Sedapnya Menyantap Bangkai

in Hibernasi by
Sumber gambar
Sumber gambar Modernkicks.typepad.com

“Gosip adalah salah satu kebutuhan pokok wanita.”

Kutipan di atas bukan dari siapa-siapa. Itu kalimat yang sering saya ucapkan setelah melihat fenomena bergosip yang ada di sekitar kita, baik dunia nyata maupun maya. Bahkan, antropolog Robin Dunbar menyebutkan bahwa pencetus terciptanya bahasa adalah karena kebutuhan untuk bergosip. Hal ini lebih spesifik dari teori Gorys Keraf bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi.

Oke. Jadi manusia—bukan cuma wanita ternyata—memang punya kebutuhan dasar untuk berbicara. Dan salah satu bahan yang menarik untuk dibicarakan tentu saja manusia lain.

Memang nggak semua obrolan berisi gosip. Patokannya dua. (1) Bahan obrolan yang diangkat adalah tentang hal yang negatif. (2) Ngomonginnya di belakang, soalnya kalo yang diomongin denger, dia bakal marah.

Bergosip—kalo nggak ketauan sama yang digosipin—bisa jadi media mempererat pertemanan, bahkan mengubah status kejombloan. Misal, kamu dan dia sama-sama nggak suka sama saya. Kalian janjian ketemu di angkringan, ngopi-ngopi sambil ngobrol, lalu terkagum-kagum menyadari betapa banyak kesamaan pendapat kalian tentang sikap-sikap saya yang buruk, lalu jadian semakin karib berkawan. Alasan lain, mungkin dengan membicarakan kejelekan orang lain kita bisa merasa menjadi manusia yang lebih baik.

Status mbak-mbak di Facebook yang bilang minta dipoligami sama suami orang, misalnya. Perhatikan kalimat saya barusan. Itu sudah bumbu. Kesimpulan yang sudah saya olah di kepala setelah membaca status dia. Di kepala kamu, bisa aja beda. Coba baca.

Ngeliat cowok ganteng banget lagi ngajak main anaknya sambil nyuapin makan, sedangkan istrinya lagi sibuk milih baju. Rasanya pengen gue samperin tuh cowok terus gue bisikin “mas dalam islam poligami itu boleh loh”

Sama, nggak?

Kalo sama, ayok ngopi-ngopi sambil rumpi. Siapa tau kita jodoh. *lalu di-SP sama suami*

Kalo nggak sama pun kemungkinan kita tetap akan berdiskusi, bahkan berdebat, menebak-nebak apa maksud si mbak-mbak ini—tentu diselingi umpatan kecil; nggak tau malu, padahal berjilbab, nggak mikir panjang, bego, malu-maluin, dan sejenisnya yang cuma bakal menuh-menuhin catatan Malaikat Atid. Padahal, sementara kita ribut sendiri, mbak-mbaknya sibuk ngelirik suami orang yang lain lagi melanjutkan hidupnya seperti tiada pernah terjadi apa-apa.

Setidaknya, berkat status itu, mbaknya jadi terkenal di dunia maya. Berkat postingannya pula, masyarakat dunia maya bisa sejenak melupakan gegap gempita kelahiran anak pertama Raffi-Nagita yang disiarkan langsung berulang-ulang.

Dalam Islam, mencari dan ngomongin kejelekan orang di belakang bahkan diumpamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Kenyataannya, sebagian orang malah memilih menghidangkan diri sendiri. Mengucapkan “selamat menikmati” sambil menabur garam ke atas bangkainya sendiri. Farhat Abbas, misal. Kenal dong, ya, sama bapak satu itu. *tuh, contoh kalimat sederhana pancingan buat rumpi*

Contoh lain, kita. Saya, kamu, dia; kita. Kadang, status di media sosial adalah pancingan jitu agar kita menjadi bahan omongan orang. Walau mungkin niat kita nggak begitu. Tapi masak sih niat bikin status yang lucu, menarik, sedih, bukan biar dapet perhatian gitu?

Seperti ketika makan, tiap orang punya selera. Ada yang memilih langsung, dimakan mentah-mentah seperti sushi. Ada yang suka setengah matang. Dibakar, digoreng, atau direbus dengan bahan tambahan lain, ditaburi garam merica dan lada. Ini masalah selera. Menyikapi sodoran bahan gosip pun demikian. Ada yang suka langsung cepat-cepat membagikan, takut keburu lupa, keburu basi. Ada yang suka memberi bumbu tambahan, cerita, ekspresi, nada, kalimat pancingan, sebelum kemudian lanjut menyebarkan.

Padahal, cara apa pun yang dipilih, bahan utamanya tetap sama: bangkai saudara sendiri.

Sedap?

  • Sy sih ga merasa gosip sebagai kebutuhan utama, tp sy yakin 100% wanita tulen lhohh

  • Pratiwi

    wuaahahahhaah tulisan mamah yang satu ini selalu asik!

  • Sdyh

    Keren