Sifat Ilahi

in Tajalli by

Tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang tidak menerima salinan wujud dari Allah Ta’ala, dari mulai yang paling kecil sampai pada yang terbesar, dari mulai yang paling terkenal sampai yang sama sekali tidak diketahui oleh umat manusia, dari mulai yang paling rupawan sampai yang paling buruk, dari mulai yang paling kuat dan gagah sampai yang paling ringkih dan ceking, dan lain sebagainya.

Seluruh wujud mereka merupakan pengejawantahan dari wujud hadiratNya. Pasti. Karena jelas bahwa tidak ada sumber wujud yang lain lagi. Maka, konsekuensinya adalah bahwa seluruh wujud makhluk itu pastilah diliputi oleh asal-usul mereka itu sendiri. Dan dari situ pula sah adanya sebutan “Tuhan seluruh alam atau رب العالمين” yang disandang oleh hadiratNya.

Seluruh makhluk murni berposisi sebagai objek di hadapan kemahaan Allah Ta’ala. Tidak ada satu pun di antara mereka yang betul-betul merupakan subjek. Dengan demikian, mereka secara substansial hanya bisa menerima pengaruh dan sama sekali tidak bisa sebaliknya. Dan di antara seluruh makhluk yang ada, manusialah yang paling memiliki kemungkinan untuk mendapatkan pengaruh keilahian sebanyak-banyaknya.

Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah mengikis segala bentuk egoisme yang bercokol dan eksis di dalam diri. Pada saat yang bersamaan juga bisa berarti ikhtiar untuk menampung berbagai macam pengaruh positif yang tercurah dari hadiratNya. Semakin terkikis dan kalis aneka ragam kekelaman dan dosa-dosa dari dalam diri, maka akan semakin luas dan kukuh pula porsi kemungkinan untuk menampung pengaruh-pengaruh keilahian tersebut.

Beribadah, baik secara mahdhah maupun ghairu mahdhah, baik secara vertikal maupun dalam konteks horizontal, tak lain merupakan proses “pengilahian” diri dengan cara menekuk jarak yang membentang antara diri kita dengan Allah Ta’ala. Semakin dekat diri kita dengan hadiratNya, semakin banyak pula sifat-sifat yang digelontorkanNya kepada kita.

Peristiwa tentang mukjizat yang dialami para nabi atau karamah yang dialami para wali yang merupakan kejadian luar biasa dan adikodrati mesti kita pandang dan pahami sebagai petunjuk yang konkret bahwa Allah Ta’ala itu telah sudi memerankan mereka secara langsung dalam kehidupan nyata agar menjadi sarana hidayah bagi orang-orang yang menyaksikannya.

Akan tetapi jelas bahwa sifat-sifat keilahian yang luar biasa dan adikodrati itu jangan pernah menjadi tujuan untuk kita miliki. Menyematkan tujuan itu di dalam ibadah-ibadah kita hanya akan merusak nilai-nilai penghambaan kita dan akan membuat serong langkah-langkah perjalanan rohani kita. Itulah sebabnya, ketika ada seseorang yang datang kepada Syaikh Abu Yazid al-Basthami dan menyatakan bahwa dia telah berpuasa selama tiga puluh tahun namun dia belum merasakan adanya bukti-bukti kewalian, Sang Syaikh itu kemudian menukas, “Kau tak akan pernah sampai pada kedudukan yang terpuji itu karena tujuanmu dengan berpuasa sudah melenceng.”

Artinya adalah bahwa menginginkan adanya sifat-sifat keilahian agar terealisasi ke dalam diri tak lain merupakan hijab yang tebal yang membuat siapa pun akan terpelanting jauh dari hadapan hadiratNya. Ibadah adalah membakar egoisme yang sempit dan sumpek. Sementara menginginkan sifat-sifat keilahian agar bersemayam di dalam diri adalah pengukuhan berhala egoisme yang kelam tersebut. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.