Sepasang Pengumpat dan Orang Suci

in Cerita Pendek by

untuk cerpen Gunawan

Setelah lima tahun, secara tak sengaja aku kembali bertemu dengan Untung Suryo Subagio di acara car free day. Saat itu aku sedang lari pagi dan kurasa dia sedang jalan sehat sembari menikmati panorama gadis-gadis sintal yang berpakaian serba ketat dan seadanya. Kami berpapasan di tengah jalan. Untung adalah kawan SMA-ku dan lagaknya masih sebajingan dulu. Gayanya sekarang mirip turis padahal Solo ini adalah kota kelahirannya. Kelakuannya macam sedang piknik saja. Tanpa kutanya dirinya langsung bercerita bahwa sekarang dia bekerja di Corsa, kapal pesiar Eropa, dan terpaksa harus pulang cepat gara-gara kapalnya menabrak karang. Aku masih memaklumi lagaknya yang semipamer kesuksesan ini karena dia menyapaku dengan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia apalagi bahasa Inggris yang sewaktu SMA kami anggap sebagai ujud kesombongan, dan pemakai kedua bahasa itu dalam obrolan sehari-hari pantas diberi pelajaran.

Kami ngobrol ngalor-ngidul di tengah jalan. Kami banyak tertawa bersama tapi lebih sering mengumpat bergantian. Ketika kuajak mencari tempat duduk yang lebih nyaman, Untung menolaknya. Dia beralasan bahwa ini adalah car free day yang berarti segalanya free alias bebas, termasuk ngobrol di tengah jalan raya. Ketika duduk lesehan di tengah jalan itu kami merasakan kembali gelegak darah masa muda. Kami merasa seperti sepasang jagoan yang siap menghantam siapa saja yang memberengkal kami dari kenyamanan.

Obrolan asyik kami berkisar pada kawan-kawan lama. Sebuah obrolan yang menyerupai absensi. Secara acak, kami obrolkan teman-teman satu per satu yang berhasil kami ingat dan pernah kami temui. Dengan bersemangat kami bertukar informasi mengenai kondisi kekinian mereka sambil sesekali mengenang kebejatan mereka di masa remaja. Obrolan itu mencapai puncaknya ketika sampai pada seorang kawan yang bernama Muhammad Yayan Kristanto. Ketika Untung hendak melanjutkan obrolan, aku meminta jeda sejenak. Aku menarik napas dalam-dalam dan merasa perlu untuk melafalkan doa pendek. Aku percaya bahwa Yayan adalah calon orang suci. Aku yakin jika tanpa ritual suci semacam doa itu, membicarakan sosok Yayan bisa mendatangkan tulah, bala, marabahaya, atau kesialan lainnya bagi kami. Bukannya tak mungkin tanpa uba rampe yang mencukupi, setelah sembarangan membicarakan Yayan nasib Untung bakalan jadi buntung. Untung tentu tak paham mengenai hal ini maka aku diam-diam mendoakan keselamatannya. Ritual semacam ini telah kulakukan secara rutin semenjak kuliah saban kali ada teman yang mengajak ngerasani Yayan. Setelah teryakinkan dengan doa dan merasa siap lahir batin, aku pun meminta Untung melanjutkan obrolan.

“Tempo hari aku bertemu Yayan. Dia bercerita bahwa Pak Warso, bapaknya, sedang sakit jantung. Ketika kukomentari singkat ‘Lho jadi sakit sungguhan sekarang Bapakmu?’, Yayan cuma mengumpat pendek ‘matamu’.”

Aku berusaha menahan tawa mendengar cerita Untung ini sambil memohon ampun kecil-kecilan. Mau tak mau ingatan kami harus mundur jauh ke masa SMA, masa ketika kami satu sekolah dan masih ganas-ganasnya, masa ketika Yayan belum mendapat hidayah sebagai orang suci. Saat itu Yayan lekat dengan stigma pemuda desa yang kaya raya. Saking kayanya konon dia cuma sementara sekolah di kota. Ya cuma sementara, sampai Pak Warso merampungkan pembangunan sekolah mereka sendiri. Konon Pak Warso sedang gigih-gigihnya membangun sekolah eksklusif untuk segala strata pendidikan dengan dana mandiri di desa mereka. Kelak Yayan akan melanjutkan sekolah hingga sarjana di desanya itu. Saat itu aku percaya dengan kabar ini. Apalagi berita kemakmuran Yayan ini diperkuat dengan kabar bahwa Pak Warso ini memiliki pabrik resleting yang sebaran produknya sampai mancanegara. Berita ini bukannya tanpa argumentasi yang kuat. Aku telah membuktikannya. Ketika kulihat resleting celana seragam abu-abuku, di situ tertulis YKK, yang tak lain adalah singkatan dari Yayan dan Kawan-Kawan. Itu adalah dalil sahih bahwa Yayan adalah orang kaya, anak pengusaha garmen sukses, dan patut dihormati.

Akan tetapi, hal yang sebaliknya justru menimpa anak Pak Warso ini. Di sekolah, Yayan adalah sosok yang sepi penghormatan. Bahkan, banyak teman memanggilnya dengan sebutan Warso, nama bapaknya. Wajahnya yang sangar, rambut keritingnya yang model daun seledri, dan hobinya mengumpat ternyata gagal menyelamatkannya dari kehinaan. Teman-teman sekolah, bahkan anak paskibra dan anggota OSIS, tetap memanggilnya Warso dan dia hanya dapat membalasnya dengan umpatan andalannya yaitu “matamu”.

Barangkali deraan hinaan inilah yang menjadikan Yayan malas bersekolah. Dia menjadi siswa terdepan yang paling rajin bolos sekolah. Tak perlu hitungan statistik untuk membuktikannya. Saking kerapnya Yayan membolos sekolah sampai tempat duduknya di kelas diberi bendera merah, tanda kematian untuk daerah Solo dan sekitarnya, oleh teman-temannya. Begitu masuk kelas dan menemukan ada bendera merah di tempat duduknya, Yayan cuma bisa memaki, “Bocah-bocah asu!”. Makian yang kurang lebih sama terlontar ketika dia mendapati laci mejanya menjadi tempat pembuangan kulit kuaci bunga matahari seluruh warga kelas.

Kekerapan bolos sekolah Yayan ini juga dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa yang kreatif dan mudah haus saat sekolah. Haus di sini bermakna kiasan. Siswa kreatif di sini adalah golongan yang gemar mencuri-curi konsumsi miras di jam sekolah. Ketika Yayan bolos sekolah, para murid kreatif ini, termasuk aku yang saat itu belum menyadari tanda-tanda orang sucinya, mengabarkan bahwa Pak Warso sedang sakit, dan kami berhak meminta sumbangan kepada adik-adik kelas maupun penghuni kantin. Kemudian dana sumbangan yang terkumpul itu kami belikan anggur putih cap Orang Tua dan Extra Joss yang kami oplos lalu minum bareng-bareng sebagai penghiburan dari pelajaran yang menjemukan. Ritus sumbangan itu senantiasa terjaga kesinambungannya. Di suatu hari bisa saja kami katakan bapak Yayan sakit usus buntu lalu di hari berikutnya opname karena malaria. Pernah pula kami sebutkan beliau menderita beri-beri, sejenis penyakit takhayul akibat kekurangan vitamin B yang sampai kini belum pernah kusaksikan sendiri. Bahkan, pernah suatu ketika kami kabarkan bahwa bapak Yayan telah meninggal dunia dan kami mendapat lebih banyak sumbangan karenanya. Tetapi, di kemudian hari lagi kami kabarkan bahwa bapak Yayan menderita patah tulang karena kejepit mesin cetak resleting. Tentu saja saat itu kami tak perlu memikirkan logika cerita. Kami tak perlu repot-repot membayangkan pikiran para penyumbang yang betul-betul meyakini cerita kami. Barangkali ada di antara mereka yang percaya bahwa sosok bapak Yayan adalah sebangsa mesiah yang setelah mati bisa bangkit kembali. Itu semua adalah urusan mereka yang wajib kami abaikan dalam prosesi pemalakan halus. Yang terpenting kami bisa bahagia dengan oplosan AP Joss sekaligus mempererat hubungan silaturahmi dan persahabatan.

Yayan bukannya tak tahu kelakuan tercela kami ini. Tetapi, dia memang tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan mencaci maki, yang kami terima dengan semangat toleransi tinggi. Dan, ketika pada akhirnya Yayan lebih memilih menjadi gali di SMK Murni, itu sepenuhnya adalah haknya yang patut kami hormati. Faktanya, Yayan memang lebih sering nongkrong di SMK Murni yang terdiri dari jurusan tata busana dan tata boga ketimbang di SMA sendiri. Di sana dia resmi menjadi kepala geng yang dikelilingi gadis-gadis temperamental. Beberapa di antara gadis itu ada yang cantik dan pernah dibonceng Yayan naik motor GL Pro legendarisnya di sekolah kami. Tapi di antara kami tak ada yang tergoda pada kecantikan gadis itu dan sepakat menyebut gadis cantik itu sebagai wabal, singkatan dari wanita baulan, alias wanita murahan.

Kini ketika Pak Warso betulan sakit, cerita lama itu kembali terasa begitu dekat dan hangat. Untung tertawa terpingkal-pingkal sementara tertawaku hanya kubatin tapi kurasa dalam lubuk hati kami yang terdalam doa untuk kesembuhan Pak Warso, yang dalam imajinasi kami kadung kondang sebagai juragan resleting asal Kartasura, senantiasa terlantun.

Pembahasan tentang Yayan ternyata tak berhenti sampai di situ. Untung, masih dengan lagak bajingan yang sama, menceritakan rahasia kecil yang terjadi di antara mereka. Rupanya sebelum pertemuan yang mengisahkan sakit bapak Yayan itu, konflik sempat terbangun di antara mereka. Konflik ini tentu berujung dendam tapi dendam sepihak yakni dari pihak Yayan sementara Untung merasa semuanya baik-baik saja. Peristiwanya terjadi semasa Untung kuliah semester pertama di jurusan perhotelan. Saat itu mereka bertemu dan sepakat mabuk bareng. Mereka minum oplosan ciu dan Jas Jus. Setelah mabuk berat, berahi tinggi melanda keduanya. Begitu menghitung jumlah uang yang dimiliki, mereka bersegera menuju ke belakang RRI, lokalisasi terjangkau di kota Solo. Sesampainya di sana ternyata uang mereka hanya cukup untuk sekali ‘main’ dan setelah berembuk dalam kondisi mabuk dan mengukur kadar berahi akhirnya diputuskanlah bahwa yang akan ‘main’ adalah Untung, sementara Yayan menunggu di luar dan menjadi saksi bisu. Setelah beberapa menit ngamar akhirnya Untung keluar. Berahinya terlampiaskan. Dia pamit bersuci ke kamar mandi tapi setelah ditunggu selama sejam ternyata dia tak kunjung kembali sedangkan transaksi berahi itu belum dilunasi. Yayan yang tak punya uang sepeser pun harus menjaminkan motor GL Pro-nya kepada sang mucikari lalu kelimpungan mencari Untung di sepanjang lokalisasi dan berakhir dengan kesia-siaan. Akhirnya Yayan pulang sendiri naik taksi mengambil uang dan menebus motornya kepada sang mucikari.

Tentu saja aku bertanya pada Untung, ke mana dia pergi saat itu. Sembari tersenyum manis Untung menjelaskan bahwa dia melarikan diri. Uang yang sedianya untuk membayar pramunikmat itu digunakannya untuk ongkos pulang naik becak. Untung beralasan bahwa saat itu dia sangat pusing dan tak tahu kalau kepulangannya yang tanpa pamit itu sama artinya dengan menjaminkan Yayan sebagai bayaran. Menjadi sebuah kewajaran jika Yayan marah-marah tapi setelah di lokalisasi itu mereka tak lagi bertemu. Dan, saat pertama kali bertemu setelah kejadian itu, Untung siap melunasi utangnya untuk mengantisipasi kemarahan Yayan tapi Yayan menolaknya dan menggantinya dengan mencaci makinya tanpa henti selama lima belas menit.

Aku bersikeras menahan ledakan tawa setelah mendengar kisah itu. Aku menerima risiko bakal sariawan atau gusi berdarah daripada terkena tulah Santa Yayan. Aku paham semua peristiwa itu terjadi pada masa jahiliah sebelum Yayan menerima tanda-tanda keorangsucian. Dengan lagak sepasang bajingan yang seakan tiada putus-putusnya, kami meneruskan obrolan di tengah jalan itu. Beberapa sepeda atau orang berlari minggir dengan sendirinya ketika akan menabrak kami. Saat itu kami mirip sepasang batu besar di tengah aliran sungai dan para pemakai jalan itu seperti arus air yang begitu menghormati kami.

Agar tak begitu mendominasi cerita, Untung bertanya padaku perihal waktu terakhir kali aku bertemu Yayan. Ketika harus menceritakan hal ini tiba-tiba hatiku menjadi agak gentar. Tubuhku gemetar. Pasalnya aku seperti akan melakukan pengakuan sekaligus kesaksian mengenai pewahyuan pertama Yayan sebagai orang suci. Meski gugup, aku tetap harus menceritakannya tetapi sebelumnya aku meminta waktu sejenak untuk mengheningkan cipta.

Setelah lulus SMA kami menjadi mahasiswa satu fakultas, yakni Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS. Aku di jurusan Sastra Indonesia sedangkan Yayan di jurusan Sastra Jawa. Kami sama-sama hidup segan mati tak mau di fakultas itu. Kami bisa kuliah di fakultas itu karena asal mengisi formulir saja ketika ujian masuk perguruan tinggi. Kelihatannya keduanya juga bukanlah jurusan utama pilihan kami. Sebenarnya, sastra juga sama dengan cabang ilmu lainnya, kami pandang sebelah mata. Kami tak mengenali cabang ilmu yang sebenarnya pas bagi kami. Selepas SMA bahkan kami tak tahu secara pasti bakat dan minat kami. Akan tetapi, itu perkara lain. Toh, kami kuliah juga masih dengan tradisi SMA yang santai dan semau sendiri.

Di perkuliahan aku ikut UKM teater sedangkan Yayan ikut UKM pecinta alam. UKM kami berdekatan dan saat itu aku sedang membangun citra di hadapan seorang perempuan yang aku cintai sebagai calon sastrawan serius sebelum berita picisan itu kami dengar. Aku sedang membacakan buku Kahlil Gibran untuk perempuan itu di kantin ketika seorang kawan dari UKM pecinta alam mengabari bahwa temanku kesurupan parah saat mendaki Gunung Lawu. Kesurupan itu masih berlanjut bahkan ketika temanku itu sudah sampai Solo. Ketika kutanya siapa nama temanku itu, dijawabnya pasti: Yayan.

Komentar refleksku agak mengejutkan. Entah karena sengaja, bercanda, malu, atau campuran ketiganya aku merespons pendek, “Dia bukan temanku.”

Respons ini memang sederhana dan mungkin saja terdengar lucu. Tapi tidak saat itu. Tidak bagi perempuan yang aku cintai itu. Dia yang tahu persis perkawananku dengan Yayan menganggap candaan itu sebagai sebuah keseriusan. Dia menganggapku tidak setia kawan. Baginya, orang yang tidak setia kawan pastilah juga tidak setia kepada pasangan.

“Lalu kau anggap Yayan sebagai apa saat itu?” tanya Untung.

“Kuanggap sebagai mahasiswa baru yang patut di-ospek dan diberi pelajaran.”

Untung tertawa terpingkal. Lagak bajingannya tak juga hilang sementara aku hanya memohon ampunan dalam hati. Setelah peristiwa kesurupan itu perempuan itu menghilang dariku, aku menghilang dari kehidupan Yayan, demikian pula sebaliknya. Kami seolah saling mengabaikan hingga akhirnya aku menerima kabar bahwa Yayan tak meneruskan kuliahnya.

Kiranya peristiwa kesurupan di Gunung Lawu itulah awal mula menitisnya wangsit orang suci ke diri Yayan. Yayan sendiri mungkin tak menyadarinya tapi aku tahu persis hal ini. Aku telah membuktikannya. Ketika aku berpikiran buruk mengenai Yayan, segala yang kulakukan jadi berantakan. Demikian pula sebaliknya. Maka, kini aku hanya perlu membayangkan segala yang baik dan indah dari sosok Yayan niscaya segala yang aku lakukan akan berjalan lancar. Berulang kali hal ini terjadi dan aku semakin yakin bahwa sosok Yayan adalah orang suci.

Bila pada akhirnya seperti yang diceritakan Untung, kini Yayan telah hidup mapan dan berkecukupan, tentu saja aku turut bahagia. Entah dengan cara apa kini Yayan telah menjadi PNS di Dinas Kehutanan, punya istri yang cantik dan salihah, juga sepasang anak yang sekolah di SD Islam Terpadu bertarif mahal. Dari drop out-an amatiran, karena baru dua semester Sastra Jawa menjadi PNS Dinas Kehutanan masih menjadi misteri besar bagiku. Kukira ada keajaiban bermain dalam takdirnya. Ada cara-cara kemukjizatan seorang nabi yang bekerja dalam hidup Yayan. Dan, hal itu mesti kuyakini sepenuh hati dan kujunjung tinggi. Seperti di awal percakapan, kurasa doa memang diperlukan sebelum ngerasani Yayan karena dia adalah mesiah yang terpilih. Segala derita yang diterimanya semasa remaja tak lain hanyalah ujian menuju kesempurnaan hidupnya kelak sebagai orang suci dan aku siap menjadi umatnya yang taat dan terberkati.

Ketika aku menjelaskan mengenai Santa Yayan ini, Untung hanya tertawa terbahak-bahak sambil mengumpat. Dia mengangkat bajunya dan menunjukkan resleting celananya dan tulisan YKK segera mengemuka.

“YKK adalah kita. Kita adalah kawan-kawan Yayan.”

Begitu Untung merampungkan ucapannya, tiba-tiba saja dari belakangnya melaju dengan kecepatan tinggi sebuah motor GL Pro lawas. Aku bergerak cepat menarik Untung ke samping kiri. Kami berguling-guling di jalan raya. Beberapa lecet segera tercipta di tubuh kami. Dengan serempak, kami mengumpat pada pengendara GL Pro lawas itu. Tapi tak berselang lama, kendaraan bermotor lainnya juga sudah melaju menghidupkan jalan ini. Rupanya sekarang sudah jam sembilan pagi. Car free day sudah berakhir.

Ketika menepi itulah kurasakan perih pada luka lecet tubuhku. Pikiranku segera tertuju kepada kemarahan Santa Yayan akibat kami rasani. Motor GL Pro lawas yang melaju kesetanan hendak menggasak kami itulah bala nyata Santa Yayan. Aku hanya bisa berdoa dalam hati dan memohon ampun kepada Santa Yayan. Untung yang berada di sampingku terus saja mengajakku ngobrol dengan lagak bajingannya. Akan tetapi kudiamkan saja. Aku tak menceritakan perihal bala kiriman Santa Yayan ini kepadanya karena kemungkinan besar tetap tak akan dipercayainya dan justru ditertawakannya. Yang terburuk, mungkin dia akan mengumpat pada Santa Yayan. Dan, jika sampai Santa Yayan mendengarnya, beliau bakal murka dan seluruh kota akan menanggung akibatnya.

Aku khusyuk berdoa di keramaian. Terpujilah Santa Yayan.

Solo, 2016

Gunawan Tri Atmodjo

Gunawan Tri Atmodjo

lahir di Solo, 1 Mei 1982. Alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta, Program Studi Sastra Indonesia. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Suara Merdeka, Majalah Esquire, Majalah Basis, Majalah Kartini, dan lain-lain. Buku kumpulan cerpen tunggalnya bertajuk Sebuah Kecelakaan Suci (Jagat Abjad, 2013) dan Sundari Keranjingan Puisi (Marjin Kiri, 2015).
Saat ini tinggal di Solo dan bekerja sebagai editor buku pelajaran.
Gunawan Tri Atmodjo

Latest posts by Gunawan Tri Atmodjo (see all)

  • Dhihram Tenrisau

    sejak sepakat dengan revi.us, kalo mas gunawan memang memiliki gaya menulis menarik dengan tema simpel

  • Dhihram Tenrisau

    Saya sepakat dengan revi.us, kalo mas gunawan memang memiliki gaya menulis menarik dengan tema simpel