dari sindiran, pergerakan fisik (bahasa tubuh), berpantun, dan berbagai ungkapan kejenakaan. Tidak tembak langsung seperti orang bersuku Batak, misalnya. Contohnya kalau seorang Batak mau makan, di sebelah kiri-kanannya ada orang lain, kerabat ataupun teman biasa, begitu mulai makan, dia akan mengatakan, “Makan aku dulu bah!” Bukan sebaliknya orang Melayu akan mengatakan, “Makan kita!” Walaupun nasi yang tersedia hanya sepiring. Yang diajak biasanya akan mengatakan, “Silakan, silakan, bismillah-kan, Sobat!” Setelah melihat hanya ada sepinggan nasi yang tersedia.

Tentunya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Bagi Melayu, satu kebesaran menjamu makan setiap siapa pun tamunya yang datang. Begitu tamu duduk di ruang keluarga, maka beras pun segera ditampi, ayam pun segera disembelih. Bagi Melayu, tamu membawa rezeki dan keberkahan lainnya. Tamu termasuk silaturahmi.

Maka seharian saya mencari-cari judul pengganti dari judul “Benua Baru dalam Celana Joko Pinurbo”, yang terasa akhirnya menjijikkan bagi saya. Saya teringat keadaan menjijikkan ini, ketika saya membaca novel Olenka Budi Darma puluhan tahun yang lalu, dan beberapa cerpen Joni Ariadinata. “Benua Baru dalam Celana Joko Pinurbo” terinspirasi  dari satu larik dalam puisi berjudul “Celana 2”, satu dari 3 judul puisi Celana yang termaktub dalam buku Kumpulan Puisi Joko Pinurbo berjudul Selamat Menjalankan Ibadah Puisi (Gramedia Pustaka Utama, 2016).

Berikut saya petikkan alinea tersebut:

Konon, setelah berlayar mengelilingi bumi, Columbus

pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam

celana dan Stephen Hawking khusuk bertapa di sana

(Celana 2, hal. 16)

Kata “celana” lebih dari sepuluh buah terdapat di dalam buku puisi ini. Bahkan ada yang disungsangkan dengan menjadi frasa “celana ibu”. Sungguh sebuah frasa yang tidak sopan dan merupakan diksi yang tidak normatif, masih dalam pandangan Melayu, bangsa yang telah menyumbangkan bahasanya ke Bangsa Indonesia. Sebab ada kata pakaian dalam ibu sebagai alternatif kalau memang ingin betul menceritakan tentang pakaian sensitif, penuh misteri dan rahasia itu. Atau bisa dibuat “celana buatan ibu” berkaitan dengan isi puisi ini. Seorang suami saja begitu segannya jika harus mendampingi istrinya berbelanja pakaian dalam. Di pusat-pusat perbelanjaan dan toko-toko pramuniaga pasti perempuan yang membidangi alat khusus penutup bagian tubuh rahasia perempuan ini. From women to women!

Apalagi menorehnya dalam kata-kata dan menjadi judul puisi di sini. Bayangkan kalau dideklamasikan di atas panggung. “Celanaaa ibuuuu…!”

Berikut saya muatkan puisi ini secara penuh.

Maria sangat sedih

menyaksikan anaknya

mati di kayu salib tanpa celana

dan hanya berbalutkan sobekan jubah

yang berlumuran darah

Ketika tiga hari kemudian

Yesus bangkit dari mati,

pagi-pagi sekali Maria datang

ke kubur anaknya itu, membawa

celana yang dijahitnya sendiri

dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria.

“Pas!” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,

Yesus naik ke surga.

(Celana Ibu, hal. 123)

Puisi ini tentunya menggelitik. Menurut saya, sangat tepat kiranya bila judulnya “Celana Buatan Ibu”. Sayangnya ya itu di judulnya Celana Ibu, tok! Soal isi dan pesan puisi, wallahualam bagi penganut Kristen yang sangat menyucikan Yesus, apakah mereka tersinggung atau merasa ngelas dengan puisi ini. Menggandengan para nabi dan orang suci dengan celana, naif sekali kiranya kalau bagi Melayu yang ruh dari kebudayaannya adalah agama Islam.

Berikutnya terbetiklah saya membuat judul tulisan kritik ini “Puisi-puisi Ngenyek Jokpin dalam Selamat Menunaikan Ibadah Puisi”. Ngenyek bermakna merendahkan, bisa berujung penghinaan. Ia bisa bermakna serius bisa hanya sekadar seloroh, kalau hanya diucapkan kepada teman atau kerabat dekat. dalam hal-hal sosial biasa. Misalnya seorang yang dompetnya kumal dan jelek. Lalu seorang teman mengatakan, “Tak terbeli kau ganti dompet ini!” Lantas dibalas, “Eee, jangan ngenyek kau dengan dompet begini, ini, Bung. Isinya yang penting!” Lalu si empunya dompet mengeluarkan isi dompetnya yang penuh uang memang.

Dari mana judul “Puisi-puisi Ngenyek Jokpin dalam Selamat menunaikan Ibadah Puisi” saya peroleh? Dari judul buku kumpulan puisi Joko Pinurbo dan satu buah puisi “Puasa” yang termatub dalam buku itu. Frasa “selamat menunaikan ibadah puisi”, terasa ngeres juga membacanya. Bukankah sudah umum di dalam kehidupan keumatan Islam bangsa ini, setiap kali masuk Bulan Suci Ramadan, frasa “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” di mana-mana bergaung dan tertulis di baleho-baleho dan media.  Kata “puasa” diubah menjadi “puisi” pada frasa judul buku puisi Joko Pinurbo ini. Padahal frasa “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” bagi umat Islam mengandung kesakralan. Berbeda dengan frasa “Selamat Bertanding” atau “Selamat Datang Rombongan Bapak Walikota”, misalnya.

Puasa sendiri merupkan salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan bagi umat Islam.  Wajib artinya berpahala dikerjakan dan berdosa meninggalkannya. Berbeda dengan menulis puisi. Tak ada risiko syariahnya. Bahkan bisa jadi bumerang pula. Apabila kita membuka ayat al-Qur’an tentang kedudukan penyair dalam Islam.

Setan turun kepada pembohong-pembohong dan peringatan kepada para penyair, sebagaimana yang tersurat di dalam surah asy-Syuara (ayat 221-227).

Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun (221)

Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa (222)

Mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta (223)

Dan penyair-penyair itu dikuti oleh orang-orang yang sesat (224)

Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah (225)

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya (226)

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zakim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (227)

Para penyair yang beragama Islam pasti tak berani mengungkap seperti frasa serupa  dibuat Joko Pinurbo. Misalnya “Selamat Menunaikan Ibadah Nonton Bareng”. Sama dengan membuat puisi, nonton bareng bukan sebuah kewajiban, bahkan sunah pun tidak. Untuk beresnya yang enggak usahlah pakai kata ibadah, jika memang tidak ada udang di balik batunya.

Padanan kata ngenyek adalah merendahkan, mafas sampai hina. Tapi apa daya, ketika puisi mempunyai otoritasnya sendiri. Tidak bisa digugat sejauh tidak sampai mencapai kefatalan. “Selamat Menjalankan Ibadah Puisi”, masih sebatas norma, kah? Di Kejawenan dia tidak menjadi barang haram atau sejenisnya. Tapi dalam agama Islam, sekecil apa pun itu terdapat ketidaksalehan penggunanya. Menurunkan marwah dan keagungan agama.

Berikut saya kutipkan puisi Puasa yang pendek sebagaimana kebanyakan puisi-puisi Joko Pinurbo.

Puasa

-untuk Hasan Aspahani

Saya sedang mencuci celana yang pernah

saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.

Saya sedang mencuci kata-kata

dengan keringat yang saya tabung setiap hari.

Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi

saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

(Puasa, hal. 152)

Mengenai dua judul di atas (“Celana Ibu” dan “Puasa”), saya angggap yang pertama merusak kesopanan. Sementara yang kedua bisa memunculkan kesalahpahaman antar-umat beragama. Padahal yang terakhir ini memang sangat tergantung dari cara pandang pembaca dan dari mana arah datangnya puisi itu. Bukankah dalam teradisi Jawa, yang masih melanggengkan dan sangat mengimani kitab suci Kejawen Serat Senthini dan Serat Gatholoco, yang menyumbangkan kata-kata yang mengarah ke porno dan mesum, merupakan hal biasa. Termasuk menyamaratakan para nabi dan orang suci dengan manusia biasa. Bukankah dalam dua buku ini bertebaran kata-kata kotor, cabul dan kasar.

Puisi-puisi sebagian besar dalam Selamat Menunikan Ibadah Puisi ini memang jauh berbeda bila disandingkan dengan puisi-puisi ciptaan Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono, yang sesama orang Jawa, misalnya. Kata-kata tak perlu dibasuh seperti istilah dalam puisi “Puasa”-nya Joko Pinurbo.  Sudah bersih dari sananya. Dan dua penyair ini masuk bagain dari kaum priyayi Jawa, Terlihat dari ketertiban mereka menulis puisi. Sederhana, lembut, berestetika tinggi. Sementara Joko Pinurbo mengangkat puisinya sesuai dengan falsafah hidup kaum abangan, terbuka dan merakyat. Kalau mau bilang kemaluan laki-laki yang tak perlu bilang burung atau lenong.

Dengan terpaksa saya sebutkan judul-judul yang keluar dari pikiran normal saya selanjutnya, yakni, bagaimana kalau  “Joko Pinurbo Penyair Pantat Nungging”. Bah! Lebih tak sopan lagi rupanya. Mungkin Joko Pinurbo akan senyum-senyum saja kalau saya buat judul ini. Rupanya frasa “pantat nungging”-nya laku juga. Adapun frasa judul  “Joko Pinurbo Penyair Pantat Nungging” saya terinspirasi dari sebuah larik dalam puisi “Dibawah Kibaran Sarung”.

Berikut alinea terakhir puisi tersebut:

Dibawah kibaran sarung

rumah adalah kampung

Kampung kecil dimana kau

bisa ngintip yang serba gaib:

kisah senja, celoteh cinta, sungai coklat, dada langsat,

parade susu, susu cantik,

dan pantat nungging

(Dibawah Kibaran Sarung, hal. 43)

Kejam sekali saya kalau berani memang memakai judul yang berisi frasa “pantat nungging” ini. Beberapa buku kumpulan puisi yang saya perhatikan dengan seksama, antara lain, Pasie Karam (Antologi Temu Penyair Nusantara Pekan Kebudayaan Aceh Barat, 2016); Bersepeda ke Bulan (Antologi Hari Puisi Indopos, 2013); Matahari Cinta Samudra Kata yang tebalnya 2016 halaman itu (Antologi Hari Puisi Indonesia, 2016); Yang Tampil Beda Setelah Chairil (Antologi Hari Puisi, 2016); Melihat Api Bekerja karya M. Aan Mansyur, sampai pada Damai di Bumi karya Damiri Mahmud, dan lain-lain buku puisi yang pernah saya baca, tak ada satu pun memuat kata pantat. Kalaupun ada barangkali terseliplah itu, kesalahan manusiawi saya.

Ada tiga kata “pantat” dalam buku kumpulan puisi Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, yang disebut Joko Pinurbo sebagai sehimpun puisi pilihan yang ditulisnya selama kurun waktu 23 tahun, yakni antara 1989-2012.

Saya perhatikan pergerakan 121 buah puisi dalam Selamat Menunaikan Ibadah Puisi Joko Pinurbo ini, dimulai dari puisi yang ditulisnya tahun 1989. Yakni pada usia 27 tahun, sudah menjadi sarjana Keguruan dan Ilmu Pendidikan telah padat pengalaman batin ke soal-soal seksual.

Sampai dengan usia setengah abad, 50 tahun usia Joko Pinurbo puisi-puisinya tetap bertaburan bintang-bintang Kejawenan. Ini beda dengan yang terjadi pada kepengarangan Budi Darma, yang akhir-akhir ini cerpen-cerpennya mengarah ke religiositas yang bersahaja dan murni.

Selanjutnya kata “ranjang” ditulis sebanyak 42 kali, kata “kuburan” 25 kali, yang nyerempet-nyerempet jurang atau kata-kata ataupun frasa beraroma porno, cabul, dan kekerasan antara lain bertengger di dalam celana, pucuk payudara, telanjang, vagina, mampus, lupa telanjang, gila celana, perkosa. Kata-kata dan frasa porno dan cabul  mengarah ke perbuatan asusila dan prostitusi. Semisal kata “ranjang” saja sudah mengarah ke masalah seksual, apalagi kalau yang lainnya. Masih ingat, kan, dulu di tahun 80-an, Indonesia punya film “Ranjang Pengantin”. Ranjang identik dengan pengantin baru dan tempat suami istri menunaikan ibadah hubungan batinnya. Soal pemakaian ibadah ini, sangat sensitif dan sakral. Dan pada kenyataannya memang ibadah hubungan batin suami isteri ini memang bermuatan syariah. Jelas hukum sah, haram, sunah, dan mubahnya dalam agama Islam. Sekali lagi saya sebutkan, berbeda dengan menulis puisi.

Merasa kejam dengan judul ketiga, saya terus berpetualangan mencari cari judul yang tepat. Biasanya judul sebuah kumpulan puisi adalah gabungan kata-kata yang mencuat keindahan ataupun kemapanannya dalam puisi-puisi yang ada.

Ada kata “kentut” di halaman 150. Bahkan kata ini langsung terdapat dalam judul puisi, yakni “Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam”. Otak kiri dan entah otak kanan saya ikut campur, saya memformulasikan judul kritik ini menjadi “Mendengar Kentut yang Nerobos Celana di Kuburan”.

Menggandeng kata “kentut” dengan kata kuburan sangat signifikan, sebab kata kuburan jumlahnya cukup banyak, seperti yang saya sebut di atas, ada 25 buah. Dalam tradisi Kejawen, kuburan merupakan tempat yang sakral. Kuburan tempat yang termasuk tidak boleh ngomong jorok, takut kualat. Kuburan bukan sekadar tempat berziarah untuk yang telah meninggal dunia. Tapi untuk melakukan berbagai ritual tertentu agar dapat wangsit atau semacam kekuatan adidaya. Tak lupa pula kuburan tempat sajenan dipersembahkan.

Damiri Mahmud dalam satu kesempatan wawancara dengan saya, mengatakan bahwa dalam Kejawen, orang yang sudah meninggal dunia itu ada sebagian besar gentayangan  arwahnya. Arwah yang gentayangan ini yang dipanggil oleh orang-orang yang berkepentingan. Jadi tidak perlu heran, kalau Joko  Pinurbo, sesuai kelas filosofi puisi-puisinya yang abangan, mengetengahkan kata kuburan dengan beban moral dan kesakralan sebuah kuburan.

Selanjutnya dengan gumulan kata-kata yang ada saya menderet judul-judul lainnya.  “Penyair Ranjang yang Lupa Telanjang” atau “Penyair Kuburan yang Gila Celana”, “Penyair Lain dari yang Lain”, dan lain-lain judul berkelebat dalam kepala saya yang mungil.

Semuanya tentu hak penuh saya menentukan nantinya judul tulisan yang sedang saya kerjakan ini. Sebagaimana Joko Pinurbo menggoreskan pilihan katanya dalam puisi-puisinya. Pembaca boleh memberi tafsir apa saja. Toh, Joko Pinurbo bukannya menjadi penyair yang tidak diindahkan sesudah dan sebelum ia menerbitkan Selamat Menjalankan Ibadah Puisi. Buktinya ia telah menyabet berbagai penghargaan, antara lain Penghargaan Buku Puisi Pusat Kesenian Jakarta (2001), Hadiah sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), South East Asian (SEA) Write Award (2014).

Sutardji Calzoum Bachri dalam kata pengantar Antologi Hari Puisi 2016 “Yang Tampil Beda Setelah Chairil” menyebutkan bahwa membicarakan puisi-puisi dari suatu antologi adalah sering bicara berkecenderungan dalam kumpulan puisi yang ada.

Lantas, kecenderungan apa yang  diungkap dalam Selamat Menunaikan Ibadah Puisi? Kecenderungan nyeleneh, tidak serius, yang bisa-bisa terperosok pada kedangkalan imajinasi dan merendahkan martabat penyair. Nyair kok main-main! Seperti olok-olok sesama teman ngobrol, soal ranjang dan hal-hal nyeleneh lainnya.

Sekalipun dua buah puisi yang ada, yakni “Celana 3” dan “Celana Ibu” mencoba untuk berkelakar, namun dua puisi ini tak mampu membasuh kenyelenehan dan ketidakseriusan dalam puisi-puisi lainnya. Kelihatan Joko Pinurbo mau melucu lewat kejenakaannya, tapi tak berhasil.

Berikut saya muatkan puisi Celana 3 yang mencoba melucu—yang tak lucu itu—terdapat di alinea terakhir.

            Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru,

            yang gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan

            burung yang selama ini dikurungnya

            sudah kabur entah kemana

            (Celana 3, hal. 17)

Soal Kentut

Kentut memang fungsinya menyehatkan. Tapi baunya yang membuat ia dibabat oleh etika, sehingga tidak boleh diletupkan atau diledakkan di ruang publik. Ruang keluarga paling kecil sekalipun. Sampai kini, di era komunikasi yang super canggih, di negeri kita kentut di depan orang tidak sopan. Kecuali terlepas, tak sempat menjauh. Baunya terpaksa dihirup sama-sama.

Sesudah sekian banyak judul yang saya buat, maka sampailah saya pada judul yang tak mengganggu jiwa saya, yakni, “Sebatas Mematut Judul”.  Sebab saya tidak dibesarkan dalam tradisi Kejawen, saya tidak memilih satu pun dari judul yang bisa membuat saya menjadi murid Joko Pinurbo, atau setidaknya seirama dengannya. Saya tetap berguru pada alam Melayu. Dengan tokoh-tokoh Raja Ali Haji, Sutardji Calzoum Bachri, Damiri Mahmud, dan sekian penyair Melayu yang darahnya suci bagi saya. Setiap orang akan selalu menghindari kontaminasi dari berbagai ide dan pemikiran yang menyesatkan.

Memperjuangkan Melayu berarti memperjuangkan Islam, keyakinan dasar menegakkan kebenaran. Tandas dan mantap sudah, kan. Sementara saya harus menghargai keyakinan-keyakinan lain dalam rangka menegakkan kebenaran.

Sampai saat ini penyair-penyair muda Indonesia sebagian besar masih berkiblat pada kebesaran Chairil Anwar dan Amir Hamzah. Kalau tak Chairil, ya Amir Hamzah, begitu!  Seperti Antologi Haripuisi 2016 yang berjudul Yang Tampil Beda Setelah Chairil judul ini mengisyaratkan akan ada kiblat baru arah puisi Indonesia. Rupanya, eh, yang disebut tampil beda setelah Chairil, rupanya berkiblat ke Amir Hamzah.

Sutardji Calzoum Bachri dalam kata pengantar Antologi Haripuisi 2016 itu menuliskan Chairil telah merambah salah satu jalan dalam perpuisian kita, namun sebagian besar karya penyair dalam antologi ini tampil beda dibanding chairil. Mereka cenderung mengambil jalan yang telah dirambah Pujangga baru dengan tokoh penyairnya Amir hamzah. Saya kira, karena mereka maklum bahwa bagaimanapun juga “mangsa aku dalam cakarmu” (Padamu Jua oleh Amir hamzah) jadi buat apa “meradang menerjang” (Aku oleh Chairil Anwar).

Apakah Joko Pinorbo menjadi kiblat sebagain besar atau segelintir penyair muda Indonesia? Saya kira tidak. Ada dua penyair Indonesia yang satu keyakinan dengan Joko, sesama Katolik, yakni Cyprianus Bitin Berek dan Adimas Immanuel, yang puisi-puisi mereka bersih dari Kejawenan. Sutardji senasib dengan Joko Pinurbo sepertinya, bahwa genre puisi mantra-mantranya tak bertahan. Tak ada pengikutnya. Perlahan roboh masuk kancah sejarah tinggal. Baik Joko Pinurbo maupun Sutardji Calzoum Bachri, dua penyair besar ini, tampaknya menjadi pengucap sayonara atau selamat tinggal pada Kejawenan dan mantra-mantra para datu.

Soal budaya Kejawenan, khusus di Sumatera Utara, sudah menampakkan pengikisan yang memadai. Di tahun 70 hingga 80-an, masih terdapat gang-gang Koboy di Medan. Gang Koboy maksudnya, laki-laki dan perempuan seenaknya seharian tampil dengan hanya kolor bagi laki-laki, dan BH serta celana puntung bagi perempuan. Mereka kenakan di sekitar rumah dan halaman. Soal omongan juga, ungkapan Wong Anak Setap, atau gak lecet atau tak hilang sudah mitos, tertinggal jauh seperti aliran sungai Bengawan Solo, “air mengalir sampai jauh”.

Sesudah Joko Pinurbo, apa masih ada lagi penyair yang kesengsem dan nge-fans, sampai menggilai atau tergila-gila pada tradisi Kejawen yang bertahan dari infiltrasi Islam dan Hindu itu. Di Pulau Jawa, mereka yang santri jauh sedikit jumlahnya dibanding priyayi.  Jumlah mereka yang abangan masih di peringkat satu. Jadi kita tak perlu heran, konon beberapa waktu lalu santer Dimas Kanjeng Taat Pribadi bisa menuai ribuan anggota yang terkibuli. Tuyul, wangsit, keghaiban, dan beragam kemustahilan dipercaya dan diharap begitu rupa, seserius menunggu hujan di bulan September. Indonesia seharusnya memang memperjuangkan bagaimana Pancasila tak bau kemenyan.

Nevatuhella

Nevatuhella

Nama pena dari Ir. Tengku Nevatuhela. Lahir di Medan, 31 Desember 1961. Menamatkan pendidikan sarjana di Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, jurusan Teknik Kimia tahun 1988. Mulai menulis sejak dibangku SMA untuk Waspada, Analisa dan Merdeka. Tahun 1996, selama bermukim di Bali menulis beberapa cerpen untuk Nusa Tenggara. Sekian lama vakum, tiga tahun terakhir mulai menulis kembali, dan menerbitkannya di beberapa media massa seperti Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Koran Jakarta, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Sumut Pos, Riau Pos, Media Indonesia, Suara Karya, Batam Pos, Sagang, dll.
Nevatuhella

Latest posts by Nevatuhella (see all)