Seekor Kucing Hitam

in Cerita Pendek by
010414-Dishtowels
Sumber Gambar: http://thecreativecat.net

Kucing hitam itu datang, mengeong, dan mengendus-endus kakinya. Tepat pada malam hari ketika ia menangis sesenggukan di depan meja makan karena menunggu gadis kecilnya yang tak kunjung pulang. Kucing itu terus mengeong dan menggelendot di kakinya, sampai ia menjatuhkan sepotong ayam goreng ke bawah meja. Kucing itu menggondolnya dan berlalu ke dapur. Ia pun melanjutkan tangisannya. Tangisan untuk gadis kecilnya yang baru sepuluh tahun, yang tak pulang sejak berangkat ke sekolah tadi pagi. Sementara langit di luar telah dijuluri gerimis semenjak sore. Begitu mengkhawatirkan.

Sepanjang siang jelang sore sampai malam mulai merangkak, perempuan itu sudah mencari ke mana-mana, ia sudah ke sekolah, ke rumah beberapa teman, bahkan ia sudah mendatangi pos polisi. Tapi kata polisi, untuk melapor, ia harus menunggu paling tidak satu kali dua puluh empat jam. Dan begitulah, akhirnya ia hanya menunggu di depan meja makan hingga kecemasan itu melumut di sekujur tubuhnya dan menyebabkan tangisan yang luber begitu saja.

Perempuan itu takut kalau gadis kecilnya menjadi korban penculikan, penjualan anak, pemerkosaan, atau bahkan pembunuhan. Semua itu sangat mungkin terjadi mengingat berita-berita semacam itu tak pernah libur di tivi-tivi. Ia tak tahu harus mengadu pada siapa. Suaminya bekerja sebagai sopir di negeri orang, sudah dua tahun lebih tak ada kabar. Orang tuanya di kampung sudah terlalu pikun untuk mendengar kabar-kabar seperti itu. Maka ia pun memilih pasrah. Dan semenjak kepasrahannya malam itu, ia telah menjelma menjadi manusia paling murung, sampai waktu yang tak ditentukan.

***

Pada malam kedua, kucing itu datang lagi, mengeong dan mengendus kakinya. Perempuan itu menendangnya. Binatang memang tak pernah tahu saat yang tepat. Perempuan itu sedang dirundung kecemasan—yang mulai mengental menjadi kesedihan. Tapi kucing itu tak mau tahu. Pagi tadi, ia sudah melapor ulang ke polisi, dan memang tak ada lagi upaya yang bisa ia lakukan selain menunggu. Menunggu dan menunggu. Hari-hari pun berlanjut, tak peduli gadis kecilnya sudah ditemukan atau belum. Tak peduli gadis kecilnya masih hidup atau sudah mati. Begitulah waktu, ia melenggang tak mau tahu. Persis kucing hitam yang selalu tandang ke rumahnya, mencuri lauk, menjatuhkan perkakas dapur, dan tidur-tiduran di atas sofa butut di ruang depan.

“Aku tak butuh kamu, Kucing sialan, aku butuh anakku!” serunya suatu hari, sambil melempar kucing itu dengan sebatang sapu. Kucing itu melompat dan berlari sebelum terdiam di balik pintu dapur, menatap perempuan itu, seperti memastikan bahwa tak ada lagi sapu yang melayang ke tubuhnya. Beberapa jam kemudian, saat perempuan itu menikmati makan malamnya, sendirian, kucing itu sudah kembali mengeong di bawah meja makan. Mengendus dan menggelendot di kakinya. Bagai tak kenal jera. Perempuan itu menendangnya, berulang kali, tapi kucing itu seperti tak peduli. Ia terus kembali dan kembali.

Perempuan itu telah dua kali menyaksikan foto anaknya di tivi, di akhir berita sore yang berbeda, di sebuah pengumuman perihal orang hilang.  Ia menangis ketika menyaksikan berita itu. Hanya menangis. Ia tak tahu apakah polisi sudah bekerja sejauh itu. Ia juga tak tahu gadis malang itu sedang apa dan ada di mana, apakah ia masih hidup atau sudah mati. Begitu ia sesenggukan, kucing hitam itu kembali muncul dan mengusap-usapkan kepalanya ke paha perempuan itu, seolah ia sedang meyabarkannya.

Ada kalanya kesedihan menjadi hambar saat diganggu, seperti juga perempuan itu. Ia tak mau kesedihannya diganggu. Maka, dengan kasar ia menghalau kucing itu, sampai binatang hitam itu terlempar dari sofa, lalu melenggang ke dapur, persis seperti orang yang diusir.

***

Setelah dua pekan dan tak ada kabar, perempuan itu merasa telah kehilangan harapan. Sudah. Kesedihannya berkerak sudah. Ia mulai mengutuk semuanya. Mengutuk orang-orang di luar sana. Mengutuk kehidupan. Mengutuk dirinya sendiri. Ia mulai enggan membuka pintu dan jendela. Ia tak sudi lagi menyapu rumah, mencuci piring, atau membersihkan seprai. Saat kesedihan itu memuncak, bercampur dengan kemarahan yang begitu agung, tiba-tiba kucing itu datang lagi. Ia mengeong, mengendus piring-piring yang selengkatan di meja makan. Berputar ke dapur, dan kembali bersantai-santai di sofa.

Perempuan itu geram tanpa sebab dan melempar kucing hitam itu dengan cangkir,  binatang tak berdosa itu pun mengeong cukup keras sebelum berlari ke dapur. Di dapur terdengar suara kelontang, sesuatu jatuh, kucing itu menumpahkan wajan yang penuh minyak. Perempuan itu menghela napas dan mengempaskan pantatnya ke sofa dan kembali menangis. Ia begitu lelah dengan semuanya. Dengan anak gadisnya yang tanpa kabar. Dengan suaminya. Dengan polisi. Juga dengan kucing sialan itu. Rasanya ia ingin tidur saja. Ia ingin melupakan semuanya. Meski hanya sejenak. Maka ia pun beranjak ke kamar. Namun, di kamarnya, di atas seprai, ia mendapati bekas berak kucing. Bekas berak yang seperti sengaja dieret-eret di hampir separuh bagian seprai. Baunya membuatnya ingin muntah. Pasti kucing sialan itu. Siapa lagi.

Dengan geram yang menyundul sampai ubun-ubun, perempuan itu berjalan keluar kamar, celingak-celinguk, dan ia mendapati kucing itu di sudut dapur, di sebelah tempat sampah yang tumpah. Perempuan itu berjalan pelan, bersejingkat, dan menerkam tubuh kucing itu. Tepat. Ia pun mencekik kucing itu, anehnya kucing itu tidak membalas atau mencakar. Ia malah menatap perempuan itu dengan tatapan pasrah. Sepasang mata kucing itu begitu bening dan dalam, seperti ada lubang hitam pekat di dalamnya. Dengan tangannya yang seolah menjadi ringan, dengan kemarahan yang masih meluap di seluruh tubuhnya, ia memasukkan kucing itu ke dalam karung dan membantingnya berkali-kali. Dari dalam karung terdengar suara mengeong minta ampun, suara mengeong yang tersendat-sendat. Miris dan menyedihkan. Ia tak peduli.

Dengan wajah memerah yang dihiasi titik-titik peluh, ia menyeret karung yang mulai diluberi warna merah itu menuju halaman belakang. Di sana ia membuat galian dangkal dan mengubur karung itu gesa-gesa, seperti mengubur sekarung sampah yang tak berguna. Ia tak lagi menggubris suara lemah yang mengeong dari dalam karung. Setelah galian itu teruruk, perempuan itu mengusap keringat yang meleleh di dahinya sambil tersengal-sengal, lalu ia kembali menangis. Tangisan yang gamang tapi teramat dalam.

Malam harinya, selepas dini hari, perempuan itu terbangun oleh mimpi buruk. Mimpi itu membuatnya tergeragap dan tak bisa tidur lagi. Dalam mimpi itu ia melihat dirinya sedang mengubur anak gadisnya sendiri di halaman belakang. Saat itu juga, ia merasa kesunyian kembali meliputinya. Kesunyian yang lebih keji dari sebelum-sebelumnya. Seolah dirinya dan rumahnya berada di dasar liang yang dalam dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Tiada lagi suara mengeong di bawah meja makan. Tiada lagi suara barang jatuh. Dan yang pasti, tiada lagi dan tak akan pernah ada lagi kelebat dan suara gadis kecilnya. Tiba-tiba saja ia memikirkan kucing itu. Kucing hitam yang tiba-tiba datang pada malam selepas gadis kecilnya menghilang.

Mendadak perempuan itu diseret oleh ingatannya sendiri perihal kelakuan gadis kecilnya. Persis. Kucing itu suka menggelendot di kakinya, seperti gadis kecilnya ketika merajuk meminta sesuatu. Kucing itu juga suka bersantai-santai di sofa butut, tempat di mana biasanya gadis kecil itu tidur-tiduran menonton film kartun. Dan kucing itu suka melenggang ke dapur lalu menjatuhkan perkakas dapur, seperti gadis kecilnya ketika sedang dimarahi. Hanya saja, gadis kecilnya tak pernah berak di seprai seperti yang dilakukan kucing itu. Tapi ada satu hal yang tak bisa dimungkiri perempuan itu, mata kucing itu. Ya, mata kucing itu. Ia baru menyadari, mata kucing itu persis mata gadis kecilnya, mata yang begitu bening dan dalam, seperti ada lubang hitam pekat di dalamnya.

Detik itu juga, perempuan itu kembali mengeduk galian dangkal di halaman belakang rumahnya. Membuka karung yang telah lumur oleh tanah dan bekas darah. Ada aroma amis menyengat. Sepanjang sisa malam, perempuan itu tak melakukan apapun kecuali terduduk di sofa bututnya sambil memeluk bangkai kucing yang nyaris tak berupa bentuk itu.

Surabaya, 2014

Mashdar Zainal

Mashdar Zainal

suka membaca dan menulis puisi serta prosa, kini bermukim di Malang.
Mashdar Zainal

Latest posts by Mashdar Zainal (see all)