Siapakah Sesamaku?

in Esai by
Group of Multiethnic People Using Digital Devices
rhynosocial.com

Agaknya, ini pertanyaan lumrah. Pertanyaan biasa. Kata tanya: siapa (?) banyak kali dilontarkan dalam hampir setiap dialog atau perbincangan sehari-hari. Dibandingkan dengan kata-kata tanya yang lain, siapa (?) menempati posisi yang amat penting dan substansial. Amat penting dan substansial tidak berarti kata-kata tanya yang lain itu kurang penting dan kurang substansial atau malah tidak sama sekali, tetapi karena sasaran siapa (?) hanya dan hanya ditujukan kepada manusia. Lain perkataan, pertanyaan siapa (?) selalu mesti dijawab dengan saya, Anda, dikau, engkau, dia, kalian, kita, kami, atau mereka. Tidak ada yang lain. Kata tanya siapa (?) selalu milik manusia, magnum miraculum itu.

Menyadari betapa penting dan substansialnya, dan karena hanya berhubungan dengan manusia, pertanyaan siapa (?) sebetulnya tidak lagi bersifat biasa saja, sebagaimana kesan awal dalam uraian ini. Siapa (?) merupakan pertanyaan serius, apalagi ketika ditambah: Siapakah Sesamaku? Saya katakan serius karena “Siapakah Sesamaku?” merupakan satu dari aneka pertanyaan paling rumit dalam filsafat, dan karena memang tidak gampang untuk dijawab. Meski rumit lagi tidak gampang, toh pertanyaan ini mesti dijawab. Sesamaku mesti didefinisikan, kendati menurut Heidegger, definisi itu memiskinkan realitas. Memberi jawaban pada pertanyaan: “Siapakah Sesamaku?”, berarti juga memiskinkan sesamaku, membatasi sesamaku.

Lantaran saya juga mesti ikut ambil bagian dalam kekinian, uraian ini pada akhirnya bermuara pada realitas dalam teknologi internet, khususnya sesama dalam internet. Dalam internet, Siapakah Sesamaku itu? Sebelum tiba pada jawaban atas pertanyaan dalam konteks aktual ini, adalah baik untuk sejenak membongkar literatur-literatur klasik guna menjawabi pertanyaan filosofis tersebut sebelumnya. Agar bersifat komparatif, uraian ini akan dibagi dalam dua bagian.

Saya akan memulai uraian ini dengan tinjauan biblis Kristen. “Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: ‘Dan siapakah sesamaku manusia?’” (Luk. 10:29). Yesus menjawab pertanyaan rasionalisasi ahli Taurat itu dengan sebuah parabel. Ada pun Yesus bertolak dari perspektif korban, sebagai bentuk opsi-Nya pada orang kecil yang sengsara, yang jatuh ke tangan penyamun-penyamun. Sesama bagi si korban itu pada akhir parabel dijawab sendiri oleh si penanya. Sesama bagi si korban bukanlah imam atau orang Lewi, melainkan orang Samaria. Ada dua syarat kunci (yang dipelajari dari orang Samaria) agar dapat menjadi sesama bagi yang menderita, yakni kemurahan hati dan belas kasihan. Paling kurang, jawaban atas pertanyaan Siapakah Sesamaku? menemui jawabannya dalam parabel Yesus ini (penjelasan tentang Sesama/neighbor/plésion dapat dibaca juga dalam Xavier Léon-Dufour, Ensiklopedi Perjanjian Baru, penyad. Stefan Leks, 1995:504). Dan, apabila kesannya parabel ini berat sebelah atau kurang netral (hanya berpihak pada orang kecil), teks lain yang dapat menjadi pelengkap di antaranya Mat. 12:46-50. “Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.’”

Dari tinjauan biblis, saya beralih ke tinjauan filosofis. Saya akan memulainya dengan pandangan Jean-Paul Sartre tentang dua dimensi sentral bagi moralitas manusia (Lih. Franz Magnis-Suseno, Etika Abad Keduapuluh. 12 Teks Kunci, 2010:57-60). Pertama, dalam salah satu teks filosofis yang paling berat dan sulit ini, Sartre menyebutkan dua model pertemuan dengan orang lain (atau sesama). Ketika saya melihat orang, orang itu juga melihat saya. Orang lain muncul sebagai saingan yang mengancam, yang ‘mengobjekkan’ saya. Adanya orang lain menghilangkan kebebasan saya. Secara fenomenologis, orang yang saya jumpai bukan sekadar benda atau ‘objek’ tambahan di antara benda-benda lain (misalnya sebelum Margareth masuk ke kamar saya, yang ada dalam kamar saya hanya lemari, buku, gelas, laptop, sepatu, lilin, dan lain-lain). Begitu ada orang (Margareth) muncul, ia menjadi pusat perhatian saya dan semua benda yang sebelumnya ada ‘di alam semesta’ saya (kamar) seakan-akan berfokus pada orang itu (Margareth). ‘Alam semesta’ saya berubah total. Begitu orang lain muncul, ia ‘mencuri dunia dari saya’. Singkatnya, ‘Dilihat oleh orang lain’ adalah kebenaran dari ‘melihat orang lain’. Model lain dari perjumpaan dengan orang lain (atau sesama) ialah apabila orang melihat saya, situasi saya berubah total. Saya yang tadinya mengintip, akan merasa malu. Rasa malu, dengan demikian menyadarkan saya akan diri saya sendiri. Kesadaran tak refleksif atau spontan yang tadinya terfokus pada objek yang saya intip, akhirnya kemasukan kesadaran akan saya sendiri. Saya sadar akan diri saya atau subjektivitas diri saya, karena saya menjadi objek orang lain.

Dimensi sentral yang lain, kedua, tanggung jawab. Hemat Sartre, setiap orang sepenuhnya bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dalam tanggung jawab itu ia juga bertanggung jawab atas seluruh umat manusia (sesama yang lain), dan tidak ada nilai-nilai yang dapat menjadi acuan dalam bertanggung jawab itu. Dengan memilih apa yang mau dilakukan, kita sendiri menciptakan nilai-nilai. Kita mesti bersedia memikul tanggung jawab bukan karena ada norma-norma yang memaksa atau teori-teori yang membenarkan nasib/kodrat atau malah karena Tuhan itu ada. Melalui sikap jujur dan berani dalam bertanggung jawab, seseorang menegaskan kebebasannya dan mencapai eksistensi yang mutlak.

Masih secara filosofis, filsuf lain yang berbicara amat serius tentang “orang lain atau sesama” ialah Emmanuel Lévinas. Bahkan, filsuf eksistensialis keturunan Yahudi yang wafat pada 1995 ini menjadi begitu familier dan penting di Abad XX oleh sebab gagasannya tentang “panggilan orang lain”. Atau, dalam perkataan yang beda, Lévinas selalu akan menjadi rujukan penting apabila yang hendak dibicarakan atau didiskusikan itu ialah tentang “orang lain atau sesama”.

Teks pertama dari uraian terkenal Lévinas dalam Totalité et infini ialah tentang “muka/wajah”. Orang lain (Autrui atau l’Autre) menyatakan diri kepada kita melalui wajah-nya. Dalam keindrawian, wajah seorang lain menyatakan diri. Pengalaman munculnya “orang lain” merupakan situasi kunci yang mewarnai seluruh uraian Lévinas. Dalam dan melalui muka/wajah, demikian menurut Lévinas, sesuatu yang transenden menyatakan diri. Wajah sebagai yang metafisis menghadirkan aspek transendensi dalam dirinya. Wajah merupakan bagian dari ketakberhinggaan itu (Lih. Felix Baghi, 2012:32).

Wajah dan ketakberhinggaan dibicarakan sebagai satu kesatuan karena keduanya saling mengandaikan. Wajah memanisfestasikan dirinya dalam suatu ketakberhinggaan dan ketakberhinggaan memanifestasikan dirinya dalam wajah. Manifestasi model ini disebut epifani (Ibid.). Dengan meminjam istilah dari bahasa agama ini, epifani terjadi apabila “wajah mengekspresikan diri”, artinya, apabila seseorang menyapa kita, bukan seakan-akan sapaan orang lain itu lebih hebat dari kekuasaan kita, melainkan karena berhadapan wajah dengan orang lain, kekuasaan kita menjadi tak berdaya (Franz Magnis-Suseno, op. cit., hlm. 89). Lebih lanjut, dari konsep ini, Lévinas berbicara tentang tanggung jawab primordial sebagai tanggung jawab yang paling pertama dan paling asli yang keluar ketika kita berhadapan dengan wajah orang lain.

Terakhir, dalam konteks aktual dewasa ini, Siapakah Sesamaku dalam internet? Sesama dalam internet khususnya dalam media-media daring semisal Facebook, BBM, Twitter, WA, LINE, dan sebagainya, tentu berbeda dengan sesama atau orang lain dalam dunia riil sehari-hari. Sesama itu ialah dia atau mereka yang dekat karena koneksi, yang tidak offline, yang terlibat dalam percakapan yang mana percakapan itu hanya dapat dinikmati lewat tampilan atau layar media komunikasi.

Saya yang tidak riil bertemu sesama yang juga tidak riil dalam dunia yang tidak riil. Saya yang riil “dipenjara” untuk sementara dan menikmati perjumpaan dengan sesama yang juga “terpenjara” untuk sesaat. Perjumpaan yang kian intens tentu menggusur pengenalan autentik akan sesama saya dalam internet, juga sebaliknya, saya bagi sesama saya.

***

Karena bersifat komparatif, kira-kira, manakah tinjauan yang lebih cocok untuk menjawabi pertanyaan Siapakah Sesamaku dalam internet? Jika sesama itu ditandai dengan relasi timbal balik yang intens, hemat saya, pandangan Jean-Paul Sartre cukup jelas menggambarkannya. Lawan komunikasi juga mencuri dunia saya. Misalnya, ketika saya membuka Facebook sekadar untuk melihat pemberitahuan-pemberitahuan, lalu tiba-tiba bunyi tanda pesan masuk berdering. Bunyi itu mencuri perhatian saya sebelumnya, apalagi ketika pesan itu berisi, “Bro, bisa minta tolong ko?” Pesan ini tentu merampas perhatian saya, sama seperti contoh Sartre ketika seseorang tiba-tiba masuk ke kamar saya, dia merampas perhatian saya pada benda-benda yang lain. Atau, saya yang sedang mengobjektivasi lawan komunikasi dengan mengintip wall FB atau koleksi fotonya atau depe BBM-nya, mengalami hal yang sama (diobjektivasi) ketika secara tanpa sadar, orang lain juga mengintip wall, koleksi foto, atau depe BBM saya. Dan ketika kedapatan, misalnya saya memasang depe pada BBM saya menggunakan foto lawan komunikasi saya, reaksi yang muncul dari lawan komunikasi, misalnya, “Cieee…padahal diam-diam dia save oo…” memantik rasa malu saya. Pada saat itu, saya menjadi sadar akan diri saya yang riil, dengan sifat-sifat yang melekat pada diri saya.

Tanpa bermaksud untuk menjadikan sesama dalam internet sebagai “musuh atau pembunuh” belaka, tinjauan biblis dan pandangan Lévinas kiranya juga dapat menjawabi pertanyaan tersebut. Epifani wajah juga tampak memanggil, misalnya ketika lawan komunikasi mengunggah sebuah atau beberapa foto para suster Katolik di Yaman yang dibunuh oleh teroris. Atau, saya juga tentu terdorong oleh belas kasihan apabila membaca atau melihat postingan tentang kondisi sesama saudara di Papua atau para orang gila yang diperhatikan oleh segelintir orang muda di Ende, Flores.

Ini sisi lain dari perjumpaan dengan sesama dalam internet, yang sekurang-kurangnya menggugah keprihatinan atau solidaritas saya. Bahkan, tanpa sadar, relasi dalam dunia maya turut menyadarkan saya akan kualitas-kualitas yang sebetulnya saya miliki, hanya kurang dioptimalkan dalam dunia nyata.

Sampai di sini, kesimpulan sementara yang sekiranya netral, sesama dalam internet dapat sekaligus “negatif dan positif”.***

Reinard L. Meo

Reinard L. Meo

Mahasiswa aktif jurusan Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores-NTT. Aktif dalam pelbagai diskusi dan menulis di sejumlah media masa. Beberapa kali argumentasinya dimuat dalam Kompas Kampus, Harian Nasional, Kompas.
Reinard L. Meo

Latest posts by Reinard L. Meo (see all)