Sunyi Sungai

in Cerita Pendek by
sungai-sunyi
fineartamerica.com

Jurus-jurus andalan dalam kepala yang kamu banggakan runtuh seketika, saat seorang tua buta huruf datang ke rumah mengajukan persoalan kambing, sapi, arus listrik, dan guguran tanggul. Pada pagi, selepas subuh, kamu pun pergi ke arah timur.

Ini jalan berbatu yang pernah kamu lalui ketika kecil; ketika dunia masih gelak tawa yang sederhana. Itu ruang dan pohon yang sama menandai waktu—menandai kenangan-kenanganmu di antara dahan dan ranting, daun dan kebun.

Dan di pertigaan lapangan bola, kini kamu berhenti melihat embun menjala dingin di luas corak rerumputan. Dari arah selatan datang seorang tua terbungkuk berolahraga ringan.

Dia bertanya padamu mau ke mana sepagi ini.

Kamu katakan bahwa kamu mau ke tepi sungai.

Dia berkata bahwa suaramu terdengar seperti suaranya ketika masih muda.

Kamu tersenyum dan berkata bahwa bukankah kamu dan dia memang satu diri yang sama. Lalu kamu minta izin untuk terus ke timur.

Kamu melepas sepatu; menyentuhkan kembali telapak kakimu, yang berasal dari tanah, ke jalan tanah setapak yang menembusi kebun-kebun sayur. Di sisi tapaknya, ditumbuhi bermacam rerumputan. Kamu merasa berjalan di antara belahan rambut Dewi Tanah.

Kamu berhenti saat mendapati kepik emas basah di daun bakung; seekor merutu kecil di bunga putri malu; punggung kokoh belalang batu, yang menahan dingin semalam entah dengan cara apa, di antara sela rumput jago.

Kamu berkata pada hatimu sendiri bahwa kapan terakhir terpesona pada hal-hal yang sederhana?

Sampai di tepi sungai, kamu mendapati suara burung-burung memanggil dalam keheningan.

Di hadapanmu ada jeda dari cairan raksasa yang seakan diam, namun di kedalamannya ia menggerakkan pasir-pasir halus dan lumpur; ia mengirimkan masa tawar ke laut yang asin. Suatu hari gurumu pernah berkata bahwa ratusan sungai mengirimkan airnya ke laut setiap detik, namun laut, sedetik pun, tak pernah menjadi tawar.

Gurumu bertanya apa pendapatmu mengenai hal ini? Kamu berpendapat bahwa laut keras kepala.

Gurumu tertawa dan berkata bahwa laut adalah karakter yang menjadi.

Dan pasir-pasir di pantainya adalah isyarat keabadian.

Gurumu kemudian mengambil segenggam pasir dari tempat kalian duduk memandang laut.

Gurumu memberikannya padamu dan berkata bahwa simpanlah, ketika kamu bersedih lihatlah.

Kamu menerimanya, lalu selama bertahun-tahun, saat sedih melanda, kamu melihat pasir-pasir yang kamu tempatkan pada wadah kaca. Dan kamu berkata dengan kata-kata gurumu bahwa perlu ratusan hari untuk menghadirkan sebutir pasir dari gerusan bebatuan, dan perlu ratusan tahun untuk menciptakan pantai pasir, dan perlu ribuan tahun untuk menciptakan padang pasir, lalu berapa lamakah keabadian itu?

Ketika seorang tua buta huruf datang pada malam hari ke rumahmu, kamu kemudian berpikir ulang.

Apakah, menurutmu, yang jauh lebih utama daripada yang dekat.

Ataukah, menurutmu, yang kini lebih utama daripada yang nanti.

Kamu duduk di atas dua sepatu, di tebing sungai sunyi. Orang tua buta huruf itu telah berkata bahwa telah datang kepadanya serombongan orang penting. Dia menerangkan bahwa hadir padanya kepala desa, kepala dinas pengelolaan sumber daya air, seorang profesor ahli daerah aliran sungai, dan tim dari fakultas peternakan universitas ternama.

Orang tua buta huruf berkata bahwa profesor telah berkata daerah aliran sungai ini mesti direhabilitasi.

Orang tua buta huruf itu bersama enam orang pengurus utama cabang himpunan nelayan dan penambang pasir, berkata bahwa mereka kurang paham.

Profesor berkata bahwa singkatnya, mesti dihentikan aktivitas, atau sederhananya, kegiatan di sungai, karena menyebabkan abrasi, atau sederhananya tebing gugur.

Gugurnya tebing dapat mengancam kebun-kebun desa di tepi sungai.

Kepala desa berkata bahwa itu benar.

Orang tua buta huruf, kepala paguyuban nelayan dan penambang pasir tradisional, berkata bahwa itu kebun-kebun kami juga. Kemudian apa masalahnya, katanya kemudian, mengapa harus membawa-bawa sapi dan kambing?

Kepala tim universitas berkata dengan jujur bahwa jalur-jalur menara kabel dari pembangkit listrik tenaga uap di pantai melintasi kebun-kebun sisi sungai desa ini. Aktivitas nelayan tradisional dan penambang pasir sungai bisa membahayakan keberadaan menara-menara baja yang investasinya bernilai triliunan itu; akibat percepatan abrasi oleh gelombang perahu. Menara baja itu, baru menara, untuk membangun sebuah saja, hanya sebuah, menebus tanah senilai lima ratus juta.

Kepala tim berkata bahwa itu baru tanahnya.

Presiden telah berkunjung ke dua pembangkit listrik tenaga uap di sisi pantai. Pihak Tiongkok dan Korea meminta pengamanan jalur menara dari aktivitas tersebut. Keduanya, bersama republik, memegang saham perusahaan besar produksi listrik untuk pulau Jawa dan pulau Bali tersebut.

Seorang mahasiswa dari tim berkata bahwa mereka telah menyiapkan cara untuk transformasi, atau sederhananya, alih profesi menjadi peternak.

Seorang mahasiswi menyambung dengan berkata bahwa mereka siap melakukan pendampingan membuat kandang.

Orang tua buta huruf itu datang ke rumahmu untuk meminta pertolonganmu. Dia berkata bahwa telah meminta orang tuamu meneleponmu agar pulang dari kota. Dia berkata bahwa kamu adalah sarjana dari desa ini. Dia ingin kamu melakukan sesuatu, sebab kepala desa berada di pihak profesor, kepala daerah aliran sungai, dan tim dari universitas ternama. Dia berkata bahwa sudah turun temurun menjadi nelayan sungai dan penambang pasir tradisional.

Dia berkata bahwa leluhur melakukan pekerjaan ini sudah ratusan tahun sebelum pembangkit listrik tenaga uap, dengan bahan batu bara itu, berdiri dan mengirimkan debu hitam setiap jam enam pagi. Baru bara itu dikirim dengan tongkang-tongkang lima puluh ribu tonase dari Kalimantan.

Dia berkata bahwa orang tuamu juga bagian dari nelayan yang kini terancam hidupnya.

Keesokan pagi, kamu pergi ke arah timur, ke sisi sungai yang sesunyi ini.

Kamu bertanya pada dirimu apa yang bisa dilakukan oleh sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dalam masalah seperti ini?

Orang tua buta huruf itu telah berkata bahwa sarjana pastilah orang pintar.

Kamu berkata dalam dirimu bahwa mungkin dia tidak tahu bahwa di ruang kuliah kamu belajar soal fonologi, morfologi, dan nilaimu pun C- dari seorang profesor yang mempersulit masa depan mahasiswanya. Kamu ingin meneriakkan ke telingamu sendiri bagaimana caranya agar fonem dan morfem; agar huruf-huruf dan gambar alat ucap; atau bagaimana agar unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam karya sastra, mampu membela nelayan dan penambang tradisional itu di hadapan kehendak kuasa dan modal raksasa.

Kamu memanggilku dan bertanya dari mana.

Kukatakan padamu bahwa sejak semalam aku berperahu memancing ikan-ikan ini—kutujukan padamu.

Kamu berkata bahwa duduklah di sini sebentar; menemani melihat matahari terbit.

Aku tertawa dan berkata bahwa sejak dahulu matahari masih terbit dengan cara yang sama.

Kamu berkata bahwa itu benar, tetapi dalam suasana hati dunia yang berbeda-beda. Aku bertanya tentang suasana hatimu.

Kamu berkata bahwa mestinya aku mengetahui dari sikapmu yang duduk sepagi ini di tepi sungai. Kukatakan bahwa kita sudah lama saling mengenal sebagaimana benda mengenali bayang-bayangnya, atau bayang-bayang mengenali benda asalinya, jadi tidak perlu ada rahasia.

Kamu mula-mula bercerita tentang citra sarjana di mata orang desa.

Mereka menaruh harapan besar bahwa kamu dapat mengubah hidup mereka; atau setidaknya menolong mereka saat berhadapan dengan orang-orang pintar lain—yang dibeli oleh kekuasaan.

Tapi kamu berkata bahwa mereka tidak tahu kamu sarjana pendidikan bahasa dan sastra. Di kelasmu, tidak dijelaskan cara memberdayakan masyarakat. Seandainya punya uang kamu berkata bahwa akan memilih jurusan hukum atau bahkan kedokteran.

Kamu berkata bahwa mereka memintamu mencari jalan keluar atas tekanan untuk menutup kerja mencari ikan di malam hari atau menambang pasir di siang harinya.

Kamu bertanya padaku dengan cara apa?

Apa mengajak mereka berdemo?

Kukatakan padamu bukankah aparat semua berada di bawah kendali kuasa tertinggi.

Kamu berkata soal garis komando.

Kukatakan padamu tentang kemampuanmu menulis karya sastra.

Kamu tertawa dan berkata bahkan karya sastra pun bahkan tidak mampu menyelamatkan dirimu sendiri. Itu juga tidak didapat keterampilannya dari kelas.

Kamu kemudian bicara soal terlilit utang, soal komunitas sastra yang lebih suka bermusuhan, soal menyuarakan kritik di dalam karya yang dibilang terlalu didaktis dan penuh pesan moral, tentang menulis soal cinta yang dibilang tercerabut dari kenyataan, tentang memilih diam yang dituduh pasif, tentang yang protes dituduh cerewet, tentang tidak ada satu pun jurusan sedemikian yang memberikan jaminan pekerjaan untuk lulusannya.

Mereka mengajari gagasan-gagasan melangit yang penuh kutipan karya fiksi, tetapi tidak berpijak memecahkan sesuatu yang nyata di muka bumi.

Kamu berkata bahkan kamu kebingungan; tidak menguasai pemberdayaan ekonomi, manajemen masyarakat, dan ketika bertanya pada mereka; dan mereka akan berkata bahwa lebih baik tidak memikirkan itu, luluslah karena gantian dengan orang lain—yang menunggu menjadi bagian dari ilusi akademik.

Tenanglah kataku bahwa lebih baik tidak terlalu keras pada diri sendiri.

Kamu berkata kenapa; apakah karena dirimu adalah diriku?

Kukatakan padamu bahwa itu benar, dan lebih benar lagi bahwa kamu memiliki segenggam pasir keabadian dari tangan gurumu yang juga tangan guruku.

Kamu nyinyir dan berkata bahwa mengarahkan diri pada keabadian bukan berarti menjadi pecundang di masa kini atau menjadi tidak peduli dengan pincang keadaan.

Sekalipun hanya punya segenggam pasir, kamu akan mencoba membendung arus yang menghanyut tak adil; sekalipun orang-orang picik menertawai pesan semacam ini; sekalipun kamu baru bisa menahannya dengan tangis di tepi sunyi; dengan menulis di sisi sungai seperti ini, sekali lagi, kamu berkata tidak peduli dengan para picik. Dan aku pun, mau tidak mau, baru saja mengatakan hal yang sama—sebab sejak semula, aku, kamu, dan dia adalah satu diri.

Tebing tempatmu duduk kini gugur berdebur ke sungai sunyi.

(2016)

Eko Triono

Eko Triono

Menulis kumpulan cerita Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (DIVA press, 2016).
Eko Triono

Latest posts by Eko Triono (see all)

  • Retno Nurul

    Mereka mengajari gagasan-gagasan melangit yang penuh kutipan karya fiksi, tetapi tidak berpijak memecahkan sesuatu yang nyata di muka bumi. Saya suka kalimat ini👍