Sejumlah Peristiwa yang Hilang; Puisi Gustu Sasih

in Puisi by
Sejumlah peristiwa yang hilang
Sumber gambar photoshelter.com
Tuhantu

seperangkat Senin tiba-tiba datang,

melompat dari almanak                            di linimasa ini

empat akar berpilin

tak kunjung tiba                                         di ini kamar,

padahal kutunggu ia sampai rasa

kantuk hampir tandas diteguk                 secangkir kopi

di tempat shoping,

Yu mengenakan mata kiriku untuk         memindai warna.

katanya aku ini mirip pacarnya

yang jadi buruh                                           di negeri tetangga

 

25 butir tema chatting, buyar di lantai basah.

apa

yang lebih besar       dari angan, selain ingin.                    apa

yang lebih lebar        dari pandang, selain bimbang.        apa

yang lebih tinggi      dari mimpi, selain dengki.                 apa

yang lebih akbar       dari Tuhan

– diam-diam kau bilang hantu!

 

Mataram:           katalisator Gustu-mereka, Yu bilang

lawan dan kawan:           patahan bimetal di lantai 2 mall baru

si seksi partner song bilang,        “sungai akbar cyber-ruang remaja: sungai tanpa dasar!”

 

di linimasa ini

Senin nyemplung ke dalam           botol jadi vodka

di sini-sana, papi-mami

tidak ngeh telah kehilangan           selaput dara putrinya

di jejaring sosial,

para pemabuk membikin               kitab suci

dengan bahasa mereka

sendiri.                                             “kami ini tuhan kecil.”

 

2015

Kau dan Kami

matahari 17:40

ada matamu mengintai dari celah rimbun daun-daun

merah; seperti darah menstruasi pertama gadis SMA

merah; seperti dua buah bola neraka

 

mungkin kau pikir aku dan Yu belum sampai di kubur ibumu

tubuh kami telah dua jam lamanya dikerumuni batu-batu nisan

seperti dua butir gula pasir di sarang semut pinggir jalan

 

mungkin kau pikir aku dan Yu tidak ngeh setiap kau buntuti kami dari jarak yang kau anggap aman

 

yang tidak kau tahu dari kami:

kami ini pandai mengendus, seperti tokoh-tokoh dalam sinetron Ganteng-Ganteng Srigala

mengendus bau tubuhmu yang mengepul sampai ke alam mimpi kami

yang bikin malam-malam kami jadi tidak nyaman lagi untuk dihuni

 

yang kau tidak tahu dari kita:

kau dan kami tidak akan pernah saling mempersilakan duduk untuk minum bir di tengah Senin

kau minum bir sendiri. kami minum bir tidak sampai lupa diri

 

yang bikin aku dan Yu resah sampai sore:

dengan doa paling panjang pun, kami belum bisa membujuk Tuhan untuk tidak membiarkanmu leluasa jadi bayang-bayang kami di Gunungsari

 

2015

 

Sejumlah Peristiwa yang Hilang

kemarin di belakang rumahmu itu, Ram. aku kehilangan sejumlah peristiwa yang sore ini memantul-mantul dalam kepalaku

andai bisa Tuhan kabulkan, aku minta itu diulang. agar aku bisa menangis dalam kesedihan yang manis. agar aku bisa gembira merayakan masa-masa menjelang tua

tapi bisa apa aku, Ram. jarum jam sudah berangkat sekian putaran. berangkat tidak untuk kembali ke asal

ya, dalam risau separah ini, aku putuskan untuk pulang dari hening jalan panjang ini

 

2015

Setelah Gerimis

benar yang kau bilang kemarin itu, Ram

setelah gerimis sabtu ini, tidak tampak lagi tukang pos datang mengantar surat ke alamat paling tua di seberang jalan sriwijaya itu

di samping mushola, perempuan yang kita panggil Yu itu, membisiki aku: “tiap-tiap alamat hanya akan membawa seseorang memasuki dongeng muram. tidak menuju pulang.”

ini semacam perang rahasia yang tidak akan pernah selesai, pikirku. di sisi lain, aku yang diam-diam dibaptis di belantara mataram ini; tetap saja menyimpan keraguan yang kemarin; sebab sebagai tamu di rumah orang, ada semacam skejul menampung urusan-urusan pribadiku. ya, persis seperti yang pernah kau bisik padaku di gunungsari dulu itu, Ram

 

2015

 

Minggu Sore-Sore

tiap minggu sore-sore

dapat kau lihat sepasang garis merah melintas di atas kepalaku

terang sekali. seperti api

jika sudah begitu; kututup jendela dan pintu

kupanggil Yu, yang bersedih di depan jarum jam

dia pun bilang, “kita mesti berkemas. tidak ada alasan untuk tidak berangkat ke sarang mereka.”

kami berpandangan

sampai akhirnya pada diri masing-masing, kami berucap, “aku tidak sendiri.”

2015

 

Yu

di Udayana Minggu pagi

ia pelihara burung-burung pada sisi dalam pahanya

sejak musim gugur turun di tanah kelahiran

belakangan ini

 

ia tak risih pada mereka yang datang dari Sesela dan Kekeri

“sering seringlah datang kemari, Yu, agar tak mati burung-burung itu; sebelum tua usiamu,” begitu mereka selalu bilang

Yu acuh saja

sebab ia hanya merayakan romantisme musim gugur

“burung sekadar jalan mencapai awang,” bisiknya pada diri

radiasi suhu tubuh bikin layu bunga-bunga di kepala

gugur ke arah persemayaman tali pusar

ia tak peduli

 

musim gugur di Udayana Minggu pagi

Yu menggembalakan burung-burung

burung-burung yang menetas dari dalam kepala mereka yang datang dari Sesela dan Kekeri

2014

 

Pengusung Matahari

dari selatan, mereka mengusung matahari menuju Dopang, atau mungkin juga ke Guntur Macan. tubuh letih sisa-sisa perang. bau hari, lekat. angin sudah tak bersuara lagi di atas kepala. peluh menghamdallahi. mereka tak mengeluh atau sekadar berbagi tentang rupa luka; sebab sejak lepas dari rahim, tak pernah tubuh mereka dihinggapi tato bermotif luka. cukup bagi mereka matahari, menghepiendingkan cerita

ini kemenangan di bawah naungan matahari. kemenangan kesekian. setara usia mas kawin di genggaman inaq. ini kegembiraan temurun-turun di tubuh tahun. bermuara di ketukan terakhir pada pintu, sehabis salam yang diucap pelan

sebagian mereka tidak mengganti pakaian. lampu-lampu dinyalakan

2014

Gustu Sasih

Gustu Sasih

lahir tahun 1988 di Lombok Barat, NTB. Telah menerbitkan buku kumpulan puisi konkret berjudul Puisi 2 Dimensi (2015).
Gustu Sasih

Latest posts by Gustu Sasih (see all)

  • Muara Ibrahim Husein

    Taraf kusir naik dan kuda semakin melarat, air liur yang menetes saat teradang berlari dicambuk telah mengucur darah…

Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com bemp3r.co