Sisi Lain Manusia Burung

in Esai by

manusia burung

Banyak pihak tak percaya bahwa film yang dibuat selama dua belas tahun akhirnya kalah sama film yang hampir dikira sebagian orang sebagai film superhero di perhelatan sebesar Oscar. Padahal, nyerempet tema kepahlawanan pun tidak. Saya termasuk orang yang kaget kenapa film ini menang. Karena saya lebih menjagokan cerita heroik seorang penembak jitu dari Amerika yang gagah perkasa, terlepas dia juga menjadi seekor rakun cyberkinetic di film superhero luar angkasa di tahun yang sama.

Para juri pasti menilai lain di film besutan sutradara yang berasal dari Meksiko ini. Impresi pertama saya terhadap film ini biasa saja. Tapi saya memutuskan untuk menonton lagi.

Sial!

Pantas saja film ini juga menyabet penghargaan skenario dan sutradara terbaik di ajang yang sama. Yang paling menonjol dari film dari sutradara film Babel serta Biutiful ini adalah ceritanya. Anda bisa melihat cerita yang ditonjolkan benar-benar menarik daripada menonton film dengan efek mewah tentang alien yang turun ke bumi sebagai truk atau film tentang kehidupan bocah sampai dia dewasa yang diperlihatkan begitu membosankan selama tiga jam atau film tentang ksatria, putri, dan bintang jatuh.

Film ini sungguh sederhana, bahkan akan membuat mangkel, terlepas dari ending yang hanya begitu saja serta musiknya yang sama sekali jauh dari kesan menggetarkan. Anda hanya akan mendengar suara ketukan drum yang dimainkan Antonio Sanchez sepanjang film sebagai musik latar. Tak megah tapi justru elegan. Terlebih, sang sutradara juga menggunakan one single shot take, sehingga kamera terus menyambung sepanjang film, seolah kita terus mengikuti adegan yang tanpa putus, walau pergantian siang dan malam terlihat sebagai hal yang sederhana.

Sudah saya bilang… film ini sungguh sederhana. Tapi bisa menang pada film tentang alien yang jadi mobil sedan? Heran.

Tak bermaksud spoiler kepada Anda yang belum menonton—ke mana saja belum nonton film bagus?—premis dari cerita manusia burung ini adalah tentang post power syndrome. Sindrom haus kekuasaan seorang aktor yang masanya sudah lewat.

Kekuasaan di film ini terfokus ketika sang aktor yang sudah tua harusnya mulai berhenti berakting tapi sosok manusia burung di dalam dirinya yang pernah dia perankan mulai mengusik batinnya. Intrik cerita ini sesederhana bagaimana kelak manusia yang pernah berkuasa harus menghadapi masa tuanya. Apakah dia benar-benar harus turun atau tetap mengusik dunia yang pernah membesarkannya?

Pergulatan batin menjadi suara-suara yang menghantui diri si lakon. Saat hubungannya dengan keluarga mulai pecah, muncul aktor muda yang mulai mengancam ketenarannya serta intimidasi dari seorang kritikus yang tak suka sama drama yang dia mainkan.

Anda yang sudah tua mungkin pernah mengalami ini. Ini sama sekali beda dengan puber kedua. Walau saya belum pernah mengalami tua dan puber kedua, setidaknya lakon film ini sudah menjelaskannya.

Apakah wajar? Tentu saja.

Apalagi bagi yang pernah merasakan enaknya menjabat dan sering diagung-agungkan pada masa emasnya. Tak perlu menjadi orang terkenal untuk terkena sindrom ini. Posisi yang membuat Anda di atas sanggup membuat Anda terkena dampak ini. Termasuk posisi bercinta dengan pasangan. Mungkin. Entahlah.

Tak pelak, sindrom kekuasaan setelah masanya memang menakutkan. Anda yang tua harusnya wawas diri. Sudah waktunya Anda duduk diam mengawasi benih-benih baru yang menggantikan Anda. Bukannya ikut campur sampai akhirnya menjabat lagi. Bayangkan bila Tuhan juga terkena sindrom.

Lalu, apakah saya bisa seperti manusia burung? Ya. Konflik yang dibangun di film ini juga berpengaruh dalam kehidupan saya sebagai penulis—walau kadang lebih suka menyebut diri detektif partikelir. Konflik film manusia burung bisa dibilang mewakili konflik para penulis atau seniman apa pun.

Mulai dari urusan keluarga. Apakah anak Anda menerima Anda sebagai seorang seniman? Oke…, jangan muluk-muluk mengatakan anak, katakanlah pacar.

Apakah pacar Anda bangga menyebut Anda seorang penulis atau seniman di hadapan teman-temannya? Tidak? Jangan khawatir. Anda pasti jomblo seperti saya. Mungkin contoh lain ada di keluarga Anda sendiri. Sebagai seorang seniman, apakah keluarga Anda pernah memajang karya Anda di salah satu sudut rumah? Lantas pada pertemuan keluarga berikutnya, apakah Anda ditanyai kapan ada karya baru sebelum ditanyai kapan kawin?

Jika belum…, tak apa. Anda berada di lingkungan keluarga swadaya seperti saya.

Lalu muncul seniman-seniman baru. Seniman muda yang karyanya jauh lebih bagus atau mirip karya Anda, tapi apresiasinya lebih banyak karena ternyata dia buzzer di instagram. Tentu menyikapi seniman yang bergerak di bidang yang sama bisa bermacam-macam. Contohnya saya.

Sebagai penulis, tentu saya merasa terancam ketika para buzzer mulai menulis dengan EYD yang acak-acakan lalu membenarkan dengan dalih bahwa EYD hanya untuk pelajaran sekolah. Dia punya massa yang banyak, tapi saya? Gebetan saja malas membaca buku yang saya tulis. Apakah ini adil? Kalau tidak adil, mungkin saya sudah mendaftar ke lembaga MLM terdekat.

Menghadapi terjangan generasi baru itu gampang, kok. Contoh saja Nabila dan Melodi. Mereka tetap muncul di televisi walau Team K dan Team T banyak yang cantik. Meski tetap saja lebih cantik Shinta Naomi bagi saya.

Ya, itu hanya contoh kecil. Bahwa regenerasi itu ada dan terus tetap ada, karena seni adalah budaya. Seperti bunyi hukum ketiga Newton kalau energi itu selalu terbarukan, seni pun demikian. Dia bisa habis, tapi tetap saja akan ada yang baru.

Dan tentu saja, seniman selalu berdampingan dengan kritikus. Satu kritikan tajam bisa membuat seniman jatuh. Mungkin parahnya bisa saja tidak akan ada karya baru yang keluar karena kritikan itu sudah menggoreskan palung di hatinya.

Di film Birdman, tokoh yang diperankan Michael Keaton sempat mengancam kritikus agar tidak menulis resensi atas sandiwara yang diperankannya dengan jelek. Hasilnya bisa ditebak, Anda harus menonton filmnya sendiri.

Apa dengan begitu seniman harus mengabaikan kritikan pedas begitu saja? Bagi yang bijak, mereka akan mengatakan kritikan pedas tetap punya sisi baik. Ini ranah yang abu-abu bagi Anda yang berpikiran bebal. Saya paham setiap seniman selalu mengatakan apa yang telah dihasilkan adalah sebuah mahakarya yang tak bisa ditiru lagi. Itu benar, tapi tak lantas Anda kemudian patut mengagungkannya secara berlebihan; mengumbarkannya dengan semena-mena bahwa semua makhluk di dunia ini harus mengapresiasi karya Anda.

Sebagai penulis, sering kali kritikan yang datang kepada saya pedas. Ketahuilah, kritikan pedas ini selalu berasal dari orang random atau kebanyakan dari anonim. Hanya beberapa kerabat yang berani mengkritik saya dengan tajam kemudian meminta maaf setelahnya. Maklum…, sifat sungkan tetap ada. Padahal kalau namanya kritik itu bebas. Sakit hati pasti ada, tapi bukankah itu gunanya pacar sebagai tempat bersandar?

Bila Anda masih mangkel kenapa film seperti ini bisa menang Oscar lalu ternyata konflik yang dialami tokoh utama merupakan refleksi hidup Anda kini, keluarlah lewat jendela gedung tertinggi. Melompatlah. Siapa tahu ada burung yang terkena radioaktif mengubah Anda menjadi manusia burung sungguhan.

Sumber gambar: thefilmfatale.me

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian
Go to Top

Powered by themekiller.com sewamobilbus.com caratercepat.com conception à la maison