Tasbih Amuk

in Cerita Pendek by

Musim selatan sudah berlalu. Angin kencang musim utara mulai menggila. Angin kencang gementam bergemuruh menerjang pepohonan, dahan, dan dedaunan. Begitu hebat menerkam dan menampar perbukitan. Rerumputan, dedaunan terbang melayang ke angkasa tinggi dan sampai jauh. Pohon nyiur daunnya meliuk-liuk kepayahan dengan pelepah dahan sukar berbalik arah. Daun-daun pisang koyak-moyak sehingga unyai-unyai seperti geraian tali terepia. Sementara itu, lautan tersungkur. Gelombang gila-menggila amukkan arus dan sedemikian gagah gelinyangkan pantai.

“Brruuumm… Brruuummmm…. Bur gerebau sau….” Suara ombak menghempas pantai dan tebing.

Pada musim inilah orang mulai kembali dari menunaikan ibadah haji. Bagi mereka yang pulang dari Makkah itu, niscaya membawa beragam oleh-oleh untuk tanda mata bagi sanak keluarga, tetangga dan tetamu dari mana-mana datang. Satu di antara oleh-oleh itu adalah seuntai tasbih untuk setiap orang. Tentu tasbihnya seukuran biasa sebagaimana lazim dikenal khalayak ramai. Terbukti pula, ternyata di antara jemaah haji yang sudah kembali itu, tak seorang pun yang membawa tasbih raksasa! Sahdan dengan begitu maka tasbih raksasa yang ada sudah ratusan tahun di masjid tua itu belum tertandingi!

()()()

Aku sudah hendak beringsut dari tempatku duduk. Mendengar ceritanya, di masjid unik dan kuna itu terdapat tasbih raksasa. Aku menyangka masjid kuna yang dikatakannya adalah Masjid Sultan Riau-Pulau Penyengat Inderasakti, yang masyhur itu. Aku jadi semangat mendengar celotehnya. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, rampai-rampai cakap-cakapnya kudengar dan kusimak, tetapi sama sekali tidak terdengar menyebut bahwa bahan sebagai plaster dinding, tiang, kubah, dan bangunan lainnya bagi masjid dimaksud adalah pasir dicampur semen, kapur dan putih telur, sebagaimana yang berlaku untuk bangunan Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat tersebut. Sama sekali bukan masjid itu yang ia maksudkan.

Di riuh parau rempuhan angin sepentang hari menangkup senja, aku sangat penasaran dengan bual-bual, cakap-cakap buihnya itu. Dan anehnya di antara berterbangan kata-kata yang meluncat dari mulutnya yang berbau jering berkisah tentang masjid, tasbih, keajaiban dan malapetaka, aku benar-benar teringat dengan sosok manusia hebat dari Tanah Melayu Raya, Sultan Mahmud Ri’ayat Syah atau Sultan Mahmud Syah III, Sultan Kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang. Sultan yang pernah mengalahkan Belanda dalam dua kali perperangan hebat di seputar selat Tanjungpinang-Pulau Penyengat-Pulau Paku dan Dompak (1784 dan 1787).

Sultan yang sepanjang hidupnya penuh perjuangan untuk negeri, pada akhirnya menjadikan Pulau Penyengat sebagai emas kawin pernikahannya dengan Engku Puteri Raja Hamidah dalam tahun 1803. Pada gilirannya, pulau itu beliau bangun, dipersiapkan benar-benar menjadi sebuah kota yang hebat dan tempat kediaman permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah. Pada suatu masa, di pulau itu pun bermunculan penulis dan pengarang andal susah tertandingi, yang antara lain melakukan pembinaan bahasa Melayu, yakni Raja Ali Haji dan Datuk Kaya Haji Ibrahim.

Sehingga sepeninggalan (wafatnya) Sultan Mahmud Syah III pada 12 Januari 1812 di Daik-Lingga, Pulau Maskawin itu pun telah menampakkan wujudnya sebagai Pusat Tamaddun Melayu Dunia. Di pulau itu sejak ratusan tahun lalu telah berdiri sebuah masjid, yang adonan semennya tersebut dicampur dengan putih telur. Masjid itu hingga dewasa ini masih kokoh dan digunakan oleh umat Islam. Sebagian pembesar negeri dan daerah serta sesiapa pun dari luar pulau itu selalu berkunjung ke masjid dimaksud dengan kepercayaan jika shalat sunat dua rakaat dan apakah lagi ikut shalat fardhu di dalamnya, maka akan terbebas dari perkara pelik yang sedang dihadapi. Selanjutnya, dimudahkan segala urusan dan dimurahkan rezeki.

Dan, lelaki tersebut terus saja berceloteh. Herannya, dia sama sekali tak aku kenal. Lebih parahnya lagi, aku tak tahu jenis kelaminnya, apakah perempuan, lelaki, atau bahkan kedi alias waria. Maklum saja dia berpakaian seperti sedang terbungkus, tepatnya tersarung. Celotehnya benar-benar sebagai bersebab kenang-kenanganku kepada Sultan Mahmud Ri’ayat Syah, Engku Puteri Raja Hamidah dan Pulau “Maskawin” Penyengat menjadi buyar. Dan dia semakin lantang bercerita tentang kota tua yang penuh kejadian-kejadian luar biasa dan menakjubkan.

“Kau ini siapa?!” bentakku.

Dia menggeleng. Dan bercakap-cakap penuh kelincahannya. Katanya, adalah kota yang sangat terkenal. Ramai orang dari negeri lain, yang  mendambakan tiba di sana. Terdapat sebuah masjid raya, kuna, sebagai benda cagar budaya. Di dalamnya tersimpan kitab-kitab antik. Menurut sejarahnya, bangunan masjid itu, memang bersejarah. Arsitekturnya khas, unik dan sukar dicari tandingannya. Konon, bangunannya, didirikan oleh orang-orang alim atas bantuan malaikat atau makhluk gaib. Masjid itu berada di tengah kota, menghala ke laut dan menantang barat. Pengerjaannya disiapkan pada malam hari.

Kata dia lagi, keunikan masjid tak sampai hanya pada bangunannya. Tetapi, di dalamnya terdapat seutas tasbih yang sudah berusia lebih tujuh abad. Tasbih itu terdiri dari 310 butir, yang  masing-masing butirnya sebesar buah kelapa masak (nyok kelapak). Lingkaran tasbih sekitar 510 meter. Tasbih terentang melingkari bagian dalam dinding  masjid. Ketika orang mau masuk masjid melalui enam pintu, mau tak mau terpaksa melangkahnya.

Menurut lelaki tersebut, tasbih dimaksud digunakan oleh jemaah untuk berzikir tiga kali dalam seminggu. Yakni, malam Senin, Kamis, dan Jumat. Seusai shalat Isya, para jemaah duduk di pinggir atau menyandar di dinding masjid sperti melingkar, dan tasbih berada di pangkuan.  Jumlah jemaah, paling kurang 71 orang. Namun biasanya,  memenuhi syaratnya  berjumlah 310 orang.

Ketika berzikir, tambahnya pula, maka setiap orang memegang butiran tasbih dengan kedua tangannya. Tasbih berputar melingkar ke kanan, seolah-olah diulurkan kepada jemaah di sebelah kanannya. Terus begitu. Serempak. Suara tasbih yang bergerak memutar ke kanan yang bergeser dengan paha para jemaah, terdengar berdesir-desir, berserih-serih, dan sesekali bergemuruh. Sementara suara gemuruh lafaz zikir para jemaah, sungguh mendirikan bulu tengkuk. Masjid itu terasa begitu berwibawa, dan membuat kita benar-benar terpukau.

Lelaki tadi sejenak terdiam. Menarik napas. Tertawa kecil. Lantas melanjutkan kisahnya. Katanya, adalah hari itu, Jumat. Di masjid datang tamu orang besar. Konon, adalah Datuk Negeri dari negeri jauh. Menghormati tamu, maka petinggi kota pun minta kepada  pengurus masjid dan jemaah, usai shalat Jumat, dilanjutkan dengan berzikir mempergunakan tasbih akbar. Karena, tamu agung itu sudah sejak lama mendambakan, hendak berzikir memakai tasbih raksasa di masjid tersebut, maka shalat jumatpun dimulai. Khotbah berlalu. Imam memimpin shalat. Usai itu, diteruskan dengan berzikir. Butiran tasbih dipegang oleh masing-masing jemaah, termasuk Datuk Negeri tadi.

()()()

Suara zikir terdengar semakin kuat. Tasbih yang terus berputar ke arah kanan, di paha setiap jemaah yang duduk melingkar di pinggir bagian dalam masjid, terlihat semakin laju. Bergelombang mengikuti gerak tangan jemaah. Semakin pantas menggilirkan butiran tasbih dari tangan kiri ke kanan dan ke tangan jemaah lainnya yang berada di sebelah kanan. Semakin laju putaran tasbih. Zikir semakin khuysuk, dan menyatu dengan butiran-butiran tasbih. Hati suci, tulus, ikhlas hanya kepada Yang Maha Kuasa, Allah Azawajalla.

Menurut cerita lelaki itu, zikir para Jemaah dan tamu agung semakin menjadi-jadi. Suara menggema. Bergemuruh bagaikan kawanan lebah bersarang-sarang yang pecah. Sampai terdengar pula pada jarak ratusan meter di luar masjid. Pepohonan di sekitar masjid seperti bergetar hebat. Tampak daun-daunnya mulai bergerak-gerak, meliuk-liuk, melentur-lentur sehingga melengkung. Seolah-olah terbantun oleh suara zikir dari dalam masjid. Daun-daun kering di halamannya pun  berterbangan ke udara. Burung-burung yang berada di pepohonan, seketika bertaburan terbang menjauh. Angin terasa menampar-nampar. Menderu-deru ke pintu-pintu masjid. Zikir semakin “mabuk”. Tasbih mulai meliuk-liuk. Terangkat setinggi dada. Para jemaah terus berzikir semakin nikmat!

Wajahnya tampak serius sekali. Ceritanya makin membuat sesiapa mendengarnya tambah penasaran. Katanya, angin mendesau! Jemaah yang duduk di dekat pintu utama masjid, mulai terangkat tungkingnya. Badannya mulai tak jejak di lantai masjid. Lalu, perlahan terangkat, dan bergerak terbang ke luar pintu dan menegak ke udara. Perlahan-lahan, tapi pasti seutas tasbih raksasa itu terus membantun (membetot) jemaah yang lagi asyik bertasbih, terbang ke udara dan mulai keluar dari masjid. Kali berikutnya, jemaah yang masih tetap memegang butiran tasbih, akhirnya sudah lebih separuh berada di awing-awang. Dalam sekelip mata saja, terlihat tasbih bergelombang dan seluruh jemaah yang bergantungan di tasbih tadi terbawa terbang ke udara.

Para jemaah terlihat terus berzikir dan bergayutan. Tasbih terus terbang membawa para jemaah. Semakin meninggi dan menjauh. Akhirnya menghilang di sebalik awan. Warga masyarakat sekitar masjid tak dapat lagi melihat mereka. Para jemaah itu, sudah raib! Lantas ketika langit tampak telanjang. Mentari bersinar cerah. Warga pun riuh-beka, gaduh di mana-mana! Bagaimanakan tidak, jemaah yang tadi sedang berzikir, juga ada seorang tamu agung, Datuk Negeri lain, seketika sudah lenyap bersama seutas tasbih ke langit atau entah ke mana hilangnya!

Dia belum berhenti berkisah. Katanya, memasuki hari ke-40, tasbih pun terlihat oleh warga kota meluncur dari langit menuju masjid pusaka kota itu lagi. Maka, para warga pun berhamburan, berlari dan dengan kendaraan apa saja berebutan hendak sampai duluan di sana. Warga tumpah ruah di dalam masjid, di halaman dan sekitarnya. Tasbih terus meluncur. Kemudian melambat. Berhenti ketika sudah  berjarak sekitar dua depa di atas kepala warga yang sedang merenyup di halaman masjid itu. Seutas tasbih itu terus berputar. Ternyata, tasbih hanya seutas saja, tanpa ada seorang pun yang bergantung padanya.

“Tum…..! Bummmmm!!!!!” Suara keras sekali! Terasa insang telinga hendak pecah.

Para warga heran. Terlebih lagi bagi keluarga yang ditinggalkan. Mereka semakin sedih. Ada perasaan di hati, bahwa jemaah yang terbang bersama tasbih dan sudah hilang itu, agaknya telah mati. Mereka dapat dipastikan takkan kembali lagi. Sementara itu, tasbih terus berputar-putar, kencang sekali. Sungguh legat! Terdengar suara yang ditimbulkannya sampai bersiau-siau benar-benar memekakkan telinga. Angin yang ditimbulkannya sampai membuat pepohonan di sekitar masjid condong tak beratur. Sejumlah orang sampai ada yang sungkuknya terpelanting. Begitu pula jilbab kaum perempuan, ada yang sampai berterbangan dan tersangkut di ranting-ranting.

Tasbih, akhirnya berputar dan merendah. Jaraknya dari atas ke kepala  warga, hanya beberapa jengkal saja. Maka, para warga pun berupaya untuk menyambar dan menangkapnya. Mereka melompat-melompat, tetapi tasbih tersebut samasekali tak dapat disentuh. Ratusan orang bergantian hendak mendapatkannya, tetapi semuanya sia-sia. Letih menyekap warga. Sedangkan tasbih semakin legat berputar. Sehingga, semakin sukar dilihat. Sampailah kali berikutnya, tasbih itu pun melesat ke udara laju sekali. Selanjutnya terbang meninggalkan lokasi masjid.

Seiring itu, bagi para jemaah yang sudah kehilangan keluarganya, tak dapat lagi menahan rasa dukacita di hati. Pecahlah tangis dan bahkan ada sampai melolong-lolong, merampai-rampai dan mengguling-guling di tanah. Meratap-ratap, apa gerangan musibah  sudah menimpa begitu akbar. Apa rahasia di sebalik terbangnya tasbih tersebut. Kemana jemaah diangkutnya? Sudah mati atau disimpan di mana? Sungguh perih di hati.

@@@

Tiga hari selepas itu, warga diriuhkan. Lelaki yang tadi bercerita, semakin yakin meneruskan kisahnya. Dia membetulkan posisi duduknya. Kali ini duduk bersela dengan kaki kanan ditumpakan di atas kaki kiri. Maka, katanya, tasbih serupa rantai raksasa itu, terlihat melayang-layang di sekitar pekarangan sebuah taman kanak-kanak. Bahkan, beberapa anak-anak di sekolah tersebut, dapat memegangnya. Namun ketika beberapa guru hendak ikut memegang, tasbih tersebut seketika pula langsung berhenjut dan melesat terbang lagi ke udara. Lalu, menghilang. Rupanya, terbang ke arah lain, mengitari beberapa perguruan tinggi. Dia sempat terbang merendah sekali. Hanya tinggal sekitar dua meter saja hendak jejak ke tanah. Tapi, tak ada seorang pun mahasiswa atau mahasiswi yang berani memegangnya. Selanjutnya, seutas tasbih tersebut menjauh dan hinggap di halaman kantor pemerintahan kota.

Tapi, ada yang aneh. Ketika petinggi negeri hendak menyentuhnya, tasbih menggeliat, bergerak hebat seperti lompatan silat pusaka Melayu sedunia dan terbang. Maka, mereka pun menjauh. Tasbih jejak lagi ke tanah. Maka, seorang tukang kebersihan kebun kantor, perlahan-lahan mendekat ke tasbih tersebut. Kali berikutnya, dia dengan  mesra dapat memegangnya. Sempat berzikir beberapa saat. Dia menangis tanpa suara. Tangannya cekatan memindahkan secara bergiliran butiran tasbih dan ia nikmat sekali berzikir. Selanjutnya, dengan sopan berlalu dari tasbih tersebut.

Sahdan, tasbih pun bergerak, berputar dan terbang lagi. Rupanya, berputar di atas atap kantor penegak hukum. Beberapa personel yang sedang berada di halaman kantor itu,  memekik-mekik,  menyebut Allahu Akbar. Mereka memanggil-manggil tasbih,  minta turun. Namun, tak terwujud. Tasbih  berputar-putar dan sebentar saja sempat mencecah halaman. Belum sempat seorang pun dari personil penegak hukum hendak menyentuhnya, benda itu melesat lagi ke udara. Menghilang. Lalu senyap.

Tak lama selepas itu, dapat kabar, tasbih sudah terbang di atas kantor penegak keadilan. Hari itu, kebetulan lagi berlangsung sebuah persidangan. Pasalnya remeh sekali. Seorang perempuan tua mencuri pelepah kelapa yang sudah kering di kebun tetangga. Dia terdakwa. Duduk di kursi pesakitan. Penegak keadilan mengelarkan sidang. Tasbih meluncur dari udara dan sempat terbang merendah lalu masuk melalui pintu dan berada di ruang sidang yang mulia. Namun ketika salah seorang dari penegak keadilan hendak menyentuhnya, tasbih pun berundur dan keluar pintu lagi, lalu melesat ke udara!

Beberapa hari selepas itu, rupanya seutas tasbih ajaib tadi terlihat terbang di udara. Sekejap sudah terlihat berada di udara sekitar atas atap gedung parlemen…. Tasbih berputar-putar. Sejumlah anggota parlemen pun keluar dan berada di halaman. Mereka yang membidangi anggaran pun keluar dari ruang rapat khusus. Entah bagaimana, tasbih tersebut melesat turun dan berada di muka pintu ruang rapat bagian parlemen yang membidangi anggaran. Luar biasa, ketua bidang itu, ternyata dapat menyentuh tasbih tersebut. Maka, beberapa anggota yang lain pun coba ikut menyentuhnya. Mereka tersenyum. Lalu tertawa bahagia!

Maka, serempaklah mereka dan seluruh anggota parlemen memegang tasbih tersebut. Mereka menariknya  ke dalam ruangan rapat anggaran. Tasbih terbantun. Sudah lebih separuh masuk ke dalam ruangan. Dengan sekuat tenaga, mereka terus merentak-rentaknya. Tinggal beberapa meter saja, masuklah tasbih tadi ke dalam ruangan itu. Namun entah bagaimana ceritanya, akhirnya seluruh anggota parlemen yang jadi tertarik keluar! Tetapi, masih memegang erat dan kuat-kuat butiran tasbih. Sehingga seutas tasbih tadi belum berhasil terbang ke udara.

Tasbih terus meliuk, dan merentak-rentak. Anggota parlemen kerahkan segenap kekuatan. Kali berikutnya, beberapa anggota parlemen sudah terlihat mulai terangkat kakinya. Orang pandai yang menjadi staf khusus anggota parlemen dan tega ahlinya pula dari pimpinan alat kelengkapan paslemen, coba mendekat dengan mulut kumat-kamit seperti sedang melafazkan sapah-serapah atau membaca mantra-mantra penangkal ruh jahat. Tapi sama sekali tak ada pengaruhnya. Karena pada dasarnya mereka yang berkedudukan sebagai staf khusus ataupun tenaga ahli tersebut bukan karena ilmu kepandaiannya, melainkan karena kedekatan dan kepentingan semata.

Heh. Jadi sangan merasa mustahil kalau mereka sama sekali tak bisa mengatasi tasbih yang mengamuk itu. Maka pada akhirnya dalam masa seketika saja, anggota parlemen yang tergabung dalam kelompok Badan Musyawarah serempak melompat ikut menyambar tasbih tersebut. Fraksi-fraksi yang ada pun tak mau diam, ikut berhempas-pulas menangkapnya. Mereka pun bergayutan. Di antara mereka ada yang tertawa ngakak, terbahak-bahak dan menjerit karena kakinya terinjak ataupun terjepit, dan yang tak kalah penting di antara mereka ada yang ketiaknya hangit luar biasa, sehingga membuat teman yang lain muntah luweh-leweh.

“Pegang kuat-kuat! Jangan sampai lepas dan terlepas!” pekik Ketua Banmus. Ketua Banggar juga ikut memekik kalimat yang sama. “Pegang yang kuat dengan segenap tenaga! Jangan biarkan tasbih itu lepas dan kabur! Masa… tasbih saja kita tak bisa pegang! Segala hal bisa kita diatur! Pegang, rampas dan kita kuburkan!” pekik yang lainnya. “Hati-hati, lusa kita akan berangkat semua melakukan dinas luar daerah. Jangan sampai berabe…,” celetuk yang lainnya lagi yang disaksikan pimpinan parlemen itu.

Lalu, terdengar suara bersiau-siau. Angin menggelembung. Kursi, meja, dan apa saja di dalam ruangan serta bunga-bunga di taman pun berterbangan seperti kapas! Para staf di parlemen itu pun berhambur menyelamatkan diri. Sementara tasbih seakan-akan mengamuk. Anggota parlemen semakin lemah. Tasbih mengambur hebat! Maka, seluruh anggota parlemen yang memegangnya, terpelanting! Tasbih melesat dan hilang di sebalik awan. Maka, Sekretaris Parlemen pun lintang-pukang berlari menuju kantor Walikota. Kepada orang nomor 1 di kota itu, dia laporkan apa yang sedang terjadi di gedung parlemen. Sang Datuk Bandar hanya tersenyum kecut…. Tentu betapa takut pula hatinya!

Aku sudah beberapa kali menggeleng. Dari cerita seseorang yang sama sekali masih belum kukenal itu, meskipun sudah sedari tadi, dalam masa yang  lama sekali berlangsung rampaikan celotehnya, aku semakin hendak tahu. Ow. Lelaki tersebut mempertegas ceritanya. Katanya, ternyata, mereka anggota parlemen itu bukan hanya terpelanting dari dalam ruangan parlemen, tetapi beberapa di antaranya sampai terjerembap dan mencium tanah. Kulit telapak tangannya, terkelambak! Daging memerah tanpa kulit! Bahkan bukan hanya kulit tangan yang  terkelambak, terkelucak, namun ada beberapa anggota yang kulitnya terkelupas sampai seluruh mukanya! Seperti ayam yang baru siap dikuliti! Sungguh mengerikan. Daging telanjang dan berlendir darah! Sementara seutas tasbih sudah tak tampak lagi. Akhirnya, kecelakaan itu mengantarkan sejumlah anggota parlemen dirawat serius di rumah sakit. Dengan demikian, impian mereka untuk melakukan dinas luar daerah tak dapat terlaksana. Sungguh sial!

“Kita harus usut tuntas perkara memalukan ini!” sergah Ketua Badan Kehormatan Parlemen penuh amarah yang terpancar di wajahnya. Terlihat jauh lebih marah bila dibandingkan pada saat sedang mengusut dugaan perselingkuhan salah seorang anggota parlemen yang tertangkap basah oleh warga di salah satu hotel. “Apa-apaan ini? Memalukan! Tasbih kok bisa berbuat anarkis, dan agak biadab! Bagaimana marwah kita sebagai anggota dewan… ini? Kita dari BK akan membongkar kasus ini. Kita tak terima dengan perlakukan buruk semacam itu! Angggota parlemen yang terhormat menjadi korban kebiadaban! Tasbih itu pastilah ada pemiliknya atau bekingnya. Ya, itu tukang sihir!”

Dan, rumah sakit pun ramai sekali didatangi warga masyarakat dan juruwarta dari berbagai media massa. Tujuannya sama, satu saja, yakni hendak menyaksikan dan mendapat kabar terbaru seputar musibah yang menimpa anggota parlemen. “Semua sudah gila!” bentak seseorang di dekat gerbang pagar rumah sakit. Tak ada yang mengenalnya. Tak tahu persis pula siapa yang dikatakannya sebagai sudah gila itu. Tak ada pula yang ambil pusing.

Sementara dia yang tak kukenal itu terus berceloteh. Merampai-rampai, bercakap-cakap. Tangannya terayun ke sana kemari. Sesekali tertawa lepas dan sampai terpingkal-pingkal. Mulutnya terkadang-kala terjunyu, terpatus, dan menyeringai lebih lebar dari mulut kerapu bakau. Sesekali aku muak pula melihatnya. “Orang itu, ya, dia agaknya yang gila?!” desisku dalam hati.

Tapi, dia itu terus mengambur-ngamburkan kata-kata. Ya, masih cerita tasbih. Hari itu, seorang perempuan muda, termasuk penghuni komplek pelacuran terbesar di kota itu, sedang duduk terpekur di teras sebuah rumah pelacuran. Hatinya berkecamuk. Teringat, diri sendiri, ayah-bunda, sanak-keluarga dan tentunya Tuhan. Hatinya runsing. Pikirannya menerawang ke mana-mana. Hari menjelang petang. Seutas tasbih yang pernah menghebohkan warga kota, membuat musibah di gedung parlemen, ternyata sudah terlihat pula oleh sejumlah penghuni kompleks pelacuran, sedang terbang di udara. Masih tinggi sekali. Tetapi secara pasti sedang bergerak turun ke arah komplek. Ternyata benar. Dia merendah. Penghuni kompleks tak ada yang berani keluar rumah. Mareka hanya mengintip dari sebalik jendela, pintu, atau lobang angin.

Tasbih semakin merendah. Suara angin yang ditimbulkannya terdengar bergemuruh. Terus berputar-putar dan kian merendah. Seribu suara helekopter raksasa. Tasbih menuju sebuah rumah pelacuran. Di terasnya, sedang duduk terpekur seorang perempuan muda, yang baru beberapa tahun menjadi pelacur. Dia, seakan tak tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Dia tenggelam dalam perasaan diri. Tanpa disadarinya, seuntai tasbih tadi melipat-lipat dan berdepak menyelempang di bahu kanannya. Tanpa disadarinya pula, tangannya pun terangkat. Lalu memegang butiran tasbih yang terselempang ke dadanya. Perlahan tangannya mulai bergerak, dan zikir dengan tasbih tersebut pun berdesiran.

Sejumlah penghuni kompleks pelacuran itu pun, terdiam. Mereka menyaksikan dari kejauhan. Wajah mereka dalam ketakutan dan terlihat berkedut-kedut. Hati mereka, kecut. Cemas. Mereka menduga  wanita, yang tak lain tak bukan adalah pelacur itu, akan dibawa terbang oleh seutas tasbih raksasa itu. Sementara si pelacur yang terus bertasbih, merasa hatinya bergetar hebat. Kedua bibirnya beradu dan giginya gemeretak! Tubuhnya terguncang-guncang. Dari kelompak matanya bercucuran air bening bagaikan mutiara. Berarus dan meleleh membasahi pipinya, dan menggenang di lantai teras itu.

Sang pelacur berzikir. Sudah berapa ribu zikir yang diucapkannya, tiada seorang pun yang tahu. Tangannya terlihat semakin kencang menggerakkan butiran-butiran tasbih. Semakin cepat zikirnya. Dan, kali berikutnya dia pun rubuh ke lantai. Meski demikian, kedua tangannya tetap cekatan memegang butiran tasbih. Dia masih terus berzikir! Dan, akhirnya tasbih perlahan-lahan mengurak dan melepas diri dari wanita itu. Kali berikutnya, bergerak ke udara dan terbang, lalu menghilang! Perempuan tadi tergeletak di teras rumah pelacuran tersebut. Dia tertidur pulas!

Melihat itu, maka seluruh penghuni komplek pelacuran pun sibuk sekali. Mereka mengambil barang-barang yang bisa terbawa. Berebutan keluar dari rumah. Lari dengan tergesa-gesa dan ada yang berlari sampai lintang-pukang meninggalkan kompleks pelacuran. Sementara lelaki hidung belang yang entah berapa jumlahnya tak terbilang, ikut berlarian dengan ketakutan dan kalang-kabut dengan kendaraan masing-masing. Sedangkan para pelacur yang lari tadi, ada yang melaju masuk ke berbagai kampung penduduk dan akhirnya menjadi orang biasa di kampung-kampung itu.

Dan, kiranya sejak kali itu, tasbih raksasa dan ajaib tersebut, tak pernah lagi terlihat di kota tersebut. Seorang pelacur muda yang pernah berzikir memakai tasbih raksasa itu pun, sedang melenggang berjalan di tengah kota. Wajahnya berseri-seri! Begitu ramai orang menatapnya. Terpana kepadanya! Dia bukan semakin tua, tetapi semakin moleh dan pancarkan daya pikat!

“Tasbih yang mengamuk, terbang melanglang buana, ke mana kembalimu?” desah perempuan itu, dan tersenyum alangkah mawarnya!

()()()

Dan, lelaki yang telah bercerita panjang-lebar tadi tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Sekejap berdiri. Lalu melangkah pelan, tetapi dalam masa sekejap saja sudah menghilang. Tak sesiapa pun melihatnya pergi ke arah mana. Dia benar-benar raib! Serempak dengan itu pula seketika awan hitam, pekat, gelap! Suara bergemuruh seketika semakin keras! Ada sekelebat bayangan di angkasa. Sepintas kilas terlihat seperti seutas rantai raksasa. Apakah itu tasbih raksasa datang lagi?! Orang-orang sekalian di kota itu berpikir keras, takut dan cemas, karena itu niscayalah tasbih yang sudah pernah mereka lihat dan saksikan betapa menggila, dahsyat kekuatan mautnya! Mereka terpantak! Tak ke mana-mana!

Semasa itu pula, aneh sekali, lelaki yang bercerita dan menghilang seketika tadi, tiba-tiba sudah tegak lagi di hadapanku. Dia tersenyum pahit. Aku hendak bertanya: di kota manakah atau apakah nama kota yang ia katakan sudah terjadi peristiwa tasbih raksasa yang mengamuk dan membawa berbagai musibah dan keajaiban itu. Sayang sekali, dia hanya menggeleng-geleng. Tapi masih sempat mengabarkan bahwa selepas tasbih mengamuk anggota parlemen, disertai dengan kejadian pilu. Beberapa di antara mereka ditahan penegak hokum. Di antaranya pula meninggal dunia akibat inpeksi menyakit karena kulit yang koyak oleh amukan tasbih. Yang mengejutkan, dua orang pimpinan parlemen tewas juga.

Lelaki itu minta maaf. Dia tak boleh memperkenalkan dirinya. Lalu mohon diri untuk sasma sekali tak dapat bercerita lagi. Lalu, merunduk. Merendah. Tersungkur. Berdebam. Senyap. Agaknya tewas?! Sayang sekali, namanya saja aku pun tak tahu. Apakah celotehnya benar atau hanya bual belaka—entahlah—lebih pelik lagi aku pikirkan. Semoga saja hanya bual kosong yang sensasi. Tapi, bagaimana ini, suara gemuruh yang dating semakin dekat! “Kegilaan?!” Dan aku segera berlari masuk masjid!

()()()

Abdul Kadir Ibrahim

Abdul Kadir Ibrahim

Llahir di Kelarik Ulu, Natuna, 4 Juni 1966. Penerima Anugerah Pilihan Sagang sebagai Seniman Serantau dari Yayasan Sagang dan Harian Riau Pos, Pekanbaru, Riau, tahun 2013. Buku prosa yang sudah terbit adalah Menjual Natuna (kumpulan cerita pendek, 2000), Harta Karun (kumpulan cerita anak, 2001), Karpet Merah Wakil Presiden (kumpulan cerita pendek, 2013), Santet Tujuh Pulau (kumpulan cerita pendek, 2013), Tanjung Perempuan (kumpulan cerita pendek, 2013), dan Memburu Kasih Perempuan Sampan (novel, 2013). Telah menerbitkan kumpulan puisi tunggal berjudul 66 Menguak (1991), Negeri Airmata (2004), Menguak-nadi Hang Tuah (2010), Mantra Cinta (2012), dan Doa Cinta Mekar Laut Langit (2017). Juga menerbitkan buku esai terkait bahasa dan sastra Tanah Air Bahasa Indonesia serta Kartini dan Aisyah Cinta Sekian Mendalam.
Abdul Kadir Ibrahim

Latest posts by Abdul Kadir Ibrahim (see all)