Semesta Mitos Sekala Niskala

in Hibernasi by

Sekala Niskala membawa gambaran besar soal konsep oposisi biner yang diejawantahkan dalam relasi pasangan saudara kembar buncing, Tantri dan Tantra.

Dalam penyampaiannya, konsep tersebut tak lepas dari kelindan mitos yang mengakar kuat pada tradisi-tradisi nusantara, termasuk Bali. Mitos Dewi Ratih yang dimangsa Kala Rau, burung kedasih, juga penggambaran padi yang lekat dengan mitos Dewi Sri mengambil porsi penting sebagai benang merah yang menjadi penghubung plot film berdurasi 86 menit ini. Penggunaan mitos sebagai media penyampai bukanlah tanpa alasan. Sebab laiknya mitos, dunia anak-anak terkadang memang tidak mudah dimengerti karena dianggap tak masuk akal. Kamila sebagai sutradara, cukup konsisten untuk merajut plot dengan mempertahankan formula tersebut.

Sejak adegan pembuka, Kamila menghentak lewat metafora telur yang mempunyai peran cukup sentral dalam religiositas Hindu Bali. Telur merupakan simbol tiga dimensi, yakni utpati (pencipta/Brahma), sthiti (pemelihara/Wisnu), dan pralina (pelebur/Siwa). Ia sekaligus merupakan perwujudan makrokosmos maupun mikrokosmos. Pada menit-menit selanjutnya simbolisasi tersebut dimunculkan berkali-kali lewat telur ceplok. Tantra mengambil telur dari banten yang kemudian dimasak oleh Tantri untuk lauk makan mereka berdua. Tantra mendapatkan bagian kuning telur, sedangkan Tantri memperoleh putihnya. Secara perlahan Kamila menegaskan relasi antara mereka berdua yang tak terpisahkan, saling melengkapi satu sama lain, bak kuning telur dan putihnya. Bahkan saat Tantra sakit dan perlahan fungsi indranya mulai menurun sedikit demi sedikit, Tantri tetap setia menemani. Meski ia selalu menolak untuk masuk ke kamar rawat sebagai sikap penyangkalan atas kehilangan yang ia alami.

Penggambaran tersebut dapat dipahami jika dihubungkan dengan mitos kembar buncing atau manak salah yang melingkupi mereka berdua. Dalam Majalah Pandji Poestaka, No. 46, TAHOEN IV, 11 Juni 1926, hlm. 1052–1053 memuat tulisan Soedjana tentang kembar buncing berjudul “Orang Manak Salah di Poelau Bali”. Soedjana menulis, “Jang diseboet ‘manak salah’ jaitoe seorang iboe bangsa soedra jang melahirkan doea anak, laki2 [dan] perempoean. Adapoen iboe bapa dan kedoea anak jang baroe lahir itoe dikatakan berdosa (menjebabkan negeri panas, mengoerangkan hasil negeri dan memboeat mala atau chara, kepada seloeroeh désanja), sehingga meréka itoe patoet dihoekoem menoroet ‘adat.” Berdasarkan kepercayaan masyarakat Bali, kembar perempuan dan laki-laki yang terlahir dari keluarga kasta sudra dianggap membawa bencana dan wajib dikucilkan. Namun jika itu terjadi pada keluarga kasta bangsawan, kelahiran tersebut dianggap membawa berkah dan kemakmuran. Tetapi awig-awig (sanksi adat) bagi kelahiran bayi kembar buncing telah dihapus oleh DPRD Bali dalam Paswara Nomor 10/DPRD tertanggal 12 Juli 1951 yang ditandatangani oleh Ketua Dewan, I Gusti Putu Merta.

Sekala Niskala pun telah mengadopsi pemahaman baru ini. Terlihat dari percakapan antara suster rumah sakit tempat Tantra dirawat dengan Tantri yang menyatakan bahwa keberadaan mereka merupakan perwujudan dari keseimbangan alam raya.

Putih Telur dan Dunia yang Terbalik

Maka ketika keseimbangan tersebut terguncang, teror telur kembali dihadirkan oleh Kamila. Melalui kepanikan Tantri saat tak bisa menemukan bagian kuning pada telur rebus yang ia makan. Bagian yang selalu menjadi milik Tantra saat ia masih sehat. Urusan telur yang tak memiliki bagian kuning di tengahnya bukanlah perkara simpel, ia tidak hanya menjadi sebuah keheranan tetapi kekhawatiran. Bagaimana bisa Tantra (kuning telur) yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia Tantri (putih telur) tidak dapat ditemukan? Ke mana ia pergi? Semesta Tantri—yang selama ini seimbang—mulai berubah, goyah.

Perasaan tercekat Tantri pun bolak-balik diterjemahkan Kamila lewat pertemuan-pertemuan keduanya yang terjadi dalam batas selaput tipis antara sekala dan niskala. Sekala (the seen), dunia yang bisa diindra—dilihat, didengar, dibaui, disentuh—dengan niskala (unseen), dunia yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra, berada di luar penalaran manusia dan sering kali disebut sebagai dunia gaib. Dalam kepercayaan Hindu Bali, setiap hal baik, positif, konstruktif selalu berkaitan dengan hal negatif atau destruktif. Begitu pula dengan dunia nyata dan dunia gaib. Koeksistensi yang berjalan saling beriringan, tidak lantas bertentangan satu sama lain.

Dalam Sekala Niskala hal itu tersaji apik lewat penggambaran dunia sehari-hari Tantri selama adik kembarnya terbaring sakit. Pertemuan-pertemuan mereka terjadi dalam dunia yang sulit dibedakan. Sekala atau niskala? Dunia yang kita kenali atau bukan? Nyata atau mimpi? Kamila menafikan batas-batas dikotomis tersebut. Dalam visualisasi film, Kamila memilih untuk tidak memberikan batas yang tegas antara keduanya. Kita akan susah mengenali, apakah pertemuan Tantri dengan Tantra hanya ada dalam mimpi atau memang terjadi setiap malam di dunia nyata, dunia yang dapat kita indra? Begitu pula dengan penggambaran Kamila akan makhluk-makhluk di dunia niskala yang sering kali Tantri sambangi di ladang, tempat mereka berdua biasa bermain. Meski beberapa bertingkah ganjil, penonton akan dengan mudah mengidentifikasi mereka sebagai anak-anak kecil dengan tampilan yang tidak jauh berbeda dengan anak sebayanya.

Pada pertemuan-pertemuan mereka berdua itu pulalah, benang merah mitos mulai dimasukkan secara perlahan untuk merajut plot. Sebut saja Tantra yang mendalang untuk kakak kembarnya tentang Kala Rau yang mencaplok Dewi Ratih/Dewi Bulan. Mitos klasik yang sudah sangat akrab dalam ingatan penduduk nusantara. Ia diwariskan secara turun-temurun dari mulut ke mulut. Meskipun telah terjadi proses interpolasi, bentuk dasar mitos terjadinya gerhana bulan tersebut tetap bertahan. Dalam perjalanan selanjutnya, siklus bulan purnama hingga menjadi bulan tilem (mati) jadi simbol penting dalam menghitung sisa hidup Tantra yang divonis bakal kehilangan satu per satu kemampuan pancaindranya.

Usaha Merawat Kehidupan

Meskipun demikian, Tantri tak lantas menerima vonis tersebut mentah-mentah. Ia memilih untuk keras kepala, berusaha mengembalikan kesadaran saudara kembarnya dengan caranya sendiri. Yakni dengan meminjam kekuatan-kekuatan alam; pertarungan ayam jago yang ia adopsi setelah menonton tajen, pemujaan Dewi Ratih, dan juga monyet yang ia temui di pura dan tepi pantai. Namun saat Tantra pergi (atau dibawa pergi?) dalam sunyi oleh anak-anak kecil sebayanya, dunia Tantri seketika terbalik. Kepala di kaki, kaki di kepala. Pada titik itu sebenarnya Tantri telah kehilangan sukma Tantra, meski raganya masih bertahan di alam sekala. Kepedihan itu kemudian berlipat-lipat saat kepak-kepak burung kedasih—yang mitosnya menjadi tanda akan datangnya kematian—hinggap di kamar rawat Tantra. Burung kedasih (atau di beberapa daerah mempunyai sebutan lain seperti wiwik, daradasih, dan lain-lain) memang dipercaya oleh masyarakat Nusantara sebagai pembawa kabar kematian. Namun sekeras apa pun Tantri mencoba menghalau mereka, takdir merupakan salah satu hal yang nyatanya tidak mampu dipungkiri manusia.

Pada bagian ini, eskalasi ketegangan sangat terasa lewat kemarahan Tantri yang tak berdaya mengembalikan saudara kembarnya kembali ke dunia. Ia melompat, mencakar, memukul, dan mengamuk sejadi-jadinya. Sebab bagaimanapun kehilangan merupakan sebentuk perasaan universal yang tak hanya dialami oleh orang dewasa tetapi juga anak-anak. Pada akhirnya, pemahaman bahwa tak ada yang bisa lolos jadi jerat kematian membawa Tanti pada tahap baru, yakni penerimaan. Hal itu tergambarkan dalam adegan terakhir, saat Tantri duduk memangku serumpun padi yang ia tanam bersama Tantra saat ia tengah sakit. Rumpun padi yang mereka rawat berdua, simbol dari usaha merawat kehidupan. Kehidupan yang lahir dari rahim kematian, laiknya mitos tumbuhnya padi yang berasal dari jenazah Dewi Sri, Sang Dewi Kehidupan.

Cyntara

Cyntara

Penari, pekerja media, tinggal di Yogyakarta. Instagram @cyntarare
Cyntara

Latest posts by Cyntara (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.