Tambang Sapi Karapan

in Cerita Pendek by
cerpen Tambang Sapi Karapan
Sumber gambar: m1qbal.wordpress.com

Bulan melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan memecah senyap malam melalui tiga spiker yang dicorongkan ke tiga penjuru arah, di halaman rumah.

Dagu Marsiyeh terangkat. Di depannya, dua pohon nyiur berjajar sejarak kira-kira tiga meter. Berdiri kaku, Marsiyeh memilin-milin tambang dengan kekalutan yang membuat dadanya turun naik. Temaram malam menyamarkan polesan kosmetik tebal di wajah perempuan muda itu. Sesekali mata Marsiyeh menatap pintalan tambang. Detik kemudian dagu Marsiyeh kembali terangkat dan pandangannya menggantung pada sebatang bambu yang diikat melintang pada dua pohon nyiur, kira-kira setinggi dua meter. Pada batang bambu itulah Suraksah, eppak Marsiyeh, biasa mengikat sapi karapannya dengan tambang biru gelap berukuran lebih gemuk dari tambang timba sumur, yang sekarang Marsiyeh pegang.

Tadi, Marsiyeh turun dari kursi pengantin, meninggalkan panggung ludruk dengan langkah-langkah kecil gara-gara sampir ber-leres cokelat-kuning emas menyulitkan gerak kakinya. Sekian pasang mata penonton tidak dihiraukan. Marsiyeh beralasan hendak buang air kecil ke belakang ketika perias pengantin mencegat langkahnya, dan Marsiyeh menolak keras diantar oleh siapa pun, termasuk perias pengantin yang memaksa diri.

Marsiyeh memang ke kamar mandi. Hanya sebentar. Tidak melakukan apa-apa. Kamar mandi terletak di belakang rumah dengan bangunan terpisah dari induk rumah dan hanya diterangi lampu lima watt. Di sebelah kamar mandi ada sumur tua, lalu kandang sapi, dan di sebelahnya lagi dua pohon nyiur berjajar, menjulang angkuh.

Di bawah pohon nyiur itulah Marsiyeh berdiri kaku menatap tambang di tangan. Tambang yang semakin menjerat ingatan Marsiyeh pada Mukassar saat memacu sapi di gelanggang karapan. Lelaki yang menjadi joki sapi karapan milik Suraksah itu memang tampak gagah dengan tubuh dibalut kaus belang hitam-putih, celana komprang hitam, dan odheng­ membelit kepalanya.

Sorak kagum bergemuruh saat Mukassar dan sepasang sapi yang dipacunya berhasil mengungguli lawan dengan selisih waktu hanya sepersekian detik. Dengan tawa bangga dan mata membinar Suraksah langsung mengepalkan tinju ke udara, bersorak bangga. Bagi Suraksah, menjawarai sayembara karapan sapi berarti semakin mengukuhkan martabat keluarganya di mata masyarakat.

Begitu kembali dari gelanggang karapan, dengan senyum bangga Suraksah memuji Mukassar yang begitu tangkas menjadi joki. Nama Mukassar pun terletup dari mulut orang-orang kampung. Apalagi saat Suraksah menggelar selamatan atas kemenangan sapinya dengan mengundang para tetangga. Para ibu dan perawan tidak sedikit yang merasa iri pada Marsiyeh, sebagai tunangan Mukassar.

“Hff!” Marsiyeh mendesah. Benarkah ia seberuntung itu? Bayangan Mukassar berganti dengan bayangan wajah Embuk yang bermata cekung dan suram. Kegagahan Mukassar di gelanggang karapan mengingatkan Marsiyeh pada sikap Embuk yang selalu tampak gugup di depan Eppak, dan suaranya yang selalu bergetar setiap mendapat pertanyaan keras dari Eppak.

“Aku tidak ingin seperti Embuk,” desah Marsiyeh, lirih. Diamatinya tambang di tangan. Tambang yang seolah membelit kebebasan Marsiyeh sejak kecil. Terlalu banyak peraturan yang harus ia penuhi sebagai anak perempuan yang sudah ditunangkan sejak masih dalam kandungan. Tidak boleh menonton pertunjukan kecuali ditemani Embuk. Tidak boleh berdandan kecuali hendak mengunjungi rumah calon mertua. Tidak boleh mengobrol dengan lelaki mana pun, di jalan, di sungai, atau tempat umum, meskipun teman sekolahnya sendiri. Dan sekian peraturan yang mengikat erat di sepanjang hidup Marsiyeh selama ini. Semua demi menjunjung martabat keluarga di mata calon mertua dan masyarakat!

Begitu rumitnya jadi perempuan terikat, rutuk Marsiyeh, merasa diikat dengan tambang sapi karapan! Ia sadar, pertunangannya dilakukan di atas kepentingan harkat dan martabat eppak-nya.

Marsiyeh menggeram dalam hati. Dagunya kembali terangkat. Bulan yang melengkung sabit di atas pucuk pohon nyiur tertutup awan tipis. Kelepak kelelawar menggoyangkan rerimbun daun sirsak di belakang kandang. Tetabuh ludruk dan kejungan perempuan melengking panjang. Di kursi pengantin, Mukassar pasti tengah senyum-senyum bahagia, pikir Marsiyeh. Marsiyeh mencengkeram tambang kian erat dengan gigi bergeretak.

Kelak, ketika usia Suraksah seperti matahari redup menjelang maghrib, tambang itu pula yang kian membelit kesepian dalam kesendiriannya. Tanpa anak dan istri. Tambang biru gelap itu seperti jari-jari gurita yang membelit leher dan sekujur tubuh dengan kenangan-kenangan yang tak pernah putus, hingga membuat Suraksah sesak bernapas.

Suraksah akan teringat dengan jelas, sebulan sebelum malam pernikahan anaknya yang dimeriahi pertunjukan ludruk, Suraksah sempat berdebat sengit dengan Marsiyeh.

Sepulang dari langgar, tanpa sengaja Marsiyeh mendengar tanggal pernikahannya dengan Mukassar yang sudah ditentukan. Tanggal 15 bulan Syawal. Pernikahan akan digelar besar-besaran karena satu sapi karapan yang berhasil menjawari gubeng[1] kemarin milik Suraksah sudah ditawar 125 juta.

“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” Dengan tangan mendekap gulungan mukena di dada, Marsiyeh menyela pembicaraan Suraksah dengan Nom Sukrah.

“Kau bicara apa?” Suraksah mendelik.

“Aku tidak mau menikah dengan Mukassar!” ulang Marsiyeh, membalas tatapan Suraksah tanpa gentar.

“Tidak tahu diuntung! Seharusnya kau bangga memiliki suami seorang joki hebat!”

“Lebih baik menikah dengan pemuda petani biasa daripada dengan seorang joki!”

“Kurang ajar! Pada siapa kau belajar membantah? Embuk-mu tidak seperti dirimu!”

“Embuk memang selalu tunduk pada Eppak. Tidak pernah berani membantah! Selalu menuruti keinginan Eppak! Tapi Eppak Tidak pernah menghargainya! Maka itu, aku tidak ingin bernasib sama!”

Suraksah tertohok keras. Matanya kian menyala. Tulang rahangnya mengeras. Harga dirinya merasa diinjak-injak oleh putrinya sendiri. Padahal dulu, ia sama seperti Mukassar. Mertuanya merasa bangga memiliki menantu seorang joki sehebat dirinya yang berhasil menjawarai beberapa kali karapan sapi.

“Meskipun Embuk sudah terbaring sakit, Eppak tetap tidak peduli!”

“Tutup mulutmu!” bentak Suraksah, keras.

“Menjelang kematiannya pun Eppak masih lebih mementingkan sapi karapan daripada Embuk!” sambung Marsiyeh.

“Diam!”

“Bahkan Eppak tidak sempat ikut mengubur jenazahnya!”

Betapa pun geramnya Suraksah, kata-kata Marsiyeh menggiring paksa ingatan Suraksah pada peristiwa dua tahun sebelumnya. Saat itu, istrinya tergolek tak berdaya dengan kulit melepuh sekujur tubuh dan menghitam seperti bekas luka bakar. Sengal napasnya tinggal senin-kamis. Dugaan dukun yang didatangkan, katanya perempuan itu kena teluh.

“Teluhnya salah sasaran saja! Sebenarnya ditujukan pada sapi karapanmu. Pihak lawan menginginkan sapimu kalah di karapan nanti,” ujar dukun waktu itu.

Setelah berhari-hari istrinya terbaring lemah tanpa sejumput nasi pun mampu ditelan, suatu pagi, istrinya dalam keadaan sekarat, dan hanya ditunggui oleh Marsiyeh. Namun Suraksah dan Mukassar tetap berangkat ke gubeng dengan sepasang sapi karapan yang sudah siap disayembarakan.

Suraksah berhasil pulang mendulang kemenangan. Namun begitu tiba di rumah, jenazah istrinya baru saja dikuburkan. Para pelayat masih banyak yang belum pulang. Sejak itu, Marsiyeh semakin membatukan hati, menolak pertunangannya dengan Mukassar.

 “Aku tetap tidak mau menikah dengannya!” Nada suara Marsiyeh menekan, jelas menegaskan penolakan.

“Kau jangan macam-macam! Sekarang masuk ke kamar!” Bangkit, Suraksah menuding pintu kamar. Menguap sudah kesabaran Suraksah.

Kalau saja Marsiyeh tidak segera berlari ke kamar, tamparan pedas tentu sudah mendarat di pipinya.

“Anjing!” umpat Suraksah, gusar.

Menggagalkan rencana pernikahan bagi Suraksah sama artinya meruntuhkan harga diri. Tidak hanya di mata calon besan, juga di mata orang-orang. Tidak mungkin! Kalau sapi bisa dipegang tongar-nya, maka manusia harus bisa dipegang perkataannya, batin Suraksah.

“Bagaimana?” tanya Nom Sukrah.

“Pernikahan harus tetap dilaksanakan!” Ketus suara Suraksah menahan golak amarah di dadanya. Membanting pantat ke kursi.

“Bagaimana dengan Marsiyeh?” tanya Nom Sukrah yang dari tadi diam saja menyaksikan perdebatan ayah-anak itu.

“Ah!” Suraksah mendengus gusar. “Dia tidak tahu apa-apa. Nanti pasti bisa menerima pernikahan itu!”

Pernikahan benar-benar digelar dengan meriah, dihibur pertunjukan ludruk pada malam harinya. Namun, di ujung malam, ketika pagelaran ludruk semakin meriah, tiba-tiba sayup-sayup terdengar teriakan histeris dari belakang rumah.

Tambang sapi karapan yang diwariskan mertua Suraksah, dan katanya mengandung jimat, telah meloloskan Marsiyeh dari jerat harkat dan martabat yang Suraksah bangga-banggakan dengan jalan pintas dan getas.

Sejak malam pernikahan anaknya yang berujung tragis, Suraksah berusaha tegar meskipun dalam dadanya banyak memar. Lima kali ia masih mengikuti sayembara karapan sapi. Memar di dada Suraksah kian membiru manakala Mukassar mengundurkan diri dan memilih menjadi joki sapi karapan milik musuh bebuyutan Suraksah. Rumor pun membiak di masyarakat; kekalahan sapi karapan Suraksah bukan hanya karena tambang warisan mertuanya sudah tidak bertuah sejak Marsiyeh menjadikannya tali gantung saat bertindak bodoh pada malam pernikahannya, namun juga gegara minggatnya Mukassar.

***

Bulan melengkung sabit di atas pucuk batang pohon nyiur yang telah gundul. Tetabuh ludruk dan kejugan perempuan sayup-sayup terdengar di kejauhan. Entah siapa yang menanggapnya.

Di bawah pohon nyiur, tempat di mana Suraksah biasa mengikat, memijat dan mengelus-elus sapi karapannya, tempat di mana hidup Marsiyeh berakhir malang, Suraksah menjajarkan empat piala presiden hasil sayembara karapan sapi. Tanpa anak, istri, dan sapi karapan. Dua pohon yang menjulang angkuh itu mati perlahan sejak malam pernikahan tragis beberapa tahun silam dan menjadi arena pesta para rayap. Suraksah hanya hidup bersama kenangan-kenangan pahit tentang anak-istrinya dan masa-masa kejayaan sewaktu menjawarai gubeng. Suraksah baru memahami arti sebuah keluarga dan martabat sosial yang pernah diagung-agungkan.

Tambang sapi karapan terkalung di leher Suraksah.

Madura, Juni 2015

[1] Puncak sayembara karapan sapi se-Madura, memperebutkan piala presiden.

Muna Masyari

Muna Masyari

Tinggal di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Cerpen-cerpennya termuat di Jawa Pos, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Republika, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Tabloid Nova dan pelbagai media lainnya.
Muna Masyari

Latest posts by Muna Masyari (see all)