Sebuah Percakapan Sebelum Tidur

in Cerita Pendek by
guff.com

Tidur siangnya hari itu terganggu oleh mimpi dia mengejar-ngejar seekor kuda putih istimewa di padang rumput di tanah milik keluarganya. Dalam dunia nyata dia belum pernah bertemu seekor kuda yang tidak menyukainya dan dia benci berlari jadi itu mimpi yang aneh dan melelahkan. Ketika dia bangun dia merasa dirinya sedang terserang demam.

Dia melihat sebuah gerakan dari arah jendela.

“Tata kramamu buruk sekali,” tegurnya. “Masuk ke kamar tidur perempuan.”

“Tadi aku mengetuk pintu, kok.” Pria itu duduk di kursi berlengan di dekat jendela. Dia memegang sebuah buku tebal.

“Kalau tidak mendapatkan jawaban bukankah seharusnya kau berbalik dan pergi?”

“Aku suka kursi ini dan kebetulan ada buku yang ingin kubaca.”

“Ada puluhan kursi seperti itu di rumah ini.”

Pria itu hanya mengangkat bahunya. Sepertinya tidak masalah baginya akan disebut laki-laki kurang ajar atau apa pun olehnya. “Kau terlihat kurang sehat.”

“Sepertinya aku demam.” Dia meraba kening dan lehernya sendiri. Terasa panas.

“Lalu kenapa bangun? Tidurlah lebih lama.”

“Kalau tidak bangun aku akan dikira sedang sakit dan dilarang melakukan apa pun. Padahal ada banyak yang ingin kukerjakan.”

“Ayahmu sedang pergi menemui tamu. Aku berpapasan dengannya tadi waktu datang. Kukira dia akan terlalu sibuk untuk mengurusmu.” Mungkin pria itu melihat ekspresi oh syukurlah di wajahnya jadi menambahkan, “Tapi mungkin saja aku akan kelepasan bicara soal demammu. Kalau kau tidur lagi aku hanya akan bilang kau sedang bermalas-malasan.”

Jika orang lain tahu bagaimana keluarganya mengomelinya tentang bagaimana seharusnya seseorang merawat dirinya sendiri orang itu mungkin akan berpikir Palupi meminjam badannya dari keluarganya. Tubuhnya yang ringkih sejak bayi mencegahnya untuk menjadi semandiri yang dia inginkan atau bahkan untuk sekadar merasa muak dengan perhatian yang berlebihan.

Dia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal. Rambut dan bagian punggung gaun tidurnya lengket karena keringat. Tidak ada yang lebih menyebalkan selain terserang demam.

Arloji di tangan kirinya mengeluarkan bunyi ritmis. Dia tidak terlalu memedulikannya. Pria itu beranjak ke arah meja di dekat ranjangnya. Dia mengambil beberapa butir obat, menuang air segelas penuh, dan mengulurkannya pada Palupi. Palupi menerimanya dengan enggan. “Aku tidak akan mati hanya karena melewatkan satu dosis,” gumamnya.

“Kalau kau ingin menghabiskan harimu dengan beberapa jarum menusuk tubuhmu itu urusanmu sendiri.”

Palupi harus minum obat setiap enam jam sekali. Kalau tidak jantungnya akan sakit. Orang lain akan menganggap itu hal yang sangat serius tapi Palupi bahkan tidak terlalu memedulikannya. Umurnya tiga puluh lima tahun ini. Jauh lebih lama dari yang dia kira.

“Pengasuhku tidak melihatmu datang?” Palupi melihat ada piring berisi kue-kue kecil di meja.

“Dia yang menyuruhku membawa ini kemari,” kata  pria itu, meletakkan gelas di tempat semula dan kembali pada bukunya.

“Aneh sekali dia tidak menegurmu.”

Pengasuh Palupi adalah seorang wanita tua yang telah merawatnya sejak dia lahir. Sebelumnya dia adalah pelayan di rumah keluarga ibunya. Dia pindah ke rumah itu mengikuti ibunya. Karena kadar kebangsawanan keluarga ibu Palupi lebih tinggi dari kadar kebangsawanan keluarga ayahnya sudah tentu dia dididik dengan standar tata krama yang berbeda pula. Seorang pemuda masuk ke kamar tidur seorang gadis jelas tidak akan dianggap perbuatan terpuji.

“Mungkin dia mendengar pembicaraanku dengan ayahmu.”

“Pembicaraan apa?”

“Ayahmu bermaksud menikahkan kita berdua,” jawab pria itu. Sudut mulutnya berlekuk karena senyuman. “Kau tidak tahu, ya? Kalau terkejut matamu jadi selebar piring.”

Palupi tahu masa di mana dia diharapkan memulai kehidupan yang manis dalam perkawinan telah lewat belasan tahun yang lalu. Tidak seperti kebanyakan para gadis, dia tidak pernah berpikir menemukan seseorang yang akan menemaninya sampai tua sebagai sesuatu yang mendesak untuk dilakukan.

“Apakah kesehatanku memburuk?”

“Kurasa tidak.”

“Kalau begitu mungkin ayahku atau kau?”

“Kami berada dalam kondisi prima. Apa hubungannya pernikahan dengan kondisi kesehatan?”

“Kalau salah satu dari kita bertiga tidak sedang sekarat kurasa ayahku tidak akan sampai memikirkan hal konyol begitu.”

“Apa sekonyol itu?”

“Lihatlah dirimu. Kau muda dan penuh pesona. Kau seharusnya menikah dengan gadis yang manis dan memiliki enam atau tujuh orang anak. Hanya karena pria tua menyebalkan itu mengajukan ide anehnya padamu kau jadi menanggapinya terlalu serius.”

Secara hukum Kai adalah saudara sepupu Palupi walaupun sebenarnya mereka tidak memiliki hubungan darah. Kakek Palupi kembar identik. Mereka masing-masing hanya memiliki satu anak, ayahnya Palupi dan bibinya. Bibinya seorang wanita yang memesona tapi dia tidak pernah menikah. Dia bekerja sebagai jurnalis dan tinggal di luar negeri sejak masih muda. Suatu kali dia pulang bersama seorang anak kecil yang dipungutnya entah dari mana. Orang-orang mengatakan ini dan itu tapi bibi Palupi tidak peduli. Dia menyayangi anak itu. Sayangnya dia meninggal beberapa tahun kemudian dan Kai dikirim untuk tinggal bersama Palupi. Waktu itu umurnya mungkin sembilan atau sepuluh tahun. Palupi lebih tua darinya jadi dia memanjakannya tapi Kai menolak diperlakukan seperti bayi. Mereka bertengkar secara berkala. Anehnya dokternya bilang bertengkar dengan Kai membuat Palupi lebih sehat. Sebelumnya dia bahkan terlalu sakit untuk sekadar pergi ke sekolah, tapi setelah Kai tinggal di sana dia bahkan punya tenaga untuk mengamuk.

“Apa aku terlihat seperti orang yang melakukan sesuatu karena orang lain menyuruhku melakukannya?”

Enggak.” Dia memandang wajah pria itu. Entah sejak kapan gurat-gurat halus dari anak laki-laki yang manis hilang dari wajahnya, berganti dengan otot-otot yang liat. “Kau suka menyeret dirimu sendiri dalam masalah.”

Tahu bahwa dirinya sedang dipandangi dia balas memandanginya juga. “Memangnya masalah apa yang mungkin menimpaku karena makhluk sekecil kau itu?”

“Beberapa. Aku lebih tua darimu. Aku tahu lebih banyak.”

Jika dia beberapa tahun saja lebih muda dari sekarang mungkin dia akan memukul Kai dan mengamuk pada ayahnya karena membicarakan soal pernikahan. Tapi umurnya telah bertambah sekarang dan hatinya pun mungkin telah berubah. Beberapa masalah entah bagaimana tampak tidak lagi terlalu penting untuk dirisaukan.

“Kenapa tiba-tiba membicarakan soal pernikahan?” Palupi menanyakannya lebih karena penasaran. Dia tahu bahkan sejak remaja dia bukanlah objek yang tepat untuk diajak bicara soal pernikahan. Walaupun dapat beraktivitas dengan normal, penyakitnya kambuh tanpa bisa diduga. Pernikahan menjadi hal yang terlalu mewah untuk dia miliki.

“Doktermu bilang kau menunjukkan tanda-tanda depresi. Demi Tuhan, apa sebenarnya yang kaulakukan berkeliaran setiap sore di lembah?”

“Apa semua dokter itu suka sembarangan saja menilai orang? Aku sedang menulis buku tentang gulma. Tuh.” Palupi menggerakkan dagunya ke arah meja tulisnya yang penuh tumpukan buku. “Depresi? Karena itu kau tiba-tiba dipanggil pulang?”

“Kau tidak bisa menyalahkan kekhawatiran orang tua. Kau tidak lagi mengunjungi teman-temanmu sehingga teman-temanmu pun tampaknya berhenti peduli padamu. Kau sangat suka kuda dan pernah bilang ingin punya peternakan kuda yang lebih besar dari punya kakekmu tapi ketika ayahmu berkata akan menjual kuda kesayanganmu kau tidak mengamuk. Orang yang mengenalmu akan berpikir kau sedang sakit atau apa.”

“Mereka memiliki gaya hidup yang aku tidak suka jadi aku berhenti menemui mereka. Lagi pula mereka toh bukan teman-temanku. Aku mungkin akan pergi penelitian selama beberapa tahun. Aku tidak bisa merawat kudaku. Kalau yang membelinya orang yang menyayangi kuda bukankah itu bagus?”

Palupi mulai membuat tokoh dalam tulisannya—Palupi kadang-kadang menulis untuk surat kabar—membunuh dirinya sendiri. Itu adalah sumber kekhawatiran Kai tapi dia tidak mengatakannya.

“Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi? Kita bisa pergi berlibur kalau kau mau.”

“Aku sudah mengunjungi semua tempat yang ingin kulihat.”

Palupi tergabung dalam sebuah kelompok peneliti internasional yang mengadakan penelitian di mana-mana. Dia bahkan pernah meneliti lahan basah di Pakistan di tempat di mana dia tidak bisa tidur nyenyak di malam hari karena suara letusan senjata dan bom dari kejauhan. Ketika lebih muda dia suka berkeliaran menemukan jejak sastrawan atau filsuf yang dia suka di kota-kota seperti Paris dan Wina. Dia tinggal selama beberapa tahun di Jepang untuk meneliti sesuatu tentang ecohydrology. Baru awal tahun ini ayahnya menyuruhnya pulang dan anehnya dia tidak mengatakan apa-apa untuk memprotes. Dia tinggal di rumah mereka di desa yang jauh dari mana-mana dan nyaris tidak pernah bepergian.

“Kau ingin bilang kau suka tinggal di rumah?”

“Apa aku pernah bilang rumahku tidak menyenangkan? Orang harus menghitung berkat yang diaterima, kan? Aku tidak kekurangan apa-apa. Itu sudah cukup.” Tapi wajahnya tidak terlihat seperti yang dia katakan.

“Kalau kau tanya apa pendapatku kau terlihat seperti seorang yang sekadar menghabiskan waktu. Seperti berkata ‘Dunia, berputarlah sesukamu, aku tidak peduli’.”

“Ah, itu kalimat yang bagus. Aku mungkin bisa mengutipnya dalam tulisan.” Palupi merapikan bantal-bantal satin bertepi renda dan merebahkan kepalanya. Dia biasanya jatuh tertidur setelah meminum obatnya jadi dia memilih untuk tidak meninggalkan ranjangnya.

“Kau ingin aku mengantarmu menemui orang itu?”

“Siapa?”

“Kau tahu siapa.”

Beberapa tahun yang lalu Palupi menjalin hubungan dengan pria yang sudah menikah. Walaupun pria itu juga mencintainya tapi hubungan semacam itu tidak bisa disebut bermartabat dalam pandangan masyarakat kebanyakan. Terlepas dari kondisi kesehatannya, mereka merencanakan pernikahan. Ketika keluarga pria itu menentang rencana itu, Palupi yang menempatkan harga diri dan martabat di atas semua hal, bahkan cinta, memilih meninggalkannya. Dia tidak mengatakan apa-apa pada keluarganya. Ketika mendapat tawaran pekerjaan dia menerimanya tanpa berpikir panjang. Tidak ada yang tahu betapa perpisahan itu telah mematahkan hatinya. Dia tidak tahu kalau Kai mengetahuinya.

“Aku sudah berjanji akan mematahkan kakiku sendiri kalau aku melangkahkan kakiku ke arahnya. Aku selalu menepati janjiku,” katanya. Dia memandangi vas keramik di atas meja di dekat jendela. Vas itu penuh berisi bunga mawar sugar moon yang dia sukai. Kemarin dia mengatakan sesuatu tentang mawar yang menggigil dalam hujan. Pengasuhnya memetiknya mungkin karena kasihan. Melihatnya Palupi berpikir tentang frasa mati di tempat yang lebih baik. “Dalam hidup ini meskipun kau melakukan semuanya dengan sepenuh hati, selalu ada satu atau dua hal yang kau sesali.” Dua minggu lalu seorang teman memberitahunya bahwa pria itu, kekasihnya, jatuh sakit tak lama setelah mereka berpisah. Palupi merasa kesal pada dirinya sendiri karena lebih menyukai kakinya dibanding pria itu.

“Kenapa kau mencintai seseorang yang bahkan tidak punya kebebasan untuk balas mencintaimu?”

“Aku tidak tahu. Mungkin karena cinta selalu dekat dengan keputusasaan. Dia tidak seperti siapa pun di dunia ini.”

“Menurutku kaulah yang tidak seperti siapa pun di dunia ini.”

Palupi menyelipkan tangannya di antara bantal dan pipinya. “Aku sudah membunuh diriku sendiri di dalam tulisanku. Kau tidak perlu khawatir aku akan melakukannya lagi di dunia nyata.” Ketika kantuknya mulai menguat dia berkata, “Setelah semua kegelapan hatiku muncul dari mulutku apakah orang sepertimu tidak akan merasa membuang waktu saja berurusan denganku?”

“Pernikahannya setelah hari raya.” Kai meninggalkan bukunya, meraih selimut quilt bermotif kincir angin yang berantakan di satu sisi ranjang dan menyelimuti Palupi hingga ke bahunya. “Kau mungkin ingin menjahit gaun baru atau menggosok badanmu dengan apa begitu.”

“Tidakkah kau merasa kau terlalu baik untuk seorang dokter atau seorang anggota keluarga?”

“Aku tidak yakin aku akan senang menghabiskan hidupku dengan orang lain selain kau.”

Palupi membiarkan rasa kantuk menguasai kepalanya. “Bisa kita bicarakan itu lain waktu? Aku terlalu mengantuk sekarang.”

“Ya. We have all time in the world.”

17 November 2017

Catatan:

  • Ecohydrology adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara air dengan ekosistem. Penulis kebetulan sedang meneliti tentang bagaimana mengukur dan mendeteksi perubahan ecohydrology dalam ekosistem di lahan basah bekas area banjir di daerah aliran Sungai Bengawan Solo.
  • Sugar moon adalah mawar jenis hybrid tea yang pertama kali disilangkan oleh Christian Bedard pada tahun 2012 dari indukan meredith dengan hasil persilangan antara moonstone dan baby love. memiliki bunga berwarna putih bersih. Jika mekar sempurna, diameter kelopaknya bisa mencapai 5 inci. Aromanya sangat manis.
  • Quilt adalah sebutan yang mengacu pada potongan kain warna-warni yang dijahit menjadi satu menggunakan pola tertentu. terdiri dari tiga lapis: kain berwarna-warni, kain yang berfungsi untuk menambah volume, dan kain yang berfungsi sebagai alas. Awal mulanya kerajinan tangan ini dibuat semata untuk alasan ekonomis, karena harga kain mahal sementara kebutuhan untuk membuat sesuatu yang hangat untuk bertahan di musim dingin sangat mendesak maka dibuatlah kain baru dari hasil menjahit potongan-potongan kain bekas baju, tirai, dan sebagainya. beberapa produk quilt bahkan dijadikan benda yang diwariskan dan biasanya dirawat dengan baik
Yuni Kristyaningsih

Yuni Kristyaningsih

Lahir di Ponorogo pada tanggal 16 April 1979. Pernah belajar psikologi dan jurnalistik tapi yang paling ditekuni adalah bidang pertanian konservasi. Senang merajut dan menjahit. Pernah menerjemahkan buku dan menulis beberapa cerita pendek. Menjauhkan diri dari pergaulan tapi menghargai persahabatan.
Yuni Kristyaningsih

Latest posts by Yuni Kristyaningsih (see all)