Tak Ada Mimpi; Puisi-puisi Isbedy Stiawan ZS (Lampung)

in Puisi by
a0015266210_10
thepeoplesstringfoundation.bandcamp.com

Dalam Cemas

dalam kelimunan itu, ada isbedy
dalam cemas. hendak ke mana?
antrean panjang, surga-neraka
membentang: antara hilang
dan pulang

di bandara kuala lumpur, menanti
jadwal pulang pukul 10 malam
alangkah jemu. tak ada percakapan
orangorang saling tak kenal

hanya ingin sampai di depan antrean
melepas barang, menukar tiket
penerbangan: tapi mau melayang
ke mana? udara sangat hitam
bumi terlalu lebam

di bandara kualalumpur dalam
kelimunan orang antre, isbedy
terhimpit oleh perburuan: ingin
sampai dan melempar barang

tak ada percakapan. orangorang
hanya ingin sampai rumah
atau hilang…

 

KLIA 2, 7 Desember 2015

 

 

Kau

kau telah kembali, rumah yang berwarna
dan pohon bagimu sendagurau. seperti
adam dan hawa pertama kali
menempati taman-Nya

tiada lagi ular. desis yang merayu untuk
mencicipi buah itu. “inilah surga, sungai
yang mengalir susu. kebun anggur,
malammalam gugur. berpeluk,” katamu

tapi, percayalah, setiap juntai rambutku
adalah ikrar kau tetap kekasihku:
menyusuri pantai, menanam jejak
di tamantaman, dalam bayangan
lelampu. aku akan bersamamu–tulismu
seperti baris puisi

dan, mungkin esok, pada masa lain
kau akan bertemu lagi dalam rindu
merah lampu…
–tapi kenapa jetti pangkor
menenggelamkan segala kenangan
bahkan jejak kita di pasir bogak,
teluk nipah, teluk dalam,
dan kampung masjid?—
7 Desember 2015

 

 

Gate  Q-5

ada yang mesti kukenang lagi; gelak
ombak, pacu bot, dan senyummu
di derai pantai. pasir bogak akan
mencatat dalam puisi

“ayo, baca. ini kalam dan tulis
setiap senyum dan barisbaris
pertemuan. namamu punya
masa datang. ayo!” ujarku suatu
malam saat syair dilanggamkan

kini di sebuah pintu, akhir dari
segala kenangan aku pun menimbang
untuk membuang ingatan
atau menyimpan sebagai impian

biarpun pasir bogak
akan terus bergelak

 

KLIA.2, 7 Desember 2015

 

 

Kau Kekasihku

akulah pejalan malam. tak berumah
di tanah tak rehat di langit. di laut dan
darat aku memburu. menangkapmu
hingga tak berkutik: kau kekasihku

sebab sudah kuikrar di bawah
untaian rambutmu, sukaduka kulampaui
sampai.habis bilangan langkah ataupun
arung. “yang bernama cinta, manusia
akan selalu memburu,” bisikmu

seperti adam memcari.eva setelah
Tuhan melempar pasangan pertama
ke bumi. konon.Adam di daratan Cina
dan perempuan itu di Medinah

lalu di Rahmah
keduanya bersua
sepenuh Cinta..

 

Cengkareng, 8 Dea 2015

 

 

Setelah Dikutuk

aku pilih kembali sendiri, seperti adam
mencari hawa, setelah dikutuk sebagai
tualang di bumi ini. cukuplah bersama
menetapkan langkah di benua ini, dalam
dingin yang memeluk

aku sudah beri kau jalan, pintu, dan
kenangankenangan manis. menikmati
pagi tanpa matahari. sudah cukup
kau nikmati perjalanan angin dan
dingin. menebalkan pakaian,
membusungkan tubuh. langit mencatat,
bumi memberi hormat

padamu. meski setelah itu kau alpa,
seperti kau yang menghendaki kutukan
itu. bertualang karena kakimu yang
kukuh: kau berselancar di lantai es:
menari-nari

seperti penari balet! kau hanya pelupa,
dari mana kau mulai, cara apa kau
bertulang hingga menemukan
hawa di bukit rahma itu

kekayaanmu masa lalu…

 

11 Desember 2015

 

 

Tak Ada Mimpi

tak ada mimpi tubuhku
bagai layanglayang
menembus awan kabut
diterima tanah berkeping

aku tak juga terbangun
saat tubuhku terbang
dan melayang, tak mampu
mendarat di kabut basah

tubuhku ringan
bagai kapas: tak ke langit
tak pulang ke bumi
berkeping-keping
dibakar matahari

 

8 12 2015

 

 

Delft, Sebuah Kenangan
: Frieda Amran

di delft ini tanganmu dalam jemari tangannya
suhu 5 derajat celciius pagi ini. menatap
ke atas menara gereja, merasakan
sepoi angin yang
membuatmu makin gigil

“dulu waktu aku kuliah di Leiden, kami
menikmati bungabunga dan suhu
dingin. kini 20 tahun lebih, banyak
berubah,” katamu

dan jemarimu makin erat digenggam

langkahmu pelan, seperti ingin
kembali memunguti kacang
yang mungkin pernah tercecer

delft dingin
matahari cerah

 

26 Nov 2015

Isbedy Stiawan ZS

Isbedy Stiawan ZS

lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik yang disiarkan di berbagai media Jakarta dan daerah.

Kumpulan puisinya Menuju Kota Lama memenangkan sayembara buku puisi pada Hari Puisi Indonesia (2014) dan kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung masuk 10 besar Khatulistiwa Literary Award (2014). Tahun ini diluncurkan kumpulan puisi terbarunya Pagi Lalu Cinta dan kumpulan cerpen Tumang.
Isbedy Stiawan ZS