Sejarah Payudara

in Cerita Pendek by
popartdecorations.com

Kali ini aku akan bercerita tentang sahabatku. Kami sama-sama seniman, lebih tepatnya seniman lukis. Sama-sama merasa seluruh hidup ini kami dedikasikan hanya untuk dunia lukis. Orang lebih mengenalnya dengan istilah totalitas. Bedanya, aku laki-laki, dia perempuan. Namanya Misie. Suatu kali dia menceritakan sebuah kisah tentang dirinya kepadaku. Itulah cerita yang akan aku kisahkan kepada kalian. Jangan khawatir, sebelumnya aku telah meminta izin kepadanya, apakah boleh, kisah yang dia ceritakan kepadaku itu, aku ceritakan juga kepada kalian. Dan dia memperbolehkannya. Oya, aku hampir lupa mengatakan, aliran lukisan kami berbeda. Aku cenderung lebih fokus pada lukisan grafis sedangkan Misie pelukis aliran realis.

Enaknya mulai dari mana, ya? Begini saja, karena aku merasa tidak pandai bercerita, aku akan langsung kisahkan pada bagian intinya. Alasannya agar kalian bisa cepat menangkap apa yang sebenarnya menjadi titik sentral cerita ini. Jika aku memakai sebuah pengantar dulu, takutnya nanti kalian akan merasa bosan sebelum sampai pada bagian pentingnya. Satu lagi, sebenarnya aku sendiri tidak yakin, apakah cerita ini ada gunanya atau tidak bagi kalian. Meski begitu, entah mengapa aku ingin sekali menceritakannya kepada kalian. Dan meski tadi aku mengatakan tentang adanya bagian penting di cerita ini, sesungguhnya itu hanya pendapatku saja. Jadi maafkan aku, bila kisah tentang sahabatku ini aku ceritakan dengan versiku. Menurutku yang terpenting aku tidak berusaha memagari cerita ini. Aku tidak akan membatasi pengertian dari cerita ini. Aku juga tidak akan menyetir kalian. Di depan sudah aku katakan, bahkan aku tidak tahu cerita ini ada gunanya atau tidak.

Aku awali cerita ini dari sini saja. Salah satu spot lukis yang dia punya bernama GLL, singkatan dari Galeri Lukis Langsung. Galeri itu sangat terkenal karena sebagian besar model yang datang dan dilukis Misie di sana merasa puas dengan hasil lukisannya. Aku sendiri tidak heran dengan pencapaian itu, tentu saja karena aku sudah sangat paham bagaimana kualitas lukisannya. Penilaian dari segi realis, lukisan Misie memang begitu hidup dan tampak seperti nyata. Bakat realisnya itu sebenarnya sudah terlihat saat dia masih sekolah di bangku SMA. Ketelitian dia untuk memperhatikan hal terkecil dari lukisan-lukisannya itulah yang menjadi salah satu keunggulan Misie dibanding pelukis realis lainnya.

Bahkan Misie tak segan-segan melenyapkan sebuah lukisan jika dia sendiri belum merasa yakin dengan lukisan itu. Dia sangat memanjakan pikiran dan perasaannya. Pikiran dan hatinya tidak ingin terganggu dengan sebuah kesalahan kecil yang ada di setiap lukisannya. Jika dia tidak puas dengan lukisannya, kemungkinan besar lukisan itu akan dilenyapkan. Istilah dilenyapkan ini bukan dalam pengertian boleh diberikan kepada orang lain atau sekadar dibuang, tetapi dilenyapkan di sini dalam pengertian harus sudah tidak ada lagi. Berarti satu-satunya jalan harus dimusnahkan dengan cara dibakar. Oleh karena itu, koleksi lukisan Misie yang dipajang di galeri tidak banyak jumlahnya.

Demikian juga yang terjadi dengan hasil lukis langsung terhadap model-modelnya. Misie akan melukis ulang, dan melukis ulang lagi jika hasil karyanya dianggap belum memberinya kepuasan. Dan keputusan untuk melukis ulang itu akan segera dilakukan jika model-modelnya sampai ikut mengatakan bahwa mereka juga belum puas dengan hasil lukisan itu. Mungkin karena hal itu jugalah yang menjadi salah satu sebab Misie begitu terkenal dan disukai model-modelnya. Berarti selain dia suka memanjakan pikiran dan perasaannya sendiri, rupanya dia juga sangat memanjakan model-modelnya untuk urusan karya.

Untuk masalah tampilan, Misie memang tidak suka yang mewah-mewah, masih termasuk dalam kategori yang umum-umum saja. Atau istilahnya wajar, bahkan dia cenderung lebih bersahaja. Sebagai seorang perempuan, dia termasuk perempuan yang lembut, terlihat anggun di mata para laki-laki. Kesan alim amat melekat pada dirinya jika dia dilihat dari sisi sikap dan fisiknya. Mungkin unsur itu juga yang ikut menjadi salah satu sebab, mengapa model-modelnya sangat menyukainya. Terlebih lagi Misie mempunyai paras yang manis, teramat manis malah untuk ukuran umum. Tentu saja untuk masalah itu pasti akan semakin membuat model-modelnya nyaman bila berada di dekatnya, terlebih bagi model yang laki-laki. Aku bisa membayangkan bagaimana kira-kira perasaan model yang laki-laki pada saat sedang dilukis oleh Misie yang mempunyai ciri-ciri sikap dan tampilan seperti itu.

Oya, pada saat aku menceritakan bagian yang itu tadi, aku jadi ingat sesuatu, sepertinya ada yang terlewat. Sebelum sampai pada intinya, aku merasa perlu untuk mejelaskan masalah ini dulu. Misie tetap akan bersedia melukis model-modelnya dalam segala keadaan. Maksudnya, Misie memilih untuk mengikuti semua permintaan modelnya, bahkan jika modelnya ingin dilukis dalam keadaan telanjang sekalipun, Misie tetap akan menyanggupinya. Selama ini dengan profesionalisme Misie sebagai seniman, dia selalu berusaha melakukan tugasnya dengan baik tanpa kesulitan, atau tanpa gangguan yang berarti.

Nah, kisah bagian berikut yang aku bilang inti tadi. Tanpa Misie sadari, sebenarnya setiap kali dia sedang melukis model-modelnya, dia mempunyai kebiasaan yang bisa dibilang lucu, atau katakanlah sedikit aneh, atau apalah. Atau setelah kujelaskan nanti mungkin kalian punya istilahnya sendiri untuk itu. Begini. Setiap kali Misie melukis modelnya, pada saat dia sedang melukis bagian dada, dia selalu berhenti. Agak lama berhentinya. Ibarat bernapas, pada saat seperti itu, masuk dan keluarnya udara melalui hidungnya menjadi tersengal-sengal, tidak lancar. Bila sudah begitu dia merasa perlu untuk beristirahat sejenak, dengan tidak melakukan kegiatan apa pun, guna mengembalikan ritme napas tersebut. Tidak dia sadari sebenarnya kebiasaan seperti itu sudah terjadi mulai spot GLLnya dibuka. Perlu aku jelaskan juga, kebiasaan tersebut dilakukan bukan hanya pada saat dia sedang melukis model laki-laki. Tetapi kepada model yang perempuan pun dia tetap mengalami kejadian seperti itu.

Jika selama ini kebiasaan itu kurang dianggapnya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan, kemudian sekarang tiba-tiba muncul kesadaran bahwa kebiasaan itu merupakan masalah, pasti ada penyebabnya. Mungkin pernyataan itu yang sekarang ada dalam pikiran kalian. Benar, kalian memang benar. Ada sebuah peristiwa yang bisa dipakai untuk menjawab, mengapa dia mempunyai kebiasaan seperti itu.

Sebelum sampai pada peristiwa itu, aku ingin menceritakan beberapa kasus yang terjadi antara Misie dengan model-modelnya. Setiap kali Misie melukis model laki-laki yang telanjang, pada saat dia melukis bagian dada, tentu saja setelah dia melakukan istirahat dulu, hasil lukisannya selalu mendapat komentar oleh modelnya. Herannya, komentar model laki-laki yang satu dengan model laki-laki yang lainnya hampir sama. Inti komentar tersebut adalah mempertanyakan mengapa untuk lukisan bagian dada terkesan agak lebih besar dari aslinya. Biasanya setelah mendapat komentar seperti itu, Misie segera melakukan koreksi lukisan itu dan hasilnya menjadi bagus. Model yang bersangkutan merasa puas.

Itu tadi kasus yang terjadi dengan model yang laki-laki. Ternyata dengan model perempuan pun juga terjadi hal serupa. Hanya saja untuk model perempuan begini. Setiap kali Misie melukis model perempuan yang telanjang, pada saat dia melukis bagian dada, tentu saja setelah dia melakukan istirahat dulu, hasil lukisannya selalu mendapat komentar oleh modelnya. Herannya, komentar model perempuan yang satu dengan model perempuan yang lainnya hampir sama. Inti komentar tersebut adalah mempertanyakan mengapa untuk lukisan bagian dada terkesan agak lebih kecil dari aslinya. Biasanya setelah mendapat komentar seperti itu, Misie segera melakukan koreksi lukisan itu dan hasilnya menjadi bagus. Model yang bersangkutan merasa puas.

Inilah bagian itu. Inti dari segala inti kisah ini. Ini kasus yang berbeda, kasus yang menguak bahwa kebiasaan Misie berhenti setiap kali akan melukis bagian dada. Seperinya peristiwa ini akan memberi jawabannya, atau paling tidak lebih mengenali jati diri Misie yang sesungguhnya. Pada suatu hari, datanglah seorang model perempuan, parasnya tidak terlalu cantik, tetapi mempunyai bentuk tubuh ynag aduhai. Orang bilang dengan sebutan seksi. Dia ingin dilukis dalam keadaan telanjang. Misie menyanggupinya. Sudah seperti biasanya, pada saat Misie akan melukis bagian dada dari perempuan itu. Sebentar, sebentar, mungkin agar lebih jelasnya aku akan mengganti kata dada dengan kata lain yang lebih pas, yaitu payudara. Kupikir kata itu sudah saatnya kupakai, toh untuk model kali ini adalah seorang perempuan, jadi jika aku memakai kata itu tentu sudah sepantasnya.

Oke, sampai di mana tadi? Oya, melukis bagian payudara. Seperti biasanya Misie berhenti. Agak lama dia berhenti, bahkan lebih lama dari biasanya. Setelah merasa cukup waktu, dia mulai melukis lagi. Begitu selesai lukisannya, pada saat model perempuan itu melihat hasilnya, dia memberi komentar, dan komentarnya itu sama dengan komentar model-model perempuan sebelumnya. Dia menanyakan mengapa lukisan bagian payudara terlihat agak lebih kecil dibandingkan dengan aslinya. Respons Misie, juga seperti biasanya, dia langsung memperbaiki lukisan payudara itu. Begitu sudah jadi, model perempuan itu tetap memprotesnya, katanya masih belum sesuai dengan ukuran payudara miliknya. Misie memperbaiki lukisan payudara itu lagi. Begitu sudah jadi lagi, herannya model perempuan yang ini protes lagi, begitu terus, terus, seperti tidak pernah merasa puas.

Mungkin karena gemasnya perempuan itu terhadap Misie yang dianggap tidak bisa menyesuaikan ukuran payudaranya dalam sebuah lukisan, tanpa disangka, model perempuan itu tiba-tiba meraih tangan Misie, lalu perlahan telapak tangan Misie ditempelkan ke payudaranya. “Genggamlah,” kata model perempuan itu. “Setelah ini kuharap kau bisa melukis payudaraku dengan tepat,” lanjutnya. Pada saat Misie menggenggam payudara perempuan itu, dadanya bergemuruh hebat. Misie merasa tubuhnya seperti menggigil, tapi bukan menggigil karena sakit. Entah apa yang terjadi pada Misie, dengan lembut akhirnya Misie justru meremas-remas payudara perempuan itu, hingga berlanjut ke sebuah percumbuan yang dahsyat.

Sayangnya pada bagian tersebut, Misie tidak banyak cerita kepadaku, tentu saja demikian pula aku tidak bisa menceritakan banyak kepada kalian terkhusus adegan itu. Padahal aku sendiri sebenarnya berharap dia bersedia lebih lama menceritakannya. Misie justru segera mengakhiri ceritanya dengan mengatakan bahwa usai mereka melakukan percumbuan, dia berhasil melukis payudara model perempuan itu dengan pas dan indah.***

Yuditeha

Yuditeha

Alumni De Britto dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta ini, dikenal sangat santun dan menyenangkan. Tapi karya-karyanya, memiliki keliaran yang kadang mengejutkan. Ia menulis puisi, cerpen, dan novel. Aktif di Sastra Alit Surakarta. Buku kumpulan cerpennya, Balada Bidadari , diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2016.Akan segera terbit kumpulan cerpen terbarunya, Matinya Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya di Penerbit Basabasi. Pelukis wajah yang hobi bernyanyi puisi ini, adalah penyuka bakpia dan onde-onde.
Yuditeha

Latest posts by Yuditeha (see all)