Sejumlah Fragmen Pikiran Milan Kundera Tentang Novel

in Rehal by

Judul Buku       : Seni Novel

Penulis             : Milan Kundera

Penerjemah      : Cep Subhan KM

Tebal                :  224 halaman

Terbit               : Cetakan Pertama, Januari 2017

Penerbit            : Penerbit Octopus, Yogyakarta

Apakah perihal menulis dan musik dapat disatukan dalam satu karya? Apakah ada sejumlah kata khusus yang kadang digunakan seorang penulis? Bila saja pertanyaan itu ditujukan pada Milan Kundera, ia akan memberikan jawaban yang menarik untuk didiskusikan. Melalui bukunya yang berjudul The Art of Novel, Kundera dengan lugas ia berbagi akan banyak hal tentang pandangan serta proses menulis novel. Namun perlu dipahami bahwa buku ini bukanlah buku teori atau sebuah panduan formal dalam menulis novel. Kundera dengan sederhana menuliskannya seperti gayanya sebagai seorang penulis fiksi.

Terdapat tujuh bagian yang terdiri dari esai, wawancara, serta pidato yang memperlihatkan isi kepala seorang Kundera. Bahkan Kundera menyebut buku ini sebagai bentuk pengakuan atas sejumlah karya yang dihasilkan. Di bagian pertama, ada sebuah bentuk rasa prihatin terhadap sosok serta karya dari seorang Cervantes, Don Quixote. Perkembangan Era Modern Eropa sering kali dikaitkan dengan hadirnya pemikiran seorang Descartes, akan tetapi bagi seorang Kundera, bukan hanya Descartes yang memberikan hal tersebut. Seorang Cervantes pun punya peran besar akan hal tersebut.

Dengan mengangkat judul, “Warisan Cervantes yang Kurang Dihargai” tentu kita akan mulai bertanya, “Apa makna dari novel besar seorang Cervantes?” Melalui esai pertamanya, Kundera pun mulai menjelaskan secara rinci betapa Don Quixote memberikan ruang cerita yang memperlihatkan sebuah kekuatan besar dari sebuah novel. Di bagian akhir esai ini, ada istilah semangat novel yang kemudian digambarkan sebagai bentuk abadi sebuah novel. Bahwa novel akan hadir untuk mengatakan, “Hal-hal tidaklah sesederhana yang kau pikirkan.”

Selanjutnya, pada bagian kedua ada wawancara yang dilakukan pada tahun 1983. Christian Salmon dari The Paris Review mengajukan sejumlah pertanyaan tentang pengalaman-pengalaman praktis dari Kundera kala menuliskan sebuah novel. Salah satu pertanyaan dari Christian Salmon adalah perihal novel psikologis yang kemudian dijawab dan dijelaskan secara rinci. Serta sejumlah pertanyaan lain yang hendak mengenal sejarah atau proses terciptanya novel Milan Kundera. Sedangkan pada bagian ketiga, terdapat catatan-catatan singkat dari Kundera terhadap pembacaan serta perenungan yang ia dapatkan dari novel The Sleepwalkers. Salah satu hal yang menarik dari seorang Kundera adalah kesempatan untuk melihat jejak bacaannya secara terbuka dalam esai-esai yang dituliskannya.

Novel trilogi, The Sleepwalkers (Pasenow, or Romanticism; Esch, or Anarchy; Huguenau or Realism) diakui Kundera menyimpan pelajaran penting dalam menulis novel. Mulai dari komposisi, menciptakan kemungkinan-kemungkinan, hubungan sebab-akibat, simbol-simbol, serta polihistorisme. Di antara ketiganya, bagian terakhir, Huguenau or Realism, menjadi bagian yang paling dikagumi oleh Kundera. Baginya, novel-novel terbaik menyimpan sesuatu yang tak tercapai dari masa-masa sebelumnya, dan novel terakhir The Sleepwalkers itu mengandung hal tersebut.     

Jika sebelumnya telah dijelaskan tentang komposisi pada catatan tentang The Sleepwalkers, di bagian keempat, Kundera kembali menampilkan wawancaranya yang khusus membahas tentang komposisi dari sejumlah novelnya. Jauh sebelum Kundera menjadi seorang novelis, ia terlebih dahulu menggeluti dunia musik. Pengalaman masa lalu itu kemudian berhasil ia pindahkan dalam sejumlah karya yang telah ia selesaikan. Pada wawancara itu, Kundera memperlihatkan ketelitian serta kemampuannya dalam menciptakan susunan atau komposisi layaknya sebuah musik. Salah satu ciri khas dari novel-novel Kundera misalnya, ia senang membaginya dalam tujuh bagian dengan sejumlah pertimbangan yang telah dipikirkan matang-matang.

Lanjut pada esai kelimanya, Kundera berfokus pada hal-hal yang dapat kita pelajari dari seorang Franz Kafka beserta karyanya. Karya-karya Kafka dianggap sebagai sesuatu yang punya kekuatan istimewa dan tidak mudah untuk dipelajari atau bahkan diwarisi. Kundera menyebut karya Kafka merupakan otonomi radikal novel yang dahsyat. Dengan cara itu, Kafka selalu berhasil menyerang sisi terdalam manusia yang kadang kala sulit untuk disentuh. Di bagian keenam, ada semacam kata-kata kunci yang diperlihatkan oleh Kundera. Kata-kata yang hampir ada dalam setiap karya-karyanya, seperti lupa, gantungan topi, batas, elitisme, grafomania, dan seterusnya. Terdapat enam puluh tiga kata yang kemudian diceritakan satu per satu. Dan terakhir, bagian ketujuh berisikan pidato Kundera saat menerima penghargaan Jerusalem Prize. Melalui pidatonya, ia mengajak kita untuk kembali merenungi kehadiran novel dan kearifan yang dapat kita pelajari. Pada akhirnya, membaca esai-esai Kundera memberikan kesempatan pada pembaca untuk mengenal dan belajar banyak dari jejak bacaan dan pikiran seorang Milan Kundera yang kadang kala terasa begitu luas tak berbatas.

Wawan Kurn

Wawan Kurn

Sering menggunakan nama Wawan Kurn, lahir di Pinrang, namun kini menetap di Makassar, Sulawesi Selatan. Karya-karyanya di antaranya pernah dimuat Koran Tempo Makassar, Harian Fajar Makassar, Cakrawala Makassar, Tribun Timur Makassar, Republika, Serambi Indonesia.
Wawan Kurn