Sutradara-Sutradara Ini Perlu Diperhatikan Lagi Kiprahnya Mendatang

in Hibernasi by
Sutradara-Sutradara Ini Perlu Diperhatikan Lagi Kiprahnya Mendatang
Sutradara Yorgos Lanthimos. Sumber gambar: IMDB

Tahun 2017 telah berakhir. Banyak film bagus yang sudah menemani para moviegoers dan moviefreaks selama setahun. Juga banyak juga film jelek yang tak lepas dari perhatian netizen. Sementara 2018 baru menginjak usianya beberapa hari, beberapa film lokal dan luar sudah mulai masuk list untuk daftar tontonan. Penulis sendiri semangat dengan judul-judul seperti Avengers: Infinity War, Jurassic Park, Annihilation, Ready Player One, Wiro Sableng, dan banyak lagi yang menampilkan trailer yang menawan.

Terlepas dari itu semua, membuat sebuah daftar tentang kenangan 2017 yang baru saja ditinggalkan seakan menjadi upaya untuk melestarikan ingatan. Penulis melewati tahun ini dengan beberapa kali ke bioskop untuk menyaksikan film-film yang kebetulan tayang di kotanya. Apalagi penulis masih mengingat kejadian sewaktu dia akan menonton The Last Jedi dan berhadapan dengan operator penjual tiket, seorang wanita muda berumur di bawah 30-an memakai make-up tebal yang ketakutan sewaktu penulis menanyakan apa alasan The Last Jedi tidak ditayangkan jam pertama. Apa jawaban dia?

“F-filmnya masih dikopi, Mas. Bisanya diputar yang jam kedua.” Lalu setelah penulis kembali untuk membeli tiket penayangan jam kedua, mbak-mbak ini menjawab, “F-filmnya nggak bisa diputar, Mas. Soalnya yang nonton cuma dua orang.”

Walau begitu, film-film 2017 menampilkan beberapa nama sutradara baru di telinga penulis yang filmnya ternyata lebih menawan dari make-up mbak penjual tiket. Daftar yang dibuat ini tidak urut. Dan juga daftar ini tidak penulis dapat dari ajang semacam Golden Globes maupun Academy Awards. Daftar ini penulis buat hanya untuk menyesali keputusan kenapa dia tidak mengajak mbak penjaga tiket itu menonton The Last Jedi saja biar filmnya tayang.

“F-filmnya hanya tayang kalau yang nonton empat orang, Mas,” kata si mbak itu.

Darren Aronofsky (Mother!)

Saat memerankan mother dalam film ini, status J-Law dan sang sutradara adalah pacaran. Walau demikian, tema besar yang dibalut dengan kisah agak absurd mampu mengimbangi peran J-Law yang belum sanggup lagi untuk mengangkat piala bergengsi tahun ini. Sayangnya, film ini akan cepat terlupakan namun tetap akan menjadi film Aronofsky yang lumayan ketimbang Noah. Namun jika Anda menyukai Requiem for a Dream, Pi, dan The Black Swan, Mother! selayaknya harus masuk ke dalam daftar tonton.

Taika Waititi (Thor: Ragnarok)

Marvel dirasa hampir bertaruh sangat besar saat mendatangkan orang ini untuk menangani film mereka yang mempunyai fanbase yang lumayan, Thor. Apalagi jika dilihat dari film-film sebelumnya, sutradara ini hanya menggarap film drama komedi yang meledak ketika film What We Do in the Shadow rilis di pasaran. Lalu apa jadinya film superhero dibesut oleh sutradara ini? Menyenangkan. Tidak hanya visual, namun kisah Thor yang hampir saja terlupakan menjadi begitu berwarna. Bahkan ketika rilis, Taika hampir disejajarkan dengan James Gunn yang menggarap Guardians of The Galaxy karena tone film mereka berdua hampir sama.

Noah Baumbach (The Meyerowitz Story)

Memasang nama Adam Sandler dan Ben Stiller di film garapan terakhirnya, sutradara ini hampir saja dilupakan penulis karena merilis film The Meyerowitz Story via Netflix. Tetap saja, film ini masih memukau tipikal dengan filmnya terdahulunya The Squid And The Whale: mengedepankan kisah keluarga yang hangat. Konflik remeh dibalut dengan sedikit komedi namun itulah refleksi keluarga jaman now. Jika Anda menginginkan kisah hubungan antara ayah dan anak dibalut dengan dialog yang menawan—seperti banyak yang disajikan di film Noah Baumbach yang lain, film ini adalah kisah yang tepat untuk Anda.

Yorgos Lanthimos (The Killing of a Sacred Deer)

Sutradara ini sempat mendapat perhatian ketika The Lobster rilis. Dengan tema yang absurd, sutradara asal Yunani ini kembali membangun intensitas serta tempo yang lambat sehingga membawa penonton mengalir mengikuti filmnya sehingga ketika mencapai ujungnya akan berakhir dengan “Lho?”. Hampir sama ketika menonton dua film dia sebelumnya; Dogtooth dan The Lobster, film ini kembali mengukuhkan bahwa Yorgos Lanthimos adalah pencerita yang ulung.

Rian Johnson (Star Wars: The Last Jedi)

Lupakan internet. Tonton saja film ini. Film ini memang tidak bisa memuaskan beberapa fans tapi percayalah, TLJ membuat saga ini kembali ke jalan yang benar. Sutradara Rian Johnson hampir mendapatkan sikap sinis begitu film ketujuh yang dibesut JJ Abrams tayang. Akhirnya semua terjawab sudah dan Rian juga mendapatkan kontrak dengan Disney Lucas Art, untuk menukangi saga Star Wars yang lain sesudah kembalinya JJ Abrams. Percayalah, Star Wars saga memang telenovela luar angkasa. Hanya saja abai pada garapan Rian Johnson membuat Anda akan menyesali bahwa luar angkasa itu indah.

Edgar Wright (Baby Driver)

Film tentang perampokan ini akan terlihat biasa saja jika bukan Wright yang menanganinya. Visi Wright untuk menampilkan aksi kejar-kejaran mobil yang selaras dengan musik yang sedang berputar kencang adalah genius. Setiap beat sangat sinkron dengan roda yang berputar serta aksi yang lain. Dalam wawancaranya dengan sebuah majalah film, Edgar Wright memang memutuskan untuk membuat film yang beda dari film terakhirnya: The Cornetto Trilogy dan Ant-man—walau dia tidak jadi menyutradarai, hanya menulis, karena kecintaannya terhadap film aksi lawas dan musik. Dalam wawancara tersebut, Wright pernah mewawancarai bekas perampok bank yang tidak jadi merampok saat di dalam mobil mereka mengalun lagu “Knock Knockin on Heaven Door”. Selain aksi dan sinematografi yang seru, soundtrack film ini juga menjadi hal wajib didengarkan.

Christopher Nolan (Dunkirk)

Ya, apa yang mau dibahas lagi dengan orang ini? Selain film Dunkirk agak mengecewakan karena (spoiler dan penulis tidak suka dengan mantan anggota boyband yang menjadi pemeran film perang ini). Mungkin yang bisa mengalahkan Nolan adalah Fahri (AAC2) yang sudah hijrah menjual minimart-nya, tidak menjadi dosen dan beralih jadi sutradara.

Joko Anwar (Pengabdi Setan)

Tidak lengkap jika tidak menyinggung sutradara negeri sendiri. Jika ada sutradara dalam negeri yang harus tetap diawasi setiap filmnya adalah Joko Anwar ini. Ya walau penonton banyak Pengabdi Setan itu berdasarkan publical stunt yang tim marketingnya buat, tetap saja apa yang ditawarkan Joko Anwar itu berbeda dari tiap filmnya. Mulai dari Janji Joni sampai A Copy of My Mind atau bahkan film pendek yang ada di YouTube pun, Joko Anwar hampir menawarkan perbedaan yang jauh dari sineas-sineas negeri ini. Entah mungkin dari cerita atau sinematografi yang membuat Joko Anwar sedikit lebih unggul jika dia tetap terus memproduksi film sesuai dengan kesenangannya. Bukan dari tawaran artis yang anaknya ingin terkenal lalu dibuatkan filmnya yang aduh… iya judulnya itu Rafathar.

Denis Villeneuve (Blade Runner: 2049)

Blade Runner: 2049 adalah film terbaik tahun 2017 versi penulis namun masih di bawah TLJ. Villeneuve selalu menghadirkan visi yang bagus di setiap filmnya. Tak dipungkiri jika penonton selalu puas setiap kali selesai menonton film-filmnya walau dari film Prisoners, Enemy, Sicario, serta Arrival berakhir dengan ending “khas”.

Sutradara-sutradara di atas mungkin tidaklah bagus menurut Anda. Namun ada beberapa sutradara serta film tahun 2017 yang sepertinya jangan sempat terlewatkan: Craig Gillespie (I, Tonya), Greta Gerwig (Lady Bird), serta Martin McDonagh (Three Billboards Outside Ebbing, Missouri). Ada beberapa nama yang mungkin terlewatkan oleh penulis, harap dimaklumi karena penulis saat ini masih berusaha mencari cara untuk menuntut bioskop yang tidak memutar Star Wars: The Last Jedi!

Akhirnya… selamat datang 2018. Semoga tidak ada film jelek tahun ini. Kalaupun ada, semoga tidak sempat dilihat langsung.

Jacob Julian

Jacob Julian

Penulis, penggemar film yang merangkap sebagai detektif partikelir, juga pandit sepak bola antar kampung.
Jacob Julian