Setelah Amerika Serikat, Kapan Giliran Indonesia?

in Hibernasi by

ctvnewsdotca

Semenjak Amerika Serikat mengumumkan legalitas pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian, yang bersuara paling keras salah satunya adalah orang-orang kita. Ada yang dengan sinis menanggapi bahwa itu tanda-tanda kiamat (padahal kalau berpegang dalam kitab suci, sudah jelas apa aja tanda-tanda kiamat). Ada yang memberi dukungan tapi ogah cepat-cepat mengatakan dirinya bukan bagian dari LGBT karena risih juga sebenarnya. Serta, ada yang milih anteng menemani saya menunggu waktu berbuka puasa di resto masakan Sunda daerah Sagan, padahal dia adalah bagian dari komunitas bersimbol pelangi. Berbeda-beda reaksi yang muncul dan menjadi berlebihan karena begitu kompleksnya karakter bangsa Indonesia.

Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada Amerika Serikat, Mr. Obama, dan siapalah itu yang mengusahakan pernikahan sesama jenis di negara berpenduduk sekitar 321 juta jiwa hingga sah di mata hukum. Belanda memang duluan, tapi tidak ada apa-apanya, wong penduduknya saja cuma 16 jutaan jiwa, Belgia 11 juta jiwa, Spanyol 46 juta jiwa, juga Kanada dan lainnya. Dari populasi sekecil itu, memangnya berapa persen sih yang masuk kriteria LGBT hingga sampai mempengaruhi kebijakan pemerintah? Mari abaikan perkara jumlah, karena banyak belum tentu solid. Ingat bangsa Yahudi? Populasi mereka hanya 8 juta jiwa tapi akar kekuasaannya menancap kuat sampai ke negara kita. Mereka solid, hanya dipersatukan dari kesamaan sejarah semit plus ulah dari kebencian Hitler di masa lalu.

Kampanye LGBT sudah barang lama yang tidak pernah usang. Terus diperbarui dengan mengikuti perkembangan zaman. Dari ranah pendidikan, ilmu pengetahuan seni, dunia hiburan, mana yang masih bersih dari doktrin terselubung LGBT? Tidak dengan porsi vulgar tentu saja. Versi yang smooth akan lebih mudah diterima masyarakat dengan kultur ketimuran yang kental.

Dalam ranah agama, penganut Islam, Kristen, dan Yahudi mengenal LGBT dari kisah kaum Nabi Luth. Apakah saat itu sudah ada transgender, transeksual, interseks, dan queer yang menjadi satu paket lengkap LGBT, tidak ada keterangan lebih lanjut.

Di Indonesia Raya, LGBT dianggap sebagai kaum minoritas ber-image buruk hanya dengan melihat segelintir mereka ketahuan kecanduan seks, berada dalam pesta-pesta gila, pemakaian obat-obatan terlarang, dan memiliki perilaku psikopat. Mereka yang hidup baik-baik dan punya kontribusi pada negara, lebih merasa aman dengan menutup mulut seputar orientasi seksualnya.

Saking mudahnya disembunyikan, maka muncul satu pertanyaan, apakah LGBT masih menjadi kaum minoritas? Tidakkah jumlah mereka bertambah dengan adanya keterbukaan interaksi dengan kalangan hetero? Oh bukan berarti saya mengatakan orientasi seksual suka pada sesama jenis bisa mempengaruhi yang hetero tulen, tapi ya, rasa penasaran itu salah satu pintu masuknya.

Saya tidak berada dalam posisi harus melontarkan satu pertanyaan menyebalkan, semisal, kok bisa sih jadi lesbi/gay? Saya bukan orang yang percaya bahwa orientasi seksual dipengaruhi oleh genetika. Tidak juga percaya bahwa perubahan orientasi disebabkan trauma karena perlakuan buruk dari lawan jenis. Teman saya (cowok) pernah diperkosa cowok, eh malah jadi gay sampai sekarang. Saya nggak percaya AIDS adalah penyakit para pencinta sejenis karena hubungan lesbian tidak dari “belakang”. Tapi saya percaya bahwa hubungan sejenis salah satu hal yang mengancam berkurangnya populasi dunia. Ya memang ada yang melakukan usaha-usaha seperti inseminasi sebagai pengganti ketiadaan sperma, tapi berapalah pasangan gay/lesbian yang berpikir untuk punya anak? Memangnya mengurus anak mudah? Masuk PAUD saja jutaan.

Jika orang Indonesia khawatir betul legalisasi pernikahan sejenis bakal terjadi juga di negara kita, apakah mereka memang melupakan satu hal prinsipil bahwa kita punya kultur ketimuran dan religiusitas yang kuat? Mencabut akar-akar itu tidak bisa dalam satu dua generasi. Lagi pula, kita masih kepayahan mengurusi tingkah pejabat-pejabat korup, kemiskinan yang memprihatinkan, pengangguran yang sulit mencari pekerjaan dengan gaji layak, kejahatan yang makin kejam, dan oknum yang senang mengkafirkan sesama. Wacana ini hanya selalu tinggal wacana yang dilupakan. Diingat sebentar, lupanya lama.

Amerika Serikat sudah jauh lebih dewasa, 4 Juli kemarin usianya 239 tahun. Jangan ditanya soal kemapanan, kekuatan, kekuasaan, kebebasan, dan keterbukaan. Sudah bukan tahap merangkak, tapi berlari kencang. Legalisasi pernikahan sejenis bukan berarti semua penduduk sana sepenuhnya sepakat. Tentu ada yang tidak sependapat, tapi mereka menanggapinya dengan berlapang dada. Bukan karena mereka tidak beragama, tapi begitulah cara mereka mengaplikasikan prinsip saling menghormati sesama.

Sah-sah saja seseorang menjadi seorang aktivis anti-gay, tapi sebaiknya pastikan dulu apakah ada orang terdekatnya yang pencinta sesama. Tentu akan sangat menyakitkan ketika sudah berkoar-koar menghujat sana-sini tapi ternyata adik, kakak, mantan pacar, gebetan, teman sekantor adalah bagian dari itu dan rupanya jauh dari image buruk yang dikatakan orang-orang.

Kaum LGBT sangat pandai menyaru dirinya menjadi kaum hetero. Salah besar jika mengira bahwa perempuan tomboi pasti lesbian, lelaki kemayu pasti gay, waria pasti transgender, artis pasti biseksual, dan Anda pasti hetero sampai akhir hayat. Jika hati saja bisa berbolak-balik, kenapa tidak dengan orientasi seksual?

Sumber Gambar: ctvnews.ca

  • Irvan Max Peters Rizkianto

    Bagus, orang Indonesia bodoh yg tdk tahu apa2 soal lgbt kudu baca artikel ini, biar pinter dikit.

  • Frida ‘vree’ Kurniawati

    Bagus Mbak Rina ^^