Semiring Apa Pagimu Hari Ini?

in Rehal by

Judul : Pagi yang Miring Ke Kanan

Penulis : Afrizal Malna

Penerbit : Nyala, Yogyakarta

Cetakan : I, Mei 2017

Tebal : 267 hlm.

ISBN: 978-602-60855-2-8

Ukuran: 12 x 19 cm

Jika Anda membuka mata saat pagi, dan berangkat kerja seperti biasa, berarti pagi Anda miring ke kanan. Jika Anda bangun tidur dan yang tersisa hanya kemalasan untuk bangun, maka pagi Anda juga pagi yang miring ke kanan.

Istilah “pagi yang miring ke kanan” adalah metafora segar dan kritis yang menggambarkan dilema urbanisasi dan modernitas. Jakarta di “pagi yang miring ke kanan” adalah cerita semrawutnya kota yang karena saking rutinnya (dianggap) menjadi baik-baik saja. Mungkin, itulah yang menghantarkan pagi yang miring ke kanan sebagai judul kumpulan cerpen terbaru Afrizal Malna.

Sebagaimana kata Naryo dalam cerpen “Pagi yang Miring ke Kanan”, “kebebasan adalah jalan terbuka untuk mereka memilih” (hlm. 127), seperti itu pula Anda membaca prosa terbaru Afrizal Malna ini. Kebebasan untuk memilih bisa diejawantahkan dalam memilih cerita apa yang Anda baca.

Saya mencoba memilih membaca secara konvensional; dari halaman pertama hingga akhir. Tujuan saya jelas, menghindari sekian banyak tikungan tajam dan kejutan yang ditanam penulis. Bahkan, “cerpen ini akhirnya seperti sebuah cerita yang telah ditinggalkan oleh tokoh-tokohnya sendiri. Menjadi rumah kosong, yang semua pintunya di biarkan terbuka.” (hlm. 12)

Kita menemukan komunikasi yang rentan antara penulis dan tokoh-tokoh ciptaannya. Pada cerpen “Renovasi dalam Cerpen”, kita disuguhi bagaimana si aku sebagai penulis cerpen khawatir dengan para tokohnya, apakah tokoh-tokoh dalam cerita berjalan sendiri atau penulis sebagai tuhan untuk tokoh-tokohnya. Yang paling aku cemaskan adalah bagaimana mereka saling bertukar satu sama lainnya, dan hanya menghasilkan satu kesimpulan: ketiga orang itu sesungguhnya hanyalah satu orang. Dialog-dialog mereka kemudian tidak lebih usaha membagi-bagi kalimat agar tidak membuat satu lorong yang sama. (hlm. 8)

Seperti karya Afrizal lainnya, rangkaian cerita pendek ini juga merupakan medium kritik ekonomi, politik, dan sosial kebudayaan urban yang ditampilkan dengan begitu suram dan pesimis. Seperti halnya kesinisan tokoh Frans dalam dunia teater. “Eh, jangan berpikir kebalik begitu. Gue ini hidup di bawah sinar matahari, bukan dalam sebungkus rokok. Elu lihat, apa sih yang enggak bisa tumbuh di bawah matahari? Elu jadi goblok begitu, karena elu mulai menukar matahari dengan lampu neon” (hlm. 18). Nada-nada yang sama juga tersebar dalam setiap cerita.

Terlebih ketika Anda sampai pada cerita “Kota Tanpa Toak”, yang berisi 20 halaman simbol-simbol yang tidak dapat kita baca. Bukan, itu bukan salah cetak dari penerbit. Afrizal sering menegaskan dalam beberapa diskusi sastra bahwa simbol-simbol tersebut merupakan salah satu caranya membebaskan kata dari makna. Namun, melihat bagaimana pengarang memungkasi cerpen “Kota Tanpa Toak” dengan Viral! Viral! Get Out! (hlm. 69), ini menjadi semacam kritik gamblang terhadap gaya pemuda-pemuda milenial saat ini. Atau, ini merupakan kutukan sang sastrawan sebagai pewarta murung atas kota dan kehidupan?

Sama halnya dengan latar-latar pagi di dalam kumpulan cerpen ini yang lebih banyak terasa muram, hidup seperti sebuah pagi yang selalu kehilangan hari kemarin (hlm. 100). Bayangkan pagi yang sebenarnya, pagi yang dialami oleh objek yang ditulis pengarang, yakni kesemrawutan kota yang sudah dianggap wajar dan menjadi “kebiasaan-yang-menyamankan”. Bahkan, jika itu terasa muram, ada ketangguhan diam-diam. Inilah ironi yang dengan telak ingin direkam Afrizal Malna.

Demikian juga cerpen “Icogni-type lalu Tas Kosong” yang tak hanya menghadirkan makna yang kompleks, tapi juga lapisan cerita dalam cerita. Adalah tokoh James menonton film “Someday”, tentang seorang lelaki 17 tahun yang juga bernama James yang akan melaksanakan bunuh diri yang tergagalkan oleh kedatangan taksi ibunya yang baru saja cerai dari pernikahan keduanya yang hanya berumur 48 jam. Kenapa suara taxi itu menjadi malaikat yang menggagalkan proyek bunuh diri itu? kata tokoh James (hlm 101) ketika pada akhirnya James—dalam film dan James—dalam cerita saling berhadap-hadapan, seperti sebuah tas kosong. (hlm. 110)

Dan, percayalah, dalam kemurungan yang dihadirkan Afrizal, masih ada cahaya hidup yang optimistis. Paling tidak lewat tokoh Naryo yang “merasa bisa lebih dekat mengamati anak-anak dari keluarga keturunan Cina di Jakarta. ‘Mereka menyenangkan, kata Tika, ‘begitu cepat beradaptasi dengan kanvas, cat dan kuas.”  (hlm. 125)

Selain itu, penokohan benda-benda dalam kumpulan cerpen ini memunculkan twist yang menarik. Benda-benda hidup dan dengan mudah bertukar tempat menjadi subjek yang hidup. Seperti kamera tua dalam cerpen “Terhempasnya Huruf F” atau benda-benda mati dalam cerpen “Obat Nyamuk dari Kremi.”

Terakhir, kumpulan karya fiksi ini ditulis Afrizal dengan dua latar negara, yakni Indonesia dan Berlin. Cerpen yang berlatar Indonesia cenderung intens, mabuk, dan “tidak memiliki kerangka”. Adapun cerita yang lahir di Berlin, objeknya lebih jelas dan detail.

Memang tak mudah membaca buku ini. Pembaca yang tidak terbiasa menikmati karya Afrizal Malna, bisa saja akan pusing tujuh keliling, karena gaya penceritaan yang sangat khas dan berkarakter. Mungkin karena itu pulalah, buku ini mendapat penghargaan sebagai 10 Besar Kusala Katulistiwa Kategori Fiksi tahun 2017.

Qoida Nor

Qoida Nor

Penulis adalah mahasiswa Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, bergiat di Radiobuku dan Syarikat Peresensi Jogja.
Qoida Nor

Latest posts by Qoida Nor (see all)

  • rusa miskin

    Terakhir, kumpulan karya fiksi ini ditulis Afrizal dengan dua latar negara, yakni Indonesia dan Berlin. Cerpen yang berlatar Indonesia cenderung intens, mabuk, dan “tidak memiliki kerangka”. Adapun cerita yang lahir di Berlin, objeknya lebih jelas dan detail.

    ai em sori, sejak kapan Berlin itu negara wahai Nor.

    • qoida

      Terimakasih kakak~
      Maksud saya tentu Jerman dengan Berlin sebagai ibukota 🙂