Surga Kiriman Tuhan

in Cerita Pendek by
saimg-a.akamaihd.net

Aku terbangun dan menemukan tubuhku berada di tepi jurang. Jurang ini bukanlah jurang biasa, karena dalamnya sungguh tak terkira, sehingga yang bisa kulihat hanyalah kegelapan di bawah sana. Kubayangkan seseorang akan hancur serupa bubur kalau saja jatuh dari atas sini. Dan kurasa sebaiknya aku harus pergi sesegera mungkin agar tidak tersandung.

Aku tidak tahu dari mana pikiran macam ini datang: kesialan selalu datang tanpa disangka-sangka. Siapa tahu, entah karena angin badai atau mendadak tanah di bagian tepi jurang ini ambrol, pada akhirnya aku jatuh dan hancur lebur di bawah sana?

Aku mundur beberapa langkah, lalu berjalan setelah membalikkan badan dan tahu betapa sejauh mata memandang hanya ada pasir. Aku tidak ingat apa pun yang terjadi sebelum ini. Barangkali seseorang menculikku atau apa, tetapi itu mustahil. Aku tidak terlibat kejadian-kejadian yang bisa menjadi alasan bagi siapa pun untuk mencelakaiku. Aku juga bukan orang kaya.

Pikiran bahwa aku tersesat sangat tidak lucu. Terakhir kali kutemukan kesadaranku adalah ketika aku sedang duduk dengan malas di ruang tengah apartemenku dan melihat acara terburuk sedang ditayangkan di televisi. Acara itu tentang seekor badut yang suka sekali dengan boneka tangan. Badut itu terus-menerus memainkan boneka tanpa seorang pun penonton di studionya. Mungkin memang begitu acara tersebut dibuat. Badut tanpa penonton di hadapannya dan cuma orang-orang sial yang kebetulan menyetel channel tersebut yang akhirnya menonton.

Acara itu membuatku ingat tentang masa lalu. Tentu saja aku bukan badut murahan yang bisa dibeli oleh televisi, meski harus berbuat sekonyol mungkin tanpa seorang pun penonton di hadapanku. Bertahun-tahun aku hidup sebagai badut, mencari makan oleh bakatku melucu di pesta-pesta ulang tahun para bocah. Kalau saja aku tak pernah jatuh cinta dan memutuskan menikahi seorang gadis, boleh jadi sampai hari ini aku tetaplah menjadi badut. Jika saja seekor badut berpenghasilan setara pegawai bank, mungkin aku tetaplah menjadi badut. Sayangnya, menjadi badut bukan perkara mudah ketika diriku harus menikah dan membiayai segala macam kebutuhan rumah tangga.

Berhentiku sebagai badut jelas karena gadis yang kujadikan istriku. Tapi, aku tidak menyesali itu. Bahkan meski setelah dua tahun menikah, kami memutuskan cerai. Lalu, di apartemen inilah aku membusuk sebagai pegawai bank yang sulit menemukan cinta dan gairah hidup. Aku tidak tahu kenapa tidak sampai tergerak memindah channel dan menghindari kekonyolan badut malang di televisi itu. Barangkali saja, aku rindu masa laluku.

Ingatan tentang tempat terakhir di mana kesadaran terakhirku berada ini membuat diriku yakin bahwa aku sedang bermimpi. Ya, jelas ini hanyalah mimpi. Berada di suatu padang pasir, dengan tepi jurang di ujungnya, yang seakan tanpa dasar. Adakah lokasi di muka bumi ini yang dapat membuatmu berpikir sebuah jurang ada hanya untuk menjadi jalan menghilangkan tubuh selama-lamanya?

Aku yakin siapa pun yang jatuh ke dasar jurang gelap itu bakal hilang selamanya, dan baru akan ditemukan di akhirat nanti. Aku juga yakin, jika aku jatuh ke dalam sana, tidak akan ada yang mencariku, kecuali malaikat maut, yang tentu saja memiliki suatu tugas yang sangat menyenangkan, sebab aku sering kali melanggar aturan. Dosa-dosaku sangatlah banyak.

Jadi, tidak ada pilihan lain bagiku selain terus berjalan. Aku tidak tahu berapa jarak yang harus kutempuh demi mengakhiri batas padang pasir sejauh mata memandang ini. Jika aku tidak melihat apa pun dari tempatku berdiri saat ini, aku percaya ada saatnya itu berakhir. Ada saatnya kutemukan sesuatu di sana, setelah berjalan tiada henti, yang entah kota atau pemukiman penduduk dengan penampilan ala Timur Tengah. Dengan demikian, aku bisa menemukan jawaban kenapa mimpi ini bisa datang.

Hanya saja, setelah berjalan berjam-jam, aku tidak juga menemukan sesuatu. Titik di mana tempatku berdiri saat ini benar-benar jauh dari apa pun, bahkan dari jurang tadi. Aku mulai menyesal telah salah memutuskan.

“Kupikir seharusnya aku berjalan menyisir tepi jurang tadi, dan siapa tahu di sana kutemukan kota kecil atau perkampungan,” pikirku.

Tentu itu sudah terlambat. Aku sudah sangat lelah dan tidak ada pilihan lain selain berjalan terus ke arah yang sama dengan penyesalan yang membesar setiap detiknya. Di setiap langkahku berasa ada sesuatu yang berbisik bahwa ini semua tidak baik-baik saja, dan bahwa kesialan sedang menungguku di depan sana. Lagi pula, dari mana aku yakin bahwa apa yang terjadi ini adalah mimpi?

Aku mulai takut dan berharap ini memang mimpi. Aneh saja jika kau sadari dirimu mendadak bangun dengan linglung, dan menyatakan bahwa saat itu dirimu bermimpi, padahal bukankah saat kita bangun, sesuatu yang ada di sekujur tubuh kita sudah bebas dari alam mimpi?

Di balik suatu gundukan pasir, setelah nyaris menyerah dan memutuskan berbaring saja sampai akhirnya aku terbangun dari mimpi ini, kutemukan seorang lelaki berwajah penuh pasir sedang mengunyah ayam goreng. Aku tahu itu ayam goreng, karena tepat di sisinya terdapat meja kecil, serupa meja di rumah orang-orang Jepang, yang ada piring dan sepotong ayam gorengnya di sana. Perutku mendadak lapar dan aku yakin lelaki itu bersedia berbagi daging ayam denganku.

Maka, dengan penuh sopan santun, setelah mengitari gundukan agar aku dapat bisa menatap langsung wajahnya dari arah depan, kusampaikan bahwa aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang.

“Wah, sama dong,” sahut lelaki berwajah penuh pasir itu dengan santai. “Saya juga tersesat dan sudah empat tahun tidak pulang.”

Aku tidak tahu harus meyahutinya bagaimana, karena lelaki itu tampak tenang dan santai saja sewaktu mengatakan dirinya tersesat. Aku tidak tahu apakah lelaki ini sejenis orang gila, atau memang benar apa yang dia katakan itu telah terjadi. Empat tahun tidak pernah pulang dan terus-menerus berada di tempat semacam ini? Kurasa itu juga dapat membuatku gila. Apa pun situasinya, berarti, lelaki berwajah penuh pasir ini memang sudah gila?

Melihatku yang tak dapat berkata apa-apa dan hanya duduk dengan lesu beberapa meter darinya, lelaki berwajah penuh pasir itu mengusap pipinya yang terlumuri minyak goreng dan tertawa pelan.

Aku tahu dari jarak yang sedekat ini betapa butir-butir pasir itu menempel karena makanan berminyak, tetapi tidak habis pikir dari mana orang ini mendapatkan sepiring ayam goreng, jika dia memang tersesat dan tidak bisa pulang dari padang pasir ini sejak empat tahun silam?

Barangkali lelaki itu membaca pikiranku, sehingga dengan ekspresi yang lagi-lagi terlihat tenang dan santai, dia menjelaskan bahwa tidak jauh dari sini ada suatu lokasi di mana surga dijatuhkan oleh Tuhan langsung dari atas.

Aku tidak mengerti maksudnya, jadi kutanyakan, “Apa maksud Anda?”

“Surga. Anda tahu? Surga dan neraka? Nah, di situ ada surga yang dijatuhkan oleh Tuhan langsung dari atas sana. Pergi ke sana dan makan sebanyak yang lambung Anda sanggup. Saya kira, tidak hanya empat tahun. Bahkan empat belas tahun pun Anda akan betah berada di situ!”

Kupikir mungkin memang benar lelaki ini gila, tetapi tentu saja aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya berharap memang betul di lokasi yang dia maksud tadi terdapat apa pun yang bisa kumakan agar tidak kelaparan. Perutku sudah tidak tahan lagi. Berjalan di padang pasir selama berjam-jam juga membuat kakiku pegal dan membutuhkan tempat untuk bermalam. Kulihat salah satu sisi langit, tempat matahari turun perlahan dan nanti, pada saatnya, akan terbenam dan membuat tempat ini ditelan kegelapan. Dengan penuh pengharapan, kuikuti arah yang ditunjuk oleh lelaki berwajah penuh pasir.

Memang benar apa yang lelaki itu katakan. Aku menemukan semacam kampung di dekat oasis. Kampung ini cukup aneh, karena tidak kutemukan satu pun manusia selain diriku, tetapi rumah-rumah yang berdiri dari tenda dan semacam jalinan bambu, tampak begitu bersih dan terawat.

Lelaki tadi bilang, tempat ini semacam surga yang diturunkan oleh Tuhan langsung dari atas sana.

Kupikir, aku mungkin memang bermimpi dan di sinilah aku dapat merenungi apa yang seharusnya kurenungi demi membenahi hidupku yang menjemukan dan sebatang kara.

Maka, tanpa ragu, kumasuki salah satu tenda dan menemukan segala sesuatu yang sulit kubayangkan tentang setumpuk makanan terbaik yang pernah ada. Di tenda ini, aku bisa memuaskan nafsu makan dengan berbagai kuliner favoritku. Aku pikir, lelaki berwajah penuh pasir bukanlah orang gila.

Hanya saja, sebelum perutku kenyang, kudengar suara-suara percakapan dari arah yang tak begitu jauh. Langkah kaki serombongan manusia jelas sekali memasuki area di tengah padang pasir ini, dan kukira aku barusan meneboros tempat seseorang tanpa izin. Dengan memberanikan diri, aku keluar dan menemukan seseorang yang dengan ramah dan tanpa curiga segera bertanya namaku.

Kubilang, “Kenalkan, saya Sapono. Saya tersesat dan menemukan tenda ini untuk makan. Maafkan saya kalau lancang.”

“Oh, tidak masalah. Kebetulan saja yang punya tenda ini saya. Silakan, silakan saja makan sampai kenyang,” jawab orang itu dengan ramah. Dia pun memperkenalkan diri sebagai Gusnaldi, yang—menurut pengakuannya—telah tinggal di sini selama hampir tujuh belas tahun.

Aku tidak pernah tahu tempat macam apa ini, dan tidak juga mengerti bagaimana aku tidak pernah bangun kembali. Maksudku, aku tak pernah bangun dan mendapati diri ini berada di depan televisi yang menayangkan acara badut sial, meski sudah tidur entah berapa kali di tenda Gusnaldi.

Yang kutahu cuma satu: aku mendapatkan kembali pekerjaan sebagai badut lucu dan menghibur setiap anak kecil di komunitas oasis ini. Dan, menurutku, hidupku tidak semenjemukan sebelumnya. [ ]

 

Gempol, 10 Juli-28 Agustus 2017

Ken Hanggara

Ken Hanggara

lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Freelance editor yang belajar jadi wiraswasta. Juara 2 kategori bahasa Indonesia di ASEAN Young Writer Award 2014 dan menjabat Unsa Ambassador 2015.
Ken Hanggara

Latest posts by Ken Hanggara (see all)