Survive Story Damaya Jadi Seorang Penyiar Radio di Jogja

in Hibernasi by
Survive Story Damaya Jadi Seorang Penyiar Radio di Jogja
Survive Story Damaya. Dok. Pribadi

Pengalaman menjadi seorang penyiar radio banyak memberi warna baru di hidup saya. Sejak tahun 2008, radio adalah kesayangan dalam hidup. Banyak hal yang berubah setelah mencoba aktif di dunia kepenyiaran, seperti nambah teman, saudara, keluarga, hingga stok gebetan. Ya, meskipun sering banget dapet kritikan destruktif, cibiran, dan kata-kata buruk dari para pendengar dan haters. “Kalian semua suci aku penuh dosa.” Hanya kalimat dari Awkarin itulah yang dapat mewakili perasaan penyiar yang baru saja diserang haters.

“Mbak Damaya, tak kira orangnya tinggi, putih, mancung, kayak model, ternyata seperti ini to?”

Oke, itu contoh kata-kata destruktif. Sebab, saya sadar kalau tinggi saya cuma 155 cm, jauh dari kulit putih, apalagi kayak model. Hidung sih mancung, tapi tampak samping.

Dulu, pada masanya, media radio memang sangat jaya di udara. Sebab, waktu itu informasi memang sangat sulit didapat, belum ada handphone dan gadget-gadget kekinian seperti sekarang. Info-info aktual tentang pemerintahan, bencana alam, hingga dunia perselebritian datangnya hanya melalui surat kabar, televisi, dan radio.

Dulu, orang berbondong-bondong datang ke radio demi membeli kartu request seharga Rp100,00 demi “salam-salam”, dan meminta lagu kesayangannya diputarkan sang penyiar. Di setiap kota, jumlah radio station dapat dihitung dengan jari, sedikit sekali. Jadi, supaya bisa menjadi penyiar radio, orang harus mampu mengalahkan ribuan pesaing melalui berbagai tes.

Profesi penyiar sendiri hampir seperti selebriti lokal. Sering kali, pendengar datang sekadar ingin bersalaman dan melihat seperti apa wajah dari pemilik suara emas yang sering muncul di radio itu. Yah, meskipun banyak yang shock karena ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan.

Saat siaran, penyiar dituntut untuk berkonsentrasi tingkat dewa. Sebab, selingan lagu masih menggunakan kaset dan digulung manual. Di dalam studio terdapat berpuluh-puluh rak berisi ratusan keping kaset pita. Penyiar harus didampingi asisten yang lari ke sana ke mari untuk mencarikan kaset berisi lagu yang harus diputar sesuai request pendengar.

Itu dulu. Saya sendiri baru memasuki dunia radio tahun 2007, Pak Bill Gates udah kaya raya karena punya Microsoft dan Mas Mark Zuckerberg sudah jaya lewat Facebook. Jika mau putar lagu tinggal klik search langsung siap diputar, tidak perlu menggulung pita. Lowongan pekerjaan menjadi asisten penyiar sudah ditiadakan. Penyiar juga bisa siaran dengan damai, bahkan sambil nongkrong di warung kopi depan studio. Dan lagi, radio station baru sudah banyak bermunculan. Sehingga, untuk duduk di kursi penyiar, cukup dengan mengalahkan sekitar 60 orang saja.

Awal masuk di radio, masih banyak SMS yang harus saya bacakan on-air. Bahkan, sering kali saya kewalahan karena SMS yang masuk dalam satu program bisa sampai ratusan. Antusiasme masyarakat terhadap radio masih terbilang tinggi. Pesaing paling berat kala itu hanya televisi. Meskipun sudah sangat merebak, internet belum segampang sekarang diakses. Kita masih harus antre di warnet dengan membayar Rp5.000,00 per jam. Free download MP3 masih sangat susah. Jadi, lebih enak stand by di depan radio atau nonton MTV, daripada harus ke warnet hanya buat mendengarkan lagu kesayangan.

Namun, semenjak handphone Android bermunculan di sana-sini, SMS ke radio benar-benar berkurang drastis. Meskipun jumlah pendengar yang beratensi, kemunculan Android juga banyak membantu. Kami pun mengikuti perkembangan dengan menggunakan sosial media yang popular, dan memasang streaming, baik melalui situs internet maupun aplikasi.

Supaya mencuri perhatian pengguna sosial media, penyiar dituntut untuk menentukan tema yang lucu, menarik, unik, dan menggelitik. Beruntung segmen pasar dari radio kami adalah untuk kalangan menengah ke bawah. Jadi, tidak perlu wawasan yang tinggi-tinggi sekali untuk bisa siaran di radio ini. Juga tidak perlu menguasai 5 bahasa. Sebab, program siarannya kebanyakan berisi muatan lokal dan nasional. 70% pendengar kami adalah pakde-pakde atau bude-bude yang butuh informasi cepat hanya dengan mendengarkan, tanpa perlu browsing atau menonton. Jadi, bisa disambi nggoreng bakwan atau mendoan.

Di radio kami, ada geng yang menamakan diri mereka dengan sebutan Monitor Setia. Rata-rata dari mereka sudah mengikuti semua program radio kami sejak tahun 70-an. Setahun sekali, pihak radio kami mengadakan jumpa pendengar sekaligus silaturahmi. Pesertanya jauh di atas perkiraan saya. Mungkin, untuk event jalan sehat cukuplah. Sebagian dari mereka juga sering berkunjung ke radio station untuk sekadar mencari teman atau membawakan hadiah untuk penyiar idolanya.

Nyatanya, pendengar pasif berkali-kali lipat lebih banyak daripada pendengar yang aktif beratensi di radio. Mereka yang berada di perantauan pun menikmati melalui streaming saat merindukan kampung halaman. Secanggih apa pun dunia ini, radio tidak pernah mati. Dari generasi ke generasi, ada saja orang yang mendengarkan radio. Melalui radio, mereka dapat mencari informasi, bernostalgia, mendengarkan top 40 atau hits lokal, hingga berdialog langsung dengan pemerintah.

Untuk masalah pergajian, saya tidak ingin membahas banyak. Sebab, masing-masing radio akan memberikan gaji yang berbeda-beda untuk para penyiarnya. Dulu, waktu masih kuliah saya merasa sangat beruntung bisa lolos seleksi penyiar karena bisa nambah uang jajan sendiri. Tapi, seiring berjalannya waktu, tuntutan semakin tinggi. Belum lagi, biaya nikah nggak murah. Akhirnya—tidak bermaksud sombong, apalagi sok sosialita—saya memutuskan untuk menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan sampingan dan have fun saja.

Saya sangat kagum dengan penyiar-penyiar radio yang masih survive dengan eksistensi yang tinggi di zaman yang serba modern ini. Nggak ketinggalan juga tim kreatif dan produser-produser hebat yang tetap tangguh dan konsisten berada di balik layar. Semoga radio tetap jaya di udara dan di hati pendengarnya.

Damaya

Damaya

Penyiar bukan penyair.
Damaya

Latest posts by Damaya (see all)