Suara London yang Hilang dalam Petualangan Seekor Anjing

in Rehal by

Judul                           : The Call of the Wild (Panggilang Alam Liar)

Penulis                        : Jack London

Tebal                          : 158 Halaman

Penerbit                     : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan pertama       : 2016

ISBN                            : 9786020332918

Bagaimana menuliskan cerita dengan menjadikan binatang sebagai tokoh utamanya? Memang, ini bukan hal (baca: pertanyaan) baru. Apalagi dalam khazanah sastra dunia kita mengenal—sekadar menyebut dua contoh—Animal Farm karya George Orwell (1945) dan On Cats yang ditulis Doris Lessing (2008). Namun tak banyak yang tahu kalau Jack London telah melakukannya terlebih dahulu—setidaknya dari kedua penulis di atas—lewat The Call of the Wild yang diterbitkan pertama kali pada 1903.

Novel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Eko Indriantanto dengan menyertakan subjudul “Panggilan Alam Liar” ini menceritakan Buck, seekor anjing salju bertubuh kekar yang lahir dan dipelihara Hakim Miller dan anak-anaknya, di rumah mereka yang hangat di daerah Santa Clara Valley, California. Kekurangan makanan, kedinginan di musim salju, atau pecutan cemeti yang menyakitkan, tak pernah ada dalam kamus kehidupannya. Di akhir pekan Buck kerap diajak berburu oleh anak-anak sang hakim, atau menemani putri-putri tuannya berjalan-jalan di pagi atau senja yang panjang, atau kalau sedang malas tak jarang ia hanya menggelungkan tubuhnya sembari merenung atau mengitari pekarangan dan bermain-main di sofa. Meskipun ia bukan anjing rumahan, hidupnya bergelimang kemanjaan. Dan bagi kaum binatang itu, hal itu tentulah kemewahan.

Ketika baru ditemukannya tambang emas di Klondyke, Alaska, koran-koran menyiarkan berita bahwa para penambang liar tengah berburu anjing-anjing salju berbulu hangat-panjang yang berada di Puget Sound hingga San Diego. Dan … Buck tidak pernah membaca koran, atau ia akan tahu bakal ada masalah, ….  Begitu London membuka novelnya. London bahkan mengaitkan “kebiasaan” Buck yang tidak pernah membaca koran itu dengan kejahatan watak Manuel, pembantu tukang kebun Hakim Miller, yang tidak terendus. Dengan cerdas, London seakan-akan ingin mengungkapkan bahwa, apabila Buck membaca koran ia akan tahu kalau demam lotre Cina yang bisa membuat siapa saja kecanduan dan menghabiskan banyak uang, kemungkinan besar akan membuat Manuel sebagai penggila permainan itu akan melakukan segala cara untuk memuaskan hasrat berjudinya, termasuk dengan menjual anjing kesayangan tuannya. Sayangnya, seperti yang London nyatakan di pembukaan, Buck tidak pernah membaca koran ….

Maka, pada suatu malam yang dingin, ketika Miller dan keluarganya sedang tidak ada di rumah, Buck yang berusaha menoleransi dan menganggap perlakukan kasar Manuel  ketika menculiknya sebagai bagian dari permainan sebab pria itu sudah dikenalnya, lambat-laun diperkenalkan dengan citra manusia yang selama ini sudah lama mangkir dari kepalanya: kasar, bisa melukai, atau bahkan membunuh untuk alasan yang takkan pernah ia mengerti.

Ia berpindah-tangan dari tuan yang satu ke tuan yang lainnya. Dengan harga yang berubah-ubah, sesuai dengan kebugarannya ketika ditawarkan, sesuai dengan kecakapan penawar untuk menaksir baik-tidaknya mutu seekor anjing.

Dan tugas pertamanya sebagai anjing salju penjelajah di Pantai Dyea sungguh memukulnya. Bagaimanapun bayangan “kemewahan” di Santa Clara Valley terus membayang-bayanginya. Ia tiba-tiba direnggut dari jantung peradaban dan dilempar ke tengah-tengah dunia dengan hukum rimba. (Hlm. 26). Begitu London menuliskan gegar-lingkungan yang menimpa Buck. Ya, anjing itu dihadapkan pada kekerasan dan kekurangan makanan yang membuatnya tertekan dan kehilangan orientasi. Tiap jam bahaya menguntitnya. Ia akhirnya sadar kalau pembauran antara pelbagai jenis anjing—termasuk dengan anjing husky yang ukuran tubuhnya setara dengan serigala dewasa—yang dilakukan tuannya, bukanlah usaha untuk menciptakan kerukunan antaranjing, melainkan untuk melihat siapa yang lebih kuat dan mampu bertahan sehingga sang tuan dengan mudah menilai dan memilih anjing mana yang akan “dipakai” atau “dibuang”; anjing mana yang akan terus diberi makan sekaligus diperas tenaganya untuk mengarungi hamparan salju yang pekat di kutub utara, anjing mana yang lambat-laun akan jadi makanan serigala atau gagak di perjalanan. Dan dengan segala upayanya, Buck tidak mau menjadi bagian mereka yang tersisih. Tentu bukan lagi ingatannya akan “kemewahan” yang diberikan Hakim Miller yang mendorongnya, melainkan insting bertahan hidup sebagai binatanglah yang lamat-lamat tumbuh, liar, dan mengganas dengan sendirinya.

Dalam buku setebal 158 halaman itu, meskipun memosisikan diri sebagai kamera atau pencerita yang serbatahu tentang tokoh atau karakter yang diciptakannya, tidak sekalipun ia tergoda untuk menitipkan suara “manusianya” ke dalam tubuh dan tabiat mereka. Bahkan kepada tuan-tuan Buck yang berganti-ganti pun, London hanya mengandalkan dialog yang realis para penambang liar di daerah bersalju—penuh makian, miskin empati, dan berorientasi fisik. Hal itulah yang membuat cerita mengalir sesuai dengan kebutuhan tokoh, bukan pengarangnya. Adalah kabar gembira dalam dunia penceritaan ketika London akhirnya menawarkan kemenangan perspektif binatang di akhir cerita, bahwa terlemparnya Buck ke alam liar adalah pengembalian dirinya ke dalam hidup sesuai kodrat dan naluri, meskipun London tak sedikit pun menuliskan kalimat yang menunjukkan bahwa kemewahan yang diberikan Miller adalah perangkap yang meninabobokkan.

The Call of the Wild ibarat sepasang rel kereta. Buck dengan petualangannya adalah rel yang satu, sementara London adalah sebagai pencerita adalah rel yang satunya lagi. Penulis dengan setia membersamai ceritanya dengan aturan yang dengan ia buat dan patuhi: tidak sekalipun ia diperkenankan menyentuh rel cerita alias petualangan Buck. Suara London adalah anjuran atau bisikan atau katakanlah teriakan dari samping yang dikirimkan tanpa volume. London berdiam diri, berkonsentrasi mengantar telepati-telepatinya yang berisi plot, konflik, dialog, dan adegan, untuk didengar-patuh-mainkan oleh tokoh-tokohnya, termasuk “anjing-anjing” di dalam ceritanya.

Kemampuan London meleburkan dirinya di dalam cerita dengan menjadi makhluk halus yang dilupakan pembaca ketika menikmati ceritanya adalah kecakapan yang perlu ditimbang-timbang oleh para penulis masa kini untuk menghasilkan cerita yang berdiri sendiri. Hal yang sangat perlu dicatat adalah, bahkan London melakukannya ketika ia memosisikan diri sebagai orang ketiga di luar cerita alias pencerita yang sejatinya diberi hak prerogatif untuk hadir dalam tubuh, laku, dan imajinasi para tokohnya—dan London bahkan tidak memanfaatkan “fasilitas” itu sedikit pun!

Meskipun keberhasilan London dalam mengeksplorasi tokoh Buck dan tuan-tuannya dalam karakter yang berbeda secara ekstrem plus hamparan salju utara Amerika yang keras dan membunuh, tak bisa dilepaskan oleh pengalaman pribadinya sebagai pencari emas di alam liar Kanada di masa lalu, tak semua penulis mampu menyampaikan pesan bahwa keteguhan memegang prinsip adalah satu-satunya cara untuk bertahan di bumi ini, dunia yang penuh dengan hasrat membunuh ini.***

Benny Arnas
Follow Me

Benny Arnas

lahir, besar, dan berdikari di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Dua buku mutakhirnya; Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu (Diva, 2017) dan Curriculum Vitae (GPU, 2017).
Benny Arnas
Follow Me