Separuh Hermann Hesse adalah Serigala

in Rehal by

Judul                                  : Steppenwolf

Penulis                             : Hermann Hesse

Penerjemah                   : Marina Pakaya

Penerbit                           : Immortal Publishing

Tahun Terbit                 : Cetakan I, 2017

Jumlah Halaman          : 320 halaman

“Sejak aku dilahirkan oleh ibuku, aku bersalah. Aku dikutuk menjalani hidup ini. Aku dipaksa menjadi milik negara, bertugas sebagai tentara, membunuh dan membayar pajak untuk penyediaan alat-alat perang.” (hal. 273)

Pada catatan yang ditulis Hermann Hesse di tahun 1961 untuk mengawali Steppenwolf entah cetakan yang ke berapa, sang penulis memberi ingat kepada pembaca. “… Steppenwolf adalah satu-satunya karya yang paling sering disalahpahami dengan cara yang gegabah dibandingkan karya-karya saya yang lain, dan kerap kesalahpahaman itu berasal dari pembaca yang suka dan bersemangat dengan kehadiran buku ini, alih-alih berasal dari pembaca yang menolaknya…” (hal. 5).

Di lain catatan, Berthold Damshauser (2015) memberi penjelasan atas kekhawatiran Hesse tersebut. Sekitar tahun 1960-an, Steppenwolf yang pertama terbit tahun 1927 di Jerman rupanya memberi dampak dahsyat pada gerakan “urakan” di Amerika Serikat. Ia diistilahkan Damshauser sebagai “injil” buat anak-anak Hippie serta kelompok yang menentang kapitalisme dan Perang Vietnam.

Setelah diberi ingat oleh Hesse di catatan mula, pembaca akan menemui kata pengantar yang ditulis Hesse melalui karakter seorang bocah. Si bocah berkisah ihwal seorang lelaki bernama Harry Haller yang menyewa kamar di rumah bibinya selama beberapa saat. Harry Haller digambarkan sebagai lelaki penyendiri, mengenaskan, hingga dekat dengan niatan swabunuh atau bunuh diri.

Haller meninggalkan catatan tebal di kamarnya yang – menurut Hesse – dikisahkan ulang oleh si bocah. Catatan-catatan Harry Haller itulah bahan ketidakwarasan utama di novel ini. Bahkan sebelum catatan Haller dimulai, Hesse masih merasa perlu memberi ingat pembaca: “Hanya untuk orang gila.”

Dan memang butuh stamina pikiran yang luar biasa untuk membaca novel ini. Selain tak kenal pembabakan bab seperti novel kebanyakan, bagian awal catatan Haller terbaca seperti racauan lelaki paruh baya yang tengah mabuk, tak sadar diri, penuh curiga dengan semua hal keduniawian, dan ingin segera menemui malaikat kematian. Rutukan-rutukan terhadap surat kabar, negara, peperangan, orang-orang borjuis dan kapitalisme dituliskan berkali-kali. Sementara bagian akhirnya diisi adegan-adegan surealis yang gegas berganti.

“Tidurlah dengan nyenyak. Aku tak akan bangunkan kau. Waktunya akan tiba saat kau dirobohkan atau ditempeli kertas-kertas iklan yang serakah. Namun, untuk saat ini, di sanalah kau berdiri, menawan dan tenang seperti biasa, dan sebab itulah aku mencintaimu” (hal. 62-63). Pembaca yang tidak cukup gila akan tersenyum geli saat membaca adegan ini; adegan Harry Haller berbicara kepada dinding dingin di suatu malam kota. Sebuah sikap anti borjuis yang juga diiringi aroma pesimisme, realistis akan realita yang ada.

Sementara pembaca yang cukup gila akan tahu kalau Harry Haller adalah Hermann Hesse (perhatikan bagaimana Hesse menyamakan inisial keduanya: HH). Seorang lelaki putus asa yang punya jiwa serigala neraka—dan banyak jiwa lain—dalam satu tubuh. Jiwa serigalanya adalah kebencian kepada hidup, hasrat membunuh, serta kemarahan pada manusia. Sedangkan jiwa manusianya adalah seorang pembaca radikal buku-buku, penikmat Mozart, penjamah wanita. Membaca Steppenwolf sama saja membaca autobiografi Hermann Hesse pada masa-masa paling karam dalam hidupnya.

Sejak muda Hesse sudah punya “kesenangan” untuk menderita. Syahdan, di tahun 1892 Hesse dipaksa jadi murid di biara Maulbronn. Hesse tidak betah, psikisnya memberontak, akhirnya melarikan diri dari asrama. Saat orang tuanya mencoba meminta bantuan seorang dokter, Hesse yang saat itu berusia 15 tahun (!) mencoba bunuh diri dengan pistol. Ia lalu dirawat di rumah sakit jiwa dan didiagnosa menderita melankolia.

Guncangan kedua, yang paling berpengaruh dalam penulisan Steppenwolf dan novel sebelumnya, Demian (pertama kali terbit pada 1919), terjadi pada 1916. Di tahun itu istrinya menderita skizofrenia. Ini menjelaskan dengan cukup gamblang keberadaan dua jiwa—bahkan lebih—dalam satu tubuh Harry Haller dan tokoh cewek bernama Hermine yang merupakan antitesis karakter Haller.

Penyakit yang diderita istrinya membuat Hesse depresi dan berusaha bunuh diri. Meski sempat mendapat terapi psikoanalitis, ia tetap murung menanggung beban. Sejak tahun itu pula, Hesse sudah kawin-cerai berulang kali. Gambaran para perempuan yang berkelebat dalam pikiran Haller di akhir novel adalah gambaran riil peristiwa kawin-cerai ini.

Memahami gejolak hidup Hesse, pembaca bisa maklum bila racauan-racauan Haller di awal novel kemudian terdengar sangat nelangsa. “Ketetapan hatiku untuk mati bukanlah rengekan yang hanya berlangsung selama satu jam. Ketetapan itu adalah buah matang yang perlahan-lahan tumbuh membesar, ditimang-timang dengan pelan oleh angin nasib yang napas berikutnya akan mengembalikannya ke tanah” (hal. 107).

Mengerikan.

 

Hermine, Sisi Hidup Haller

Malam di mana Haller ingin menjalani laku swabunuh, tepat sebelum ia pulang ke kamarnya dan menggorok lehernya dengan sebilah pisau cukur, Haller bertemu dengan Hermine. Berbeda dengan Haller, Hermine adalah sosok Haller yang lain. Sosok Haller yang masih ingin mencecap madu kehidupan selama mungkin. Keduanya adalah cermin yang saling berkebalikan sekaligus satu tubuh serupa, seperti tergambar dari dialog yang dimulai Hermine.

“Apakah kau tahu kalau kita berdua adalah anak setan?”

“Ya, itulah diri kita. Setan adalah sebuah semangat dan kita adalah anak-anaknya yang merana. Kita terbuang dari alam dan melayang-layang di langit” (hal. 187).

Perkenalan Haller dengan Hermine mengubah hasrat kematian si lelaki menjadi gairah kehidupan yang baru. Haller yang terdengar anti borjuis tapi cuma mau mendengar musik klasik macam Mozart, berkenalan dengan jazz yang liar dan tak teratur itu. Ia juga “dihadiahi” Hermine, seorang cewek manis yang mengajarinya seni bercinta nan sakral.

Sisi spiritual hubungan seksual antara Haller dan Maria juga bisa ditemui dalam Siddharta yang ditulis Hesse lima tahun sebelum Steppenwolf. Lewat gairah cinta Siddharta dan Kamala, seks dikisahkan sebagai sesuatu yang suci, bahkan menjadi satu pelajaran yang penting bagi Siddharta untuk mencapai kesempurnaan. Mencapai suara “om”.

Meski sudah bersua Hermine dan menemukan gairah hidup dahsyat bersama Maria, Haller masih ingin mencicipi kematian. Kali ini bukan lewat keputusasaan, tapi dengan sebuah pikiran puitis bahwa kematian adalah pelengkap bait sajaknya yang belum selesai.

“Besok atau lusa diriku juga akan dikuburkan di dalam tanah dengan upacara kesedihan yang penuh kemunafikan…. Seluruh peradaban kita adalah kuburan tempat Yesus Kristus dan Socrates, Mozart dan Haydn, Dante dan Goethe bersama bersama orang-orang yang nama-nama mereka tak terbaca pada batu yang remuk dan para pelayat mengerumuni liang lahat dengan memancarkan kesedihan dengan penuh kepura-puraan meyakini kekudusan momen ini…” (hal. 117).

Meski dengan cibiran pada orang hidup yang menyaksikan kematian, Haller merasa kalau dirinya belum mati, ia belum bisa setara dengan manusia-manusia masyhur sebelum dia.

Sebagai novel psikologis-filsafat, pembaca akan disuguhi versi sastra dari film-film semisal Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) (Alejandro Innaritu, 2014) dan Black Swan (Darren Aronofsky, 2010). Tentunya dengan pemikiran-pemikiran psikologis yang hanya bisa dipahami pembaca karya-karya Jung dan Freud. Atau semacam Azazel (Yousef Ziedan, 2008) yang berkisah soal setan—yang mirip dengan konsep serigala—yang berdiam dalam pikiran seorang rabi. Bedanya, jika Azazel membuat pembaca jijik dengan radikalisme agama, Steppenwolf membuat anak muda jijik dengan modernisasi.

Di akhir catatannya yang gila, Haller menemui jalan keluar lain yang lebih receh namun bertenaga daripada memaksakan kematian yang tak kunjung tiba. “Kau harus belajar tertawa. Itu yang akan dibutuhkan darimu. Kau harus memahami lelucon dalam kehidupan, lelucon tiang pancungan” (hal. 315). Inilah obat mujarab untuk menjinakan serigala yang membuas dalam jiwa setiap manusia.

Aku diundang pesta,

Entah mengapa;

Tuan-tuan bercelana seksi

Berjajar melongo di balai resepsi.

Mereka tuan-tuan mashur

Namanya dahsyat tiada terukur,

Yang ini seorang dramawan,

Yang itu penulis roman.

Mereka lincah penuh gaya

Membual riang gagah jumawa.

Akupun malu tuk mengatakan

Diriku juga kaum sastrawan

Soiree (Hesse, 1902).[]

Satya Adhi

Satya Adhi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Satya Adhi

Latest posts by Satya Adhi (see all)