Sekejap Menjadi Orang Pelaut di Kepulauan Riau

in Hibernasi by

Gambar dokumen pribadi Nisrina

Di tahun 2015 lalu, saya tidak banyak melakukan perjalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. Perjalanan dalam arti melihat sebuah tempat yang sama sekali baru dan memberi kisahnya sendiri. Perjalanan di sini juga dalam arti sesuatu yang tidak saya rencanakan sama sekali. Kejutan adalah sesuatu yang indah, bukan?

Punya tiga saudara yang hidup terpisah di tiga pulau membuat saya jadi punya alasan logis untuk datang ke Sulawesi, Kalimantan, dan Bintan. Hidup kami ini sudah seperti Yahudi eksodus yang berpencar dari serangan bangsa pemangsa, tapi berprinsip darah selalu lebih kental dari air.

Pekerjaan sebagai orang kantoran memang sering kali dijadikan alasan seseorang tak bisa leluasa travelling. Masalahnya, passion tidak bisa berbohong. Ibarat seorang gay yang sudah menikah lalu punya anak, tapi kalau melihat pria lain masih deg-degan juga hatinya.

Perjalanan ini benar-benar saya mantapkan sepuluh hari menjelang hari H. Jika tidak melibatkan kakak saya yang akan menjemput di tempat tujuan, tentu bisa saja H-2 tiket benar-benar saya pegang. Dan tentu paspor saya sudah akan bertambah cap imigrasi Singapura.

Saya pernah ke Duri, Riau, kampung halaman ayah saya. Tidak dengan Riau Kepulauan. Sebatas tahu saja Bandara Hang Nadim Batu Hitam di Batam sebagai tempat transit penerbangan. Sebelum ke sana, sesuatu menahan saya untuk browsing segala hal tentang tempat tujuan nanti. Saya ingin merasa begitu buta dan dituntun oleh tuan rumah. Biar mereka saja yang membawa saya ke mana.

Gambar dokumen pribadi Nisrina

Kami bertemu di bandara Batam pukul sembilan pagi sehari sebelum Natal. Kakak sulung saya sudah menunggu bersama suaminya. Suami kakak saya, Bang Is, usianya sekitar 30 tahun di atas saya, seusia ayah saya, plus sudah punya cucu. Saya punya beberapa keponakan yang usianya lebih tua dari saya. Dan cucu yang membuat saya merasa, “OMG, I’m so bloody old!” Tapi Bang Is ini masih mampu menyetir Ford sport-nya sampai kecepatan 100 km/jam di subuh buta, lho.

Kami menginap di Hotel Amaris, Nagoya. Kalau di Batam, Nagoya adalah salah satu pusat perbelanjaan untuk barang-barang legal yang murah. Duty free alias bebas pajak. Orang-orang dari kota lain, bahkan Singapura dan Malaysia, akan ikut tergoda jadi shopaholic. Segala jenis minuman beralkohol, rokok, mobil, tas-tas branded, sampai smartphone terbaru, silakan hunting di Nagoya atau Batam Center. Mau yang black market ada juga. Harganya lebih murah lagi.

Gambar dokumen pribadi Nisrina

Saya diajak pula menginjak Jembatan Barelang. Landmark kebanggaan orang Batam. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Renggang dan Pulau Galang. Banyak sekali penjual jagung bakar di sana. Walaupun masih pagi hari. Di Jogja, orang makan jagung biasanya di malam hari. Jika di Jembatan Suramadu kendaraan dilarang berhenti di tengah-tengah jembatan. Di Barelang, itu seolah boleh. Orang-orang mengabaikan larangan untuk tidak parkir di jembatan karena tidak tahu bahaya yang bisa ditimbulkan. Secara konstruksi, jembatan ini tidak dirancang untuk menahan beban statis. Saat itu memang hanya ada dua mobil yang parkir. Begitu malam, akan menjadi memanjang. Di dekat jembatan padahal ada tempat parkir yang luas dan aman.

gambar 5

Tempat tujuan kami berikutnya setelah menginap semalam di Batam adalah Pulau Bintan. Tepatnya kota Tanjung Pinang. Sebagian penduduk Bintan adalah orang Melayu. Tidak terasa adanya kemeriahan Natal saat itu. Kami menumpang kapal roro, singkatan dari roll on-roll off. Pintunya itu yang roll on-roll off. Ditarik naik, ditarik turun. Karena membawa mobil pribadi, hanya ini pilihan menyeberang pulau. Tarifnya 245 ribu termasuk sopir. Lalu tiap penumpang dikenai 20 ribu rupiah. Untuk tarif ferry khusus penumpang sebesar 60 ribu rupiah. Pelabuhannya terletak dekat dengan pusat kota. Untuk ke Singapura dan Malaysia ada beberapa pilihan pelabuhan. Ke luar negeri rasanya seperti menyeberang pulau. Siapkan paspor. Imigrasi di kedua negara tetangga kita ini sangat ketat.

Perjalanan dengan roro hanya satu jam. Gelombang tidak begitu buruk dibandingkan jika menyeberang ke Karimunjawa. Roro yang kami tumpangi dari dan ke Tanjung Pinang ada tiga tipe. Pertama, yang menyediakan ruang ber-AC dan non-AC dan jejeran kursi-kursi besi yang keras. Ini kami tumpangi ketika berangkat.

Gambar dokumen pribadi Nisrina

Kedua, yang menyediakan hanya beberapa deret tempat duduk besi, sisanya lesehan bertingkat dan tanpa jendela sama sekali. Jika Anda mudah masuk angin, jangan cari perkara dengan duduk di lesehan tingkat atas dekat jendela. Tipe kedua ini kami tumpangi ketika kembali ke Batam.

Yang ketiga, tipe tempat duduk seperti kereta. Kursinya berhadap-hadapan dan ada meja di tengah-tengah. Belum sempat saya mencobanya.Tidak ada jadwal operasional detail kapal mana yang akan berangkat tiap sejam sekali tersebut. Sepertinya calon penumpang juga tidak ambil pusing kapal mana yang akan mereka tumpangi.Terpenting adalah ada kapal yang berangkat. Di hari libur besar seperti Natal dan Lebaran, jumlah roro akan dimaksimalkan agar bisa mengangkut semua penumpang hari itu juga. Jika memang sudah kehabisan tiket, apa boleh buat. Harus menunggu hari berikutnya atau berikutnya lagi.

Orang-orang kepulauan terbiasa dengan hidup dengan laut. Sementara saya masih katrok tingkat dewa. Kegirangan setengah mati saya ketika naik kapal. Merasakan terpaan angin laut. Mengikuti goyangan ke kiri dan ke kanan. Memotret sana-sini. Sementara, orang-orang bersantai di dek. Merokok atau makan Pop Mie panas. Saya masih menggebu-gebu. Mereka menganggapnya sebagai kehidupan rutin.

Kepulauan Riau tidak hanya Batam dan Bintan. Ada Natuna, Karimun, Penyengat, Dompak, dan lainnya. Kepulauan dalam Kepulauan Indonesia. Batam sebagai pusat industri yang terus berkembang pesat. Bintan punya Lagoi, resor privat yang memanjakan para ekspatriat. Natuna punya pantai perawan dengan pasir putih sehalus sutra. Karimun juga destinasi jalan-jalan dengan pusat hiburan tidak kalah menggiurkan. Penyengat punya masjid bersejarah berwarna kuning menantang, dibangun dengan kekuatan putih telur. Oh ya, cobain juga deh otak-otaknya yang masih hangat dan empuk banget. Dibuat dari bahan ikan tenggiri atau cumi-cumi. Dibungkus daun pisang. Dibakar dengan bara kecil. Rasanya pedas ala bumbu khas Melayu.

Dompak adalah pulau yang dipilih sebagai lokasi kantor-kantor pusat pemerintahan Provinsi Kepri. Panorama birunya laut di kejauhan akan membuat para pejabat betah berada di ruang kerja. Sedang dibangun jembatan kedua yang akan menghubungkan Dompak langsung ke pusat kota Tanjung Pinang.

Kepri tidak punya lahan bertanam sesubur di Jawa. Tanahnya mengandung bauksit, seperti halnya di Pulau Bangka dan Kalimantan. Hawanya luar biasa panas tapi anehnya penduduk asli banyak yang berkulit putih. Saya jarang melihat perempuan memakai payung. Sama jarangnya dengan melihat angkutan kota. Infrastruktur dibangun dengan baik. Jalanan yang kami tempuh dari Pelabuhan Tanjung Uban, tempat merapatnya kapal roro ke kota Tanjung Pinang, dibuat beraspal bagus dengan sesekali menemui gelombang. Kecepatan kendaraan bisa mencapai 150 km/jam. Kontur jalan menanjak, menurun, menikung, bergantian memacu adrenalin. Sesekali kami berpapasan dengan bus-bus besar para wisatawan dari Lagoi arah ke Bandara Raja Haji Fisabilillah.

Gambar dokumen pribadi Nisrina

Lagoi memang bertarif mahal. Disengaja. Privasi itu tidak pernah bisa dijual murah. Untuk merawat kebersihan dan keasrian pantai tidak bisa main-main. Butuh investor yang peduli tidak hanya tetek-bengek mengeruk keuntungan bisnis lalu abai pada kepentingan alam yang telah kehilangan sisi naturalnya. Ada banyak aturan untuk masuk ke sana, selain punya kantong tebal dan jiwa hedonisme tinggi. Sisi lain Bintan ini bagi saya sesuatu yang masih kalah menarik ketimbang menaiki pompong (perahu motor nelayan yang panjang, berkapasitas sampai 15 orang dewasa) menuju Pulau Penyengat. Warna Masjid Raya Sultan Riau yang kuning terang membuatnya jelas terlihat dari kota Tanjung Pinang. Begitu menarik minat. Satu yang membuat saya tersenyum. Sebuah mitos yang boleh dipercaya boleh juga tidak. Jika masuk ke areal makam-makam raja dari Kesultanan Riau di Pulau Penyengat ini, boleh jadi tak lama akan mendapatkan jodoh penduduk setempat. Atau jika datang bersama pacar, tak lama akan putus.

Jika ingin mengelilingi beberapa bagian Pulau Penyengat bisa dengan jalan kaki atau menyewa becak motor seperti di kota Medan. Bedanya, motornya rata-rata masih baru dan mengkilap. Tidak jauh kok, sekitar tiga kilometer saja. Cukup 30 ribu untuk sebuah keliling singkat.

Seandainya bisa lebih lama, saya tidak akan melewatkan hari-hari bersama laut begitu saja. Tidak hanya lewat cerita, tapi benar-benar menginjakkan kaki dan merasakan tiap perbedaan di tiap pulau. Naik turun kapal penyeberangan. Menyapa gelombang-gelombang yang terkadang malas bersahabat dengan siapa pun. Duduk dengan mereka yang menyantap mi kemasan yang diseduh dengan air setengah panas. Menunggu daratan selanjutnya di kejauhan sana dengan matahari yang mulai bersinar di ufuk timur.

** Semua gambar adalah dokumen pribadi penulis