“Senandung Semenanjung” dan Kritik Sosial di Dalamnya

in Esai by
artpeoplegallery.com

Bila sastra tidak ada isi, masa depan suatu bangsa tak kan ada artinya,

kalau sastrawan diam, peradaban akan tenggelam.

(Wisran Hadi, dalam “Senandung Semenanjung”)

 

Apa yang muncul dalam pikiran pembaca jika mendengar nama Wisran Hadi? Mungkin beberapa kata akan muncul seperti dramawan, pelukis, sastrawan, dan budayawan. Mungkin saja semua kata itu benar adanya karena semasa hidupnya, Pak Wis (Begitu ia sering disapa) memang bergelut dengan dunia drama, seni lukis, karya sastra dan budaya khususnya budaya Minangkabau. Tapi bagi sebagian orang, termasuk saya, mendengar nama Wisran Hadi yang muncul dalam pikiran saya tentang dia adalah “tukang kritik”.

Ya, Pak Wis adalah tukang kritik yang pedas terkait sastra dan budaya menurut saya. Bahkan karya-karyanya banyak berisikan kritikan. Salah satu karya penulis Novel Orang-Orang Belanti itu adalah “Senandung Semenanjung”. “Senandung Semenanjung” merupakan salah satu naskah drama yang mencoba mengungkapkan kegelisahan seorang Wisran Hadi pada kondisi sosial masyarakat Indonesia. Dalam naskah drama ini, Pak Wis mencoba mengkritik berbagai kondisi sosial yang dianggap “sakit”. Pak Wis yang terkenal sebagai “tukang kritik” dari Minangkabau ini menggugat kondisi pemerintahan, agama, seni sastra, militer, dan adat.

Dalam naskah drama “Senandung Semenanjung”, Pak Wis menggambarkan sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh raja yang tidak tegas. Dalam mengambil keputusan atau kebijakan pemerintahan, Raja selalu dicampuri oleh orang-orang yang ingin memperoleh keuntungan dari keadaan yang terjadi. Pak Wis dalam naskah drama ini mengadakan tindakan-tindakan radikal dalam memperbaiki keadaan yang telah “sakit” tersebut, salah satunya dengan kudeta.

Sungguh pun demikian, Pak Wis menegaskan dalam karyanya bahwa tindakan yang radikal adalah bagian dari kepeduliannya terhadap bangsa sendiri. Pernyataan ini ia titipkan ke dalam dialog tokoh Hang Jebat dalam drama “Senandung Semenanjung” itu. “Aku hanya ingin memakai istana ini sesaat guna menyelamatkan raja dari lilitan ular berbisa. Aku tidak ingin menghancurkan kerajaan apalagi bangsa kita sendiri”.

Tentang agama, Pak Wis mencoba mengungkapkan bahwa segala persoalan yang tengah dihadapi tidak dapat diselesaikan hanya dengan berdoa. Tak ada guna meratapi nasib pada Tuhan tanpa melakukan tindakan apa-apa. Menurut Pak Wis, yang diharapkan adalah doa-doa yang dimunajatkan itu diiringi dengan usaha sekuat tenaga. Pak Wis juga mengajarkan bahwa segala tindakan yang dilakukan jangan menghalalkan segala cara.

Lebih jauh jika dibaca, naskah ini menceritakan bahwa Hang Jebat memiliki keinginan untuk mengubah keadaan di kerajaan. Ternyata tindakan yang dilakukannya bertentangan dengan norma-norma yang telah mereka sepakati. Cara yang dilakukannya untuk mencapai tujuan mulia adalah dengan cara yang salah; kudeta, selingkuh dengan Inang Istana, dan menghabiskan uang perbendaharaan negara.

!

Cara Hang Jebat ini yang mungkin ditiru oleh banyak orang Indonesia sekarang. Katanya memperbaiki sastra, justru menghancurkan dunia sastra itu sendiri. Katanya memperbaiki negara, tetapi dengan cara korupsi. Kabarnya memperbaiki moral bangsa, tapi dengan cara perselingkuhan dan persetubuhan tidak resmi.

Berdasarkan teks naskah drama “Senandung Semenanjung” Pak Wis menceritakan Hang Jebat berselingkuh dengan Inang Istana, bermewah-mewah dengan apa yang telah didapatkannya. Berdasarkan naskah itu pula pembaca dapat melihat kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini dalam pemerintahan. Banyak orang yang sebenarnya ingin berbuat baik untuk rakyat, tapi maksud tersebut tidak sejalan dengan cara yang dilakukan. Menghalalkan segala cara untuk mencapai cita-cita mulia; bermuka dua, menjilat penguasa dan cara-cara kotor lainnya.

Tentang seni sastra, naskah drama “Senandung Semenanjung” ini mempertegas bahwa seni tercipta untuk masyarakat luas. Sastra sebagai bagian tak terpisahkan  dari seni secara jelas dan tegas diungkapkan dalam naskah drama ini sebagai berikut. “Kau sia-siakan seni sastramu. Kau rusak hakekatnya kau ingin mendapatkan upah yang banyak, Dikungsa. Lewat sastramulah orang lain akan dapat memahami diri sendiri. Sebagai sastrawan kita tidak boleh rendah diri. Memuji orang silahkan saja, tetapi jangan merendahkan diri sendiri. Kau tahu, itulah sebabnya kurebut istana ini agar para sastrawan tidak hanya memuji-muji, tetapi berani mencabik-cabik dirinya, kemudian dimaknainya, lalu dihidangkannya kepada orang ramai. Sastra kau adalah cerminan hidupmu. Sastrawan Melayu jangan menjadi sastarwan lilin! Kau terangi orang lain, tapi dirimu sendiri hancur. Ajaran lilin bukanlah anutan sastrawan Melayu.”

Setelah dialog tersebut di atas, ada banyak dialog  yang sangat menekankan tentang esensi sastra itu sendiri. “Ingat Dikungsa, bila sastra tidak ada isi masa depan suatu bangsa tak kan ada artinya, kalau sastrawan diam, peradaban akan tenggelam.” Banyak hal yang disampaikan Pak Wis tentang sastra. Pernyataan-pernyataan itu lahir akibat kekhawatirannya sebagai seorang sastrawan terhadap karya sastra yang telah banyak disalahgunakan.

Sementara itu kritikan Pak Wis terhadap militer dalam “Senandung Semenanjung”, ia menekankan bahwa militer memiliki peran penting dalam suatu pemerintahan. Dalam drama itu Pak Wis menggunakan keris sebagai lambang dari kekuatan pertahanan raja. Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi karena militer itu sendiri memiliki peran besar dalam mengawal jalannya pemerintahan.

Naskah drama “Senandung Semenanjung” ini menceritakan sering kali seorang penguasa bertahan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Terlihat dalam naskah drama ini bagaimana Hang Jebat mengusir para pemberontak dengan payung kuning yang secara simbolik juga menjelaskan tentang kekuasaan.

Naskah drama ini juga menggambarkan adat Melayu yang telah terjajah oleh kebudayaan asing. Sistem militer yang meniru kepada Benua Rum, segala kebutuhan didominasi oleh produk-produk Tiongkok dan Jepang, bahkan dapat juga dilihat gadis-gadis Melayu telah menjiplak habis-habisan budaya luar tanpa memfilternya terlebih dahulu. Padahal dalam praktiknya sehari-hari budaya luar itu cenderung bertentangan dengan budaya leluhur mereka sendiri.

Dalam naskah drama ini dapat dilihat munculnya karakter penulisnya. “Senandung Semenanjung” adalah representasi dari Pak Wis sendiri yang kritis, berani mengkritik berbagai kondisi yang terjadi dalam masyarakat. Dalam menyampaikan kritikan-kritikannya Pak Wis sering kali menggunakan permainan kata-kata. Begitu juga dalam naskah drama “Senandung Semenanjung” ini.

Tentang permainan kata-kata Pak Wis yang pedas ini dapat dilihat pada salah satu bagian cerita. Pak Wis menuliskan bahwa tarian masa kini adalah Tarian Serampangan yang merujuk pada Tari Serampang Dua Belas. Permainan kata-kata ini terkesan mencemooh tradisi masa lalu, gaya bahasa seperti ini merupakan gaya bahasa khas yang dimiliki Pak Wis dan jarang digunakan penulis-penulis lain.

Pak Wis dalam menyampaikan kritik sosial menunggangi tokoh-tokoh dalam karyanya untuk menyampaikan pemikiran-pemikirannya. Secara keseluruhan dapat dilihat dalam dialog tokoh-tokoh Hang Tuah, Hang Jebat, atau Tokoh Datuk Bendahara dalam naskah drama “Senandung Semenanjung” ini. Hal tersebut tentu bukan hal baru, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa kata-kata yang dituliskan seorang penulis dalam karyanya lahir berdasarkan latar

Secara umum, Pak Wis ingin pembaca/penonton mencintai budaya sendiri. Karena dari budaya-budaya itulah orang lain menghargai sebuah bangsa yang bermartabat tinggi. Orang tak akan berani melecehkan sebuah bangsa jika masyarakatnya tetap memegang teguh tradisi. Mengapa harus malu untuk menampilkan budaya yang dimiliki, karena sesungguhnya orang luar pun kagum akan budaya tersebut.

Naskah drama “Senandung Semenanjung” ini adalah cara sastra membangun bangsa, drama ini bentuk kepedulian sastrawan kepada bangsanya. Bukan hanya kepedulian terhadap dunia sastra sendiri, tetapi juga pada aspek lain. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya sastra mencakup dunia yang luas dari berbagai aspek kehidupan masyarakat.

 

Jakarta, Februari 2018

Azwar Sutan Malaka

Penulis berdarah Minang ini kini menetap di Tangerang Selatan, Banten. Salah satu bukunya Membaca Sastra Membaca Dunia terbit tahun 2016 yang lalu.

Latest posts by Azwar Sutan Malaka (see all)