Taman Itu Menghadap Ke Laut

in Cerita Pendek by

taman itu menghadap laut

Laki-laki itu akan datang malam ini ke rumah perempuan itu. Ia, si perempuan, sudah berjaga-jaga di dekat pintu, mendengar setiap langkah di luar dan memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi salah mengenali ketukan pintu. Ia tahu ketukan pintu dari si laki-laki, ketukannya terdengar lembut dan berirama. Laki-laki itu tidak akan mengetuk pintu lebih dari tiga kali karena biasanya sesudah mengetuk pintu ia akan bergumam perlahan dan perempuan itu akan berjalan ke arah pintu dengan tergesa-gesa. Mereka tidak pernah menghabiskan waktu untuk berdua saja di dalam rumah. Mereka lebih suka menyusuri taman yang letaknya tidak jauh dari rumah si perempuan. Taman itu menghadap ke laut, ada rawa-rawa yang memisahkan taman dengan pantai. Perempuan itu sering membayangi dirinya melewati rawa-rawa yang penuh sampah itu. Setelah melewatinya ia hanya akan melihat laut dan laut saja. Tetapi, laki-laki itu tidak suka berada di dekat laut dan hanya suka mendengar suara ombak dari kejauhan. Jadi, mereka berdua duduk-duduk di taman itu sambil mempercakapkan apa saja. Perempuan itu senang dengan kehadiran laki-laki itu sebab ia tidak akan melewati malamnya sendirian.

Kemudian perempuan itu menangis mengenang kekasihnya, “Aku tidak ingat nama pelabuhannya. Tapi, ia menyebutkannya ketika meneleponku.”

“Menikahlah denganku,” kata laki-laki itu. Ia memeluk perempuan itu dan mencoba menghiburnya.

“Ia masih meneleponku. Seterusnya dia akan meneleponku,” perempuan itu mencium aroma parfum dari baju si lelaki yang selalu membuat kepalanya pusing.

“Oh, ya. Katakan padaku kapan ia terakhir kali meneleponmu.”

“Tiga hari yang lalu. Tapi, besok mungkin ia akan menelepon.”

“Tiga hari? Baiklah. Bagaimana kalau seterusnya?” Laki-laki itu tertawa.  Perempuan itu pura-pura tidak mendengar. Ia terus bercerita. Namun, gaya bicaranya seperti sedang bercakap seorang diri.

“Aku yakin ia sibuk sekali di kapal. Ia banyak mengangkut barang untuk dinaikkan ke atas kapal. Waktunya banyak tersita. Tapi, aku yakin di sela-sela jam kerjanya, ia hanya memikirkanku.” Perempuan itu sendiri tidak memercayai ucapannya. Tapi, itu cukup membuatnya tenang.

Laki-laki itu tertawa lagi. “Mengapa kau tidak bertanya padanya, apakah wanita di pelabuhan itu cantik-cantik? Misalnya, wanita-wanita yang bekerja di kantin-kantin pelabuhan itu.”

“Tutup mulutmu,” ujar wanita itu sambil berusaha untuk tenang.

“Menikahlah denganku.”

Nada suara laki-laki itu terdengar biasa saja. Itu sebabnya perempuan itu tidak pernah memercayai ucapannya. Tapi, kalau pun laki-laki itu sungguh-sungguh akan menikahinya, ia juga tidak akan merasa tersanjung. Perempuan itu hanya menunggu kekasihnya.

“Lama-lama kau bisa gila seperti istriku.” Laki-laki itu melonggarkan pelukannya. Ia teringat istrinya dan pertemuan malam ini membuatnya tiba-tiba merasa bersalah.

“Tiga hari kau tidak dihubungi, kau sudah berlagak kehilangan segalanya,” laki-laki itu meraba kantung celananya, ia tidak menemukan rokoknya.

“Aku sudah lupa dengan masa mudaku waktu aku seusiamu. Oleh karena pengalaman cinta yang kau jalani itu hanya sesuatu yang menggelikan saja.” Laki-laki itu menemukan rokoknya dan langsung menyelipkannya ke mulutnya.

“Aku ingin pulang. Kau bisa sendirian di sini, bukan?”

Perempuan itu tidak juga berdiri. Ia rupanya hanya menggertak.

“Aku tidak berbohong. Yang kau alami itu tidak sebanding dengan istriku.”

“Nah, kau mulai lagi sekarang. Beri tahu padaku mengapa aku tetap di sini? Maksudku, menemanimu sekarang.”

Laki-laki itu menatapnya. Sekilas senyum sinis membayang di wajahnya. Namun, ia tiba-tiba merasa senang, “Kukira karena kau tidak yakin dengan kekasihmu itu. Bisa juga kau mulai jatuh cinta padaku.”

“Oh. Bisa saja. Tentu. Itu perkiraan bukan? Sekarang beri tahu padaku mengapa kau tetap di sini? Kau tahu aku ini anak ingusan.”

Laki-laki itu menatapnya lagi untuk memastikan apakah benar perempuan itu mulai goyah dengan penantiannya. Ataukah ia hanya berpura-pura saja? Perempuan sama saja, bukan? Ia meminta kepastian sedang ia sendiri masih ragu-ragu.

“Karena aku senang berbicara denganmu.”

“Hanya itu?” Perempuan itu merasa tersinggung.

“Dengar. Sekarang kuminta padamu untuk tidak membicarakan kekasihmu itu.”

Dari kejauhan terlihat beberapa titik cahaya yang berasal dari perahu-perahu nelayan yang akan segera bergerak ke pantai. Perempuan itu tiba-tiba menepuk kedua lututnya sambil setengah meronta. “Aku seharusnya tidak mengatakan hal ini padamu. Kau tidak bisa menyamakan perasaan setiap orang. Kita berada di situasi yang berbeda-beda.”

“Kalau kau tahu tentang istriku, kau akan merasa sangat bersyukur. Ah, apa pula ini!” Laki-laki itu tiba-tiba menyesali kata-katanya. Ia membuang puntung rokoknya yang masih menyala.

Tak perlu juga aku ceritakan, pikirnya. Tapi perempuan ini keras kepala dan selalu merasa ia yang paling menderita.

“Sebelum ia masuk ke rumah sakit jiwa itu….” Ia berhenti karena perempuan itu segera memotong.

“Ya. Ya. Aku tahu istrimu yang gila itu. Aku akan bersyukur karena aku tidak gila seperti dia.”

“Bukan hanya itu!” Laki-laki itu mulai marah. Perempuan itu terkejut sedikit, selanjutnya ia melihat lagi ke arah laut.

Tidak, tidak. Tak perlu aku memarahinya. Ia hanya anak ingusan, pikirnya lagi. Mereka berdua terdiam beberapa saat.

“Setiap hari aku harus berpura-pura berbicara lewat telepon seolah aku berbicara dengan putra sulungku. Istriku mendengar dari kejauhan sambil terus menatap gagang telepon yang menempel di telingaku. Aku akan berusaha keras berpikir. Apa lagi yang akan aku katakan? Istriku harus percaya putra sulungku baik-baik saja!

“Sebelum pergi, putraku membawa parang yang telah diasah berkali-kali. Istriku heran dan bertanya mengapa, tapi dengan entengnya putraku menjelaskan parang itu digunakannya untuk berjaga-jaga dari orang-orang jahat. Tidak ada penginapan di sekitar pelabuhan. Sebelum sampai ke tempat tujuan, ia akan melewati hutan. Istriku sangat cemas, ia tidak bisa tidur semalaman.”

“Kau menyalahkannya? Kalau aku punya putra, aku juga pasti cemas seperti istrimu.”

“Dengar. Putraku sudah terbiasa dengan petualangannya. Sudah berkali-kali. Tapi, istriku selalu cemas dengan kepergiannya. Kecemasannya sangat menjengkelkan. Ia membayangkan kapal yang ditumpangi putraku tenggelam ditelan badai.”

Laki-laki itu berhenti sebentar, menoleh pada perempuan itu yang tiba-tiba bergumam, “Tuhan Maha Besar. Semoga kapal kekasihku baik-baik saja.”

Laki-laki itu kesal. Ia menggilas puntung rokok yang tadi dilemparkannya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi, perempuan itu tidak melihatnya.

“Berhubungan dengan seseorang yang jauh hanya menghasilkan ketidakpastian.”

“Tapi, aku memikirkannya setiap hari.”

Laki-laki itu bertambah kesal mendengar jawaban perempuan itu. Maka ia terus bercerita, ingin membuktikan bahwa ia juga tidak peduli dengan perempuan yang memikirkan kekasihnya itu.

“Istriku juga membayangkan ketika turun di pelabuhan, putraku tidak memperoleh penginapan sehingga ia terpaksa tidur di pinggir jalan. Ia membayangkan putraku akan ditodong, ditipu lalu ditinggalkan begitu saja. Kecemasannya semakin menjadi-jadi! Ia lebih sering datang ke masjid, memasukkan banyak uang logam ke dalam kotak amal. Ia juga menyantuni anak yatim piatu, ia meminta doa mereka, ‘Putraku sedang pergi ke pulau yang jauh. Berdoalah untuknya.’

“Aku berkata, ‘Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Putra kita pasti baik-baik saja.’ Lalu ia mengeluh padaku bahwa anak-anakku yang lain tidak pernah terlihat berdoa untuk putra sulungku itu. Aku menghardik mereka, ‘Kakak kalian sedang bepergian jauh. Berdoalah untuk keselamatannya.’ Anak-anakku itu lalu berkata padaku, ‘Kami berdoa setiap hari, Ayah. Tidak harus ditunjukkan di hadapan ibu.’ Aku pun merasa bersalah dan menilai kembali, istriku itu memang terlalu berlebihan.”

Laki-laki itu tidak tahu betapa bosannya perempuan itu mendengarkan ia berbicara tentang istrinya. Kami sepertinya tidak saling memahami, pikirnya. Aku ingin ia kembali mengatakan “Menikahlah denganku.” Tapi, perempuan itu segera sadar, tanpa ucapan itu ia juga merasa baik-baik saja. Aku masih menunggu kekasihku. Kami hanya perlu kawan bicara.

“Sungguh tidak bisa kubayangkan mengapa istriku itu suka sekali menulari kecemasannya.”

“Kupikir karena ia takut sendiri.”

Laki-laki itu diam sejenak. Perempuan itu melihat ke arah laki-laki itu.

“Itu juga yang sedang kau lakukan sekarang, seperti istrimu. Kukira kau masih mencintainya.”

Laki-laki itu tetap diam. Sekarang, terlihat dari taman itu perahu-perahu semakin dekat ke pantai.

“Istriku itu sangat mencintai putraku itu.”

“Ya. Apakah putramu itu tidak pernah kembali dari petualangannya?”

Laki-laki itu terkejut. Tidak ada yang salah dengan pertanyaan perempuan itu, tapi ia merasa ada keganjilan di sana.

“Kapalnya tenggelam. Putraku tidak pernah ditemukan,” ujarnya dengan suara berat. Ia menundukkan kepala. Ia baru ingat, ia belum pernah menceritakan tentang putranya yang tenggelam itu.

“Oh.” Perempuan itu ikut sedih.

Mereka terdiam.

Laki-laki itu tidak pernah datang lagi ke rumah perempuan itu. Perempuan itu juga tidak pernah membuka pintu, kecuali kalau ia mendengar suara ketukan. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang mengetuk pintu rumahnya.

 

 

 

Mataram, Maret-April 2014

Iin Farliani

Iin Farliani

lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Menyelesaikan studi formal di SMAN 2 Mataram. Menempuh studi penulisan kreatif pada Departemen Sastra Komunitas Akarpohon. Menulis puisi, cerpen, esai, opini dan resensi. Beberapa karyanya dimuat di surat kabar Indo Pos, Suara Merdeka, Riau Pos, Serambi Indonesia, Banjarmasin Post, Metro Riau, Suara NTB, Buletin Jejak-Bekasi, Buletin Tikar-Surabaya, dan Jurnal Santarang.
Iin Farliani

Latest posts by Iin Farliani (see all)

  • Yusuf alfianto

    Ka maksudnya apa ya ? aku agak kurang mudeng ini ?