Tajalli Tertinggi

in Tajalli by

Merupakan suatu keniscayaan yang mesti diyakini oleh orang-orang beriman bahwa Nabi Muhammad Saw. merupakan wadah rohani yang paling indah, paling tangguh, dan paling luas dibandingkan dengan seluruh wadah rohani yang pernah, sedang, dan akan ada dunia yang serba sementara ini yang tertampung dalam diri para nabi dan wali. Beliau tak lain merupakan tajalli Ilahi yang tertinggi nilainya. Sehingga mereka bisa mendapatkan “nuansa” Allah Ta’ala paling sempurna yang tidak mungkin bisa mereka dapatkan pada person siapa pun yang lain.

Karena perbandingan kaum spiritualis yang lain sebagai wadah rohani dengan beliau adalah laksana bintang-gemintang dengan matahari. Betapa sangat jauh jarak ontologis yang memisahkan di antara keduanya. Juga, betapa sungguh begitu beruntung umat Nabi Muhammad Saw. yang memiliki porsi karunia rohani terbesar dibandingkan dengan umat-umat dari para nabi yang lain. Dengan syarat bahwa karunia rohani itu betul-betul dikonsumsi secara spiritual oleh mereka.

Dalam rangka mendapatkan hadiratNya pada diri beliau, tidak boleh tidak kita mesti terlebih dahulu beriman kepada beliau yang selain sebagai pembawa risalah, juga sebagai satu-satunya duta yang paling banyak dan paling kuat menampung kehadiran Allah Ta’ala. Keimanan sungguh sangat diperlukan untuk membuka pintu peluang yang selebar-lebarnya bagi para salik agar mereka mendapatkan sebanyak mungkin karunia rohani terbesar lewat perjumpaan dengan hadiratNya.

Karena bagaimana pun, perangkat yang lain yang dimiliki manusia yang berupa akal sama sekali tidak bisa sepenuhnya dapat diandalkan. Kesanggupannya untuk menampung Nabi Muhammad Saw. sangatlah terbatas dan terlalu kedodoran. Sehingga “wajar” ketika hanya mengandalkan potensi akal semata, bahkan orang-orang yang sezaman dan berdekatan dengan beliau secara geografis tidak sanggup menemukan dan merasakan hadiratNya pada diri beliau. Mereka sanggup menyaksikan Muhammad bin ‘Abdullah. Tapi pada saat yang bersamaan mereka tidak bisa menyaksikan Muhammad Rasulullah Saw. Mereka hanya menemukan bentuk dan rupa, sama sekali tidak mampu menemukan keindahan dan keagungan makna yang bersemayam pada beliau.

Hati memproduksi rasa rohani dan keyakinan. Sedang akal memproduksi pikiran dan kalkulasi rasional. Dan di antara yang termasuk rasa rohani adalah cinta dan kerinduan. Sedang yang termasuk kalkulasi rasional adalah bagaimana kita mendapatkan sebanyak mungkin keberuntungan di dalam kehidupan ini. Akan tetapi jika tidak ada keimanan di dalam hati, bagaimana mungkin seseorang bisa berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk mendapuk keberuntungan di alam barzakh dan di keabadian akhirat nanti? Tak mungkin.

Akal boleh saja “nganggur” ketika hati sudah merasakan hangatnya kemesraan dan cumbu-rayu spiritual dengan Allah Ta’ala. Baik secara langsung maupun lewat tajalliNya yang termaktub pada lembaran-lembaran sejarah kehidupan beliau yang kebak dengan dimensi feminitas dan maskulinitasNya.

Di saat hubungan spiritual sedemikian mesra dengan hadiratNya, sejumlah perintah atau larangan yang bahkan paling tidak masuk akal sekalipun bisa dengan sangat nikmat diimplementasikan. Apa yang pernah dialami oleh Barra’ bin ‘Azib adalah salah satu contoh yang sangat cemerlang. Dia adalah seorang sahabat yang dengan senang hati menerima tantangan dari Nabi Muhammad Saw. untuk menggunakan sebilah pedang di suatu peperangan hingga bengkok. Dengan penuh semangat dan sangat gembira, dia berlaga di medan perang sehingga akhirnya dia gugur sebagai syahid.

Bayangkan, betapa peperangan yang sangat mengerikan itu, yang akibatnya adalah luka-luka yang menganga, darah yang tumpah dan bahkan muncrat, anggota badan yang terputus, tulang yang gemeretak dan remuk, hingga nyawa yang meregang, semua itu bisa berubah menjelma aneka keindahan yang menari-nari di hadapan seorang sahabat pilih tanding itu. Tak lain karena dia telah menemukan tajalliNya yang paling memukau pada diri Khatamun Nabiyyin Saw.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)