Sufisme Filosofis; Narasi Suci Nalar Manusia

in Celoteh by
globalsoul.nl

Filsafat, saat ini, adalah sejenis makhluk astral yang bisa menembus berbagai macam dimensi disiplin keilmuan sekaligus kehidupan. Jangankan yang beraroma ilmiah (rasional-eksperimental), kini dalam setiap ungkapan rasa yang kadang tak masuk logika, tak juga dapat terindera, filsafat tetap bisa hadir dengan sebegitu elegannya. Dulu, filsafat adalah momok menakutkan dan pihak-pihak yang berkecimpung dengannya (filusuf) dicap sebagai orang-orang gila, bahkan pada tataran yang paling ekstrem mereka dianggap tidak beragama. Tentu tidak masalah jika pihak yang sedari awal mendaku dirinya ateis, namun akan lain ceritanya jika pihak yang meyakini “Yang Ada”, baik monoteis maupun politeis, dianggap tak berkeyakinan, maka darah adalah jalan keluarnya.

Kini, bagi penikmat kopi, kehadiran terma filsafat kopi melalui diaudio-visualkannya Filosofi Kopi dapat mengukuhkan identitas-eksistensial bahwa kecintaan terhadap kopi bukan hanya sekadar rasa pahit dan warna hitam, tetapi juga ada gengsi-gengsi filosofis tertentu yang tidak akan bisa diurai secara logis dan empiris oleh mereka yang tidak mensyukuri keberwujudan kopi itu sendiri. Lain daripada itu, virus kefalsafahan juga menjangkiti dalam segenap aktivitas pemikiran mahasiswa/i di lungkangan universitas, sebut saja, filsafat pendidikan, filsafat dakwah, filsafat adab, filsafat biologi, filsafat ekonomi, filsafat matematika, bahkan juga filsafat agama.

Saat ini, tidak ada yang bisa menolak kehadiran filsafat. Entah kita harus bahagia atau justru sebaliknya; di satu sisi filsafat bisa diterima oleh siapa saja, namun di sisi lain, filsafat menjadi begitu “enteng” bahkan terkesan “tak bertaji”. Jika dulu kita butuh Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Abu Hayan At-Tauhidi, Ibn Tufail, Miskawaih, Al-Razi, Al-Bustomi, Al-Hallaj, Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi, kini hampir setiap hari kita mendengar “perbincangan filosofis” oleh siapa saja, di mana saja, dan dalam nuansa santai dan ceria. Entah mereka benar-benar menikmati, atau mereka lupa bahwa apa yang mereka perbincangkan itu adalah “narasi suci”. Bukankah orang-orang dahulu mengajarkan kita bahwa sebelum “berpikir” kita sudah harus terlebih dahulu “berbudi”? Barangkali itu sebabnya Bab Thaharah dalam literatur fikih Islam klasik selalu berada di awal pembahasan sebelum memasuki kajian tentang Bab Ibadah, Bab Mu’ammalah, Bab Munakahah, dan Bab Jinayah. Atau kita ambil jawaban bijak; biarkan saja, mereka masih belajar menalar!

Terma “Sufisme Filosofis” atau yang dibahasakan dengan ‘al-Tasawwuf al-Falsafiy’ merupakan sebentuk penerimaan baru dari dimensi mistisisme Islam terhadap karakter filsafat itu sendiri. Kini, banyak yang mendiskusikan terma Sufisme Filosofis. Bukan tanpa alasan, karena dapatkah filsafat yang lahir tidak dari rahim peradaban Islam, mampu menuntun manusia kepada “Yang Hak” dan tetap berada di Shirath al-Mustaqim? Satu pertanyaan teologis yang jika gagal dijawab, maka bukan tidak mungkin, baik sufisme dan filsafat menjadi tidak penting.

Dapatkah kebenaran itu lahir dari luar rahim peradaban Islam? Bolehkah kita mencari dan mengambil kebenaran-kebenaran lain yang berada di luar lingkungan keagamaan kita? Dua bentuk pertanyaan lanjutan yang bisa membuat kita galau dan bimbang akan ke-ada-an kebenaran itu sendiri. Atau jangan-jangan akan memantik kita untuk berpikir bahwa klaim kebenaran merupakan bukti ketakmampuan kita berdamai dengan kehadiran the other?!

Al-Kindi, the First Creative Philosophical Writer in Islam, menyatakan bahwa; “sudah seharusnya manusia mencari atau menerima segala macam bentuk kebenaran dari berbagai macam sumber yang ada, kendatipun kebenaran tersebut berasal dari luar peradaban keagamaan kita. Sebab tidak ada yang lebih suci bagi para pencari kebenaran, kecuali kebenaran itu sendiri.” Dengan maksud yang sama dan diksi kata yang sedikit berbeda, Raimond Gita, dalam A Common Humanity; Thinking about Love and Truth and Justice, menegaskan bahwa: “tidak ada kebutuhan yang lebih suci kecuali kebutuhan kepada kebenaran itu sendiri.”

Sufism” dan “Philosophy” dua terma yang sedari awalnya berbeda bahkan saling mendaku diri sebagai media meditasi yang paling berhak untuk menemukan kebenaran absolut, dapat kita sinergikan sebagai satu keutuhan terma menjadi Sufisme Filosofis. Bukan tanpa alasan, upaya integrasi keduanya merupakan bukti bahwa perjalanan suci menuju Tuhan dapat dideskripsikan dengan nalar dan kesadaran kemanusiaan. Sufisme Filosofis merupakan upaya perdamaian ilmiah agar perang-tanding antara ilmu tasawuf dan ilmu filsafat, antara kesucian batin dan kekuatan pikiran, dapat diposisikan dengan seimbang. Tidak ada upaya untuk saling menundukkan di sana. Justru dalam terma Sufisme Filosofis ada kesadaran teo-antroposentris yang sama sehingga tidak perlu lagi ada pertumpahan darah atau saling sesat-menyesatkan antar-sesama pencari kebenaran.

Selama ini, tasawuf hanya dianggap sebagai hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas kebatinan keagamaan seseorang, sehingga cukup dialami dan diamini tanpa perlu dinarasikan dan dirasionalkan kembali. Perjalanan “menjadi” antara tasawuf dan filsafat ke dalam Sufisme Filosofis dapat kita pahami sebagai the Rise and Development of Islamic Rational Mysticism. Sebab pengalaman spiritual untuk dibagi dan pemikiran rasional untuk dikaji. Narasi suci nalar manusia dalam Sufisme Filosofis dapat kita lacak melalui dua tahap historisitasnya:

Pertama. The Ascetic Origins.

Mistisisme didefinisikan sebagai upaya untuk menjangkau yang tak terbatas (infinite) agar dapat diidentifikasi melalui berbagai macam jalan. Mistisime dalam Islam, secara sederhana, setidaknya memiliki tiga kesadaran teologis; (1) Transcendental Dogmatic. Konsep ini berupaya untuk menghadirkan narasi suci dalam kesadaran manusia beragama bahwa Tuhan adalah Dzat yang Maha Absolut. Tidak ada keterbatasan apa pun dalam Dzat-Nya. (2) Ritual Basics. Dasar-dasar pemujaan ini merupakan secondary reflection dari konsep transendental. Sebab ke-ada-an “Yang Absolut” meniscayakan untuk disembah dan ditaati. (3) Believe in Metaphysics. Kepercayaan akan apa “yang ada” di belakang apa “yang nyata” merupakan doktrin keagamaan yang dapat mempengaruhi kualitas keimanan seseorang. Mereka yang tidak percaya kepada “yang ghaib” tidak akan pernah benar-benar dikatakan beriman. Sebab itu, percaya kepada nikmat dan sisa kubur, hari pembalasan, surga dan neraka, memberikan pemahaman bahwa kelak akan ada kehidupan di dunia lain yang kekal (dâr al-baqâ’) selain dunia yang fana ini (dâr al-fanâ’).

Kesadaran sufistik dalam fase ini lebih berupaya untuk menjalin hubungan kemesraan dengan Tuhan melalui konsep al-khauf dan al-rajâ’, bagaimana “ketakutan” akan mendapat siksa, dan “harapan” untuk terus senantiasa mendapatkan ridha Tuhan menjadi penanda kebersufian manusia beragama saat itu. Pada titik ini, manusia mana yang ingin dimurka oleh yang dicintainya? Manusia mana yang tidak ingin disayang dan diperhatikan oleh kekasihnya? Tentu, tidak ada. Dan Tuhan, selain kasih-sayangNya yang luar biasa besar, siksaNya juga teramat pedih.

Upaya untuk menghadirkan al-khauf dan al-rajâ’ sekaligus dalam diri manusia beragama, Hasan Al-Bashri mencoba mempromosikan konsep sufistiknya. Sebagai seorang pria yang berdaya nalar kritis, Hasan Al-Bashri berkeyakinan bahwa manusia jika konsisten berefleksi (reflection/al-fikr), senantiasa menguji diri sendiri (self-examination/muhâsabah), serta tetap berserah diri terhadap takdir Tuhan (total submission to God’s will), harapannya untuk mendapatkan ridha Tuhan menjadi niscaya.

Berbeda dengan Hasan Al-Bashri, Rabi’ah Al-‘Adawiyyah sebagai the  greatest female mystic of Islam, adalah sesosok wanita romantis yang pertama kali menerjemahkan hubungan manusia dengan Tuhannya melalui bahasa-bahasa cinta. Salah satu bentuk keromantisannya yang hingga saat ini masih dapat kita baca adalah adanya konsep cinta Ilahi (the concept of divine love/al-hubb). Meskipun era sebelum Rabi’ah Al-‘Adawiyyah telah ada yang membicarakan tentang kerinduan (yearning/al-syauq) dan persahabatan (friendship), baru Rabi’ah Al-‘Adawiyyah-lah yang benar-benar berani menarasikan perasaan suci manusia kepada Tuhan yang dicintainya.

Kedua. Synthesis-Systematic.

Keterpengaruhan Islamic mysticism dengan diskusi-diskusi filosofis mulai tampak dengan adanya kecenderungan panteistik dalam pola pikir sufistik. Abu Yazid Al-Bustami misalnya, menarima pengajaran tentang “extinction in unity (al-fanâ’ fî al-tauhîd)” dari seorang muallaf India, Abu ‘Ali Al-Sindi.  Dalam sejarah perkembangan keilmuannya, Abu Yazid Al-Bustami mengkonstruksikan pemikiran sufistiknya ke dalam konsep al-Fanâ’ dan al-Baqâ’.

Secara sederhana al-Fanâ diartikan musnah, sementara al-Baqâ’ dimaknai kekal atau abadi. Dalam pemaknaan sufistik-penteistik, integrasi antara yang musnah dan yang kekal sangat mungkin untuk dilakukan. Sebagaimana dinyatakan oleh para Sufi; “Apabila tampak cahaya keabadian, maka Fanâ’-lah yang tiada, dan Baqâ’-lah yang kekal. Fanâ’ dari dirinya dan Baqâ’ dengan Tuhannya.”

Proses sintesis-sistematis antara pengalaman sufistic dan penalaran logic yang dinarasikan ke dalam Sufisme Filosofis dapat kita temukan, misalnya, dalam Misykah al-Anwâr karya Imam Al-Ghazali. Keberadaan cahaya-cahaya (al-anwâr) senantiasa meniscayakan yang menjadi sumber cahaya, sekaligus objek yang dikenai cahaya. Oleh sebab itu, perlu ada upaya pemetaan dimensional antara dunia yang terlihat (the visible world/‘âlam al-syahâdah) sebagai replika atau sekadar bayangan dari  dunia spiritual yang bisa dimengerti tapi tak terlihat (the spiritual-intelligible world/’âlam al-malakût). Pemetaan konsep dimensional di sini merupakan sebentuk kesadaran bahwa di atas cahaya ada cahaya yang menjadi sumber cahaya. Perbedaan antara cahaya Tuhan dan cahaya hamba-hambaNya menjadi dapat dipahami kala dinarasikan dengan nalar manusia, yang pertama hakiki, sedang yang kedua majazi.

Upaya menghadirkan sufisme filosofis dalam sejarah peradaban Islam merupakan gagasan sintetis-sistematis agar segenap upaya penyucian jiwa tidak lantas memarjinalkan peran logika. Artinya, seberat dan sesulit apa pun perjalanan spiritual seseorang, masih bisa untuk dinarasikan. Dalam bahasa populer, biar cinta itu soal rasa, tapi perlu dinarasikan juga. Untungnya, Tuhan rela atas setiap konsep tasawuf yang telah dinarasikan sehingga kita bisa memahami bahwa tasawuf tidak hanya tentang pengalaman spiritual, tetapi juga tentang bagaimana berpikir rasional agar tidak liar.

Lantas, jika dulu orang-orang yang benar-benar mengenal Tuhan tetap menarasikan pengalamannya dengan bahasa kemanusiaannya, mengapa kini banyak yang pura-pura/tidak mengenal Tuhan justru berbicara atas nama dan dengan bahasa Tuhan?

Hijrian A. Prihantoro

Hijrian A. Prihantoro

Santri yang insya Allah senang ngaji, tapi pasti suka ngopi. Dari Papua, terus ke Jawa, terus ke negeri 1000 menara, terus ke Yordania. Sekarang muqîm di Yogyakarta.
Hijrian A. Prihantoro

Latest posts by Hijrian A. Prihantoro (see all)