Senjakala Panji-Panji Amerika Serikat

in Celoteh by

America-Falling

Tempo hari, khalayak pasar Indonesia gempar dengan dirilisnya keputusan resmi Ford Indonesia untuk menutup semua aktivitas bisnisnya di paruh kedua tahun 2016 ini. Ada apa dengan perusahaan multinasional yang menyimbolkan panji-panji kejayaan Amerika Serikat itu?

Patut digagas bahwa senjakala panji-panji kedigdayaan politik dan ekonomi Amerika Serikat benar-benar tak lagi tertampikkan gelayutannya. Secara politik, umpama, simbol agungnya bernama demokrasi—meski genealoginya diadopsi dari Athena—semakin gencar dikritik dan bahkan ditolak. Dari luar dan dalam negeri. Kita bisa mengerek nama Noam Chomsky, filsuf lingustik generatif, yang getol benar mengkritik kebijakan-kebijakan Washington, seperti terlihat dalam buku Hegemony of Survival dan How the World Works?. Lalu kritik tajam William Blum melalui Demokrasi: Ekspor Amerika Paling Mematikan dan riset brilian Fareed Zakaria, The Post-American World, yang ironisnya bertengger di tangga atas The New York Times Betseller.

Apa yang salah dengan demokrasi yang diekspor oleh Amerika ke seluruh penjuru dunia atas nama panji-panji kemanusiaan mahaluhur?

Mari tengok kembali risalah demokrasi di Athena. Nalar orang Athena menyudut pada dua hal: kebenaran dan keindahan. Risalah kebenaran dinarasikan dengan semaraknya argumentasi-argumentasi spekulatif. Darinya lahir pemikiran-pemikiran filosofis. Risalah keindahan dirayakan lewat karya-karya sastra dan teater. Festival Dionisos sangat rutin dipanggungkan, entah kisah komedi maupun tragedi.

Orang Athena meyakini betul bahwa diskusi-diskusi kebenaran dan panggung-panggung keindahan hanya akan terpelihara bila kebebasan digaransi. Prinsip ini menyebar kuat ke seluruh sendi khalayak—berbeda benar dengan tetangganya, Sparta, yang gemar olah fisik dan perang—termasuk politik. Semua orang berhak beropini seputar segala kebijakan publik yang digelar terbuka dan diwujudkan dalam wakil-wakil Dewan. Begitulah demokrasi di tanah asalnya.

Kita yang menggugu demokrasi dari khutbah Abraham Lincoln, harus mengakui, betapa kita sekadar mewarisi khutbah wangi “dari rakyat oleh rakyat, dan untuk rakyat”, tetapi lalai pada sikap kritis-kolektif rakyat Athena pada siapa pun, termasuk bangsawan dan prajurit, yang terlalu kuat dan dominan. Kekuatan yang terlalu dominan harus diluruhkan, karena rentan jadi tirani. Demikian spiritnya. Tak peduli sehebat apa pun jasa Miltiades dan Temistokles, mereka diusir dari bumi Athena demi menyumbat “bibit tirani” itu.

Di sinilah titik pokok kesalahan terbesar kita. Semua kita terlalu lama membiarkan Amerika dominan pasca-Perang Dunia II. Runtuhnya Jerman dan Jepang, lalu ambruknya Uni Soviet, menjadi berkah sejarah bagi Amerika dalam menegakkan berhala monolitisme dunia—tentu dengan merangkul negara-negara karibnya, dari Inggris, Prancis, Arab Saudi, Korea Selatan, hingga Singapura.

Untuk mewangikan kibaran panji-panji dominasinya, ditahbiskanlah demokrasi beserta seluruh anak-turunnya macam HAM, egalitarianisme, dan pasar bebas ke pelosok-pelosok dunia. Tentu, berpola tebang pilih. Yang kawan dilanggengkan sekalipun tiran, yang lawan dihempaskan sekalipun demokratis. Jika taktik demokrasi ini gagal, Pentagon dengan murah hati mengirimkan jet-jet tempurnya. PBB tak ketinggalan menashihnya. Sungguh lengkap segala sumber daya yang dibutuhkan untuk menjadi “Tuhan dunia”.

Jika orang Athena menggagas demokrasi demi menjamin kebebasan—logikanya, keragaman sistem pemerintahan harus dihargai—dan memanggungkan kemanusiaan, ekspor demokrasi Amerika adalah pure ekspansi kepentingan-kepentingan nasionalnya di negeri-negeri orang. Begitulah perbedaan spirit dan hakikat demokrasi yang dipuja Athena dan didramakan Amerika.

Untuk menyegarkan ingatan, mari sitir segelintir aksi “demokratisasi” khas Amerika, seperti Nikaragua, Somalia, Amerika Tengah, Vietnam, Korea Utara, dan Irak. Di tengah kemelut politik Somalia, misal, Amerika menyalurkan bantuan-batuan kemanusiaan. George Bush berkhutbah di panggung dunia bahwa aksi-aksi kemanusiaan itu mendesak dilakukan untuk menyelamatkan tragedi kemanusiaan di Somalia. Tetapi, di kota Baidoa, banyak sekali reporter Amerika yang menjumpai perwira-perwira marinir Amerika berpakaian sipil sedang berkeliling menimang-nimang lokasi markas baru militernya. Tiga puluh ribu tentara Amerika disiagakan di Somalia, yang tentu saja dihasratkan untuk memuluskan kepentingan mendominasi wilayah itu.

Rezim legal Saddam Husein di Irak lebih buruk lagi nasibnya. Atas dalil kontra terorisme, menyelamatkan dunia dari ancaman senjata nuklir, dan menghadiahi demokrasi kepada rakyat Irak, George W. Bush membombardir negeri Seribu Satu Malam itu. Irak yang kaya artefak kuno lumur berpuing-puing. Dan, seperti pula di Somalia, demokrasi Amerika yang telah mengisap kedamaian hidup tak pernah benar-benar tegak di Irak, sementara kehancuran dan pertikaian terus berkecambah. Barack Obama lalu perlahan menarik pasukannya dari medan perang yang diciptakan pendahulunya. Sekali lagi, atas nama perdamaian dan kemanusiaan.

Lalu Suriah—setelah Mesir dan Libya dikoyak dengan senarai politik Arab Springs. Presiden Bassar Assad cukup mujur berkat kuatnya sokongan Rusia dan Iran—juga Tiongkok secara diam-diam. Suriah yang terkenal dengan panorama klasik di malam hari kini dibanjiri puing-puing yang sangat memilukan.

Kekuatan ekonomi dan militer Amerika yang keterlaluan superiornya telah mencetak petaka-petaka kemanusiaan di muka bumi ini—kini kita mengerti alasan rakyat Athena mewaspadai kekuatan yang terlalu besar. Kita tak akan pernah tahu apa gerangan yang sedang direncanakan Amerika kepada Korea Utara, misal. Kita telah melihat reaksi pamer kekuatan militer Pentagon kepada Kim Jong-un setelah melakukan uji coba bom hidrogen dengan menggelar latihan militer berskala besar bersama Korea Selatan yang notabene merupakan musuh bebuyutan Korea Utara. Kita sungguh takkan bisa menerka kenekatan macam apa yang mampu diambil Kim Jong-un bersama rudal-rudal berhulu ledak nuklirnya bila reaksi provokatif militer Amerika sanggup mengenyahkan nalar warasnya. Kita tentu tak bermimpi hal buruk meletus dari eskalasi mengerikan itu, tetapi terbuka saja kemungkinan sejarah bumi ini tersudahi melalui tangan Kim Jong-un.

Segala tragedi politik dan kemanusiaan ini benderang sekali dipantik oleh terlalu dominannya Amerika. Bagaimanapun caranya, sangat mendesak bagi dunia ini untuk segera memiliki kekuatan lain yang mampu melakukan pengimbangan, interupsi, dan pengedanlian kepada berahi-berahi Amerika.

Situasi menuju ke sana memang takkan pernah sederhana—sebab Amerika takkan lantas ambruk dari panggung utama perpolitikan dan perkonomian. Tetapi ada secuil kabar gembira dari riset Fareed Zakaria (2012) terkait pergeseran peta kekuatan politik dan ekonomi dunia yang tidak lagi monolitik. Simpul-simpul kekuatan ekonomi, teknologi, dan militer kini telah mencair, tersebar ke berbagai wilayah. Ada Rusia, Tiongkok, India, Turki, Brasil, dan Uni Emirat Arab yang berhasil mencetak lampauan-lampauan antidot di hadapan Amerika.

Cukup banyak bukti yang bisa ditunjukkan. Sokongan pelatihan militer dari Amerika dan senjata-senjatanya kepada oposan Suriah tak kunjung berhasil menjatuhkan tahta Bassar Assad. Embargo Amerika dan sekutunya kepada Iran, Rusia, dan Korea Utara juga tak kunjung membuahkan kebangkrutan dan kelemahan yang ditargetkan. Rusia bahkan semakin solid saja menggawangi “koalisi politik baru” yang terbuka besar melahirkan “Uni Soviet Baru”.

Tentu Amerika takkan tinggal diam. Tetapi, senjakala yang semakin menggelayut itu tak pernah bisa disembunyikan lagi. Sekeras apa pun Amerika merajuk, demokrasi takkan mudah ditabiki lagi. Risalah kekecewaan, kemuakan, kebencian, dendam, dan sakit hati yang berdekade-dekade dikibarkan panji-panji kepalsuan demokrasi Amerika di kampung-kampung orang takkan lagi mampu membuai ingatan sejarah bahwa teramat sering Amerika menjadi sumber petaka kemanusiaan dan perdamaian yang sesungguhnya.

Jogja, 26 Januari 2016

Edi AH Iyubenu

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang rada gimana gitu. Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.
Edi AH Iyubenu
  • Puri Bakthawar

    tulisan yang apik dari mas edi akiles. jadi kepikiran, di saat kekuatan ekonomi dan politik amrik menuju kelumpuhan, gimana dengan kekuatan kulturalnya: budaya pop, Hollywood, dan musik?