Semua Bermula ketika Seekor Ikan Mati

in Cerita Pendek by

pinterest.com

Seekor ikan louhan mati. Birla menemukannya terkapar di dasar akuarium berbentuk kubus setinggi 75 sentimeter. Mata ikan itu memelotot dan kaku dan menyisakan sedikit kekeraskepalaan. Mungkin sebisanya ia sudah berjuang melawan kematian. Matanya kini menatap Birla dengan hampa. Jangan memandangku begitu, bisik Birla terbata. Ia tidak menangis, tapi entah kenapa ia terbata. Kekosongan menjarakkannya dengan bangkai ikan louhan itu. Ia merasa louhan itu sudah menjadi benda asing dan mereka tidak pernah saling mengenal.  Birla ingin segera mencampakkan benda asing itu dari akuarium kesayangannya. Beberapa ekor ikan louhan lain berenang, bermain dengan letupan-letupan air buatan, seolah tak ada kematian di sekitar mereka. Jangan kebanyakan diberi makan, suaminya sering mengingatkan. Ikan-ikan itu hadiah dari suaminya. Hadiah ulang tahun yang ke-30. Birla pernah bertanya, apa keinginan terbesar segerombolan ikan louhan itu dalam kehidupan ini? Suaminya terkekeh dan berkata, kapan kau berhenti menanyakan segala sesuatu yang tidak penting untuk kita pikirkan?

Birla pernah menanyakan hal-hal yang ia anggap penting dalam hidupnya. Ia bertanya soal keberadaan suaminya sebanyak sepuluh kali dalam sehari; suaminya pergi bersama siapa sebanyak lima belas kali; mengajukan kalimat “apa kau masih mencintaiku?” setiap mau tidur dan setelah bangun dan sebelum atau setelah ke kantor. Birla juga menanyakan masa lalu suaminya berulang-ulang. Menderetkan nama-nama perempuan dari masa lalu itu dan menguliknya satu per satu, tanpa henti, tanpa henti. Apa yang sebenarnya kau inginkan? tanya suaminya gusar karena ditanyai sedemikian rupa tentang sesuatu yang sudah tidak ingin ia ingat lagi. Birla menggeleng dengan ekspresi bingung dan berkata, aku tidak mengerti kenapa melakukannya. Itu salahku, aku bersalah, aku tidak tahu apa yang kulakukan ini. 

Kau hanya perlu mendewasakan diri, kata temannya yang seorang konsultan kepribadian dan menjadi satu-satunya orang yang Birla percayai tempat menceritakan apa pun.

Setelah itu, ia tak lagi bertanya tentang sesuatu yang berhubungan dengan suaminya dan beralih menanyakan segala sesuatu yang lain. Tentang rumput, angin, hujan, ikan, ayam, jalanan, orang-orang yang tidak mereka kenal, atap rumah, suara kendaraan, hutan, buah kiwi, semut hitam, gelas dalam televisi, tawa orang asing, bak sampah, plastik yang melayang di udara. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya terhibur. Kadang kala ia terkikik sendiri dan merasa konyol. Tak jarang pula ia merasa takjub dengan apa-apa yang berloncatan dalam kepalanya itu, lalu menjadi takut bila ia makin memikirkannya. 

Dan sekarang seekor ikan louhan itu mati sebelum ia tahu apa keinginannya dalam kehidupan ini. Tidakkah itu terdengar menyedihkan? Namun, ikan yang mati harus segera disingkirkan. Itu yang terpikir oleh Birla kemudian. Ia tidak suka sesuatu yang berbau kematian. Ia tak bisa lebih lama lagi membiarkan ikan itu berada dalam kotak akuariumnya. Birla belum pernah mengurus binatang mati. Aku membunuh seekor tikus, teriak adiknya. Mereka masih kecil dan adiknya sudah membunuh seekor tikus. Birla menjerit-jerit ketika adiknya mengangkat bagian ekor tikus itu. Jangan terlalu dipikirkan, kata temannya sambil mengembuskan napas berat pada saat jam kerjanya baru saja berakhir dan Birla sekali lagi meneleponnya hanya untuk mengatakan tentang seekor ikan mati dan kenyataan itu mengganggunya. Namun, kini Birla sedang menghadapi seekor ikan louhan yang mati dan ia sama sekali tidak tahu bagaimana memperlakukannya. Ia sama sekali tidak bisa menerapkan nasihat yang didapatkan pada beberapa sesi konsultasi di waktu lalu untuk situasi yang ia hadapi sekarang. Ikan ini benar-benar mati dan ia harus melakukan sesuatu.  Ia tidak bisa tak memikirkannya.

Lihat ini, lihat ini, adiknya mengangkat tinggi-tinggi tikus yang kepalanya pecah itu. Darah membuat matanya ikut memerah. Kumis tikus itu seakan masih bergerak-gerak dan itu menggelitiki kepala Birla.

Cukup! Birla menjerit lebih kencang.

Ikan louhan makin pucat dalam akuarium dan mungkin ia tersedak karena sistem di dalam tubuhnya sudah tidak berfungsi dan air bebas masuk lewat mulutnya. Birla sama sekali tidak tahu tentang ikan. Birla tidak tahu apa-apa dan yang ia pikirkan itu aneh sekali. Ikan louhan makin menjadi benda asing dan Birla putus asa dengan dirinya sendiri.

Pintu mendadak terbuka.

Ikan louhan mati, suara Birla bergetar mengira seseorang sengaja datang untuk membantunya.

Tidak ada yang masuk dari pintu itu. Kosong dan hening. Atau memang pintu itu tak pernah terbuka dan Birla salah melihatnya. Lihat ini! kata adiknya masih memamerkan bangkai tikus dan darah dari kepala tikus itu menetes-netes. Hentikan! Hentikan! Birla berjalan tersuruk-suruk menuju sofa dan mengempaskan badannya di sana. Dari tempat ia berada, bangkai louhan memandanginya dengan matanya yang mulai memutih seakan berkata, apa kau tidak akan mengeluarkanku dari akuarium ini sampai aku membusuk?

Tidak, itu tidak benar, kata Birla. Ia kembali bangkit. Ia akan mengeluarkan ikan louhan itu biar matanya yang kaku tak lagi mengganggunya. Ia harus melakukannya. Birla melihat pot berisi cabai yang ia letakkan di dekat pintu kamar mandi. Seharusnya pot itu sudah ia kembalikan ke halaman belakang sore tadi setelah ia menaburkan pupuk kristal biru. Birla tersenyum lega melihat pot itu. Ia memasukkan tangannya ke dalam akuarium dengan mata setengah ia pejamkan. Ia belum pernah memegang binatang mati. Ia tidak bisa melakukannya.  Namun, tangannya kini sudah memegang ikan louhan itu dan membuat ikan-ikan lain menghindar cepat dan membuat kelompok di sudut. Aku sudah mendapatkanmu, kata Birla. Cepat-cepat ia keluarkan tangannya dan ia berjalan ke arah pot berisi sebatang cabai.  Aku benar-benar melakukannya, bisik Birla untuk meyakinkan dirinya. Ia membuat ceruk cukup dalam di pot itu dan memasukkan bangkai ikan dengan sedikit menekannya lalu menimbunnya kembali dengan tanah. Batang cabai bergoyang karena tak sengaja tersenggol tangan Birla. Bunganya—dua atau tiga—jatuh ke atas tanah tempat ikan louhan terkubur. Birla memandanginya beberapa menit seolah ia baru saja menangani sebuah prosesi kematian yang menggetarkan jiwanya. Ia mengembuskan napas, lalu meninggalkan pot cabai itu tanpa benar-benar tahu kenapa ia harus mengubur bangkai ikan di dalamnya. Ia ingat, adiknya tidak pernah mengubur bangkai tikus yang malang itu, melainkan melemparnya ke mulut seekor kucing. Birla bergidik melihat moncong kucing itu menyambar bangkai tikus yang luka parah. Lambung Birla terasa asam dan mual. Ia memuntahkan semua isi perutnya. Ikan di dalam pot itu seharusnya senang tidak dilemparkan ke dalam mulut kucing. Apa ikan yang sudah mati masih bisa merasakan senang dan tidak? Bagaimana rasanya mati? Aku tidak ingin mati, kata Birla kepada temannya. Aku tak bisa menerima dagingku digerogoti para belatung. Tidak seburuk itu, Bir, temannya memberikan penekanan pada suaranya yang terdengar selalu kelelahan. Lagi pula saat mati semua itu tak penting lagi bagi kita.

Sudah nyaris tengah malam saat Birla menyelesaikan semuanya. Ia lelah luar biasa dan tertidur di depan televisi yang sudah lama tak lagi dihidupkan.  Belum lama ia tidur, ikan louhan dan sebatang cabai itu datang untuk memarahinya. Mata ikan itu masih memelotot dan kaku sama seperti saat ia pertama kali ditemukan mati. Cabai itu seperti kebanyakan tumbuhan yang dibesarkan dalam pot, agak gagap—karena ia tidak banyak belajar hidup di dunia yang kompleks—dan setengah songong. Birla pikir, ia pasti saja sedang bermimpi. Ia tidak menganggap ini mimpi paling buruknya, tapi seumur hidup baru kali ini ia dimarahi bangkai ikan dan sebatang cabai yang pandir.

Semalam aku bermimpi, kata Birla mengira kalau ia sudah bangun dari tidurnya dan sekarang ia berbicara di telepon dengan suaminya pada sebuah pagi di hari libur. Suaminya tidak terlalu menghiraukan cerita Birla dan malah mengatakan kalau ia telah memutuskan mengambil jatah cuti kantor karena akan pergi ke Bangkok bersama teman masa kecilnya yang secara tak sengaja bertemu ketika mereka sama-sama antre membeli makanan siap saji. Birla segera menutup telepon sebab ia mulai tidak senang dengan liburan dadakan yang sering dilakukan suaminya beberapa waktu ini bersama berbagai teman dari masa kecil yang tak ada habis-habisnya, yang hadir satu demi satu seakan mereka makhluk buatan dan sengaja diciptakan lelaki itu. Suaminya yang sedang bekerja di luar kota itu tidak menelepon balik setelah ia menunggu selama sepuluh menit.

Birla masih menunggu. Menunggu beberapa menit lagi. Menunggu hingga satu jam. Ia pikir penting sekali suaminya itu menelepon kembali sebagai bentuk penyesalan karena telah berbuat tidak simpatik terhadapnya dan ia akan mengulang ceritanya dengan lebih detail mengenai mimpi itu. Suaminya juga harus mendengar pengakuan-pengakuan dan rasa penyesalannya karena gegabah telah mengubur seekor ikan dalam pot. Tidakkah itu terasa biadab? Apakah ada orang lain melakukannya? Birla tidak benar-benar bisa berpikir jernih sebab mimpi itu masih menghantuinya. Ia tidak takut sama sekali dengan seekor ikan yang telah mati dalam mimpinya itu. Ia juga tidak takut kepada sebatang cabai yang kurang sehat—daunnya agak keriting dan ditumbuhi jamur bintik-bintik putih—dan berusaha keras menjadi monster. Namun, ia takut dengan rasa aneh yang ditimbulkannya. Ia pernah bermimpi tentang binatang. Biasanya tentang binatang berbadan besar, seperti seekor kuda, sapi, atau harimau. Ia berlari dikejar binatang itu dan terbangun sebelum diseruduk dan napasnya terengah-engah dan merasa kalau ia hampir saja mati. Ia belum pernah bermimpi tentang ikan—terlebih seekor ikan yang mati dengan bagian-bagian tertentu yang mulai membusuk. Kakaknya sering mengaku bermimpi tentang ikan. Kakaknya yang suka memakai celak hitam tebal dari ia berusia belasan tahun. Kakaknya yang berkali-kali bilang, semalam aku bermimpi menjadi seekor ikan lagi. Kakaknya yang tidak pernah membiarkan dirinya ketakutan atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Apa? Kau takut mati saat bermimpi? kata kakaknya terbahak.

Suaminya tidak menelepon balik. Lelaki itu pasti sudah tidur kembali atau sedang menekuri selembar kertas dan mencoret-coret nama tempat yang akan dikunjungi bersama temannya itu. Ia sama sekali tidak tahu soal semua teman masa kecil suaminya. Lelaki itu tidak pernah menceritakan bahwa ia pernah memiliki sejumlah orang yang demikian istimewa sampai-sampai ia sering memutuskan pergi liburan bersama tanpa pikir panjang.

Dalam keheningan yang mulai mencekam, bangkai ikan itu tiba-tiba berbisik di belakang telinga Birla, kenapa kau melakukannya?

Birla belum pernah melihat ikan berenang-renang dalam udara. Birla memaksa dirinya terbangun dari tidur dan keluar dari mimpinya. Ia sungguh tak suka melihat ikan berenang di udara. Sekarang pergilah, aku tak lagi berada di dunia mimpi, kata Birla tanpa nafsu meladeni bangkai ikan itu.

Kau justru belum ke mana-mana, kata bangkai ikan dengan sebelah mata yang sudah copot dan menyisakan rongganya yang kehitaman dan membusuk. Ikan itu menertawakan Birla.

Birla mengucek matanya untuk meyakinkan kalau ia sudah terbangun dan ikan itu hanya mencoba mengelabuinya. Terkadang aku tetap merasa menjadi seekor ikan saat terbangun, sampai berhari-hari malah, kata kakaknya. Namun, ini kasus yang berbeda, pikir Birla. Ia sedang berhadapan dengan seekor ikan yang meyakini kalau mereka masih berada dalam mimpi buruknya. Sebatang cabai mencengir. Ia juga melayang seperti bangkai ikan. Birla mulai ragu. Ia mungkin saja memang masih tidur dan bermimpi. Kalau bisa, meski di dalam mimpi, Birla ingin bicara dengan kakaknya. Ia tidak tahu apa kakaknya bisa membantu. Ia memencet nomor ponsel kakaknya. Ponsel kakaknya mati. Banyak orang tidak mau diganggu pada hari libur. Ia tahu itu. Ia paham sekali pekerjaan kakaknya yang mengharuskan ia pulang pukul empat pagi. Sudah belasan tahun kakaknya bekerja di kelab malam. Pekerjaan yang membuatnya bertengkar dengan orang tua dan ia memilih melepaskan diri.

Apa artinya melepaskan diri? Birla baru memahami artinya seiring dengan kakaknya yang tak pernah pulang lagi dan mereka kehilangan saat-saat seharusnya berada di dapur untuk mencoba resep baru dari sebuah majalah dan tentu saja praktik itu berakhir dengan kegagalan demi kegagalan, mereka lalu tertawa besar-besar, sampai dada rasanya sesak, sampai air mata tidak terasa menggenang begitu saja dan ia berkata, kenapa kau selalu ingin pergi jauh?

Kakaknya menjawab keesokan harinya, kelak kau juga akan sampai pada keinginan-keinginan itu.

Selalu. Kakaknya selalu menjawab tiap pertanyaan penting pada keesokan harinya dan pada saat itu ia sudah tak terlalu menganggap serius apa yang kakaknya katakan karena di kepalanya sudah terisi hal lain, begitu banyak hal lain datang dalam waktu cepat di dunia ini, apakah kakaknya mengerti tentang itu? Tidak. Kakaknya tidak pernah berubah. Ia memang memiliki keteguhan dalam hal-hal tertentu. Termasuk keputusannya untuk pindah ke flatnya sendiri, bukan di kota tempat mereka tinggal, melainkan kota lain, yang lebih besar, lebih bebas, lebih banyak lampunya, dan waktu itu kakaknya masih berusia delapan belas tahun dan memilih pekerja malam yang penuh risiko padahal ia punya kesempatan besar untuk kuliah di kedokteran atau teknik atau hubungan internasional.

Birla melempar ponselnya ke atas meja. Terdengar bunyi gaduh sesaat. Kemudian semua kembali menjadi hening. Dan seekor ikan dengan mata yang membusuk itu berkata, bagaimana bisa kau meminta pertolongan kepada kakakmu yang pemabuk itu? Bangkai ikan itu seketika membesar dan makin besar. Birla menjerit keras-keras dan menjerit lagi, hingga ia benar-benar terbangun dan menemukan anak rambut di keningnya basah keringat. Matahari masuk lewat atap bening di ruang belakang. Birla berdiri dan berjalan sempoyongan menuju gorden. Ia menyibak gorden jendela depan lebar-lebar. Begitu membalikkan badan, Birla melihat seekor ikan louhan yang mati masih berada di dasar akuarium.

Berhentilah menanyakan hal-hal tidak penting, kata suaminya dengan suara mengantuk.

Birla, kau harus banyak latihan biar lebih berani! ujar temannya yang sedang menikmati liburan dadakan—dan Birla tak kan pernah tahu soal itu.

Adiknya tidak bicara apa-apa, tapi mengangkat tangannya yang memegang bangkai seekor tikus.  

Kau tahu, sepanjang hidupku aku selalu bermimpi ingin menjadi seekor ikan, kakaknya berbisik kepada Birla.

 

Suara Tokoh-Tokoh yang Disebut Namanya dalam Cerita Ini

 

Dua hari setelah itu, Birla ditemukan menggantung diri di depan jendela di lantai dua rumahnya. Tubuh Birla tergantung di depan jendela selama tiga jam pada pagi buta itu sampai seorang anak berteriak memanggil ibunya sambil menangis ketakutan karena ia mengaku baru saja melihat hantu dengan kaki melayang tinggi di udara. Birla mati membawa rahasia sesungguhnya kenapa ia bunuh diri. Namun, tokoh-tokoh yang disebut namanya dalam cerita di atas sedikit tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hidup Birla—Birla yang sungguh malang, mati muda dalam keadaan tidak bahagia. Satu per satu mereka ingin menyatakan pandangannya agar pembaca tidak mereka-reka sendiri tanpa dasar yang jelas.

 

  1. Bangkai Ikan Louhan dan Sebatang Cabai yang Pandir

Ikan louhan berkata, Birla itu sangat manis. Rambut lurusnya selalu sebahu. Di rumah, ia paling suka pakai daster tipis warna putih. Waktu gantung diri, ia memakai daster seperti itu. Wajar saja anak yang menemukannya mengira ia hantu. Birla pernah bekerja di sebuah perusahaan. Apa ya namanya. Ah, lupa. Itu Birla sendiri yang bilang. Ia memang sering bicara sendiri kepada kami, sekawanan ikan louhan. Ia sayang sekali kepada ikan-ikan hadiah suaminya. Ia pikir itu tanda cinta. Diam-diam kami tahu apa yang sebenarnya dipikirkan lelaki itu. Ia membeli dan membawa kami pulang agar Birla punya kesibukan. Ia bosan ditelepon terus oleh istrinya. Birla memang rewel, sih. Dikit-dikit telepon. Dikit-dikit nanya ini dan itu. Mengadu begitu dan begini. Semua orang punya masalah di dunia ini. Birla merasa hanya ia yang punya masalah. Pantas saja suaminya selingkuh dengan perempuan lain. Mana ada lelaki yang tahan berlama-lama dengan perempuan seperti itu. Ia butuh selingan. Apalagi masih muda. Punya kerjaan bagus pula. Mana ada suami yang tidak selingkuh. Itu terjadi di mana-mana. Bos yang menjual kami juga punya selingkuhan di kantornya. Ia mencumbu perempuan itu di ruang kerjanya tepat di depan kami. Satu kali ia ketahuan istrinya. Perempuan itu ngamuk dan menghantam akuarium tempat kami hidup dengan sebuah benda tumpul. Dalam keadaan seperti itu, ia menjadi tidak rasional. Ia mengira kami, segerombolan ikan louhan, pemberian si perempuan selingkuhan yang kebetulan memiliki usaha sampingan toko ikan hias. Istri yang cemburu itu berusaha untuk melempar kami ke jalan seekor demi seekor. Untung saja bisa digagalkan suaminya. Besoknya, si suami buru-buru menawari rekannya, suami Birla itu, untuk membawa pergi kami. Bagaimanapun louhan bangsa ikan yang cukup mahal harganya. Sayang sekali kalau kami sampai mati karena insiden yang dipicu cemburu buta. Suami Birla setuju. Kebetulan ia belum punya hadiah untuk ulang tahun Birla. Ia membeli akuarium dan langsung membawa kami pulang. Birla menjerit bahagia begitu ia membuka pintu dan menemukan sebuah akuarium dengan serombongan ikan louhan di dalamnya. Ia melompat ke dalam pelukan lelaki itu. Birla mencium pipi lelaki itu berkali-kali tanpa sadar bahwa sebelumnya bibir perempuan lain meninggalkan bekas lipstik samar di sana. Bisa dibilang, itu hari paling membahagiakan bagi Birla. Ia terus mengingatnya diam-diam sambil memberi kami makan. Namun, satu hari, ia menemukan aku mati. Pada hari itu, aku tidak lagi menjadi louhan yang biasa. Begitu pun dengan cara Birla melihatku. Ia tampak kebingungan. Wajar saja. Ia belum pengalaman menghadapi seekor louhan mati. Apalagi ia seorang vegetarian yang sudah lama tak berurusan dengan segala macam bangkai. Di lemari pendinginnya hanya terdapat sayuran dan buah-buahan. Ia sangat suka makan tomat. Maaf, sepertinya aku tidak fokus. Begini, setelah menyadari ada seekor louhan yang mati, Birla berusaha menghubungi temannya. Ia tidak mendapatkan jawaban yang dibutuhkan. Aku tidak tahu apa temannya mengangkat teleponnya atau tidak. Aku sudah mati. Pada saat itu aku benar-benar bangkai tak berdaya. Jika kemudian aku sedikit tahu apa yang terjadi ketika aku mati, itu kuketahui setelah menjadi hantu. Aku bertanya kepada teman-temanku yang masih hidup. Mereka bersedia menceritakannya. Termasuk soal Birla yang berjalan bolak-balik dari pintu utama ke ruang dapur sambil berkata tidak keruan. Ia seperti tidak sadar. Mungkin juga setengah tidur. Kematianku membuatnya sangat kacau. Terlebih setelah dia melihat kebangkitanku dan sebatang cabai yang ikut menyamar menjadi hantu. Ia ketakutan sekali. Lebih-lebih aku dan sebatang cabai sengaja menakutinya. Kami sebenarnya hanya bermaksud mengerjainya. Memberi hiburan ala film horor. Mungkin karena tidak tahan ia memilih gantung diri. Kematian Birla merupakan salahku dan sebatang cabai.        

Sebatang Cabai langsung berkilah, tidak benar itu, salah besar itu, aku lebih mengenal Birla,  Sebatang cabai, sebatang cabai, hanya kau yang boleh tahu rahasiaku, kalimat itu hanya ditujukan kepadaku seorang, tidak untuk ikan louhan, Birla kan penyayang tumbuhan, bukan binatang, malah sebenarnya ia tidak suka memelihara binatang di rumahnya kalau bukan karena ingin menjaga perasaan lelaki kurang ajar yang sudah menipunya itu, semua lelaki memang sama saja, tidak benar itu bila aku membenci lakinya, salah besar itu, aku menyatakan kebenaran saja, kadang kebenaran memang pahit, Birla tidak biasa menelan rasa pahit, ia memilih sayuran yang rasanya agak manis, tidak pernah pahit, Birla suka buah yang rasanya manis atau sedikit asam, tidak pernah yang kelat, mana tahan Birla makan buah sawo setengah matang, mana tahan Birla makan sayur pare, ia bisa menangis tersedu-sedu bila dipaksa, kalau menangis ia persis anak kecil, lucu sih, hihihi, tapi juga aneh, hihihi, masa perempuan dewasa menangis karena dipaksa makan pare, tunggu, tunggu, siapa ya yang memaksa Birla waktu itu, hmmm, aku ingat, teman baiknya yang bekerja sebagai konsultan kepribadian, ia datang ke rumah ini, mencari Birla, itu sebenarnya biasa saja, ia kan sering datang juga, tapi hari itu setelah mereka bicara agak lama, sebenarnya sih yang banyak bicara temannya itu saja, sementara Birla mendengarkan dan mengangguk-angguk, ia mengajak Birla taruhan, ayo, Bir, berani nggak kamu makan pare, berani nggak kamu keluar dari zona nyamanmu, hidup ini harus fleksibel dong, jangan kaku, jangan takut melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya, jangan takut berpikir tidak biasanya, semua bisa terjadi, Bir, kamu belajar siap dong, mana ada hidup yang sama setiap harinya, betapa bosannya jarum jam bergerak kalau hanya untuk mengulang-ulang sesuatu yang sama, bisa-bisa ia memberontak kepada dunia, ia ngambek, tidak mau lagi berputar seperti benda bodoh seakan tidak punya kerjaan lain, justru karena hidup ini penuh warna, punya kejutan setiap harinya, maka konsep waktu menjadi menarik, ayo, kamu latihan dari hal sederhana, beli sayur pare ke supermarket, telan rasa pahitnya, Bir, bertahan, bertahan, taruhan deh, jika kamu berani melakukannya, hidupmu jauh lebih kuat, bayangkan Birla yang kuat, bukan lagi Birla yang rapuh, kalimat-kalimat teman Birla itu memang telah kuubah sesuai gayaku, yang penting esensi sama saja, tidak mengubah apa-apa, yang penting Birla benar makan pare sore harinya, ia makan sambil memejamkan mata dan tersedu-sedu, kejadian itu persis sebelum ia menemukan seekor louhan mati dalam akuariumnya, sangat mungkin Birla ingin mati karena pare itu, eh maksudku perempuan yang menyarankan ia makan pare itu telah membuatnya frustrasi.     

 

  1. Adik Lelaki yang Memegang Bangkai Tikus

Kakak Birla tersayang, aku mengaku berdosa. Maafkan aku, Kak. Hik hik hik. Aku pernah membuat Kakak sangat takut. Aku tidak bermaksud menakuti Kakak. Aku suka melakukannya. Itu bikin bahagia hatiku. Kakak pasti tahu kalau aku tidak punya teman di rumah. Aku mencari kesenangan sendiri. Hik hik hik. Bangkai tikus itu, aku dapatkan dalam got. Aku pasang perangkap di sana. Dapat satu, Kak. Aku pukul kepalanya dengan batu. Kepalanya berdarah. Aku senang, Kak. Kakak bilang tikus jahat. Dia menggigiti baju Mama dalam lemari. Buku-buku Kakak di gudang juga dibikin bolong-bolong. Aku ingat Kakak menjerit karena salah satu buku itu sangat penting bagi Kakak. Buku hadiah pacar monyet Kakak. Kakak masih kelas dua SMP. Mama melarang pacaran. Untung Kakak punya buku pacar monyet itu. Kakak menyimpannya baik-baik bersama buku lain. Lalu kita renovasi rumah. Buku dan lemarinya diungsikan ke gudang. Itu untuk sementara. Entah kenapa menjadi selamanya. Kakak pun lupa dengan buku itu. Satu hari aku membongkar lemari itu. Dinding belakangnya sudah bolong. Pasti kerjaan tikus. Serpihan buku berserakan. Tikuuus! Awaaas! Aku pun membuat perangkap. Tikus tertangkap. Ternyata itu bikin senang juga, Kak. Aku suka permainan itu. Aku punya ide untuk memperlihatkannya kepada Kak Birla. Tikus dengan kepala yang berdarah-darah.

Kakak Birla, hanya Kakak yang kusayang. Tidak yang lain. Sampai aku berumur 26 sekarang ini (itu Mama yang bilangin, Kak, soal umurku. Aku sendiri kadang ingat, kadang tidak). Aku suka mata Kakak Birla yang bening. Paling bening, Kak. Mata begitu hanya dimiliki orang yang baik hati. Aku pernah membaca sebuah cerita tentang mata. Aku percaya kepada cerita itu. Kak Birla bilang sebuah cerita itu mengandung kebenaran untuk dijadikan pelajaran. Hik hik hik. Gara-gara bangkai tikus itu, mata Kakak tidak lagi bening. Aku melihat mata Kakak menjadi merah. Sering merah. Itu salahku, Kak. Maafkan, Kak. Aku sedih, Kak Birla. Kakak pasti memikirkan soal bangkai tikus itu sepanjang hidup. Kakak pernah mengaku waktu itu. Aku memang dianggap gila oleh Mama, Papa, dan dokter, Kak, tapi aku memahami apa-apa yang Kakak katakan.

Kak Birla tahu kan kalau aku mencintai Kakak? Begini, Kak Birla, Kakak jangan salah sangka, jangan. Waktu Kakak SMA, aku melihat payudara Kakak yang putih, berkilau seperti perak. Aku punya lubang rahasia di pintu kamar mandi. Itu Papa yang buat, Kak. Papa suka melihat Kakak Milan telanjang. Aku tidak suka Kakak Milan. Sebelum aku tidur, hanya payudara Kakak dan mata yang merah selalu terbayang. Bukan begitu, Kak, jangan salah paham. Aku menyayangi Kakak. Jangan salah paham. Hik hik hik.

Kakak Birla sekarang sudah mati. Mama yang bilang. Aku marah, Kak, pada Mama. Mama bohong! kataku. Mana mungkin Kak Birla mati. Kak Birla tidak boleh mati. Payudara Kakak tidak boleh dikubur, berubah menjadi tanah. Payudara Kakak bagus sekali. Jangan salah paham, Kak Birla, jangan. Aku berdosa. Hik hik hik.

Sekarang aku di kamar mandi, Kak. Aku mau menelan semua pil yang diberikan dokter. Untuk apa aku hidup tanpa payudara Kakak. Kak Birla, aku mohon, jangan salah paham. Aku sangat berdosa. Kakak bilang, bangkai tikus itu mengganggu Kakak seumur hidup. Aku salah, Kak. Aku cuma suka payudara Kak Birla. Kumohon, Kak, jangan pernah salah paham.

 

  1. Suami Tidak Setia

Apa yang kau lakukan, Sayangku? Kesedihan macam apa yang kau berikan ini? Kamar ini begitu dingin dan tubuhku menggigil dan hatiku lebih lagi. Saat kau masih ada, kau orang yang akan buru-buru menaikkan suhu AC di kamar dan mendekapku dan berbisik, “Ini kelewatan, Sayang, hatimu bisa beku dan sakit.” Kau benar, Sayangku, soal hati yang beku itu. Sudah lama aku mengidapnya dan tak akan ada obatnya. Kau tidak tahu itu. Bagimu, aku ini matahari. Mana bisa hati matahari menjadi beku. Matahari sangat berguna untuk proses fotosintesis bagi daun-daun tanamanmu di halaman. Kau memujaku karena itu. Apa aku tersanjung? Kenapa tidak. Apa salahnya dianggap sebagai matahari oleh perempuan secantikmu. Apa pun bisa kulakukan, Sayangku, demi membuatmu merasa senang. Namun, jangan sekali-sekali melongok ke dalam jiwaku. Hanya itu yang seharusnya kau lakukan. Bisakah? Aku bertanya untuk pertama kali kepadamu. Orang sepertiku ini hidup dengan sebuah dunia kecil dalam dirinya, Sayangku. Dunia yang tak akan terjangkau pikiranmu yang melulu melihat dunia dengan mata naif.

Pukul berapa sekarang? Aku sudah tidak punya jam di rumah. Aku membuangnya, Sayangku. Mana bisa aku hidup bersama kenangan waktu bersamamu. Aku sudah membuang semuanya di sini. Tirai-tirai, sofa, perabot dapur, pot-pot tanamanmu, pakaianmu yang memenuhi dua lemari besar, tas dan sepatu, dan banyak lagi. Betapa semua itu telah menggerogoti perasaanku. Bila kau bisa bersuara, kau pasti saja setuju denganku, bukan? Kau mencintaiku. Mana mungkin kau bisa membiarkan aku terluka setiap memandangi benda-benda yang mengingatkanku kepadamu.

Aku harus pergi keluar kota lagi hari ini. Uh, aku membenci hidupku, Sayangku. Pukul berapa ini? Aku tak bisa memperkirakan waktu dengan hanya melihat cahaya dari luar. Apalagi sekarang langit sering berawan. Sebenarnya sudah lama langit di atas rumah kita selalu berawan. Kau menyebutnya polusi pabrik. Aku memberikan istilah yang lebih bersahabat: asap tipis yang membumbung ke langit. Kalau boleh jujur, Sayangku, aku tidak mau harus keluar kota terus. Aku tidak suka jauh darimu. Kalau saja dulu aku sering bersamamu dan tidak sibuk dengan pekerjaan, kau pasti masih ada di sini, tidur di sampingku sambil memelukku. Sekarang kau tak ada. Tak akan pernah ada lagi.

Apakah kau masih ingin memiliki rumah di pinggir pantai, Sayangku? Rumah kecil dari kayu tua. Kau hanya akan memiliki rak buku dan tempat tidur di dalamnya. “Bagaimana kalau aku membawa satu pot cabai dari sini?” tanyamu. “Kenapa tidak,” kataku. Kau cukup menyayangi satu pot cabai yang penyakitan itu. Bagiku itu tidak penting. Terserah kau saja. Apalagi sekarang kita tidak akan pernah memiliki rumah di pantai. Kau sudah memilih mati, Sayangku. Apa yang kau pikirkan saat meletakkan tali yang telah kau buhul dengan baik ke lehermu? Bagaimana kau merancang bunuh dirimu itu? Aku sulit menerima kau bisa melakukannya, Sayangku. Tidak mungkin Birla-ku dapat melakukan itu. Tidak kan, Sayang? Tidak benar kalau kau telah mati.

Bagaimana boleh kau mati secepat itu. Pagi itu kau meneleponku. Aku lupa apa yang kukatakan kepadamu. Aku ngantuk sekali. Aku pun tidak ingat apa yang kau bicarakan. Tidak mungkin tentang kesedihan kan, Sayangku? Kau tidak boleh sedih dalam hidupmu. Kau yang berjanji kepadaku. Kalau kau sedih sekali saja, aku boleh berhenti mencintaimu. Aku senang kau menepati janjimu. Pada tahun pertama pernikahan, kita masih sering bertengkar. Pasangan muda biasa melakukannya. Kau cemburuan. Aku memakluminya. Kita masih baru. Kepalamu dipenuhi cinta yang obsesif. Aku pun tidak masalah ketika kau memutuskan resign. Kau mau program punya bayi. Itu terdengar menyenangkan, meski sebenarnya aku kurang suka anak-anak.

Sayangku, percayakah kau kepada cintaku? Aku tidak betul-betul menyadari banyak yang berubah dariku menjelang kematianmu. Baru kini aku memikirkannya. Aku terlalu banyak mengambil liburan tanpa mengajakmu satu kali pun. Pelan-pelan, aku mulai jarang meneleponmu bila aku berada di luar kota. Tetapi, kau tetaplah Birla-ku yang sama. Kau tidak berubah menjadi sosok lain. Paling-paling kau makin menjadi perempuan rumahan. Bukannya aku tak suka, tapi itu membuat pipimu tambah pucat seperti tak memiliki darah. Kecantikan itu, Sayangku, bersumber dari darah yang mengalir di urat-urat halus dan tampak samar. Aku tak bilang bahwa kau tidak cantik lagi. Cuma kau sengaja membiarkan bagian demi bagian dalam dirimu layu.

Kau tidak marah kan, Sayangku? Aku sebenarnya tidak tahu mau bicara apa. Kematianmu mendadak sekali dan aku harus menyatakan sesuatu biar aku tidak terlihat pengecut. Suaraku penting sekali dalam kasus ini agar aku nanti lepas dari segala tudingan tidak benar. Aku ini suami yang baik. Kau tahu itu, kan? Kalau sesekali aku menipumu, itu wajar. Semua suami memang begitu. Bedanya, kau tak membalasku sebagaimana istri-istri melakukan hal sama kepada suami mereka.

Apakah aku bahagia? Tidak, Sayangku, aku menderita. Kenapa kau mati sebelum membalasku? Lihatlah aku sekarang, terbaring di tempat tidur, tanpa ingin apa-apa, tanpa tahu kini telah pukul berapa. Lihatlah aku, Birla-ku, di luar mungkin bunga-bungamu yang belum sempat kutebangi telah berkembang dan banyak kumbang mengitarinya. Bila kau masih ada, kau akan membangunkanku untuk melihatnya bersama-sama dan kau bersorak, “Indahnya, indahnya.” Namun, di sini aku tak ingin apa-apa tanpamu. Lihatlah aku, Birla.    

                

  1. Teman Baik atau Si Pendengar Setia

Ia tidak mendengarkan nasihat-nasihat saya. Saya sudah katakan untuk belajar tenang. Saya mengulang-ulang kalimat yang sama nyaris setiap hari. Saya melakukannya supaya ia mengerti bahwa yang ia hadapi dirinya sendiri, bukan bayangan-bayangan. Saya ajari ia untuk menata diri. Saya ingatkan jangan percaya halusinasi. Hadapi saja apa yang nyata, bukan yang tak ada.

Saya tahu persis, Bi itu takut mati. Terluka sedikit saja, ia bisa-bisanya histeris. Ia meringkuk di tempat tidur sambil memeluk jarinya yang terluka. Badannya menggigil. Ia pikir malaikat maut segera menjemputnya. “Itu cuma luka kecil.” Saya menasihatinya. Tidak ada yang dapat saya lakukan selain memberi tahu kebenaran kepadanya. Tidak peduli meski ia terus menyangkal.

Bi nyaris hidup dalam delusi-delusinya. Saya sebenarnya capek menghadapinya. Sayangnya, saya tidak bisa mengabaikannya. Ia sahabat saya. Ia percaya kepada saya. Ia memandang saya sebagai teman yang sempurna baginya. Saya yang tanpa pamrih. Saya yang akan buru-buru pulang dari apartemen pacar saya begitu ia menelepon, memberi tahu kalau ia ketakutan karena hujan deras tak henti-henti turun. “Bi, apa salahnya dengan hujan?” tanya saya hati-hati begitu sampai di kamar flat yang kami sewa berdua. “Bagaimana kalau banjir?” Ia mencoba menyangkal kalau apa yang dilakukannya itu mendekati keterlaluan kepada saya. Saya sedang bersama pacar saya yang sedang ulang tahun. Harusnya saya tidak pulang di bawah guyuran hujan lebat. “Baiklah, kalaupun banjir, airnya tidak mungkin mencapai lantai empat.” Ia meralat sendiri kebodohannya. Saya tidak mendesaknya dengan bertanya, “Lalu apa?” Saya orang yang dianggapnya paling memahaminya. Saya sudah menerima predikat itu sejak kami sepakat menyewa flat bersama. “Belajarlah berpikir tenang, Bi.” Itu yang berkali-kali saya katakan. Bila saya berkata dengan kalimat itu, ia terdiam lama. Seolah berusaha untuk menyerap tiap kata dalam kalimat itu. Saya pikir pada akhirnya ia akan berubah. Saya salah. Ia tidak pernah mencoba untuk berubah. Saya pun menerimanya. Ia yang utuh dengan dua sisinya.

Bagaimanapun saya menikmati cara ia memercayai saya. Darinya saya belajar percaya diri berhadapan dengan klien-klien saya. Saya belajar menjadi pendengar yang sabar. Saya mudah menerima bila berhadapan dengan klien yang ngeyelan. Semua itu tidak masalah. Asal mereka tetap kembali dan percaya kepada saya. Saya yang sempurna. Saya yang menyembunyikan rapat-rapat rasa lelah. Ia tidak boleh tahu betapa saya tak dapat memejamkan mata bermalam-malam. Saya yang pagi-pagi diserang perasaan hampa. Saya yang sesungguhnya tidak sempurna. Saya yang ingin merebut apa-apa yang dimiliki orang lain. Saya ingin punya hatinya yang polos. Dengan hati begitu saya tak perlu berpura-pura. Saya lelah. Saya tak bisa mengaku kepadanya kalau saya bisa lelah. Saya iri kepadanya. Ini tidak masuk akal. Saya iri kepada orang yang selalu mengeluh, terus merasa punya masalah.

Satu malam, saya nekat menelepon suaminya. Saya mau merasakan tidur dengan lelaki yang menjadi sumber keresahannya. Saya tidak jatuh cinta. Itu jelas berbeda. Selanjutnya saya dan lelaki itu merencanakan libur berdua. Saya bahagia. Saya juga menderita. Saya menerima panggilan teleponnya berkali-kali di rentang antara saya memulai kegilaan itu dan hampir mengakhirinya.

Saya mendengar berita bunuh dirinya di sebuah link salah satu media daring persis ketika saya berkemas untuk siap-siap pergi liburan bersama lelaki itu dan setelahnya saya bermaksud mengakhiri semuanya. Sampai sekarang saya tidak percaya ia melakukannya. Ia sangat takut mati. Apakah saya yang bersalah dalam kasus ini? Saya yang membiarkan ia melawan delusinya sendirian karena saat itu saya terlalu sibuk berencana pergi liburan.

Teman yang sempurna macam apa saya ini? Dunia memang penuh kebohongan.  

 

  1. Seorang Kakak Penyuka Dunia Malam

Akhirnya dia yang duluan bunuh diri. Siapa menyangka. Sebuah telepon mengabarkan kejadian itu. Panggilan telepon yang nyaris terabaikan pada pagi hari. Padahal, dia yang paling sempurna. Seorang putri. Lembut dan baik. Sehat dan segar. Ia yang dikelilingi warna terang. Kesukaannya pasangan hijau dan merah.

            Sebagai seorang putri, dia terobsesi memahkotai kepalanya. Orang-orang menunduk di hadapan mahkota itu. Menunjukkan kekaguman. Dia tidak henti-henti tersenyum. Kepada seluruh dunia. Tangannya dia angkat untuk melambai. Gaun putih berhias batu mulia membuat tubuhnya berkilauan. Putri Birla! Sebuah suara menyanjungnya. Putri Birla! Suara yang lain. Namanya bergema. Lalu ia tersentak di kamar yang sunyi. Ia berkata, “Aku mengkhayal lagi.” Dia menceritakan khayalannya yang berulang-ulang itu.

“Kau pernah berkhayal menjadi apa?” tanyanya. Ia tidak terbiasa memanggil orang dengan selain kata “kau”. Terkecuali Mama dan Papa. Atau guru di sekolah.

“Menjadi ikan.”

Lama ia terpana. Matanya yang lebih banyak warna hitam ketimbang putih menatap lekat kepada kuku-kuku jarinya. Ia bimbang. Atau bingung.

“K-kau berenang di dalam air?” tanyanya ragu-ragu.

“Ya.”

“Kau bisa bernapas?”

“Bisa.”

“Tanpa insang?”

“Tanpa insang.”

“Bagaimana rasanya?”

“Biasa saja.”

Duduk di bangku SMP, dia tidak lagi berkhayal menjadi seorang putri. Itu mimpi masa kanak-kanak. Ia berlagak sudah dewasa. Warna kesukaannya tetap pasangan hijau dan merah. Ia mengkritik warna hitam. Celak dan pewarna bibir.

“Kau seperti anak nakal. Masa baru SMA sudah pakai warna begituan.”

“Memang iya.”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Suka saja.”

“Kau masih berkhayal menjadi ikan?”

“Masih. Malah sekarang sering masuk dalam mimpi.”

“Pasti susah napasnya.”

“Tidak.”

“Kau tidak mungkin bernapas tanpa insang di dalam air.”

“Bisa kalau dalam mimpi.”

“Oh ya ya. Mmm, jangan lagi pakai celak dan lipstik warna hitam. Jelek.”

“Peduli amat.”

“Kau sengaja bikin Mama cemas. Itu tidak baik. Kasihan Mama. Kita harus jadi anak yang manis.”

“Kau saja jadi anak manis.”

“Aku cocok jadi Ibu Peri.” Dia tertawa.  Bahunya sedikit terangkat.

“Selamat menjadi Ibu Peri.”

Dia tambah senang.

Akan tetapi, suatu petang, dia telungkup di tempat tidur. Buru-buru dia mengelap matanya. Bibirnya secara otomatis tersenyum. Di rumah, semua orang terlihat kacau, tapi dia tidak. Papa sinting, aku sinting, Pigo sinting, Mama setengah sinting, sedangkan dia tidak. Dia benteng terakhir keluarga. Dia yang tidak terkontaminasi. Dia yang baik. Dia yang lembut. Sehat. Segar. Penyuka warna hijau dan merah.

“Mataku kemasukan debu.” Itu cara berbohong paling umum. “Semua baik saja.” Itu yang lebih umum lagi.

“Ada sesuatu yang kamu tutupi, Ibu Peri?”

Dia memukuliku pakai bantal sambil tertawa sekaligus menangis. Hari itu, aku merasa ia kembali menjadi adikku. Kami pelukan dan ia kubiarkan menangis di pundakku. Ia menceritakan kelakuan Pigo yang menakutinya pakai bangkai seekor tikus dengan darah yang masih menetes-netes. Aku pukul Pigo. Anak itu meraung-raung. Ia semakin sinting saja.

“Kak Milan, jangan sakiti Pigo,” katanya untuk pertama kali memanggilku dengan sebutan “Kak Milan”.

            Setelah hari itu, kami berusaha membayar semuanya, meski tidak benar-benar sesuai harapan, hingga aku mendapat kabar kematiannya yang menyadarkan aku bahwa sebenarnya aku tak tahu apa-apa tentangnya. Selamat jalan, Ibu Peri. Di sini, malam akan semakin panjang dan hitam.  Di sini, siapa pun tak tahu apa yang akan terjadi esok hari.  

     

Sekadar Tambahan atau Sebuah Penutup

Demikianlah suara dari tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita. Namun, sebenarnya ada tokoh kunci yang berhubungan langsung dengan kematian Birla yang tidak masuk dalam cerita itu dan bila saja ia diberikan kesempatan maka ia akan bicara begini: dini hari itu aku melihat seorang perempuan tampak berantakan mondar-mandir di teras rumahnya. Aku tak pernah bisa membiarkan perempuan berada dalam penderitaan. Itu bertentangan dengan moralitas yang kuyakini. Aku membuka pintu pagar rumahnya yang tidak dikunci. Sungguh itu sebuah tindakan yang amat ceroboh di kota sebesar ini. “Ikan louhan mati,” katanya begitu menyadari kehadiranku. Tidak kusangka ia sangat ramah dan seterbuka itu kepada orang yang tidak dikenalnya. Tidak hanya itu, aku bahkan dibiarkannya masuk ke dalam rumah bersamanya. Aku melihat akuarium dan segerombolan ikan louhan di dalamnya. Tidak ada ikan louhan yang mati di sana. “Ini, ikan louhannya berenang di udara.” Ia menunjuk ke satu titik. “Ia bersama sebatang cabai.” Aku mengerti keadaan yang sesungguhnya. Perempuan itu akan segera menjadi gila bila kubiarkan saja. Menurut moralitas yang kuyakini, aku harus menyelamatkannya. Kubawa ia ke lantai atas. Aku sungguh menyukai daster tipis yang ia kenakan. Tanganku menempel ke punggung perempuan itu dan merasakan kulitnya yang dingin. “Tenang, aku bersamamu,” kataku agar ia tidak melakukan tindakan yang membahayakan kami. Ia pun sangat tenang. Seolah-olah memang kedatangan akulah yang ditunggunya di teras tadi. Di lantai atas, aku mengajaknya untuk rebah bersama di karpet. Aku tak perlu melucuti dasternya sebab seluruh tubuhnya bisa kulihat dengan jelas. Aku hanya perlu memasukkan tangan atau menyingkap dasternya saat aku mengajaknya bermain impit-impitan. Ia senang bukan main. Aku berani bertaruh, ia belum pernah mendapatkan kesenangan seperti yang kuberikan itu dalam hidupnya. Ia telah lupa sama sekali soal louhan yang mati. Ia kini sepenuhnya di tanganku.

            Setelah kami lelah bermain aku berbisik kepadanya untuk segera menyiapkan tali. Kukatakan bila ia tak segera melakukannya maka ia akan kehilangan seluruh kebahagiaan yang baru saja ia rasakan. Ia menurut. Tak sulit memang memengaruhi perempuan yang memiliki hati berantakan. Tak lama ia sudah mendapatkan tali itu di gudang rumahnya. Aku memasangnya di depan jendela. Ia tertawa saat aku mengatakan untuk segera memasukkan lehernya ke dalam buhul yang sudah aku buat. Ia masih tertawa saat tubuhnya tergantung di tali itu dan kakinya berkelenjotan. Semua berjalan dengan cepat. Aku sudah sangat ahli di bidang ini. Semua berjalan dengan sangat sempurna, tanpa jejakku, tanpa aromaku, sebab aku adalah sesuatu yang sebenarnya tak ada.

 

Rumah Kinoli, 2017

Yetti A.KA

Yetti A.KA

tinggal di kota Padang, Sumatera Barat.
Yetti A.KA

Latest posts by Yetti A.KA (see all)