Sisik Naga di Jari Manis Gus Usup

in Cerita Pendek by
bt3_1
ellusionist.com

Gus Usup bukanlah orang biasa. Kami menghormatinya sebagaimana kami menghormati orang-orang terhormat. Penghormatan terhadap Gus Usup telah dilakukan para tetua sehingga tak ada alasan buat kami untuk tidak berlaku hormat padanya. Ketika dia melintas di jalan, orang-orang menyapanya dengan penuh rasa hormat, sedikit membungkukkan badan, menanyakan mau ke mana, hingga mempersilakan mampir ke rumah. Sebuah kehormatan luar biasa bila Gus Usup berkenan singgah dan menyeruput kopi yang kami suguhkan. Tentu saja ini jarang terjadi. Gus Usup menjawab sapaan kami dengan tersenyum sambil terus mengayuh sepedanya.

Assalamu’alaikum, Gus,” begitulah kami menyapa ketika beliau lewat. Salam itu dijawabnya dengan sopan pula.

“Mampir dulu, Gus.”

Inggih, terima kasih,” jawabnya lembut.

Gus Usup bukanlah orang sembarangan. Itulah pandangan kami selama ini. Karenanya kami sebagai orang biasa tidak pernah memperlakukannya secara sembarangan pula. Kami tidak pernah menggunjing tentangnya. Segala yang terkait dengan Gus Usup kami anggap sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada prasangka buruk sekecil biji zarah pun terhadap Gus Usup. Sikap dan pembicaraan para orang tua kami seakan memberi contoh bahwa begitulah yang harus kami lakukan terhadap Gus Usup, termasuk kepada saudaranya seperti Gus Man, Gus Mak, Gus Roz, dan Gus Zin. Kami memang memanggil dengan sapaan “gus” untuk laki-laki keluarga pondok. Di antara mereka itu hanya Gus Usup yang bergaul akrab dengan siapa saja.

Gus Usup terbilang tampan. Wajah dan kulitnya kuning bersih. Rambutnya selalu dipotong pendek. Karena tak pernah memakai kopiah, rambut bagian depan yang agak panjang terlihat ikal menggelombang. Alisnya cenderung tebal. Dia tak pernah memelihara kumis dan jenggot, tapi tepat di bagian bawah bibirnya terdapat rambut yang dibiarkan tumbuh hingga membentuk gerumbul yang manis di wajahnya. Sering dia mengangkat ujung sarung hingga sebatas dengkul saat berjalan. Bulu-bulu keriting kelihatan tumbuh lebat di kakinya yang kuning. Mungkin karena ketampanannya itulah Gus Usup menjadi anak kesayangan Bu Nyai.

“Sejak anak-anak, Gus Usup itu suka main dengan anak-anak kampung,” cerita Guk Mat sebagai teman sepermainannya.

“Apa kesukaannya, Guk?” kami bertanya.

“Menghanyutkan diri dengan rakit dari batang pisang, lalu mandi bersama-sama di Kali Dam sambil belajar renang gaya sungai,” lanjut Guk Mat sambil memperagakan renang gaya sungai. “Gus Usup juga suka mencari batu-batu kecil di dasar sungai.”

“Untuk apa batu?”

“Katanya itu batu akik.”

“Kalau ketahuan keluarga pondok, Gus Usup dimarahi apa nggak, Guk?”

Guk Mat tersenyum. Sepertinya dia memang punya kenangan masa kecil yang seru dengan Gus Usup.

“Ya, sering. Gus Man itu, kakaknya yang paling besar, sering mencarinya. Gus Usup diseret pulang kalau ketahuan mandi di sungai. Makanya kalau habis mandi Gus Usup nggak berani langsung pulang.”

“Kenapa, Guk?” kami makin ingin tahu.

“Kalau habis mandi di sungai mata pasti merah warnanya. Makanya kalau pulang harus nunggu lama sampai nggak merah lagi. Tapi itu dulu,” kata Guk Mat. “Sekarang Kali Dam sudah tercemar sampah dan limbah.”

Inilah satu kebiasaan lain Gus Usup. Kami hampir selalu melihat dia menggigit-gigit benda kecil semacam tusuk gigi hingga kedua rahangnya bergerak-gerak. Sering dia menggapai ranting-ranting kecil ketika berjalan, atau bagian-bagian tertentu dari pagar bambu di tepi jalan yang dilewatinya untuk digigit-gigit menggantikan yang telah habis di bibirnya. Mohon maaf kalau perumpamaan kami tidak tepat. Kesukaan Gus Usup menggigit-gigit lidi itu mirip kebiasaan burung labet yang hendak bersarang.

Seperti yang sering kami lihat, pagi itu tampak Gus Usup berjalan meniti pematang di jauh sana. Dia kembali pulang setelah semalam bermain kartu remi dengan orang-orang kampung di sebelah timur, di rumah Wak Parmin dekat kuburan. Rumah Gus Usup di lingkungan pondok dengan kampung kami memang dipisah oleh bentangan sawah. Kami tetap tahu meski dia berjalan sambil sarungnya diangkat hingga menutup kepala. Bila Gus Usup tidak pulang, Fadilah, keponakannya, sering mencari di pojok kampung tempat dia bermain kartu.

Meski umurnya terbilang lebih dari cukup, Gus Usup belum menikah. Guk Mat, teman sepermainan Gus Usup itu, sudah memiliki tiga orang anak. Tapi Gus Usup belum ada tanda-tanda mau menikah. Dulu kabarnya dia akan dijodohkan dengan Ning Sokhifah, anak Gus Bay dari pondok utara, tapi tak ada kelanjutannya. Justru Ning Sokhifah malah menikah dengan Gus Roz, adik Gus Usup dari ibu yang berbeda. Entah mengapa Gus Usup belum menikah, padahal kalau dia mau, tinggal memilih bidadari di kampung kami yang paling cantik pasti terkabul. Kami tahu hampir semua gadis di sini ingin jadi menantu keluarga pondok. Para gadis pun diam-diam berusaha menampakkan diri ketika Gus Usup yang tampan itu lewat. Tapi memang begitulah adanya. Keluarga pondok biasanya mengambil menantu juga dari keluarga pondok yang lain, meskipun antarmereka masih memiliki hubungan kerabat. Tapi sayang, hubungan antarpondok sekarang banyak yang kurang akrab karena para pengasuhnya terlibat dukung-mendukung partai politik yang berbeda. Mereka bahkan bersaing tidak sehat dalam pencalonan anggota parlemen maupun kepala daerah. Syukurlah hingga detik ini Gus Usup tidak termakan godaan partai politik hingga bisa bergaul dengan siapa saja.

Sebagai teman sepermainan Gus Usup, Guk Mat bekerja di pabrik gula. Tapi pekerjaan Gus Usup tidak terlalu jelas buat kami. Yang pasti Gus Usup rajin ke sawah, baik yang berada di belakang pondok maupun di sebelah utara kampung. Segala yang ditanam Gus Usup tumbuh dengan baik. Bila musim kemarau, tanaman terong, lombok, serta tomat berbuah dengan lebat. Saat malam, ketika kami berburu jangkrik sambil membawa obor, terong-terong itu sering kami curi untuk dimakan mentah-mentah, meski banyak juga di antara kami takut kalau terkena sesuatu setelah makan terong Gus Usup.

“Perutmu bisa mlembung kalau nyolong terong Gus Usup,” kata Guk Mat menakut-nakuti kami.

Seperti diceritakan oleh Guk Mat, dulu waktu mandi Gus Usup suka mencari batu akik di dasar sungai. Dan itulah yang paling menjadi perhatian bagi kami: cincin akik yang melingkar di jari manis Gus Usup. Batu akik sebesar ibu jari itu bermotif sisik naga, berwarna cokelat dengan ornamen seperti sisik yang saling menindih. Saat bermain kartu, terutama ketika malam menjelang ada orang hajatan di kampung, akik sisik naga Gus Usup itu hampir pasti menjadi pembicaraan. Dengan memakai akik itu konon Gus Usup tidak pernah kalah dalam bermain kartu. Kalau toh kalah dengan taruhan uang kecil-kecilan, kata orang itu sengaja mengalah demi menyenangkan lawan mainnya seperti Guk Mat, Guk Pin, Wak Parmin, Wak Rokemat, Kang Marsud, Kang Maskut, Kang Gangsar, Cak Kamal, Cak Nan, dan beberapa orang lainnya.

Mungkin karena sering mendengar cerita soal akik Gus Usup, tidak sedikit yang berusaha mendekat sambil menuding-nuding akik itu, terutama mereka yang berumur belasan tahun. Gus Usup hanya tersenyum sambil tetap bermain kartu remi di acara hajatan warga.

 “Kalau pegang kamu nggak bisa kencing dan berak,” kata Gus Usup.

 “Masak, Gus!?” Salah satu dari mereka, Dulah namanya, terjingkat.

 “Lo, beneran. Nggak bohong ini,” ujar Gus Usup kalem sambil tersenyum.

 “Demi Allah, Gus?”

 “Demi Allah,” Gus Usup manggut-manggut.

Mendengar jawaban Gus Usup tiba-tiba semuanya terdiam. Tergambar perasaan takut pada wajah mereka. Mereka agak menjauh. Tapi Dulah kembali nyeletuk, “Musyrik itu, Gus. Masak pegang aja nggak bisa kencing dan berak?”

“Kamu nggak percaya?” tanya Gus Usup sambil meletakkan sebuah kartu remi ke deretan di depannya.

“Masak?”

“Buktikan saja kalau berani,” Gus Usup tersenyum sambil mengulurkan lengan kirinya, sementara kartu reminya dipindah ke tangan kanan. “Kalau tidak terbukti nanti saya beri uang kamu.”

 “Saya berani, Gus. Bismillaahir rahmaanir rahiim.” Dulah pun menyentuhkan ujung telunjuknya ke akik Gus Usup, agak sedikit gemetar tapi berani.

 “Sudah?” tanya Gus Usup.

 “Sudah, Gus. Nggak apa-apa kan?”

 “Ayo, sambil memegang sekarang kamu kencing dan berak di sini!”

 “Wah ya nggak mau, Gus….”

 “Nggak bisa kan? Tadi saya bilang kalau pegang. Kalau ke WC berarti sudah tidak pegang.”

Semua yang hadir tertawa. Dulah cengar-cengir. Beberapa saat setelah itu giliran Gus Usup mengambil sebuah kartu remi yang tertumpuk di depannya, ditepuk-tepuk dulu punggung kartu itu dengan jemari yang dihiasi sisik naga, digeser, diletakkan di depannya, kemudian diintip pelan-pelan dari sudutnya.

Ngandang!” kata Gus Usup sambil membuka semua kartu di tangannya dengan cekatan, diletakkan di lantai. Benar, kali ini dia memenangkan permainan. Diraupnya uang recehan yang menumpuk di tengah karena sudah lima kali putaran belum ada yang memenangkan. Yang lain cuma manggut-manggut kecut. Dengan sigap Gus Usup kembali mengocok tumpukan kartu dan membagikan kepada para pemain.

“Sisik naga dilawan,” kata Cak Nan sambil meraih gelas kopi.

“Giliranku menang.” Wak Marsud menepuk-nepuk sisik naga di jari Gus Usup. Gus Usup hanya tersenyum.

“Habis recehan saya, Gus,” kata Guk Mat.

“Masih sore kok sudah habis,” Gus Usup menimpali. “Tukarkan!”

Semua yang bermain mengerti apa yang dimaksud Guk Mat. Mereka berharap Gus Usup membagikan kembali uang yang telah dimenangkan. Dan memang demikianlah. Mereka yang bermain dengan Gus Usup boleh dibilang tak pernah kalah atau merugi. Mungkin juga tak pernah benar-benar menang. Di akhir permainan, atau ketika lawannya sudah kehabisan uang, Gus Usup akan memberikan kembali uang itu. Mereka lama-lama merasa sungkan. Ketika Gus Usup kalah dan kehabisan uang, mereka pun memberikan kembali uang modal kepada Gus Usup. Akik sisik naga di jari manis Gus Usup akhirnya menjadi harapan mereka, karena kalau Gus Usup menang pasti uangnya akan dibagikan kembali.

Dulu, ketika kami belajar mengaji dan berlatih bela diri di pondok, akik sisik naga Gus Usup juga menjadi perhatian. Kami berlatih tenaga dalam. Untuk mengujinya, salah seorang di antara kami harus nyetrum, sejenis trans tapi masih dalam kesadaran utuh sebagai penyerang. Gus Usup dengan enaknya berkata kepada kami sambil meletakkan akik sisik naganya di lantai. Kami tahu, akik itu sudah diisi oleh Gus Usup dengan bacaan tertentu.

“Silakan nyetrum, datangkan semua kekuatan dan ambillah ini!”

Benar, kami semua terpental. Tak seorang pun yang berhasil mengambil akik itu meski seluruh tenaga dalam sudah kami datangkan saat nyetrum. Isian akik itu benar-benar berat. Gus Usup tak pernah membuka rahasianya. Entah ayat atau asmaul husna apa yang dibacakan. Kami makin hormat dengan Gus Usup.

Gus Usup sepertinya juga tahu walau tidak melihat. Ini terbukti saat kami salat berjamaah waktu belajar mengaji di pondok dahulu. Seperti biasa, kami yang waktu itu masih anak-anak suka bergurau, saling menggoda, tertawa cekikikan dan saling mendorong saat salat. Kami memang berada di saf atau baris paling belakang. Nah, begitu salam pertanda salat usai, tiba-tiba Gus Usup dari saf terdepan bangkit menghampiri kami. Mereka yang bergurau saat salat digebuki dengan sajadah. Gus Usup ternyata tahu persis siapa yang bergurau dan siapa yang tidak. Sejak itu kami tidak berani lagi bergurau saat salat, terutama kalau ada Gus Usup. Kadang-kadang di antara kami ada juga yang mbeling, berharap Gus Usup tidak ada sehingga bisa sedikit gurauan, saling mencubit dan dorong-dorongan ke samping waktu salat berjamaah. Bagi kami saat itu, salat berjamaah adalah saat yang tepat untuk usil dan menjahili teman. Karena itulah salah seorang teman yang mbeling, Muhdlor namanya, pernah diselentik kupingnya oleh Gus Usup dari belakang. Saat itu Muhdlor memasukkan pemukul kentongan ke sarung teman yang sedang sujud di depannya. Muhdlor tidak tahu kalau Gus Usup baru datang di belakangnya. Saat pulang dari mengaji Muhdlor kami kapok-kapokkan sepanjang perjalanan hingga dua hari dia tak berani ke pondok.

Uang recehan Guk Mat sudah benar-benar habis. Beberapa kali putaran dia tidak pernah memenangkan permainan kartu remi itu. Gayanya membanting kartu sudah tampak bahwa dia agak kesal karena belum pernah nyirik. Sementara dia melihat di depan Gus Usup uang recehan mengumpul sebagai bukti kemenangan. Tiba-tiba Gus Usup pamitan ke belakang. Dia minta permainan dilanjutkan saja. Hari memang semakin beranjak malam. Semua pemain juga sudah pernah pamit ke belakang untuk kencing. Dengan sedikit terburu-buru Gus Usup masuk kembali dan melemparkan jaketnya ke Guk Mat.

“Titip sebentar, biar tidak basah!” kata Gus Usup.

Jaket tentara warna hijau yang sudah memudar itu berada di pangkuan Guk Mat, baunya apak kayak karung karena mungkin sudah lama tak dicuci. Permainan berlangsung terus meski harus melangkahi giliran Gus Usup. Sampai satu putaran usai Gus Usup belum juga kembali. Entah mengapa kali ini lama. Dari tadi memang Gus Usup tampak kurang nyaman sambil memijit-mijit perutnya.

“Mumpung tak ada Gus Usup. Menang!” kata Guk Mat dengan yakin.

“Aku yang harus menang,” Cak Kamal menimpali.

“Jangan mulai dulu. Kita tunggu Gus Usup datang,” usul Cak Nan.

“Kan kita disuruh terus tadi?” Kang Marsud ingin berlanjut.

“Gak enak ah!” sergah Cak Nan.

“Lanjuuut…!” Guk Mat tak mau membuang-buang waktu. Kartu remi itu dikocok dengan cepat. Diletakkan di tengah, barangkali ada yang mau mengocok lagi karena tidak puas. Tidak ada. Guk Mat segera membagikan kartu itu satu per satu. Permainan pun berlanjut. Ketika semua asyik mencermati kartu, Gus Usup muncul dan pamitan pulang dengan terburu-buru. Tanpa menunggu tanggapan dia langsung pergi dengan mengucapkan satu kalimat pendek, “Perutku nggak enak.” Uang recehannya juga ditinggal.

Kepulangan Gus Usup membuat para pemain bersemangat untuk memenangkan. Cuaca malam makin dingin. Guk Mat baru tersadar bahwa jaket Gus Usup masih di pangkuannya. Tanpa berpikir panjang dia memakainya untuk menghangatkan badan. Kepulangan Gus Usup membuat peluang mereka untuk menang makin besar karena musuhnya berkurang satu orang. Kali ini benar-benar tampak serius di wajah mereka. Mata mereka melihat ke lantai ketika ada kartu yang dibanting. Setiap ada kesempatan mengambil kartu selalu dibarengi harapan agar bisa ngandang alias menang. Cara mereka membuka kartu juga sangat hati-hati, ditarik ke depannya dan diintip pelan-pelan dari pojok. Membuka kartu adalah membuka nasibnya sendiri. Tumpukan kartu di depan mereka juga makin menipis, seperti gundukan pasir yang makin lama makin tipis karena disapu angin.

“Nutup!” kata Guk Mat tiba-tiba, sembari membuka kartunya ke lantai. Uang recehan yang menumpuk di tengah itu disiriknya. Dia pun bergegas meraup kartu untuk dikocok ulang. Darah baru tampak merambat di wajahnya.

Tanpa kehadiran Gus Usup permainan bukan makin mengendor, tapi makin bersemangat. Hari makin malam dan masuk ke dini hari. Mereka tidak lagi bertaruh dengan recehan, uang kertas yang tadi hanya ngendon di saku kini keluar dengan warna-warninya. Permainan kali ini bukan sekadar cari hiburan atau menghabiskan waktu, tapi benar-benar mempertaruhkan nasib untuk meraih kemenangan. Putaran demi putaran berlangsung. Meski tidak sama kadarnya, rata-rata dari mereka sudah pernah memenangkan dari putaran-putaran sebelumnya. Lihatlah, uang-uang kertas tampak di depan mereka. Di depan Guk Mat tampak lebih banyak karena dia lebih sering nyirik. Recehan tidak lagi bermakna, bahkan disisihkan.

Tiap rentetan peristiwa pasti mencapai puncaknya. Titik kulminasi terjadi bukan tiba-tiba, tapi mengalir dengan pasti, seperti suhu pada tungku pembakaran yang mendidihkan air. Begitu juga permainan kartu kali ini. Mereka yang kehabisan modal telah tersingkir. Tidak ada lagi pembagian recehan seperti kalau bersama Gus Usup. Kopi-kopi di tempatnya sudah tinggal ampas dan memadat. Ayam berkokok sudah terdengar. Mungkin sebentar lagi beduk subuh ditabuh. Di arena permainan itu menyisakan tiga orang: Guk Mat, Cak Kamal, dan Kang Marsud. Mereka yang tersisih kini sebagai penonton saja. Sudah lima putaran belum ada yang memenangkan. Sementara tiap ganti putaran uang taruhan selalu ditambahkan.

“Sudah, ini yang terakhir!” kata Kang Marsud ketika memulai lagi permainan.

“Oke, yang terakhir. Ini semua!” Cak Kamal mendorong semua uangnya ke tengah. Tanpa sisa.

Mau tak mau semua harus menambah taruhan sebesar yang disodorkan Cak Kamal. Uang Kang Marsud ternyata tak cukup. Terpaksa harus ditambah dengan recehan yang tadi ditinggalkan Gus Usup di dekatnya.

“Pinjam, Gus,” kata Kang Marsud sambil menghitung recehan.

Inilah pertaruhan nasib di titik-titik akhir. Sudah tak ada lagi taruhan yang ditambahkan. Dompet-dompet sudah terkuras. Tampak mereka makin berkonsentrasi. Kartu yang dibawa juga makin rapat dirahasiakan agar tidak diintip oleh lawan. Cara mereka membanting kartu juga makin keras. Setiap kartu yang dibanting selalu diikuti oleh pandangan mereka. Selalu waswas, jangan-jangan kartu yang dicari sudah terbanting di arena. Mereka yang menonton juga berharap cemas. Ingin tahu siapa yang berhasil meraup uang yang menumpuk di tengah arena itu.

Seperti juga memancing. Ada debaran dan harapan agar ikan segera menggondolnya. Ikan itu kali ini tidak lain adalah kartu remi. Mata mereka makin membuka. Jantung mereka makin mendebar. Alir darah mereka juga makin menderas. Beberapa putaran kartu-kartu yang mereka buru juga belum ketemu. Sepertinya mereka saling mengetahui kartu-kartu yang diburu sehingga dicengkeram makin rapat. Waktu makin merambat dengan pasti. Kokok ayam makin kerap terdengar.

“Nah, ngandang!” kata Guk Mat dengan cepat. Semua kartu yang dipegangnya dibanting ke lantai dengan terbuka. Semua mata spontan ikut menatap. Benar! Guk Mat memenangkan permainan. Wajahnya tampak berbinar-binar. Darah segar sepertinya langsung menderas ke tubuhnya. Gunungan uang di tengah arena langsung diraupnya mendekat. Sementara Kang Marsud dan Cak Kamal melemas karena pertaruhan nasib semalam suntuk harus berakhir dengan pahit. Ketidakhadiran Gus Usup telah membuat dompetnya terkuras. Mereka berdua percaya, sebentar lagi istrinya ngomel-ngomel karena tak kebagian uang belanja. Permainan pagi itu pun bubar.

 Sesampai di rumah Guk Mat langsung masuk kamar. Uang yang tadi digembol dalam perut jaket segera dikeluarkan. Lembar demi lembar menggumpal dengan warna-warna campuran. Sekian banyak rupiah dari banyak orang telah mengumpul di tangan Guk Mat. Dia ingin menghitung cepat-cepat dan menyembunyikan agar tidak ketahuan istrinya.

Guk Mat teringat, di tengah permainan tadi dia juga sempat menyembunyikan uang kemenangan di saku jaket Gus Usup yang dipakainya. Uang itu segera dikeluarkan. Ah, jumlahnya makin banyak pula. Kantong saku jaket sebelah kiri telah dirogohnya. Kini dia berganti merogoh saku jaket sebelah kanan. Terasa ada benda aneh di tangannya. Segera dikeluarkan. Guk Mat terjingkat. Sisik naga! Akik Gus Usup itu ternyata ikut tertinggal di saku jaketnya. Entah ini disengaja atau tidak oleh Gus Usup. Mata Guk Mat tak berkedip melihatnya. Ada getaran di jemarinya.

 Tangan Guk Mat belum juga berubah. Akik sisik naga milik Gus Usup itu terus diperhatikan di kedua ujung jarinya. Dia mulai berpikir, apakah kemenangan terbesar yang diraupnya kali ini terkait dengan akik sisik naga di sakunya? Dia sadar bahwa benda itu milik Gus Usup, tapi lama-lama timbul keinginan pada diri Guk Mat untuk memiliki sisik naga itu. Guk Mat terpaku di atas dipan kamarnya. Uangnya masih menggelasah di tikar. Guk Mat menimbang-nimbang, cara apakah yang paling ampuh agar sisik naga itu terus berada di genggamannya?

Jombang-Surabaya, 2016

M. Shoim Anwar

M. Shoim Anwar

Lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya, dia melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya dan Universitas Negeri Surabaya, hingga memperoleh gelar master dan doktor dengan predikat cum laude. Shoim banyak menulis cerpen, novel, esai, dan puisi di berbagai media. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis, seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dan lain-lain.
Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (1992), Musyawarah Para Bajingan (1993), Limau Walikota (ed., 1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (1995), Bermula dari Tambi (ed., 1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah (2004), Perempuan Terakhir (2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (2010), Kutunggu di Jarwal (2014), dan kumpulan drama Theatrum—Malam Terakhir (ed., 2013). Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (1999), Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006). Buku lain yang ditulisnya adalah Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Lama (2013), dan Sastra Rebonding (2013).
M. Shoim Anwar

Latest posts by M. Shoim Anwar (see all)