Sebuah Jalan; Puisi-Puisi Isbedy Stiawan ZS (Lampung)

in Puisi by
gambar masjid kuno
Sumber gambar pinimg.com

Doa

 

kukuhkan aku
dari jalanmu
hitamkan pandanganku
dari melihat segala
yang petaka

 

di ini petang
betapa rapuh
jika tanpa cinta
begitu lapar
kalau tiada getar
dan haus ini
segerakan hapus

 

meski di belakangmu
aku tak ingin khianat:
“kalau tak ada yang tahu,
lalu di mana Tuhan?”[1]

 

 

Lipat Lembaran Koran

 

telah saya lipat lembaranlembaran koran
berisi cerita orangorang meninggalkan
kota atau dari perantauan menuju kampung
ibu. tubuh berpeluh dan debu. menembus
jalan yang padat, menjejakkan ombak
ataupun melawan udara. di tanah
harapan

 

yang hanya kenangan. pilu telah dikumpulkan
berbulanbukan.

 

kini mesti dimuntahkan:

“kemenangan atau kekalahan?”

 

taklah penting
saatnya rindu ibu
kenangan susu
lubang bagi nama
masa kecil

 

 

Pakaian

 

kukenakan pakaian orangorang
sebelum aku. menjadi muslim
ke keramaian: bulan yang ramai
surau masjid mengaji
tak pernah sepi dari
menyebut namanama

 

lalu apakah aku muslim
sudah jadi saleh? di kepalaku
tumbuh peci, jemariku mengulang
ulang biji tasbih. rambut berselimut
aurat tak lagi terbaca
sepanjang bulan yang selalu
bercahaya
dari malam hingga fajar. dari pagi
sampai petang dikaruniai

 

apakah aku yang terpilih
berjalan dalam barisan
orangorang pilihan?

 

aku mengenakan pakaian ini
di keramaian, namun tak sampai
ke hatiku

 

aku tak henti mengeja
setiap mengaji
mengumpulkan kalimat
para aulia,
ya Allah

 

 

Angin

 

angin menepati janjinya
bulan tersenyum di sana

 

aku pun melangkah
tak lelahlelah. di gurun
yang diharamkan air dan makanan
sepanjang siang berdebu
kecuali malam, kecuali percintaan
hingga jelang fajar. ketika malaikat
turun: meluruhkan sayapsayapnya?

 

angin membelai, bulan menepati
janjinya untuk datang
membawa riang. aku terpukau
karena semerbak wangimu
lelaki pilihan. bagiku bersumpah
kau adalah pesuruh
dan mesti kucari tiap langkahmu
bahkan sampai raudhah
serta rumah istirah

 

 

Sebuah Jalan

 

sebuah jalan menuju rumahku
tiap saat terbuka. tanpa hutan
dan kembang berduri. aku pun
bisa kapan saja melintasi
untuk melabuhkan rindu

 

tak ada panggilan sebab
cintaku akan mengantar
ke sebuah jalan yang sejak
anakanak ayah telah
mengenalkan aku ke sini
agar aku tak abai mengaji
dan mengerti arti sujud

 

maka sebuah jalan
menuju rumahku
kini sudah di dalam diriku
aku pun pulang dan pergi

tak akan tersasar
ke lain tuju:
Kau

 

 

Akhir

 

jika matahari terbit
dan aku masih terjaga
setia padamu
kuminta ini bukan akhir
meski setiap mula
kausiapkan lembar penutup

 

karena aku selalu
merindukanmu
dan ingin bersama
seperti di bulan
yang kaunisbahkan
sebagai penghulu
dari yang lain

 

jika matahari terbit
dan kembali ke asal
biarkan kedua mataku
berkubang air
sebab hanya itu
kusesali lalaiku

 

ketika matahari hilang
dan aku masih berdiri
dalam sendu
biarkan aku di situ
untuk mengeja lagi
takbir tahmid tahlil
yang belum habishabis

 

akan kuingat seluruh
perjalananku: sujud
dan mengaji. silaturahmi
kosong dan pecah
di aliran berdebu

 

dan di tanah kosong
aku mengabarkan
harapan
taman mahligai

— bibibirku
perutku
hanya milikmu —

 

aku sudah sampai padamu

 

 

Setelah Salam

 

setelah salam
matahari tenggelam
malam syawal
namamu diagungkan

 

rampung saumku
lengkap salat malamku
ayatayatmu kutadaruskan
“terimalah…”

 

puasaku, ibadahku
hanya padamu

pakaian ini
cuma duniawi
tubuhku milik ilahi

 

terimalah terima
jadikan aku kekasih

 

[1] pertanyaan/pernyataan seorang bocah penggembala

Isbedy Stiawan ZS

Isbedy Stiawan ZS

lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik yang disiarkan di berbagai media Jakarta dan daerah.

Kumpulan puisinya Menuju Kota Lama memenangkan sayembara buku puisi pada Hari Puisi Indonesia (2014) dan kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award (2014). Tahun ini diluncurkan kumpulan puisi terbarunya Pagi Lalu Cinta dan kumpulan cerpen Tumang.
Isbedy Stiawan ZS