Sketsa Keperkasaan Perempuan Jawa

in Rehal by

Perempuan-Perempuan Perkasa (sampul buku)

Judul               : Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

Pengarang       : Peter Carey & Vincent Houben

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Cetakan I        : Maret 2016

Tebal               : xiv + 114 hlm; 13,5 x 20 cm

ISBN               : 978-602-6208-16-3

Gara-gara kawannya, sebut saja Candra Gautama dan Christina Udiani, yang terus mengingatkan bahwa Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855 bukan bab terakhir tentang Perang Jawa, Peter Carey memutar otak. Kira-kira apa yang belum tersampaikan lewat buku tiga jilid yang sudah diterbitkan di Indonesia pada tahun 2012 lalu? Atau, jangan-jangan karena terlalu banyak yang Carey sampaikan dalam Kuasa Ramalan, pembaca malah kesulitan memahami secara utuh?

Kemungkinan kedua itulah yang dirasa lebih mungkin, sehingga Carey menengok penelitian lamanya yang digarap bersama Vincent Houben untuk diterbitkan. “Mereka membujuk saya untuk tidak menyia-nyiakan penelitian lama saya, supaya generasi muda di Indonesia dapat menjangkau hasilnya dalam bentuk yang mudah diakses dan tidak terlalu berat di tangan dan kepala seperti Kuasa Ramalan!” (hlm. xiv)

Syahdan, terbitlah buku Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX yang coba membingkai Perang Jawa dalam narasi-narasi perempuan. Sekilas judulnya mengingatkan kita pada karya Kavita A. Sharma, Perempuan-Perempuan Mahabharata (2013). Perbedaannya, Sharma menarasikan kiprah perempuan dari epos Mahabharata dengan menarasikan biografi beberapa tokohnya, sebut saja Satyawati, Amba, Gandari, Kunti, Drupadi, Ulupi, Citrangada, dan Alli. Sedangkan Carey tak memakai pendekatan ketokohan, melainkan “peran”.

Carey mengawali bukunya dengan memodifikasi peribahasa klasik, “Tangan yang menggoyang ayunan menggerakkan dunia! (The hand that rocks the cradle moves the world!)” Menurut Carey, peribahasa yang relevan untuk perempuan Jawa seharusnya, “Tangan dengan gendongan kain jarik menggerakkan dunia!” (hlm. x) Pada tahun-tahun  sebelum Perang Jawa (1825-1830) meletus, peran perempuan Jawa sangat menentukan di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, militer, budaya, keluarga, dan kehidupan sosial istana Jawa Tengah selatan.

Di bab pertama: “Sosok Perempuan Jawa dalam Sastra Kolonial Hindia Belanda”, Carey menunjukkan bagaimana sastra mengonstruksi identitas orang Jawa sebagai het zachste volk ter aarde, bangsa yang paling lembut di dunia. Pandangan tersebut kentara pada karya Louis Couperus, De Stille Kracht (1909), dan karya J.B. Ruzius, Heilig Indie (1905). Sosok Raden Ayu, dalam karya sastra kolonial Hindia Belanda, digambarkan seperti boneka yang tersenyum simpul dan meniadakan diri sendiri. Maka, perempuan Jawa dianggap elok, namun kepalanya kosong.

Carey pun tak lupa mendedahkan citra perempuan dalam jagat pewayangan (lagi-lagi diingatkan pada Perempuan-Perempuan Mahabharata). Dalam epos Mahabharata, lima bersaudara Pandawa mengabdikan diri mereka pada perempuan, yakni ibu mereka, Kunti, dan istri bersama mereka, Drupadi. Pengaruh epos Mahabharata kentara sekali, buktinya setiap kali ada perempuan hebat di negeri ini, lazim dijuluki Srikandi. Apalagi kalau sedang musim kompetisi olahraga internasional, semisal SEA Games, Olimpiade, dan lain-lain, Srikandi hadir bersama medali.

Mitos-mitos Jawa juga berlimpahan perempuan. Kita tentu mengenal nama-nama seperti Nyi Roro Kidul dan Dewi Sri. Perempuan Jawa dimistiskan, perempuan dalam mitos dikultuskan. Misalnya, pengunjung Pantai Parangtritis lazim dilarang memakai pakaian berwarna hijau. Konon, siapa pun yang nekat berenang dengan pakaian hijau, bakal diseret oleh Nyi Roro Kidul ke dalam laut. Keperkasaan bernuansa mistis itulah yang dikeramatkan oleh orang Jawa. Maka, di abad ke-18 dan awal abad ke-19, sering sekali diadakan upacara pujian untuk mengambil hati dewi-dewi perkasa seperti Batari Durga dan Nyi Roro Kidul.

Tokoh yang secara khusus ditonjolkan oleh Carey dalam buku agak tipis dengan beberapa gambar ilustrasi ini tentu ada. Carey menyebut dua nama yang dianggapnya sebagai “Srikandi” awal abad ke-19, yakni Raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang. Keduanya bukan perempuan sembarangan, Raden Ayu Yudokusumo ialah putri dari Sultan Yogyakarta pertama, sedangkan Nyai Ageng Serang merupakan mantan istri Sultan kedua. Merekalah panglima perang perempuan dalam sejarah Jawa, yang oleh Gerhardus Valck diberi label sadis sebagai “perempuan yang sangat mampu bertindak kejam”. (hlm. 27)

Bagian penting dalam buku Carey adalah peran perempuan sebagai pemelihara pertalian wangsa. Carey menulis, “…fungsi utama putri raja dan bangsawan keraton adalah sebagai pemelihara dinasti atau wangsa dan sebagai wadah untuk berprokreasi … mereka memelihara hubungan kekerabatan antara raja dan keluarga terkemuka kerajaan, dengan mengikat istana dalam suatu jaringan intim dengan dunia pedesaan Jawa melalui ikatan kekeluargaan yang luas.” (hlm. 45) Keberlanjutan dinasti ditentukan oleh pewaris yang terbentuk dari pergulatan di “gua garba”.

Barangkali, buku ini tak cukup memuaskan penikmat sejarah Indonesia, terkhusus sejarah Jawa. Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX mestilah dilihat sebagai pengantar ringkas ihwal posisi dan peran perempuan Jawa dalam sejarah. Untuk lebih lengkapnya, kita bisa menilik referensi-referensi yang dirujuk Carey. Dengan itu pula, kita dapat sekalian mencari jawaban untuk pertanyaan Carey di akhir kesimpulan, yakni “apakah memudarnya secara perlahan model matriarki gaya Polinesia dalam garis keturunan perempuan dipengaruhi secara serentak oleh kolonialisme dan Islam?” []

Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Sarjana rumah tangga alias pengangguran tersertifikasi.
Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Latest posts by Udji Kayang Aditya Supriyanto (see all)